Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Menargetkannya


__ADS_3

"Aku akan membuat rencana ulang. Bantu aku memikirkannya juga. Kau kan lebih cerdas dariku." Sindir Levin sambil menatap Devian.


"Hahaha. Aku mengikuti rencanamu karena ayah. Jadi, aku tidak akan membantumu."


Levin tersenyum tipis, kemudian melihat apa yang sedang dilakukan Devian padanya. Dengan penuh hati-hati, Devian membuka kain penutup luka ditubuhnya, kemudian membersihkannya dengan air dari dalam ember.


"Kalau sakit bilang."


"Aku sudah terbiasa dengan ini." Levin beralih menatap Devian, dan kembali bertanya. "Aku masih bingung, kenapa aku bisa disini?"


"Saat kau menelponku terakhir kali. Aku mendengarmu berteriak 'siapa disana?' mudah untuk menebaknya. Ada yang sedang mengupingmu kan? Dan pastinya itu bawahan tuan muda kedua Lin. Kalau itu bawahan tuan Bai Lian yang baik, pasti akan menghampirimu dan berteriak histeris 'itu beneran kak Devian?' tapi nyatanya tidak."


"Hebat sekali. Hanya dengan mendengar dua kata, kau bisa menyimpulkan seperti itu, dan membuatku selamat dari maut. Benar-benar seperti ayahmu."


"Ayahku cuma modal otot untuk menyelesaikan semua masalah. Kepintaranku ini diturunkan dari ibuku." Devian berkata dengan bangga sambil menepuk dadanya.


"Entah bagaimana reaksi teman-teman bodyguardmu kalau mendengar kau membanggakan orang tuamu."


"Hahaha Beng akan mengejekku, dan mengataiku anak manja. Sayang sekali itu tidak akan terjadi. Mereka hanya tahu kalau aku ini adalah Devian, si yatim piatu. Bukan Axel yang tinggal bersama ibu dan neneknya di desa."


"Sayang sekali ya."



Brak!


Barang-barang yang tidak bersalah dijatuhkan oleh seseorang dengan kesal. Rasanya semua benda ingin ia hancurkan untuk melampiaskan semua kekesalannya.


"Levin sialan! Sudah terpojok pun masih bisa kabur, cih!" Teriak Lin dengan emosi. "Arlo juga sudah mati. Benar-benar tidak berguna!"


Setelah mengobrak-abrik hampir setengah ruang kerjanya, Lin duduk diatas kursi dengan emosi yang masih menyala-nyala.


Lin sangat kesal ketika mengetahui orang kepercayaannya berkhianat. Ia tidak menyangka, dibalik sikap penurut Levin itu, terdapat siasat licik untuk menghancurkannya. Sial!


Lin memijat dahinya dengan frustasi. Sekarang ia tidak memiliki ide dan kekuatan untuk bergerak. Bisnis sembunyi-sembunyinya selama ini diurus oleh Levin, karena ia tidak mengerti tentang hal seperti itu. Sekarang apa yang harus ia lakukan?


Kalau saja aku bisa menemukan orang yang Levin sayangi, maka aku akan menjadikannya sandera agar Levin kembali.


Lin mencoba mengingat-ingat kembali gadis-gadis yang pernah berinteraksi dengan Levin. Tapi tetap saja sejauh ingatannya, Levin terlihat tidak tertarik dengan gadis manapun. Dia selalu bicara datar dan tanpa ekspresi. Bahkan saat Lin mentraktirnya perempuan di club malam, Levin menolaknya dan memilih untuk menunggu di luar.


Apa dia menyukai laki-laki? Lin menggaruk kepalanya dengan bingung.


Tidak mungkin.


Tiba-tiba Lin teringat seseorang. Yaitu, Yve.


Kalau selama ini Levin membohonginya, berarti semua sikapnya pada Yve juga tipuan?


Lin sekarang mengingatnya. Saat Levin diam-diam menyuruh Yve pergi dari restoran seafood dulu. Dan saat ia menembak Yve, tiba-tiba Levin membuat gara-gara agar Lin berhenti menyerang Yve.


Benar! Pasti begitu! Dia sebenarnya ingin melindungi gadis kecil itu.

__ADS_1


Yve, kau tunggu saja.



Hacho!!!


Yve mengusap hidungnya yang tiba-tiba saja gatal.


"Kau sakit?" Tanya Beng yang duduk didepan Yve.


"Tidak. Hanya bersin."


Sekarang Yve masih berada di gazebo, bersama teman-teman bodyguardnya. Beberapa dari mereka pergi untuk lanjut mencari Devian. Gazebo yang sepi, sekarang makin sepi.


