Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Mewaspadai


__ADS_3

Yve berlari dengan gembira sembari terus menoleh kearah belakang. Disana ada Bai Lian yang penuh emosi mengejarnya. Padahal Yve tidak berlari dengan sekuat tenaga, tapi boss mafia itu masih tidak bisa mengejarnya. Ternyata benar kalau tubuh Bai Lian memang lemah.


Rasanya cukup menyenangkan seperti ini. Yve baru pertama kali merasakan senangnya mengerjai orang. Mungkin karena dia adalah Bai Lian, orang yang sangat menyebalkan bagi Yve.


Duk!


Gubrak!


Gadis yang beberapa menit yang lalu gembira bukan main, sekarang meringis kesakitan. Bagaimana tidak, seseorang yang seperti tembok menghadangnya, dan membuatnya terjatuh.


"Maaf, apa kau terluka?"


Suara ringan dan terdengar perhatian muncul melalui seseorang dihadapan Yve. Rambut potongan under cut itu jelas masih berbekas diingatan Yve. Orang itu juga pernah ia todong dengan pistol. Dia Bai Lin.


"Bisa berdiri? haruskah kuban-"


Lin belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Yve sudah bangkit sendiri.


"Terimakasih bantuan basa basinya. Tapi aku tidak butuh."


Lin hanya tersenyum mendengar jawaban angkuh itu. Benar-benar seorang gadis yang sangat menarik. Pasti akan lebih bagus kalau dia menjadi bodyguard pribadinya.


"Bocah!!!" Bai Lian datang, dan langsung menarik telinga Yve. Nafasnya yang masih terengah-engah, tidak membuatnya kehilangan semangat untuk menghukum gadis kecil itu.


"Aduduh! sakit sakit sakit!"


"Kau berani menjahiliku hah?! sepertinya kemarin aku terlalu lembut padamu." Bai Lian semakin menggebu saat gadis kecil didepannya ini meringis kesakitan.


"Huh? ingin menyakitiku? coba saja! akan kulaporkan pada kakek." ancam Yve.


Kata Levin, gadis ini memanggil ayah dengan sebutan 'kakek'. Rupanya dia sudah dekat dengan ayah sampai bisa mengancam kak Lian seperti itu. Lin yang tiba-tiba menjadi penonton adegan 'mendisiplinkan anak nakal', memutuskan untuk terus mengamati.


Bai Lian yang semakin gemas dengan jawaban Yve, menjadi lebih kuat menarik telinganya. "Mengancamku?! rasakan ini!"


"Sakit huhu."


"Kakak, kurasa tidak perlu sampai seperti ini." Lin mulai berkata dengan ekspresi iba.


Bai Lian terkejut melihat Lin. Jujur saja, ia tidak tahu kalau ada Lin disini. Matanya terlalu fokus pada Yve. Lagipula untuk apa ia memperdulikan orang yang berkali-kali ingin membunuhnya?

__ADS_1


"Oh? ada kau." ucap Bai Lian santai.


Apa maksudnya ada kau? ini juga rumahku!


Lin mencengkram tangannya dengan kesal. Ia selalu tidak dianggap. Bahkan bodyguard kakaknya bisa mengaturnya. Sebenarnya siapa ia dirumah ini?


"Sepertinya akan ada badai, kedua anakku ada di rumah jam segini." Bai Jun datang.


"Ayah-"


"Kakek!" Yve melepaskan diri dari Bai Lian, kemudian segera bersembunyi dibelakang punggung kakeknya. Ia tidak peduli kalau memotong perkataan Lin tadi.


"Hahaha cucuku, apa Lian menggangumu lagi?" Bai Jun tertawa dengan ramah sambil melirik Yve yang bersembunyi dibelakangnya.


"Ya! dia jahat sekali!" ucap Yve penuh emosi sambil menunjuk Bai Lian.


"Enak saja! kau yang cari gara-gara denganku!" balas Bai Lian.


"Kalian semakin terlihat akrab ya." Bai Jun kembali tertawa.


Akrab darimana? kakek ternyata mulai rabun. Yve mengusap telinganya yang mulai berwarna kemerahan.


"Kakek, aku pergi dulu."


"Baiklah nak."


Meskipun Bai Lian masih memiliki dendam kesumat dengan Yve, tapi ia tetap membiarkan gadis itu pergi.


