Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Saat Itu


__ADS_3

Flasback


Ding!


Waktu hitung mundur penghancuran gedung dimulai.


Levin menatap tulisan itu di layar komputer besar yang baru saja ia tekan. Deretan angka yang menunjukkan waktu hitung mundur kurang dari 2 menit dimulai.


Dengan berat, Levin melihat satu-satunya cctv diruangan itu. Ia tersenyum kecut kesana. Ia tahu benar kalau Devian saat ini pasti sedang melihatnya. Sayangnya Levin sudah tidak memakai earphone, jadi tidak bisa mendengar caci maki Devian yang mungkin sedang dikatakannya.


Waktu hidupnya tidak sampai 2 menit sekarang, Levin tidak pernah menyangka kalau dia bisa menunggu sendiri ajal menjemputnya.


Kira-kira apa yang akan kalian lakukan jika memiliki sisa hidup tidak sampai 2 menit? Mungkin saja berharap untuk diberi waktu hidup sedikit lebih lama lagi. Tapi Levin hanya ingin kalau puing bangunan yang menimpanya nanti sangat besar, hingga tidak perlu membuatnya tersiksa dulu, dan langsung mati.


Penghancuran aktif, dimulai dari gedung bagian selatan.


Setelah tulisan itu muncul, bunyi dentuman langsung menyertainya.


Dum!


Bangunan langsung bergetar dengan hebat. Levin sampai harus berpegangan pada dinding di belakangnya agar tidak jatuh.


Apa Yve baik-baik saja? Preman tadi... Benar orang baik kan?


Levin tersenyum dan memegang kepalanya. Ternyata di penghujung hidupnya, ia masih bisa memikirkan Yve. Mungkin karena bagi Levin, Yve adalah segalanya.


Karena sudah pasrah, Levin memutuskan untuk duduk saja diatas lantai. Ia melihat ruangan yang sudah lama ia tinggalkan semenjak pembangunannya.


Di ruangan ini hanya ada pintu besi yang sudah tertutup dan terkunci otomatis, lukisan raksasa bergambar pemandangan, dan sebuah kipas angin yang melekat di dinding.


Ternyata tempatku mati cukup sederhana.


Karena hanya lukisan pemandangan satu-satunya yang cukup enak dipandang, Levin terus melihatnya sambil membayangkan jika berada di dalam lukisan itu pasti menyenangkan.


Dum!


Bangunan kembali bergetar. Cctv mati seketika karena getaran. Kali ini Levin tidak menunjukkan ekspresi apapun. Karena mungkin sebentar lagi bagian ruangan ini yang runtuh, jadi buat apa panik dan sedih?


Krak!


Kedua alis Levin berkerut saat melihat lukisan raksasa sebelumnya bergerak. Sepertinya gerakan itu bukan berasal dari runtuhnya gedung yang mulai terjadi.

__ADS_1


Klotak!


Lukisan itu terjatuh dan dibaliknya menampakkan sosok Lin yang sedang berjalan merambat dinding dengan terengah-engah.


"Tidak mungkin!" Levin langsung berdiri dan menatap kearah Lin.


"Ternyata itu benar-benar kau, Levin." Lin tersenyum kemudian menunjuk ke tempatnya datang tadi. "Ayo cepat kemari, sebelum tempat ini runtuh."


Levin terdiam sebentar, kemudian berjalan mendekati Lin.


Dia terluka. Apa mungkin karena Yve?


Setelah berada di dekat Lin, Levin langsung mencengkram tangan mantan bossnya itu dengan kuat. "Tidak ada yang boleh pergi. Kau harus mati disini!"


"Baiklah." Lin tersenyum. "Aku akan berada disini, kau pergilah."


Apa? Kenapa dia bersikap baik padaku?


Levin keheranan sebentar, tapi kemudian dia tersadar.


Tidak mungkin! Itu pasti siasat! Mana mungkin dia mau mati disini dan membiarkanku pergi?


"Pembohong. Kau itu dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki hanya dipenuhi oleh kebohongan yang licik. Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini!" Levin menguatkan cengkramannya pada tangan Lin.


Dum!


"Tidak ada waktu lagi." Dengan sebelah tangan, Lin mengambil borgol dari dalam sakunya. "Kalau kau tidak percaya padaku, kau bisa memborgolku di tempat ini. Tapi berjanjilah padaku, kau harus segera pergi dari sini." Ucap Lin dengan ekspresi serius.


Apa katanya? Sebentar... Mungkin pendengaranku terganggu oleh suara dentuman, jadi berhalusinasi kalau iblis ini berkata sesuatu yang baik bak malaikat.


"Tidak ada waktu untuk berpikir. Cepatlah! Borgol aku!" Lin menyodorkan sebelah tangannya dengan pasrah.


"Kau yang memintanya!"


Dengan kasar Levin menarik Lin kearah pintu besi. Ia tidak peduli kalau kaki Lin semakin terluka karena penarikan paksanya.


Klik!


Levin benar-benar memasang borgol pada Lin. Tidak lupa ia merebut paksa kunci borgol yang Lin bawa.


"Matilah dasar tiran!" Bentak Levin lalu berlari menjauhi Lin.

__ADS_1


Jalan yang ditunjukkan Lin sebelumnya ternyata tembus ke ruangan Lin sendiri. Jujur saja Levin tidak mengetahui ini. Saat membuat ruangan penghacuran gedung, Lin dengan sepihak menaruh lukisan itu disana, dan Levin tidak pernah terpikir kalau dibaliknya ada jalan rahasia.


Levin celingukan, ternyata disana sudah tidak ada Yve.


Yve benar-benar sudah selamat kan?


Aku harus cepat-cepat pergi untuk memastikannya.


Levin berlari dengan cepat keluar ruangan Lin. Ia langsung melihat sebuah jendela terbuka di lorong itu.


Sip, bisa lewat sini.


Sebelum melompati jendela. Levin kembali menoleh kearah ruangan Lin.


Dia... Benar-benar tidak bisa keluar kan?


Levin menggigit bibir bawahnya sambil berpikir keras. Sebenarnya ia tidak menyukai cara itu. Lin akan mati dalam keadaan terborgol.


Apakah itu baik jika dilihat oleh tuan besar?


Krak!


Levin dapat mendengar dengan jelas suara retakan di tembok. Sebentar lagi, pasti tempat ini akan runtuh.


Dang!


Kali ini suara pintu besi yang jatuh menggema.


Itu pasti dari Lin!


Entah kenapa tiba-tiba kaki Levin sepontan berlari kembali memasuki ruangan Lin. Ia menuju ke tempat Lin terborgol di pintu besi.


Saat sampai, betapa terkejutnya Levin karena melihat Lin tertimpa pintu besi. Dengan mulut dan kepala mengeluarkan darah.


"Oi!" Levin buru-buru mengangkat pintu itu dan sebelah tangannya langsung menarik Lin keluar. Padahal pintu itu terasa sangat berat, tapi entah dapat kekuatan dari mana Levin bisa mengangkatnya dan berhasil menyelamatkan Lin.


"Oi! Bangun! Oi!!!" Levin menampar kedua pipi Lin tapi tetap tidak ada respon.


Krak! Krak!


Levin menatap sekitar. Retakan di dinding merambat dengan cepat.

__ADS_1


Sial!


Levin segera melepaskan borgol Lin dan membawanya pergi secepat mungkin.


__ADS_2