"Sudah mencari lama, tapi Devian belum juga ditemukan."


Yve melirik Beng yang menghembuskan nafas dengan gelisah. Ia paham apa yang sedang dikhawatirkan temannya itu. Meskipun Beng terlihat cuek dan pemarah, sebenarnya dia sangat peduli pada rekannya.


"Kalau berjodoh kita pasti akan bertemu dengan kak Devian lagi." Ucap Yve sambil menutup laptopnya.


Sebenarnya siapa yang ia bohongi? Devian sudah mati. Berjodoh apanya?


"Sudah mau pulang?" Tanya Beng yang melihat Yve mulai berberes.


"Iya. Nanti kakakku khawatir."


"Baiklah. Hati-hati di jalan, adikku."


Kata Bai Lian, rencana untuk menyusup ke markas Lin akan dilakukan saat Lin pergi ke luar negeri bersama kakek. Lebih baik aku mempercepat pembuatan virus itu.


Yve mulai memakai helm dan mengendarai motornya pergi.


Aku masih bingung, kalau Bai Lian sudah mendapatkan bukti perdagangan ilegalnya Lin, dia akan melaporkannya kemana? Polisi? Memangnya bisa ya? Sepertinya polisi tidak cukup kuat untuk menangkapnya.


Yve mulai memasuki jalan yang jarang dilewati orang. Ini adalah jalan pintas yang sering ia pakai untuk sampai ke rumah lebih cepat.


Tin! Tin!


Yve melirik kaca spionnya. Tepat dibelakang motornya, terdapat mobil Jeep berwarna hitam yang terus membunyikan klakson.


Ck! Dia buta apa? Jalan masih luas, kenapa menggangguku?


Tin! Tin! Tin!


Berisik!


Yve mengangkat tangannya tinggi-tinggi kemudian mengacungkan jari tengahnya.


Dor!


Sialan! Apa itu? Tembakan?

__ADS_1


Orang misterius yang berada didalam mobil itu, sengaja membuat tembakannya meleset.


Mengincarku ya.


Yve tersenyum sinis dari balik helmnya, kemudian menggeber motornya dengan kecepatan tinggi.


Aku akan meladenimu kalau bisa mengejarku. Ingin melawan pangeran jalanan huh?


Dor! Dor!


Sial!


Yve mulai meliuk-liukkan motornya untuk menghindari hujanan peluru yang ditujukan kearahnya.


Kenapa tiba-tiba ada orang yang mengincarku?


Yve berpikir dengan keras. Mencari taktik untuk lolos dari situasi ini. Jelas tidak mungkin kalau hanya melarikan diri sekarang.


Secara tidak sengaja, gadis yang sedang diincar itu melihat plang penunjuk arah jalan.


Tempat pembuangan sampah akhir, 500m.


Itu dia!


Yve segera berbelok arah sesuai rambu-rambu yang tertulis.


"Dia mau kemana itu boss?" Tanya salah satu mengemudi mobil pada temannya.


"Sudah ikuti saja. Tugas kita hanya membunuhnya. Ini mudah, karena dia bukan laki-laki." Jawab salah satu temannya yang bertugas menembak. "Percepat laju mobilnya! Agar aku lebih mudah menembak."


"Baik boss."


Si pembawa pistol itu mengisi kembali pelurunya yang sudah habis. "Tetap lihat dia menuju kemana. Jangan sampai kehilangan jejaknya."


"Eh? Kukira boss yang akan melihat arahnya. Dia sudah hilang dari pandanganku dari tadi."


"Apa?! Dasar bodoh! Tetap jalan lurus ke depan! Dan tambah kecepatannya, kita ketinggalan tahu!"


Sang mengemudi hanya bisa menurut, dan menambah kecepatannya sesuai perintah.


Klontang! Klontang!


Sebuah tong sampah besar yang terbuat dari besi tiba-tiba mengginding kearah mobil mereka.


"Waa!!!" Si pengemudi yang kaget seketika membanting stir. Sayangnya laju mobil yang cepat membuat arah mobil jadi tidak terkendali. Alhasil mobil terguling beberapa kali hingga ringsek.


Yve keluar dari tempat persembunyiannya. "Ya ampun, tidak kusangka akan separah itu. Padahal perkiraanku mereka akan keluar dari mobil dan berhadapan langsung denganku. Sekarang kelihatannya tidak bergerak sama sekali."


Yve yang tidak peduli, kembali menaiki motornya dan bergegas pergi.


"Lapar, semoga kak Tina tidak membuat nasi goreng untukku."

__ADS_1


__ADS_2