Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Masih Belum Kalah


__ADS_3

"Yve jangan gegabah!" Bernard segera menghampiri Yve. Mereka saling memunggungi, dan para preman sudah mulai mengerumuni.


Sial! menyuruh preman untuk melawan kami. Orang yang ingin melihat tuan Bai Lian mati kali ini, sangat ingin menyembunyikan identitasnya. Bernard segera berpikir cepat. Kali ini situasinya tidak menguntungkan. Apalagi Yve hanya seorang gadis kecil. Ia harus melindungi Yve.


"Jarak kalian diluar penglihatan North, dia tidak bisa membantu. Aku juga sama, hanya bisa melihat melalui cctv gedung yang jaraknya cukup jauh dari kalian. Bahkan hanya siluet saja yang bisa kulihat." ucap Devian penuh kekhawatiran.


"Tidak apa-apa, kami tidak perlu bantuan." setelah berkata begitu, Yve menarik earphone dari telinganya kemudian menjatuhkannya seakan tidak butuh.


Apa yang dilakukannya?! memangnya kita bisa menang melawan para preman ini? dengan selisih jumlah yang teramat jauh, tidak mungkin kita selamat. Bernard melirik Yve dengan kesal.


"Beraninya kau memukul bawahanku! lihat saja bagaimana aku akan membalasmu!" seru salah seorang preman yang berbadan paling besar.


"Baiklah, aku akan melihat balasanmu. Majulah" Yve menggerakkan lehernya dengan santai.


Dia besar kapala sekali! seseorang kumohon tolong kami!!! teriak Bernard dalam hati.


Yve dengan cepat melangkah maju dan berhasil menendang serta meninju mereka. Melihat Yve yang mulai berkelahi, Bernard bergabung juga.


"Benar-benar menyebalkan" si preman yang terlihat seperti boss mengusap rahangnya yang sempat dipukul oleh Yve. Ia kemudian mengeluarkan pisau dan tidak henti-hentinya mencoba menusuk Yve, tapi gadis itu bisa menghindari semua serangannya dengan cepat.


"Terimakasih pujiannya" ucap Yve sambil tersenyum. Ia kemudian menggunakan kakinya untuk menendang paha si boss preman itu. Tapi belum sempat melayangkan serangan lainnya, preman lain mengunci Yve dari belakang. "Cih!"


Boss preman tadi tersenyum, dan berjalan perlahan mendekati Yve. Sinar matahari terpantul melalui pisau yang ada ditangannya. Yve tidak takut dengan itu, karena ia masih bisa menghindarinya dan lolos dari kuncian yang lemah ini. Tapi ketika Yve hendak melakukan rencananya, Bernard sudah menendang boss preman tadi hingga terjatuh.


"Kakak beruang?"


"Aku akan melindungimu" seru Bernard.


Melindungiku? kakak beruang ini sungguh lucu. Yve kembali tersenyum.

__ADS_1


Tidak lupa Bernard juga melumpuhkan orang yang mengunci Yve. Sekarang gadis itu sudah terbebas.


Pertarungan dimulai lagi, dan Yve memukul siapapun yang berniat memukulnya. Ia tidak peduli apa yang terjadi dengan mereka.


Yve melompat dan menendang sekelompok preman lain, menjatuhkan pisaunya, kemudian menyeret kepala pria yang sudah tidak sadar itu. Ia mencoba terlihat menyeramkan untuk mempermainkan emosi para preman yang tersisa.


Preman kuat lainnya datang dan mengerumuni Yve. Mereka bersenjata lengkap, ada yang membawa pisau, dan tongkat baseball. Tidak peduli seberapa kuat dirimu, jika sudah melawan lebih dari 10 orang pasti akan kelelahan. Tapi jika Yve tidak bisa keluar dari situasi ini, Tina akan membuat acara pemakaman untuknya besok.


Dengan kasar Yve menjatuhkan kepala pria yang ia seret tadi. Gadis itu lalu mengibas-ngibaskan tangannya untuk memberi waktu pada otot-otot yang sudah mulai pegal. Ia masih harus bertarung lagi.


Preman yang mengerumuni Yve meraung dan hendak maju bersama-sama kearah Yve. Tapi tiba-tiba...


Bruk!


Bruk!


