Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Masih Tidak Percaya


__ADS_3

Sky belum melajukan mobilnya. Ia masih melihat asap berisi debu yang membumbung tinggi akibat gedung yang runtuh.


"Apa ini baik-baik saja? Membunuh tuan muda kedua bukanlah rencana awal kita. Dan apakah kita akan diam saja melihatnya?" Sky menoleh ke kursi belakang, tempat Yin dan Yang duduk bersama Yve yang sedang pingsan.


"Entahlah kami juga tidak tahu. Yang jelas ini rencana usulan Levin. Dia takut Yve mati di tangan tuan muda kedua Lin tadi. Dan juga... Dia ingin menghancurkan semua yang tuan Lin punya. Karena kalau kita hanya menjebloskan tuan Lin ke penjara, takutnya dia masih bisa menggerakkan bisnis kotor itu dari balik sel. Bisa juga dia balas dendam pada Yve atau tuan Bai Lian saat keluar dari penjara. Hal itu akan membuat rantai dendam semakin panjang."


Sky mengangguk dan melihat lagi bagunan runtuh itu untuk terakhir kalinya, lalu mengendarai mobil berisi orang-orang selamat pergi.



Yve merasa tubuhnya sangat sakit. Beberapa bagian wajahnya terasa perih, dan sulit digerakkan.


Karena rasa tidak enak itu, Yve tersadar dari pingsannya. Langit-langit kamarnya menjadi pandangan pertama yang ditangkap oleh kedua mata bulat gadis itu.


"Sudah sadar?"


Yve menoleh kearah samping. Devian tersenyum kearahnya seperti seorang kakak yang menyapa adiknya saat bangun tidur.


Yve tersenyum tipis kearah Devian, lalu senyum itu segera menghilang karena rasa perih menggantikannya dengan cepat. Perlahan gambaran tentang kejadian melelahkan hari ini mengingatkan Yve. Gambaran saat ia menyusup ke markas Lin, gambaran saat Lin memukulinya, dan gambaran... Gedung yang runtuh.


"Levin!!!" Yve segera duduk dan berteriak. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang diakibatkan dari gerakan tiba-tiba itu. Yang terpenting sekarang adalah menanyakan Levin.


"Tenanglah sayangku."


Yve kembali melihat ke sisi ranjangnya. Ternyata disana ada Sky dan Yin Yang juga.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Yve menatap mata Devian. "Kenapa tiba-tiba Levin meledakkan tempat itu? Bukankah rencana kita hanya mengambil dokumen lalu pergi?"


Devian menunduk sebentar, kemudian melihat Yve dengan ekspresi penyesalan. "Levin tiba-tiba saja mengganti rencana."

__ADS_1


"Mengganti rencana? Apa karena Lin yang tiba-tiba saja muncul? Aku bisa mengatasinya! Kenapa harus-" Yve baru saja teringat sesuatu. "Lin... Lin juga masih berada disana! Kenapa kalian malah berdiri saja disini? Ayo cepat! Selamatkan Lin Dan Levin!"


"Sayang, ini sudah tengah malam. Kejadian tadi sudah berjam-jam yang lalu." Sky mengusap punggung Yve untuk menenangkannya.


"Apa?! Tidak mungkin aku pingsan selama itu?" Yve mencengkram rambutnya tidak percaya. Biasanya jika ia pingsan tidak akan memakan waktu yang lama.


"Tubuhmu sangat kelelahan. Dan luka-luka ini... Apakah dari Lin?" Devian mengusap wajah Yve yang beberapa jam yang lalu sudah ia obati.


"Ya. Dia memukuliku. Aku terlihat sangat lemah jika menghadapinya."


"Kau jangan khawatir mengenai Lin dan Levin." Devian mengusap kepala Yve sambil tersenyum. "Aku akan mencari mereka."


"Bukankah sudah terlambat? Mereka mungkin sudah mati tertindih puing bangunan. Mereka juga memiliki luka yang parah. Pasti tidak selamat." Yve mencengkram selimut yang menutupi setengah tubuhnya dengan kesal.


Kenapa saat itu aku berlari keluar sendiri dan tidak membawa Lin? Aku bodoh karena sempat berpikir pasti ada orang yang menolongnya. Memang siapa yang biasa menolongnya? Semua penjaga sudah kubunuh.


Lin... Meskipun dia jahat tapi pikirannya itu seperti anak-anak, yang hanya iri dengan kakaknya.


"Yve, makanlah dulu. Tadi kakakmu sudah-"


"Tidak lapar. Bisa tinggalkan saja aku sendiri?" Yve memotong perkataan Devian, lalu melirik ke orang-orang yang sedang melihatnya.


"Baiklah, istirahat yang banyak ya." Ucap Devian, dan langsung menyuruh teman-temannya untuk mengikutinya pergi.


Devian berjalan menuruni tangga dengan tangan yang mengepal. Ekspresi hangatnya saat bersama Yve tadi sudah menghilang.


"Devian, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Yin bertanya dengan hati-hati karena wajah Devian terlihat sangat tidak bersahabat.


"Markas tuan Lin sudah kita hancurkan, dan tuan Lin juga meninggal karena ulah kita. Bagaimana cara kita menjelaskannya pada tuan besar?" Yang ikut bertanya.

__ADS_1


Aku juga tidak tahu! Rencana Levin menambah masalahku saja! Devian memijat keningnya sambil berpikir.


"Akan kupikirkan dulu. Kak Sky dan kak Yin Yang lebih baik istirahat." Ucap Devian.



Devian membuka tablet nya sambil duduk di salah satu kursi cafe. Ia memutar kembali video rekaman cctv di detik-detik terakhir Levin terlihat. Sebenarnya ia sudah melihat video itu berkali-kali sejak 2 jam terakhir.


Haah... Melelahkan, tapi tidak menemukan petunjuk apapun.


Devian berniat mencari jalan keluar yang mungkin saja dipakai Levin saat itu untuk melarikan diri, sehingga dia bisa selamat dan mungkin beberapa menit lagi akan mengetuk pintu cafe sambil berkata it's a prank. Tapi berapa kalipun Devian melihatnya, Levin benar-benar memasuki ruangan yang tertutup dan gedung mulai runtuh, mengakibatkan cctv mati seketika.


Sudahlah, berarti dia benar-benar mati.


Devian mengambil ponsel dan menekan nomor seseorang.


[Halo? Ada apa Devian? Kau mengganggu tidurku. Jika membicarakan sesuatu yang tidak penting, aku akan memotong gajimu seperti Leo.]


Belum mengatakan apa-apa sudah diberi ancaman. Mirip seperti ayangnya.


"Tuan Bai Lian. Saya mendapat informasi kalau markas Lin hancur akibat ledakan. Dan tuan Lin terjebak disana." Kata Devian dengan nada pura-pura panik.


[Apa?!]


"Tolong anda buat tindakan yang lebih lanjut."


[Ba-baiklah]


Bagus, dengan begini akan lebih cepat informasi tentang Lin mati tersebar. Agar ayah bisa cepat pulang dari luar negeri. Dan lagi... Tuan Bai Lian pasti akan mengutus banyak bodyguard kesana untuk mencari Lin. Aku bisa ikut secara diam-diam untuk memastikan Lin Dan Levin mati atau tidak. Karena jujur saja, aku tidak yakin kalau mereka sudah mati.

__ADS_1


__ADS_2