
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah. Rumah itu tidak jauh berbeda dari rumah keluarga Bai yang seperti istana. Orang kaya benar-benar memiliki selera yang serba mewah.
Yve dan yang lain turun dari mobil, lalu dengan sigap mengawal perjalanan Bai Lian memasuki rumah. Berbeda dari rumah Bai Lian yang penuh bodyguard, di rumah ini hanya ada beberapa penjaga dan lebih didominasi pembantu perempuan dengan seragam maid. Tidak heran juga, karena katanya tuan Ferran adalah mata keranjang. Pastinya setiap membuka mata, dia ingin melihat orang-orang yang enak dipandang.
"Sebelah sini tuan-tuan." Seorang pembantu yang nampak cantik dengan rambut blonde gelombangnya, menuntun perjalanan rombongan Bai Lian.
Entah kenapa Yve tidak suka dengan pembantu itu, karena dia terus melirik kearahnya sambil tersenyum malu-malu.
Segitu miripnya aku dengan laki-laki? bukankah wajah South dan kak Beng juga tampan? kenapa aku yang menjadi incarannya?
Yve hanya membuang muka setiap kali tidak sengaja bertemu dengan tatapan pembantu itu. Benar-benarĀ menjijikkan, aku ini masih normal tahu!
Akhirnya rombongan Bai Lian sampai di halaman belakang. Disana terdapat sebuah kolam renang yang ukurannya cukup besar. Yve hampir mengira ini tempat wisata renang yang sering kakaknya kunjungi ketika musim panas.
"Lian, kau sudah sampai?"
Seorang laki-laki yang tadinya duduk di bibir kolam, akhirnya menoleh. Senyumnya mengembang saat melihat temannya itu sudah berada dibelakangnya.
Yve diam-diam mencengkram tangannya untuk mengendalikan ekspresi wajahnya yang terkejut.
Sial! dia benar-benar kakaknya Soni! wajahnya seperti yang ada di foto.
Meskipun tidak paham kenapa kakak Soni bisa menjadi seperti ini, Yve tetap berusaha tenang.
"Ferran, lama tidak bertemu." Bai Lian melakukan tos dengan sahabatnya itu.
"Ya ampun Lian, kau masih saja berpergian dengan bala tentaramu." Ferran melirik bodyguard yang mengelilingi temannya.
"Haha, jika aku tidak bersama mereka, mungkin sekarang kau hanya bisa mendatangi makamku." sahut Bai Lian.
Pandangan Ferran tiba-tiba tertuju pada Yve. Ia merasa bingung dengan dahi yang berkerut. "Apa anak ini baru?" Ferran mendekati Yve.
"Benar tuan, dia baru. Pengganti Devian." Beng segera berkata dengan cepat. Seolah ingin menyembunyikan sesuatu. Tentu saja menyembunyikan gender Yve.
"Pendek sekali." Ferran mengusap dagunya sambil melihat Yve lebih dekat. Sementara Yve yang tidak suka dilihat begitu, lebih memilih mendudukkan kepalanya.
Wajahnya menyebalkan, mirip Soni!
"Halo namaku Ferran. Namamu siapa?"
Meskipun Yve yang ditanyai, tapi yang gelagapan adalah Beng dan South. Kalau Yve mengeluarkan suara, sudah jelas akan ketahuan kalau dia perempuan. Apalagi statusnya masih gadis SMA.
Yve mendongak, memperlihatkan wajahnya dan tersenyum kearah Ferran.
"Tampan sekali. Saking tampannya malah kelihatan cantik." seru Ferran.
__ADS_1
"Mana ada tampan cantik." Balas Bai Lian.
Sebenarnya Bai Lian juga tidak ingin Ferran mengetahui kalau Yve perempuan. Jadi ia berusaha mengalihkan topik.
"Apa dia hebat?" tanya Ferran.
"Setidaknya cukup untuk membersihkan sampah di sekelilingku."
Ferran mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya kearah meja kursi di dekat sana.
"Ayo duduk, aku akan memberikanmu susu sapi yang kudapat dari perternakan temanku." Ferran mulai duduk di kursi, dan disusul oleh Bai Lian.
"Susu? kenapa tidak minuman jualanmu saja?"
"Astaga, aku sudah berkutat dengan minuman bertahun-tahun. Aku bosan dengan benda cair itu." keluh Ferran.
Yve, Beng, dan South tidak langsung pergi. Mereka dengan setia berdiri di sisi kursi Bai Lian. Yve sebenarnya tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia hanya meniru Beng dan South.
"Lalu bagaimana dengan permintaanku?" ekspresi Bai Lian berubah serius.
Ferran mengangguk kemudian membuka suara.
"Aku mendapatkan informasi dari orang yang kupercayai. Tidak salah salah lagi, semua mengarah ke adikmu, Lin. Dia benar-benar melakukan perdagangan senjata ilegal. Tapi untuk bukti informasi dagang, dan siapa saja koleganya, masih belum diketahui. Cukup susah untuk mendekati Lin. Aku mengirim 3 orang untuk membuntutinya, dan yang berhasil selamat hanya 1 orang. Kaki tangannya yang bernama Levin itu menyeramkan sekali." jelas Ferran sambil merinding ketakutan.
