
Sekarang Yve dan yang lainnya sudah sampai di sebuah ruangan. Bai Jun lah yang menuntun mereka kemari.
"Ini dia."
Bai Jun menyerahkan sebuah foto pada Yve. Disana terdapat gambar laki-laki dan perempuan yang sangat asing bagi Yve.
"Dia adalah Charlie dan Geiya. Orang tuamu."
Setelah mendengar kalau itu orang tuanya, Yve kembali menatap foto itu lekat-lakat. Ayah dan ibunya sangat tampan dan cantik. Secara tidak sadar, Yve mengusap foto itu sambil tersenyum.
"Untuk barang yang lainnya ada di-"
Ketika Bai Jun hendak mengambil barang lainnya, Yve tiba-tiba memeluknya dari belakang. Membuat kegiatannya terhenti.
"Terimakasih kakek." Ucap Yve dengan mata yang berkaca-kaca.
"Eh? Tunggu, kenapa malah terimakasih? Kakek yang sudah-"
"Tapi berkat kakek, aku bisa melihat wajah orang tuaku. Kupikir, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melihat mereka."
"Huhu dramatis sekali." Leo banjir air mata lalu mengelapnya dengan lengan baju.
"Kenapa malah kau yang menangis?" Cerca Devian.
"Habisnya mengharukan sekali."
"Biasa saja." Diam-diam Devian ikut mengelap air matanya. Sebenarnya ia juga ingin menangis tapi sengaja ditahan. Akhirnya penyesalan sang ayah sudah usai.
Ya ampun, apa hanya aku yang tidak terharu? Levin melirik Leo dan Devian bergantian.
"Maafkan kakek." Bai Jun berbalik lalu mengusap kepala Yve.
"Iya. Dari awal, semuanya hanya kesalahpahaman. Aku sudah memikirkannya dari tadi, kalau kakek juga mengurusku dengan sangat baik ketika berada disini. Jadi itu sudah cukup. Ayah dan ibuku pasti juga berpikir demikian." Yve masih berusaha untuk tersenyum. Ia masih sedikit syok saat mendengar cerita dari Bai Jun. Karena Yve tidak menyangka kalau orang tua yang selama ini ia caci maki setiap hari adalah orang yang baik, tapi harus mati di tangan Bai Jun.
"Terimakasih nak."
"Endingnya sangat bagus." Leo menarik tangan Devian lalu menggunakan lengan baju laki-laki itu untuk membuang ingusnya.
"Menjijikkan! Pakai bajumu sendiri!" Bentak Devian sambil menarik kembali tangannya.
Syukurlah semua berakhir baik. Aku akan tenang ketika sudah berada di dalam penjara nanti. Levin tersenyum dibalik maskernya.
Brak!
__ADS_1
Pintu tiba-tiba terbuka, dan sosok Bai Lian muncul disana.
"Ayah, katanya Yve menyanderamu-"
"..."
Semuanya terdiam. Bai Lian seperti orang bodoh, karena suasana di depannya tidak sama seperti apa yang ia pikirkan. Malah terkesan damai sejahtera?
"Oh Lian, kau sudah bangun?" Sapa Bai Jun sambil merangkul bahu Yve.
"Ayah ini..."
"Hahaha apa yang kau khawatirkan? Sampai wajahmu pucat begitu. Apa kau tidak tidur dengan baik? Ayah baru saja ke luar negeri dua hari, dan kau bekerja sambil memaksakan diri."
"Bukan itu. Seorang bodyguard berkata padaku kalau ayah disandera oleh Yve." Bai Lian menatap Yve yang dengan tenang berada di rangkulan sang ayah.
"Tenang saja, tidak ada apa-apa hahaha."
"Syukurlah." Pandangan Bai Lian tiba-tiba tertuju pada orang yang terlihat paling mencurigakan di ruangan itu. Memakai masker dan berpakaian serba hitam, begitu menarik perhatian.
Leo sadar dengan pandangan Bai Lian yang terus tertuju pada Levin. Gawat!
"Tuan Bai Lian, anda melihat apa? Disana tidak ada orang."
