Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Pengakuan Levin


__ADS_3

Yve diam-diam melirik Lin. Laki-laki itu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Sangat datar hingga tidak bisa ditebak.


Apakah dia memiliki rencana lain?


"Yve, bantu aku merawat luka tuan." Pinta Devian. Tapi Yve bisa melihat kedipan mata aneh yang ditunjukkan bodyguard berkacamata itu.


Yve hendak membalas perkataan Devian, tapi tiba-tiba Levin memotong ucapannya. "Maaf Devian. Ada hal penting yang ingin kubicarakan pada Yve dulu. Ayo!" Tanpa memberikan penjelasan lain, Levin langsung menarik tangan Yve untuk pergi.


Levin berhenti menarik Yve setelah sampai di depan gazebo tempat biasanya para bodyguard berkumpul. Disana sangat sepi, karena para bodyguard lain masih menonton Bai Lian dan Lin.


"Ingin bicara apa? Kita harus cepat kembali, kalau tidak semua orang akan curiga." Yve  menoleh kearah gerombolan para bodyguard yang belum berniat bubar itu. Mereka berada cukup jauh dari tempat Yve berdiri, jadi bisa dipastikan kalau obrolan mereka tidak akan terdengar.


"Curiga soal apa?"


"Aku bersekongkol denganmu atau semacamnya."


"Oh, kukira tentang hal lain."


"Hal lain?" Yve menatap Levin dengan ekspresi bingung. Tapi Levin memilih untuk tidak menanggapinya dan lanjut bicara.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Iya aku tahu, makanya kau mengajakku kesini bukan? Ayo katakan." Yve mulai serius, tapi Levin malah terlihat gugup.


"Pertama-tama, aku ingin cerita sesuatu."


"Cerita? Baiklah cerita apa?"


"Kukira aku tidak akan pernah menceritakannya padamu, tapi ini hari terakhirku sebelum dipenjara. Jadi aku hanya ingin kau mengetahuinya. Itu sudah cukup."


"Kenapa terdengar serius sekali? Cerita saja, jangan bertele-tele."


"Sebenarnya dulu setelah aku keluar dari panti asuhan, tidak berselang lama, aku kembali kesana untuk mencarimu."


"Eh?" Yve terkejut mendengarnya. Ia tidak mengira kalau Levin akan melakukan itu. Bahkan mereka dulu juga tidak dekat, hanya pernah bicara satu kali saja.

__ADS_1


Benarkah? Dia kembali?


"Tapi saat aku kembali, kau sudah tidak ada. Katanya kabur dari panti asuhan."


"Ya. Saat itu aku ikut tinggal bersama paman preman yang kuceritakan padamu. Kehidupanku jauh lebih baik daripada di panti asuhan."


"Syukurlah." Levin tersenyum sebentar, kemudian melanjutkan kata-katanya. "Saat itu aku masih kecil, tidak tahu harus mencarimu kemana. Jadi aku memutuskan untuk menyerah. Tapi beberapa tahun kemudian, takdir membawaku untuk bertemu denganmu lagi."


"Saat menjadi bodyguard kan?" Tanya Yve.


"Bukan. Sekitar 5 tahun yang lalu."


5 tahun? Berarti saat pertama kali aku tinggal dengan kak Tina? Selama itu?


"Saat itu, karirku sebagai raja jalanan sedang meningkat. Aku sering keluar rumah keluarga Bai untuk balapan liar. Lin juga tidak mempermasalahkannya, karena pekerjaanku sangat bagus. Lalu tidak sengaja, aku melihatmu. Kau sedang makan di salah satu cafe yang sudah tutup, dan seorang wanita berwajah ramah mengajakmu mengobrol. Meskipun kau tidak menanggapinya, tapi dia terus mengajakmu bicara."


Memang benar. Dulu saat pertama kali aku bersama kak Tina, dia sering mengajakku bicara, tapi aku mengacuhkannya karena masih tidak bisa mempercayai orang lain.


Yve masih menatap Levin. Ia tidak menyangka kalau mereka sudah lama bertemu lagi.


"Kenapa kau bisa tahu itu aku? Seharusnya wajahku sudah banyak berubah." Tanya Yve sambil menunjuk wajahnya.


"Itu namanya bukan insting." Yve melipat tangannya dengan kesal.


"Hahaha aku serius, itu insting."


"Baiklah, kau hanya ingin cerita itu saja kan? Jujur aku sangat terkejut. Terimakasih sudah berusaha mencariku dulu." Yve membungkuk sedikit dan berniat kembali.


