Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Kekhawatirannya


__ADS_3

Perlahan Bai Lian membuka mata. Pemandangan langit-langit kamar yang nampak tidak asing menyambutnya. Dengan kepala yang sedikit pusing, ia melihat kearah tembok untuk mencari jam dinding.


Waktu menunjukkan pukul 3 pagi.


"Aduh, apa yang terjadi?" Bai Lian memaksakan dirinya untuk duduk. Lalu kembali melihat sekeliling.


Mereka...


Keempat bodyguard yang tidur sembarangan membuat Bai Lian terkejut. Sky, Yin Yang, dan Leo tidur bersama-sama diatas lantai dengan posisi andalan masing-masing. Dan yang lebih membuat boss mafia itu terkejut adalah kamar yang ia tempati.


Ini kamar Yve.


Masih dalam keadaan pusing, Bai Lian mencoba mengingat-ingat kenapa ia bisa berada disini.


Perlahan kepingan ingatan mulai terbentuk. Saat itu, dirinya dan Yve sedang dikejar-kejar oleh orang suruhan Hino. Lalu, Yve bertanya pada Devian nama jalan, setelah itu meyuruhnya berpegangan lebih erat.


Benar juga! Yve!


Apa dia baik-baik saja?


Kenapa Yve tidak ada disini?


Aku harus mencarinya!


Bai Lian perlahan menuruni ranjang. Ia sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar keeempat bodyguardnya tidak terbangun. Jika mereka bangun, jelas akan menghalanginya untuk pergi mencari Yve. Dengan langkah pasti, Bai Lian mulai mendekati pintu.


"Aaa!!!" Sky tiba-tiba berteriak, dan Bai Lian seketika berhenti bergerak.


"Lipstik diskon... Oh kemarilah lipstik diskon."


Bai Lian langsung mengehela nafas lega. Ternyata bodyguard senior itu hanya mengigau. Dan setelah memastikan semua orang tidur dengan tenang. Bai Lian mencoba membuka pintu perlahan.


"Eh? Tuan Bai Lian?"


Suara Leo membuat Bai Lian langsung menoleh.


"Tuan Bai Lian, anda yakin memberikan uang dua Triliun itu untuk saya? Terimakasih tuan. Horeee aku kaya! Akhirnya aku kaya!" Leo mengigau sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Sepertinya percuma aku pergi dengan mengendap-endap. Mereka tidur nyenyak sekali.


Lagipula kenapa nominalnya dua triliun?


Sudahlah.


Akhirnya Bai Lian keluar kamar tanpa berhati-hati. Benar saja, para bodyguardnya tidak terbangun.


Masih dengan kekhawatiran yang tinggi. Bai Lian turun tangga dengan cepat sambil celingukan mencari keberadaan Yve. Ia masih memikirkan gadis itu. Apakah Yve yang mengatasi semua pengejar itu? Dan dirinya diamankan terlebih dahulu oleh para bodyguardnya? Tapi kenapa bodyguard membawanya ke rumah Yve?

__ADS_1


Semakin banyak memikirkan kemungkinan-kemungkinan, semakin sakit kepala Bai Lian. Tapi ia terus berjalan menuju cafe bagian depan untuk mencari gadis itu.


"Ada-ada saja. Baiklah kak Devian, hubungi aku kalau mereka sudah sadar."


Bai Lian akhirnya melihat Yve. Dia sedang duduk di salah satu meja membelakanginya. Dan setelah menelpon, gadis itu mulai meminum kopi dari cangkir di depannya.


Syukurlah. Ternyata Yve disini. Lega sekali melihatnya baik-baik saja.


Kira-kira perasaan ini disebut apa ya?


Saat aku melihatnya rasanya sudah menyenangkan. Dan saat melihatnya tertawa rasanya aku ingin memberikan semua kebahagiaan didunia untuk melihat tawanya lagi. Lalu saat tahu dia terluka, aku juga merasa terluka. Dan yang paling sering kurasakan adalah, ketika dia bersama orang lain rasanya aku ingin menggantikan orang itu untuk mengobrol bersamanya.


Apakah benar kalau perasaan ini... Adalah perasaan sayang seorang ayah pada anaknya?


Yang kubaca di buku seperti itu.


"Aku melihatmu, Bai Lian." Yve menoleh.


Tidak... Pasti ini cinta.


"Bagaimana kau tahu aku disini?"


"Ada pantulan dirimu di kaca." Yve berdiri dan berjalan mendekati Bai Lian. "Mau minum? Aku akan mengambilkannya untukmu."