Orang-orang tadi berjatuhan dengan sendirinya. Yve yang tidak paham, melirik Bernard. Ia sudah tidak memakai earphone, jadi tidak tahu apa saja yang mungkin dikatakan Devian.


Bukankah tadi katanya North tidak bisa membantu? ah sudahlah! aku harus fokus sekarang. Yve melirik sisa preman yang masih tergolong banyak. Lalu ia kembali bertarung untuk partai berikutnya.


Suara pukulan yang beradu terdengar tanpa henti. Orang-orang mulai berjatuhan satu per satu, membuat padang rumput yang tadinya sangat indah menjadi berantakan.


Boss preman tadi masih belum kalah. Ia tidak tahan melihat anak buahnya jatuh satu per satu, jadi ia datang menerobos diantara Yve dan seseorang yang menjadi lawan gadis itu. Yve terengah-engah hingga tidak fokus, dan dengan gesit seorang preman lainnya memegang tangan dan kaki Yve, memutar pergelangan tangannya, lalu menempelkan wajah Yve diatas tanah.


"Akhirnya, kau bisa diam" boss preman itu mendekatkan wajahnya ke kepala Yve. "Jangan sombong hanya karena kau bisa bergerak dengan cepat. Ingat, kau hanya perempuan yang memiliki batas stamina."


Yve tersenyum, kemudian ia bangkit dengan sekuat tenaga, dan berhasil melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya. Itu adalah sisa tenaga terakhir Yve. Ia seperti tidak memiliki kekuatan lagi untuk menyerang boss preman dihadapannya.


Bernard yang melihat Yve seperti itu mulai panik. "Beng apa kau masih lama? adikmu itu sungguh gila, melawan puluhan orang sekaligus. Aku melawan 5 orang saja tidak selesai-selesai." Bernard berbicara melalui alat komunikasi, dan tangannya masih sempat untuk melayangkan pukulan kearah preman didekatnya.

__ADS_1


"Itu karena kau tidak berguna!" Beng berteriak dengan kencang, hingga rasanya earphone ditelinga Bernard akan meledak.


Yve kembali memfokuskan penglihatannya yang mulai buram karena banyak menerima pukulan di kepala. Jasnya yang tadinya rapi sudah kotor dan berantakan, membuat sosok Yve menjadi terlihat semakin menyeramkan. "Aku masih belum kalah" kata Yve sambil menyeka noda diujung mulutnya yang bengkak akibat pukulan.


Yve merogoh saku, sebenarnya ia tidak ingin menggunakan benda ini, tapi apa boleh buat. Sesi main-mainnya sudah selesai.


Dengan ekspresi dingin Yve mengambil pistolnya, kemudian menembak secara membabi buta. Para preman yang terkena tembakan asal-asalan itu berjatuhan dengan cepat.


"Jangan bunuh mereka semua!!!" Bernard berteriak kearah Yve, tapi suaranya teredam oleh bunyi pistol yang terus menembakkan peluru.


"Sudah cukup!" seseorang menarik tangan Yve hingga membuat kegiatan menembaknya berhenti. Dia adalah Beng.


Beng yang terlihat terengah-engah menandakan perjalanannya untuk sampai kemari tidaklah mudah.


Yve menatap Beng terkejut. Kemudian ia tersenyum seperti seseorang yang baru saja memenangkan sesuatu. "Aku bisa mengalahkan mereka."


"Iya iya, kau yang terbaik" Beng mengusap ujung kepala Yve seperti halnya seorang kakak yang perhatian. "Sisanya, biar kakakmu ini yang tampil." Beng segera menuju para preman terakhir, dan melumpuhkan mereka dengan cepat.


Hebat sekali, Yve terpukau melihat Beng bertarung. Kepala bodyguard itu melesat dengan kuat dan menjatuhkan orang-orang sekaligus.


"Yve, apa kau baik-baik saja?" Bernard segera menghampiri Yve yang ditinggalkan Beng.


"Ya aku baik."


Melihat Yve berkata seperti itu dengan wajah babak belur, membuat Bernard merasa bersalah padanya.


"Yve, ini angka berapa?" Bernard mengangkat dua jarinya.


"Tiga?" Yve menggaruk kepalanya dengan bingung.

__ADS_1


"Baiklah, kau harus istirahat setelah ini."


__ADS_2