❀
Keesokan harinya.
Cahaya matahari pagi terasa lebih hangat. Yve sudah bersiap untuk berangkat ke rumah keluarga Bai. Kali ini entah kenapa gadis itu merasa lebih senang dari biasanya.
"Pagi kak." Sapa Yve pada Tina ketika menuruni tangga.
"Pagi. Kian sudah menyiapkan sarapan untukmu. Aku ingin mencuci beberapa piring."
"Baiklah."
Yve berjalan menuju cafe bagian depan. Disana sudah ada sepiring nasi goreng dan segelas air putih diatas meja.
Katanya, Kian pandai sekali membuat nasi goreng. Tina akhirnya mengaku kalah dan ingin menjadi murid Kian dalam hal pernasigorengan. Yve senang mendengarnya, karena mungkin ia akan merasakan nasi goreng kakaknya tanpa gundukan garam.
"Dewi, cobalah nasi gorengku. Telurnya dua loh." Ucap Kian sambil mengelap beberapa meja tak jauh dari Yve.
"Ya." Yve langsung duduk dan mencoba suapan pertama nasi goreng Kian.
__ADS_1
Enak seperti kata Leo. Untunglah ada orang yang bisa memasak makanan berat disini.
"Dewi, bagaimana rasanya? Enak?"
"Lumayan." Yve tidak ingin mengatakan yang sejujurnya. Nanti Kian akan besar kepala dan berakhir seperti Leo.
Setelah menyantap habis piring nasi gorengnya, Yve buru-buru mengambil kunci motor dan berjalan keluar cafe.
"Yve!" Leo berlari kecil kearah Yve dari arah gedung apartemen.
"Ada apa?" Yve hanya bertanya dengan datar sambil naik keatas motornya.
"Itu si maniak dosa, sampai kapan berada di apartemenku?"
"Bersabarlah, nanti aku akan bilang kepada kakek." Yve mulai menyalakan mesin motor dan memakai helm.
"Cepatlah, aku tidak ingin memberinya makan dengan uangku."
"Dasar pelit."
"Hei, aku dan Levin itu miskin. Dia yang anak keluarga besar malah numpang hidup dirumahku."
Yve yang malas mendengar celotehan Leo, memilih untuk langsung pergi dengan motornya.
Kemarin, setelah adegan sandera dilihat oleh para bodyguard, Bai Jun menjelaskan tentang semuanya pada mereka. Kalau sebenarnya Yve hanya ingin bertanya masalah orang tuanya yang terbunuh oleh Bai Jun. Akhirnya seluruh bodyguard iba pada Yve. Seharian ia ditanyai bagaimana perasaannya. Itu cukup melelahkan. Padahal yang menyuruhnya menodong kepala Bai Jun saat di rumah adalah Devian.
Akhirnya Yve sampai di rumah keluarga Bai. Tapi belum masuk ke dalam pintu gerbang, ia merasa ada yang janggal. Semua bodyguard memakai jas berwarna hitam. Sama seperti saat acara penghormatan terakhir untuk Kurt dulu.
Ada apa ini?
"Adikku. Kenapa tidak masuk?" Beng muncul dari arah belakang Yve sambil meminum kopi kalengan. Dua pembantu dadakannya tidak bisa membuat kopi sekarang.
"Kak Beng, kenapa orang-orang memakai jas serba hitam lagi?"
"Ah itu... Karena tuan Lin tidak ditemukan. Maka tuan Bai Lian menganggapnya sudah meninggal, dan melakukan acara penghormatan terakhir untuk tuan Lin."
Pffttt!!!
Yve tidak tahan lagi untuk tertawa. Kenapa Bai Lian berpikiran begitu? Dan kenapa kak Devian tidak mengatakan kebenarannya? Kakek juga pasti tahu kalau Lin belum mati. Mereka pasti sengaja membiarkan Bai Lian berpikiran liar hahaha.
"Kenapa kau malah ingin tertawa?" Tanya Beng heran.
"Haha tidak apa-apa kak Beng. Aku akan ikut acara berkabungnya."
__ADS_1