
Yve dengan cepat memberikan serangan lainnya. Tapi dengan ekspresi gembira, Lin menghalau semua serangan gadis itu.
"Kau tahu, betapa senangnya aku saat melihat si penyusup itu adalah kau?"
Lin masih tersenyum saat Yve melayangkan tinjunya berkali-kali tapi dengan mudah bisa dihindarinya.
"Aku tidak mau tahu!"
Bugh!
Lin berhasil memukul kepala Yve lebih dulu dan membuat gadis itu tersungkur.
"Lemah. Bukan tandinganku." Lin dengan malas memainkan lehernya sambil berjalan mendekati Yve. "Tapi aku suka dengan orang lemah sepertimu."
"Kau begitu jahat. Pantas saja orang-orang membencimu." Yve perlahan bangkit dan kembali berdiri. "Orang jahat sepertimu, masih memiliki muka melakukan bisnis tercela? Sungguh lucu."
"Lalu kalau aku jahat, siapa yang baik? Kak Lian? Hahaha." Lin tertawa sambil memegangi perutnya. "Segala sesuatu yang menyangkut kak Lian pasti selalu baik. Dia juga sangat beruntung memiliki anak buah yang begitu memperhatikannya, seperti dirimu. Sementara aku? Para bawahanku hanya bisa mengkhianatiku."
"Kasihan sekali. Kau kaya raya tapi tidak memiliki cermin. Berkacalah! Dan lihat kenapa bawahanmu mengkhianatimu."
Grep!
Lin mencengkram leher Yve dengan sebelah tangan dan mencekiknya.
Yve menggunakan kedua tangannya untuk menahan tangan Lin mencekiknya lebih kuat, tapi gagal. Perbedaan kekuatan mereka sangat jauh. Apalagi Yve yang mulai kehabisan tenaga setelah melawan banyak preman penjaga sebelumnya.
Drrtt!!!
Tiba-tiba ponsel Lin bergetar. Sungguh waktu yang tidak tepat. Lin mengambil ponsel itu dari dalam sakunya dengan tangannya yang lain.
"Halo ayah. Barangku yang ketinggalan sepertinya hilang diambil tikus kecil." Lin masih sempat melirik Yve sambil tersenyum. "Jadi, ayah pergi saja dulu. Tidak masalah kok." Kata Lin dengan nada anak manjanya yang terkesan polos dan lugu.
"Ka... Kek."
Lin buru-buru mengakhiri panggilan. Tidak disangka masih dicekik pun bisa mengeluarkan suara. Untung saja ia sigap mematikan panggilan, kalau tidak ayahnya pasti curiga.
"Masih bisa bicara hah?!"
Bugh!
Sebelum Yve terlihat ingin menendang Lin, laki-laki itu sudah lebih dulu memukulnya hingga Yve jatuh ke lantai.
Yve buru-buru berdiri, tangannya dengan cepat meraih vas bunga kecil di atas meja, mengangkatnya, dan memukulkannya ke kepala Lin.
Prang!!!
Lin menggelengkan kepalanya karena mati rasa. Sialnya vas itu tidak terlalu keras, namun hantamannya cukup untuk melukai kepala Lin. Darah mengalir di sepanjang pelipis laki-laki yang mirip Bai Lian itu.
Lin terlihat tidak merasakan sakit. Hanya terpana sebentar selagi jemarinya menyentuh darah yang mengalir dan menatap darah merah cerah tersebut.
"Menarik." Senyum menyeramkan muncul di wajah Lin.
Sial! Dia seperti sikopet!!!
Yve melirik kanan kiri dan mencoba meraih apapun di dekatnya.
Bugh!
__ADS_1
Yve kembali mendapat pukulan dari Lin, dan lagi-lagi jatuh menghantam lantai.
Sial! Berengsek!
Yve melihat tangannya yang tadi berusaha meraih sesuatu. Sungguh sebuah kesialan yang besar, karena benda yang bisa ia raih hanya buku. Mana bisa digunakan jadi senjata?!
Tunggu... Ini... Mungkin saja bisa.
Yve melihat di belakang Lin, tempat belatinya terpental tadi.
Itu dia!
"Apa kau senang menjadi peliharaan setia kak Lian? Sungguh bodoh." Lin berjongkok di depan Yve yang masih belum berdiri dari lantai.
"Kau itu yang bodoh! Bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya sama sekali!"
"Mulutmu bagus! sangat bagus! Sukai saja dia! Semua orang menyukainya! Tidak peduli seberapa banyak aku mencoba... Tidak peduli seberapa keras aku berjuang, orang-orang hanya akan melihat si berengsek itu! Apa bagusnya dia?! Bernafas di udara yang sama dengannya sudah cukup menjijikkan bagiku."
Lin menggenggam rambut Yve dan menariknya hingga wajah mereka berdekatan. "Informasi apa yang kau inginkan dariku? Apa kak Lian yang memintanya?"
"Aku tidak berkewajiban menjawab pertanyaan dari sampah sepertimu." Yve tersenyum dengan mulut yang mulai mengeluarkan darah.
"Diam!"
Lin melepaskan tangannya dari kepala Yve, lalu memukul wajah gadis itu dengan kekuatan penuh.
Duagh!
"Orang sepertimu. Tidak akan pernah tau perasaanku!"