"Orang yang kukirim untuk menyelidiki Levin juga terbunuh." ucap Bai Lian.
"Aku mengutus orang lagi. Kali ini... dia lebih hebat." Bai Lian diam-diam melirik Yve yang berdiri di sebelah kanannya.
Apa maksudnya aku? Yve pura-pura tidak peduli dengan pembicaraan mereka.
"Silahkan tuan-tuan." Pembantu blonde tadi kembali. Ia bersama dua pelayan lain yang masing-masing membawa beberapa gelas susu sapi.
"Horeeee akhirnya tiba." Ferran terlihat senang, lalu mengambil satu gelas dan meneguknya secepat kilat.
"Ya ampun, kau berubah menjadi bayi besar." canda Bai Lian kemudian ikut meminum susu yang disediakan.
"Ini lebih enak daripada minuman keras itu."
"Oh iya bagaimana dengan adikmu?" tanya Bai Lian.
Yve mempertajam pendengarannya karena sepertinya ia akan mendengar sesuatu tentang Soni. Maka rasa penasarannya akan terbayarkan.
"Aku masih tidak berani mengatakan kebenaran tentang pekerjaanku ini. Aku takut dia akan akan menjadi sepertiku yang setiap saat berkubang dengan dunia gelap. Aku ingin dia menjadi orang yang hebat, tidak sepertiku yang pecundang."
Yve paham kekhawatiran kakak Soni. Bagaimanapun tidak ada hal baik jika sudah tersentuh dunia hitam ini. Hanya ada dosa disini. Kalau saja Yve tidak ikut Bai Lian, mungkin ia hanya anak bandel yang suka balapan liar saja, dan membunuh kalau ada penjahat yang mendesaknya. Tapi kali ini berbeda, ia setiap saat harus siap membunuh siapapun yang mengancam tuannya.
__ADS_1
Sekarang lebih parah. Yve harus ikut menjadi bawahan orang yang lebih kejam lagi, yaitu Lin. Entah bagaimana nasibnya kelak. Yang pasti, tangannya akan lebih kotor nanti.
"Benar-benar kakak yang baik." goda Bai Lian.
Tiba-tiba pelayan blonde sebelumnya mendekati Yve, dan tersenyum dengan ramah. "Tuan tidak mau meminumnya?" ucap pelayan itu sambil menatap Yve.
Yve tidak menjawab, dan memilih untuk mengalihkan pandangannya pada Bai Lian.
Bukannya sedih karena diacuhkan, pelayan tadi malah semakin terpesona dengan sikap cuek Yve. Baginya itu terlihat lebih tampan puluhan kali lipat. Ia tidak menyangka bisa melihat orang yang begitu tampan. Setidaknya, hanya Yve yang tidak terlihat menyeramkan seperti dua orang sisanya. Malah sangat tampan seperti tokoh komik yang ia baca.
"Tuan, kalau tidak suka rasanya, bisa saya ganti."
Yve masih tidak menjawab. Ia sudah terbiasa seperti ini saat menjadi pangeran bisu. Raut wajah dingin seperti tidak ingin menjawab pertanyaan apapun, sudah menjadi makanan sehari-harinya.
"Lian, sepertinya kepala pelayanku Risa, menyukai salah satu bodyguardmu." Ferran menatap Yve sambil menaikkan kedua alisnya. "Risa cantik, dan dia tampan. Kalian cocok sekali."
"Tu-tuan bisa saja." Risa nampak malu-malu.
"Bagus, bagaimana kalau kita menjodohkannya saja?" Bai Lian terkekeh.
"Berengsek!!!" Yve sepontan mengumpat lalu menendang kursi Bai Lian, hingga membuat gelas susu ditangannya jatuh.
"Bocah!" teriak Bai Lian.
"Eh? eh? perempuan?" Ferran terkejut dan bangkit dari kursinya. "Pantas cantik sekali."
Risa nampak syok mendengarnya, hingga tidak ada ekspresi di wajahnya.
"Biasa saja." kata Bai Lian sambil membersihkan jasnya dari cipratan susu.
Sorot mata Ferran pada Yve berubah. "Kalau begitu boleh untukku?" Ferran tersenyum dengan jahil.
Brak!!!
Bai Lian menggebrak meja dengan kuat. Ferran hampir saja melonjak kaget.
"Terimakasih untuk waktunya. Aku mau pulang." Bai Lian segera berdiri dan berjalan pergi.
"Tunggu-"
"Tuan Ferran, tidak perlu mengantar kami." kata Beng.
"Tapi-"
"Tuan Ferran, sebaiknya anda tidak mengatakannya lagi." South ikut bersuara.
__ADS_1
Ya ampun, mereka kenapa?