
13 tahun yang lalu.
Panti asuhan ceria bersama.
Seorang anak laki-laki bangun dari tidurnya tepat waktu. Ia berjalan ke kamar dan membasuh muka. Semua dilakukannya dengan teratur.
Dia adalah Levin yang berusia 7 tahun. Levin adalah satu-satunya anak cerdas yang paling disanjung oleh para ibu asuh di panti asuhan. Selain kecerdasannya, sifatnya yang sopan dengan tutur kata yang halus membuat siapapun akan memujinya dibelakang.
Setelah melakukan rutinitas paginya, Levin mengambil buku tebal berisi rangkaian rumus matematika, dan membawanya ke taman panti.
Suasana pagi di taman panti asuhan terbilang cukup sepi. Mungkin hanya ada beberapa ibu asuh yang hilir mudik membawa jemuran atau sayuran untuk dimasak sebagai sarapan.
Panti asuhan yang berdiri lebih dari setengah abad ini terbilang besar. Ada tiga bagunan dengan sebuah taman raksasa ditengahnya. Levin sering duduk dibawah pohon mangga diujung taman. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat panti asuhan dari segala arah. Sungguh tempat yang nyaman.
Seperti biasa, Levin akan duduk sambil membaca buku apapun yang diberikan ibu asuh padanya. Terlalu sering disuruh membaca, membuat Levin menjadi ketagihan sendiri untuk membaca buku.
"Yve! kemari kau bocah nakal! selalu saja mencuri roti!"
Levin menoleh kearah dapur panti. Disana seorang ibu asuh nampak mengejar gadis kecil yang berlari sambil mendekap sepotong roti.
"Aku tidak mencuri! kalian tidak memberiku makan malam. Aku hanya mengambil jatah makanku!" Gadis kecil itu masih sempat berbicara ditengah usahanya untuk melarikan diri.
Berisik. Aku tidak suka sesuatu yang berisik. Menganggu belajar.
Meskipun merasa terganggu. Entah kenapa Levin juga penasaran tentang akhir dari pelarian si gadis kecil. Apakah dia bisa lolos?
Levin mengintip dari balik bukunya.
Gubrak!
"Aduh!" Gadis kecil itu terjatuh karena tersandung batu taman.
"Diam juga kau!" Ibu asuh yang mengejarnya langsung mendatangi gadis kecil itu dan merebut roti ditangannya. "Lain kali bersikaplah baik! Kalau masih mau makan."
Levin yang melihatnya merasa iba. Tapi segera ia tepis perasaan itu. Sekarang, ia harus belajar. Karena kata ibu asuh, kalau ia pintar maka akan ada orang baik yang mengadopsinya. Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan orang lain sekarang.
"Hei! minggir!"
Levin menurunkan bukunya. Ia melihat wajah gadis kecil tadi menatapnya.
"Kamu bicara padaku?" Levin menunjuk dirinya sendiri.
"Bodoh! tentu saja aku bicara padamu. Memangnya pohon bisa menjawabku?"
"Kamu tidak bisa berkata lebih sopan? aku ini lebih tua darimu."
"Tidak ada kata sopan di kamus Yve."
"Yve?"
"Namaku Yvenia Guilietta, ingat itu, dasar bodoh!"
Levin tersenyum tipis, "bisa berhenti memanggilku bodoh? itu tidak sopan."
"Ah banyak bicara, minggir!" Yve kecil mendorong Levin. Lalu memanjat pohon mangga dibelakangnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Levin sambil melihat Yve dengan was-was.
"Mencari makan, aku lapar!"
"Tapi mangganya belum matang. Tunggu sebentar lagi, saat matang nanti pasti diambilkan oleh ibu asuh."
"Tahu darimana ini belum matang? memangnya kau bisa bicara pada pohon mangga?"
Levin menepuk dahinya tidak percaya. Bisa-bisanya ada orang yang tidak paham sampai seperti itu. Tapi jika dilihat dari umurnya itu wajar. Masih kecil.
__ADS_1
"Berapa umurmu?" Tanya Levin sambil melihat Yve yang berpindah dari dahan ke dahan.
"5 tahun."
"Kau belajar kata-kata kotor dari mana? sebaiknya jangan diucapkan lagi." Teriak Levin dari bawah.
"Aku melihat paman preman yang baik di luar gerbang sekolahku sering mengatakannya. Kupikir itu keren." Ucap Yve dengan wajah polosnya.
"Preman tidak ada yang baik." Levin bergidik ngeri. Apalagi jika mengingat berita-berita sadis yang ia baca tentang preman.
"Tapi paman preman itu baik. Dia sering memberiku permen coklat. Katanya, paman hanya akan jahat pada orang yang lewat naik motor. Dia akan menendang motor itu dan meminta permen. Setelah itu aku diberikan permen juga." Yve tersenyum saat membayangkannya.
Apa itu begal?! Levin lagi-lagi merasa ngeri.
"Suatu hari aku akan menjadi preman. Lalu membagikan banyak permen pada anak-anak."
Levin terkejut mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar cita-cita ingin jadi preman.
"Bukankah lebih baik memiliki cita-cita yang benar? seperti jadi guru atau dokter?"
Yve dari atas pohon melirik Levin dengan tatapan dingin. Levin jadi tidak berani menatap kedua mata gadis kecil itu.
"Memiliki cita-cita yang bagus lalu menjadi boneka tangan orang-orang disini? betapa menyedihkannya."
Levin tidak mengerti apa maksud Yve. Boneka tangan apa?
Yve melakukan ancang-ancang untuk melompat. Levin buru-buru bersiap untuk menangkapnya.