"Aku tidak haus." Bai lain pura-pura acuh dan duduk di kursi yang ditempati Yve tadi.


"Tidak haus? Kau bicara sangat banyak tadi, pasti haus." Yve menahan tawanya sambil berjalan menuju dapur. Ia masih tidak habis pikir dengan pabrik permen karet itu.


Bai Lian menggaruk kepalanya dengan bingung.


Tidak sampai lima menit, Yve kembali dengan secangkir teh hangat dan menaruhnya di hadapan Bai Lian. Lalu ia menggeser kopinya ke samping kemudian duduk disana.


"Apa maksudmu aku banyak bicara?" Tanya Bai Lian.


"Tidak. Lupakan saja."


Bai Lian meminum teh dari Yve sambil melirik gadis itu. "Kenapa kau tidak tidur?" Tanyanya setelah selesai minum.


"Tentu saja untuk menjagamu. Para bodyguard itu sudah tua, mereka mudah mengantuk. Kalau semua orang tidur, siapa yang menjagamu? Lagipula aku juga ingin mengetahui kondisi paman Beruang, South, dan North."


Dia bilang menjagaku? Astaga aku senang sekali!!!


"Ehem! Lalu bagaimana dengan keadaan mereka?" Bai Lian mencoba berekspresi datar.


"Paman Beruang, dan South pingsan. Katanya mereka melihat penampakan di area parkir mobil. North yang menyelamatkan mereka dari para orang suruhan paman Hino. Kak Devian datang tepat waktu, tapi sayang penampakannya sudah hilang. Padahal kak Devian suka sekali hal-hal mistis. Lalu paman Hino-"


"Kau mengerti banyak soal orang lain." Bai Lian menaruh cangkir tehnya dan menatap kearah jendela besar yang memantulkan bayangannya.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kau tahu apa yang disukai Devian. Sungguh sangat perhatian."


Yve hanya bingung kenapa perkataan Bai Lian terdengar kesal.


Seluruh bodyguard juga tahu kalau kak Devian menyukai hal-hal mistis. Kenapa sikap Bai Lian seolah kesal kalau hanya aku yang mengetahuinya?


Apakah dia cemburu?!


Ah tidak mungkin! Aku berpikir terlalu jauh hanya karena ocehan Bai Lian yang mengatakan dia menyukaiku.


"Bukannya aku yang terlalu perhatian, tapi kau yang tidak mengetahui soal bodyguardmu dengan baik."


Bai Lian terdiam. Apa yang Yve katakan benar. Meskipun ia tahu kebiasaan para bodyguardnya, tapi ia tidak tahu bagaimana perasaan dan hobi mereka. Yang ia tahu hanya South menyukai cemilan aneh.


"Oh iya kau belum makan apapun. Seingatku nasi goreng buatan Kian masih ada. Dia memasak terlalu banyak. Apa kau mau?" Tawar Yve.


"Siapa itu Kian?"


Benar juga! Aku belum bercerita pada Bai Lian soal Kian.


Yve menggaruk pelipisnya sambil berpikir. "Hmmm anggap saja pegawai baru."


"Laki-laki atau perempuan?" Tatapan Bai Lian mulai tidak bersahabat.


"Laki-laki."


"Ck! Kenapa tidak mencari pegawai perempuan saja? Bukankah kalian sudah memiliki banyak pegawai?"


Kenapa tiba-tiba dia marah? Memangnya ada kata-kataku yang salah? Yve menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Begini, Orion sudah lama tidak berangkat bekerja. Kakakku merasa tidak enak kalau harus menegurnya. Karena kebetulan ada orang yang nganggur, jadi kakakku memperkerjakannya."


Bai Lian masih tidak terlihat senang dengan jawaban Yve. "Oh."


"Jadi kau mau makan atau tidak?"


"Aku tidak suka memakan masakan orang lain. Tapi..."


"Tapi?"


"Jika kau yang membuatnya, apapun itu, aku akan makan dengan sangat lahap." Bai Lian tersenyum dengan lembut kearah Yve.


Sementara Yve hanya mengangguk pelan, lalu bejalan kearah dapur.


Dia benar-benar akan masak untukku? Oh tidak! Aku terlalu senang. Tenang... Aku masih harus berekspresi datar.

__ADS_1


Tiba-tiba Bai Lian mencium sesuatu yang aneh.


Kenapa ada bau gosong?


__ADS_2