Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Kebohongan Terungkap


__ADS_3

Perlahan Yve kembali bisa merasakan tubuhnya, ia membuka mata sedikit demi sedikit. Pandangan pertama yang ia lihat adalah seorang perempuan yang sedang menangis.


"Kak Tina?"


Mendengar suara Yve, perempuan yang tadinya hanya memejamkan mata sambil menangis itu terkejut, lalu segera memegang tangan Yve.


"Akhirnya kau sudah sadar." Tina kembali menangis sesenggukan.


Setelah mendengar bossnya berkata begitu, Leo dan Kian menghampiri entah dari mana.


"Sial. Kau membuat semua orang cemas. Aku akan memberitahu Devian dulu." Leo keluar dari ruangan. Meskipun berkata begitu, tapi ekspresi lega di wajahnya tidak bisa ditutupi.


"Dewi, bagaimana perasaanmu sekarang?"


Tiba-tiba Yve merasakan nyeri di kepalanya. Saat ia meraba area kepala, terdapat balutan kain kasa disana.


Benar juga, tadi aku menyelamatkan Bai Lian.


"Aku baik-baik saja."


"Berengsek!"


Yve terkejut mendengar Tina yang tiba-tiba bicara setelah puas menangis. "Kak? Sejak kapan kau bicara kasar? Pasti Leo yang mengajarimu."


"Yve berengsek!" Tina tiba-tiba merebut bantal yang dipakai Yve untuk tidur, lalu memukulkannya pada gadis itu.


Bug!


"Hei kak, apa ini ucapan halo yang baru?" Yve tertawa meskipun dipukuli bantal.


Bug!


Bug!


Tina terus memukul Yve dengan benda itu.


"Boss, hentikan. Nanti Dewi gegar otak." Kian mencoba melerai, tapi ia malah ikut terkena pukulan bantal.


"Tunggu nona!" Devian dan Beng sampai tepat waktu. Mereka menjauhkan Tina dari Yve.


"Adikku, apa kau baik-baik saja?" Beng membantu Yve duduk.


"Ya. Itu hanya bantal. Tidak sakit sama sekali."


"Yve! Kenapa kau membohongiku? Kau sebenarnya tidak bekerja di bengkel kan?" Tina kembali menangis sambil memeluk bantal yang tadi ia gunakan untuk memukul.


Begitu ya. Sudah ada yang memberitahunya.


"Maaf kak. Aku tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya padamu."


"Aku sangat terkejut! Apalagi orang yang memberitahuku sangat menyeramkan! Lihat dia!" Tina menunjuk Beng yang kebingungan. "Orang itu menjemputku dan membuat seluruh pelanggan kabur! Mereka kira cafeku diserang mafia!!!"

__ADS_1


Tapi dia memang bodyguard mafia. Yve hanya tersenyum.


"Ternyata... Hiks. Selama ini kau... Bekerja menjadi satpam di pabrik permen karet kan?"


Ha? Oke, siapa yang memberi alasan konyol seperti itu?


Tina masih sesenggukan dan kembali bicara. "Bai Lian juga ternyata adalah pemilik pabrik permen karet itu. Hiks, pantas saja kau jarang pulang. Bekerja menjadi satpam pasti sangat melelahkan kan? Sampai-sampai kau tertimpa kardus permen karet huaaa." Kini Tina menangis dengan keras.


Pasti yang membuat alasan ini antara Leo, kak Sky, dan kak YinYang. Karena hanya mereka yang tahu Bai Lian punya pabrik permen karet.


Yve beralih menatap Leo. Laki-laki itu terkejut dan pura-pura melihat arah lain.


Ya. Dia pelakunya.


"Tenanglah kak. Aku sudah baik-baik saja." Yve tersenyum sambil meraih tangan Tina.


"Jangan bohong padaku lagi!" Tina mengerucutkan bibirnya kesal. Ia memang begitu kalau sedang marah.


"Iya." Yve mengangguk lalu mengusap kepala kakaknya.


"Tapi syukurlah teman-temanmu semua baik. Meskipun wajahnya menyeramkan." Tina sedikit berbisik saat mengatakan kalimat terakhir.


Yve melihat sekeliling. Ternyata ada banyak orang yang menunggunya sadar. Dan Yve juga baru menyadari ada Sky dan Yin Yang sedang tidur di sofa. Sebuah cupcake yang berada di atas meja bisa dipastikan jejak dari Bernard. Ia sekarang tahu, betapa besar pengaruh masuk ke dalam dunia Bodyguard. Sekarang, Yve mendapat banyak teman yang selalu ada dan menyayanginya. Keputusan yang ia ambil untuk menjadi bodyguard ternyata tidak ia sesali.


Tunggu... Mana South dan North?


"Kak Devian. Dimana South dan North?"


"Begini..." Devian menggaruk kepalanya, dan tidak yakin bisa menjawab pertanyaan Yve atau tidak. "Kau tahukan kalau itu perbuatan South?"


"Iya tahu. Dimana dia? Jangan-jangan Bai Lian menghukumnya?"


"Anehnya tidak. South sedang menangis di bawah dan North menemaninya. Mereka masih belum tahu kalau kau sudah sadar."


"Memangnya berapa lama aku pingsan?"