"Jika kau ingin seseorang memahami perasaanmu... Seharusnya bukan ini jalan keluarnya kan?" Yve berusaha bangun dengan terhuyung-huyung. Mulut Yve sudah dipenuhi darah. Meskipun begitu, Yve tetap melihat Lin tanpa perasaan takut sekalipun.
Kak Lian berengsek! Kenapa kau bisa membuat Yve berada disisimu sampai seperti ini?!
Tapi... Aku sangat suka dengan perempuan seperti Yve. Penuh tantangan dan penolakan. Benar-benar membuatku tertarik. Aku ingin tahu sampai berapa lama lagi ia akan bersikap keras kepala seperti ini.
"Aku akan berhenti memukulmu. Jika kau mau menuruti semua permintaanku." Tawar Lin.
"Kalau begitu pukul saja aku lagi." Ucap Yve dengan bangga.
Ck! Menyebalkan!
Bugh!
Lin benar-benar memukul Yve. Dan darah baru kembali keluar di sudut bibir gadis itu.
"Kau ingin aku membunuhmu kan? Ha!!!"
"Tentu saja tidak. Karena aku, tidak akan kalah." Yve tersenyum dan melemparkan buku ditangannya.
Lin langsung melindungi dirinya. Tapi anehnya buku itu tidak kunjung mengenainya.
"Melempar barang sampai meleset begitu. Benar-benar menyedihkan!" Cibir Lin.
Ting!
"Heh... Siapa yang meleset?" Yve sedikit berjongkok dan mengambil sesuatu yang sudah berpindah dibawah kakinya.
__ADS_1
Apa itu? Lin mengerutkan keningnya.
"Bai Lian dan kau memang berbeda. Jangan karena kakakmu sedikit di puji, membuatmu melihatnya sebagai patokan. Ingin sepertinya agar begini dan begitu. Atau menarik perhatian orang agar mengabaikan kakakmu. Sampai kau melupakan dirimu sendiri. Karena pada akhirnya, jika kau menjadi diri sendiri itu akan lebih bagus."
Lin tidak bergerak, ia mendengarkan perkataan Yve sambil mematung. "Aku tidak menirunya! Dia-"
Benar juga... Aku selama ini terus melihat kak Lian, dan membayangkan kalau jadi orang sepertinya. Pasti menyenangkan karena selalu diperhatikan oleh orang-orang. Cih!
"Jangan bicara seolah kau mengenalku!" Lin kembali marah. Tangannya mengepal dan bersiap untuk memukul Yve lagi.
"Aku tidak bicara seolah mengenalmu. Lagipula siapa yang ingin mengenalmu?" Yve tertawa sinis sambil mengangkat kedua bahunya.
Lin berjalan mendekati Yve dengan kesal. "Aku akan mem-"
Jleb!
Yve menusuk bahu Lin dengan belatinya. "Membunuhku? Sudah kubilang, aku akan menang."
Bruk!
Lin terduduk sambil memegangi bahunya yang mulai mengeluarkan banyak darah. "Bagaimana bisa?" Gumamnya sambil mencoba menahan sakit.
"Aku menggunakan buku tadi untuk melempar belatiku sendiri. Jadi otomatis benda ini akan bergeser kemari." Yve tersenyum dan memainkan belati di tangannya. "Sekarang, kau bisa pilih. Tangan satunya atau kaki? Atau perut?"
"Menurutmu, aku akan kalah hanya dengan ini?" Lin menyeringai dan mencoba untuk berdiri.
"Tentu saja tidak!"
Jleb!
Dengan kecepatan andalan gadis itu, kali ini Yve menusuk kaki Lin dengan sangat dalam, bahkan hampir setengah dari belatinya masuk.
"Aargh!!!"
Lin berteriak kesakitan dan kembali tersungkur diatas lantai.
"Kau tahu, aku memang akan kalah jika bertarung tangan kosong denganmu, karena aku akui kau sangat hebat. Bukan bermaksud curang karena melawanmu menggunakan senjata sekarang, tapi aku hanya mencoba bertarung dengan otak, bukan dengan otot."
"Kau itu bodoh! Kau pikir kak Lian akan memperhatikanmu setelah ini? Bertindak sebagai peliharaan setia tidak akan membuat hatinya goyah!"
"Kenapa tiba-tiba membahas ini?" Yve menggaruk kepalanya yang masih memegang belati berlumuran darah Lin. "Dia melihatku atau tidak, aku tidak peduli hahaha."
"Dasar bodoh!"
"Lebih baik, kita bahas yang lain saja." Yve kembali mendekati Lin. "Aku akan menusuk kakimu yang satunya, agar mudah saat di bawa ke kantor polisi nanti, oke?" Yve tersenyum dengan imut.
"Kau..." Lin tidak sanggup berdiri. Kakinya sangat sakit hingga tidak kuat menopang tubuhnya. Bangun pun juga sulit, karena tangannya tidak bisa berpegangan akibat luka dari Yve sebelumnya.
Dum!!!
Tiba-tiba lantai terasa bergetar, goncangan nya bahkan menjatuhkan semua buku Lin dari raknya, begitupun juga dengan barang-barang lainnya diatas meja.
"Eh? Eh? Ada apa ini? Gempa?" Yve mencoba berpegangan pada tembok.
"Ti-tidak mungkin..." Lin terlihat ketakutan dengan mata yang terbelalak. "Levin..."
"Hah? Kau bicara apa?"
__ADS_1
"Levin akan menghancurkan tempat ini!!!"