"Tapi!" Levin tiba-tiba menggunakan nada tinggi. Dan Yve kembali menoleh kearahnya. "Tapi aku ingin kau berada disisiku."


"Ha?"


"Dulu aku ingin kau berada disisiku. Akulah yang menjadikanmu pengeran balapan liar."


"Tunggu... Apa?" Yve menggaruk kepalanya dan berusaha mencerna kata-kata Levin. "Aku menjadi pangeran balapan berkat kemampuanku sendiri. Sering memenangkan pertandingan, dan berwajah tampan. Tidak ada hubungannya denganmu. Bahkan bertemu dengan identitasmu sebagai raja balapan liar cuma sekali."

__ADS_1


"Bukan itu."


"Lalu? Bicaralah yang jelas."


"Apa kau masih ingat, siapa yang mengajarimu menaiki motor sport, dan cara bertanding di area balap liar?"


"Tentu. Itu temanku, namanya Soni. Kau tidak kenal."


"Kau salah. Aku mengenalnya." Levin mulai tersenyum saat mengingat kejadian yang dulu. "Aku sudah tahu kalau Ferran memiliki adik yang tinggal jauh darinya, namanya Soni. Ferran itu cukup mengganggu karena mengirim banyak mata-mata untuk mendekatiku. Daripada membunuh para mata-mata itu terus menerus, aku ingin mengancam Ferran dengan membunuh adiknya, supaya dia berhenti mengirim mata-mata. Tapi lagi-lagi aku tidak sengaja melihatmu. Kau sedang bersama Soni. Aku ingat dengan jelas, saat itu dia sedang bersujud di kakimu memohon ampun dan tidak akan mengganggumu lagi."


Ah... Saat pertemuan pertamaku dengan Soni rupanya. Dia melihatku?


"Lalu aku tidak jadi membunuh Soni. Karena aku tiba-tiba memiliki sebuah ide. Dengan berniat membuat Soni sebagai perantara, agar aku bisa dekat denganmu."


"Perantara?"


"Aku menyamar sebagai orang lain dan menghasut Soni agar membeli motor sport untuk ikut balap liar. Pada dasarnya dia adalah anak orang kaya yang bodoh. Jadi ketika dia tertarik, maka akan langsung dibelinya. Tapi Soni juga tipe orang yang sayang uang. Dia sudah memikirkan bagaimana caranya motor barunya itu bisa menghasilkan uang. Yaitu dengan cara balap liar. Dia juga tidak ceroboh untuk melakukannya sendiri, dan dia menjadikanmu joki, orang yang dia anggap kuat dan penuh kharisma."


"Jadi... Semua itu ulahmu? Agar suatu saat kalau aku sudah terkenal, otomatis akan bertanding melawanmu? Sang raja." Yve menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Levin.


"Tebakan yang tepat." Levin menarik nafas sebentar, dan menghembuskannya dengan berat. "Tapi rencanaku gagal. Karena tanpa kusadari, tuan besar juga memperhatikanmu dan memiliki rencana lain untukmu. Dia membuat dirimu bertemu dengan Bai Lian, dan semuanya berubah."


Benar juga. Sejak aku bertemu dengan Bai Lian malam itu, keseharianku tidak lagi sama. Aku jadi jarang melakukan balap liar, dan lebih fokus menjadi bodyguard.


"Tapi rencanamu akhirnya terpenuhi kan? Kita saling bertanding saat itu sebagai raja dan Pangeran jalanan."


"Saat itu aku dalam misi untuk membawamu pada Lin. Sepenuhnya bukan keinginanku sendiri."


Yve tertawa kecil, dan menatap Levin. "Bukankah sama saja? Kita tetap bertemu."


"Tidak, itu berbeda. Karena rencana awalku sebenarnya ingin..." Levin tiba-tiba terdiam. Ekspresinya terlihat ragu dan bingung.


"Ingin apa?"


Levin terdiam beberapa saat, dan Yve terus menunggunya berbicara. Pasti hal yang akan Levin katakan sangatlah penting, mengingat usaha kerasnya mendekati Yve. Apakah itu karena malu atau merasa bersalah karena tidak menemukan gadis itu dulu?

__ADS_1


"Ingin mengatakan padamu..." Levin mencengkram tangannya sendiri untuk menambah keberanian dalam dirinya. "Bahwa aku sangat menyukaimu."


"Ha?"


__ADS_2