Yve sendiri jelas ingin pergi dari sana karena tidak menyukai tatapan Lin padanya.


"Bagaimana dengan tuan Bai Lian?" Beng bertanya saat melihat Yve berjalan kearahnya.


"Telingaku jadi sasaran lagi."


"Sudah. Yve, ayo ikut denganku untuk mempelajari racun." Devian muncul sambil mendekap tablet miliknya.


"Kak Devian sudah bangun?"


Devian membenahi kacamatanya dengan malu. Ia baru ingat kejadian semalam, dan jelas sekali kalau wibawanya sebagai senior yang tegas sudah hilang didepan para juniornya. Sekarang apakah ia masih memiliki muka kalau dipanggil yang tertua? Tapi meskipun malu, ia masih harus mengajari Yve kecil.

__ADS_1


"Ehem!" Devian memaksakan tenggorokannya untuk berdeham. "Sekarang aku akan menjelaskan racun yang terkandung di dalam makanan."


"Sebentar," Yve mengangkat tangannya. "Kenapa aku harus mengetahui itu? bukankah ada South dan kak Beng yang juga akan berada disisi Bai Lian? mereka sudah paham tentang racun bukan? aku tidak perlu mengetahuinya juga. Lagipula kak Devian juga bisa melihat jalur makanan itu disajikan lewat cctv."


Devian menghela nafas sebentar, kemudian mencoba menyusun kata diotak untuk memberikan wejangan pada adik kecil ini. Bagaimanapun dia adalah rumput baru yang masih polos mengenai dunia hitam disini. "Ini tidak hanya soal tuan Bai Lian. Tapi soal kehidupan dunia mafia."


Yve terlihat bingung. Akhirnya Devian kembali berbicara. "Bisa saja ada orang yang tidak menyukaimu, atau mungkin ingin salah satu bodyguard tuan Bai Lian pergi. Jadi mereka meracuni keluarga atau orang yang kau sayangi lainnya."


Devian menaruh tablet di tangannya dengan wajah serius. "Yve, disini satu-satunya orang yang dekat dan memiliki orang yang disayangi hanya kau. Kebanyakan dari kami para bodyguard adalah seorang yatim piatu yang dipungut tuan besar, atau mungkin pergi dari desa dengan membohongi pekerjaan kita yang sebenarnya pada orang rumah."


Yve mengangguk paham. Ia juga membohongi kakanya Tina soal pekerjaan ini.


"Tapi kau berbeda. Kau tinggal di rumahmu, tidak disini. Musuh dunia mafia ini bisa lebih mudah menemukan orang yang kau sayangi, dan mencelakai mereka."


Yve tertegun mendengar penjelasan Devian. Benar juga!


"Meskipun sudah mengutus Leo. Tapi bisa saja, salah satu orang yang kau percayai disana sudah dihasut oleh seseorang, dan menjadi duri didalam daging. Lalu-"


"Taraaa, aku kembali." suara nyaring South memecahkan situasi serius yang sedang terjadi. Devian sendiri ingin segera memutilasi bocah itu sekarang.


"Baru bangun? jam berapa ini?" tanya Yve sambil menepuk-nepuk pergelangan tangannya seakan-akan ada jam tangan disana.


"Ahaha aku terlalu bersemangat tadi malam." South menggaruk tengkuknya.


"Bersemangat apanya. Kau baru minum dua gelas kecil lalu tertidur seperti snow white." ejek Yve.


"Itu karena aku jarang minum." sanggah South.


"Haha sudah sudah." Beng yang sedari tadi hanya diam, mulai bersuara. "Ngomong-ngomong aku mencium bau kalau tuan Bai Lian akan pergi keluar lagi. Jadi persiapkan diri kalian."


"Benarkah?!" Yve seketika bersemangat. Ia tidak sabar untuk menghajar orang sepuasnya lagi. Tapi kalau terlalu banyak susah juga. Bahkan lukanya saat itu belum sembuh semua.


"Kau dengar itu kan? adik kecil." Devian mulai duduk mendekati Yve. "Nah sekarang ayo kita belajar racun."


"Baiklah, tapi jangan banyak-banyak. Aku sedang malas belajar." Yve menopang dagunya dengan malas.


"Cuma 50 racun saja yang perlu kita waspadai."


"CUMA?!" Yve mendengarnya saja sudah ingin muntah. Ia pasti terkena racun belajar sekarang.

__ADS_1


__ADS_2