Tina langsung menyela. "5 jam! Kepalamu bahkan mendapat 3 jahitan." Tina kembali khawatir lalu memeluk Yve.


Berarti South menangis sampai 5 jam?


"Kak. Mungkin aku akan menginap. Bisa tolong ambilkan baju ganti?"


"Benar juga! Aku tidak kepikiran!" Tina melepaskan pelukannya lalu melihat Kian. "Ayo antarkan aku!"


"Siap." Kian langsung memberi hormat bak tentara. Lalu ia pergi bersama Tina keluar ruangan.


"Kak Devian, tolong panggil South kemari." Pinta Yve.


"Baiklah. Aku akan memanggilnya."


Setelah Devian keluar. Yve mengobrol sebentar dengan Beng. Lalu berganti dengan Leo. Ia bertanya kenapa Beng menemui kakaknya? Ternyata mereka khawatir dengan kondisi Yve dan ingin kakaknya tahu. Sebenarnya itu niat yang cukup baik. Tapi Tina jadi tahu kalau Yve berbohong.

__ADS_1


Tak berselang lama, Devian kembali masuk ruangan rawat Yve ditemani South dan North.


"Yve! Astaga lihatlah kepala botak itu! Apa kaktusnya membuat semua rambutmu rontok?" South langsung histeris sambil menunjuk kepala Yve.


"Kepalanya diperban, bukan botak." North menjelaskan.


"Oh begitu."


"Kata kak Devian, kau menangis terus." Yve menatap South dari atas sampai bawah. Dia tidak terlihat seperti orang yang menangis berjam-jam.


"Tadinya dia menangis. Tapi saat melihat ada penjual sate kalajengking mozarella lewat di depan gerbang rumah sakit, dia langsung semangat untuk beli. Akhirnya dia menghabiskan 15 tusuk sate sendirian." North masih setia menjelaskan.


"Yve apa kau mau? Aku masih menyimpan satu tusuk." South duduk ditepi ranjang Yve dengan semangat yang menggebu-gebu.


"Tidak terimakasih. Ngomong-ngomong, Bai Lian tidak memarahimu kan?"


"Anehnya tidak. Dia hanya menyuruh bodyguard untuk segera membawamu ke rumah sakit, karena tuan Tharn si dokter pribadi itu sedang keluar kota. Jujur saja, aku malah takut pada tuan Bai Lian yang seperti itu. Dia pasti terlalu marah sampai tidak bisa mengatakan apapun. Mungkin saat aku pulang, dia akan memenggal kepalaku."


"Menurutku bukan begitu." Devian ikut duduk di tepi ranjang Yve. "Aku yakin tuan juga merasa bersalah seperti South. Bagaimanapun dia yang menyuruh South berurusan dengan pot kaktus."


"South tidak terlihat bersalah. Lihat dia bahkan belum meminta maaf pada Yve." Beng melipat tangannya dengan ekspresi kesal.


"Eh iya lupa. Maaf ya Yve." South cecengiran sambil menggaruk tengkuknya.


"Iy-"


"Ditolak!" Beng menyela Yve. "Sebagai kepala bodyguard, aku akan menghukummu karena sudah menyakiti sesama teman, dan tidak tulus dalam minta maaf. Kau kuhukum naik turun tangga darurat rumah sakit ini sebanyak 10 kali!"


"Kak Beng ingin membunuhku? Rumah sakit ini ada 15 lantai."


"Ya, aku tahu. Sebaiknya lakukan sekarang, karena aku hanya memberimu waktu 30 menit. Kalau terlambat 1 menit, akan kutambah 5 kali."


"Jahat sekaliii." Protes South sambil berlari keluar untuk melakukan hukumannya.


Yve tiba-tiba teringat sesuatu. "Tunggu dulu! Kalian semua disini, siapa yang menjaga Bai Lian?"


"Perhatian nih." Goda Leo yang langsung dibalas lemparan bantal oleh Yve.


"Kebetulan paman Max datang dari luar negeri untuk mengambil berkas tuan besar yang tertinggal. Dia akan menginap dirumah untuk menjaga tuan Bai Lian malam ini."


Mendengar ucapan Devian, Yve bisa bernafas lega. Sebelumnya ia dengar kalau Max itu adalah kepala bodyguard saat keluarga Bai masih dipimpin oleh Bai Jun, lalu posisinya digantikan oleh Beng. Jadi dia pasti orang yang sangat hebat.


"Permisi." Seorang dokter yang memakai masker medis tiba-tiba masuk. "Saya akan mengecek kondisinya. Bisa tolong keluar sebentar?"


"Iya bisa." Beng langsung menggiring para bodyguard tidak tahu malunya untuk keluar.


Sementara Devian... Diam-diam tersenyum melihat dokter itu. Mana ada dokter menyuruh keluarga pasien keluar hanya untuk memeriksa kepala.


Devian tetap dengan patuh ikut Beng.


Ruangan itu akhirnya kosong. Bahkan Sky dan Yin Yang diangkut paksa oleh Beng.

__ADS_1


"Jadi, bisa kita mulai pemeriksaannya?" Dokter itu membuka masker.


Yve terkejut setengah mati. "Bai Lian?!"


__ADS_2