Bruk!
Yve turun sendiri, dan berhasil mendarat dengan selamat tanpa terlihat kesakitan. Levin merasa itu sangatlah keren.
"Dengar ya orang bodoh. Walaupun kau terus belajar dengan giat, semuanya percuma. Kau itu hanya dimanfaatkan oleh tempat ini." Jelas Yve dengan ekspresi serius.
"Dimanfaatkan?"
❀
Keesokan harinya.
Levin tidak bisa tidur semalaman. Ia terus mengingat kata-kata Yve yang tidak dipahaminya.
Apa maksudnya menjadi boneka tangan orang-orang disini?
Hari masih sangat pagi. Tapi karena Levin tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk keluar dan mendekap buku lain tentang sains ditangannya.
"Sstt! jangan terlalu keras kalau sedang memasak. Disebelah adalah kamar Levin."
Levin berhenti saat mendengar beberapa ibu asuh berbincang dikejauhan. Karena masih sangat sepi, suara itu bisa didengar oleh Levin. Ia berusaha bersembunyi agar tidak terlihat.
"Ah maaf, aku lupa itu kamar Levin."
"Dia anak cerdas, kita tidak boleh mengganggunya. Anak seperti itu pasti keluarga kaya yang mengadopsinya rela membayar mahal."
Levin terkejut mendengarnya. Ia menutup mulutnya tidak percaya.
"Kemarin ada keluarga yang ingin mengadopsinya, kenapa tidak jadi?"
"Dia tidak ingin membayar biaya perawatan kecerdasan Levin."
"Eh? apa itu?"
"Kau tidak tahu? ketua meminta uang tambahan pada keluarga yang ingin mengadopsi Levin, dengan alasan pembiayaan sudah menjadikannya cerdas."
"Haha ya ampun."
__ADS_1
Levin mengurungkan niatnya yang ingin membaca buku. Ia pergi melalui rute lain untuk menuju taman. Buku yang ada di genggaman tanganya sudah lusuh karena sedari tadi ia meremasnya dengan emosi.
Jadi ini maksudnya. Levin tersenyum kecut. Ia kasihan pada dirinya sendiri. Dimanfaatkan oleh tempat ini. Rasanya ia ingin pergi jauh.
Krieeet
Levin menoleh kearah dapur. Disana ia melihat Yve yang dengan perlahan menutup pintu. Di dekapannya terdapat tiga buah roti coklat. Dia berjalan mengendap-endap pergi dari dapur.
Levin yang penasaran mengikuti bocah kecil itu.
Sampai di gerbang belakang panti asuhan. Levin melihat Yve bicara dengan seorang pria dewasa yang dari penampilannya sudah jelas kalau itu preman.
"Paman! aku membawa roti untukmu." Seru Yve dengan senyuman polosnya.
Preman itu menoleh kearah Yve dan tersenyum dengan sangat menyeramkan pada gadis kecil itu.
Levin ingin mendatangi Yve dan menolongnya, tapi seketika ia berhenti saat melihat preman itu mengusap kepala Yve dengan penuh kasih sayang.
"Wah apa yang putri kecil ini bawa?" Preman itu berjongkok agar tinggi badannya setara dengan Yve.
"Roti untukmu." jawab Yve.
"Hahaha kau tidak lihat otot paman masih besar begini? Tidak perlu makan lagi. Dan paman tahu kalau roti itu pasti diambil oleh putri kecil dari dapur panti lagi kan? ayo cepat kembalikan. Nanti kau dimarahi."
Levin tertegun melihatnya. Perkataan Yve benar, dia tidak jahat.
"Huh! para nenek sihir itu jahat padaku! mereka tidak memberiku makan hanya karena aku memukul teman sekamarku." protes Yve.
"Kau memukulnya dengan keras?"
"Hanya pelan. Tapi dia sudah menangis seperti bayi."
"Hahaha lain kali pukul sekuat tenaga. Kalau bisa bertubi-tubi. Karena meskipun kau memukulnya pelan, hukumannya akan sama. Jadi lebih baik kau melampiaskan kekesalanmu dulu."
Yve tersenyum mendengar perkataan itu dan mengangguk. "Baik paman!"
Aku jadi bingung. Sebenarnya itu ajaran baik atau buruk? Levin menggaruk kepalanya.
❀
Seminggu kemudian. Sebuah keluarga mengadopsi Levin. Ibu asuhnya hanya berkata kalau keluarga itu sangatlah kaya, dan suka mengadopsi anak dari panti asuhan lain.
Sampai akhirnya hari saat Levin dijemput tiba.
"Halo Levin." Seorang pria kaya turun dari mobilnya bersama dengan seorang anak yang terlihat seumuran dengan Levin.
"Halo paman." Levin membungkuk dengan sopan.
"Namaku adalah Bai Jun. Dan ini anak keduaku bernama Bai Lin. Untuk kedepannya, panggil dia tuan."
Yve... sepertinya aku akan menjadi boneka tangan lagi. Levin tersenyum.
"Baik tuan."
❀
Drrttt!
Levin terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ia segera meraba sekelilingnya mencari keberadaan ponsel yang masih bergetar.
[Halo tuan] Levin mengucek matanya yang baru saja bangun. Ingatan 13 tahun lalu menjadi mimpi indahnya tadi malam.
[Cepat bangun dan kembali awasi bodyguard inti. Hari ini ada acara berkabung.]
Levin baru ingat tentang itu. Kemarin ia merancang kecelakaan yang mengakibatkan 5 bodyguard meninggal. Pastinya Bai Lian yang baik itu akan membuat acara berkabung.
__ADS_1
[Baik tuan.]