Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Ingin Membunuhnya


__ADS_3

"Membunuh... Lin?" Bai Lian mengulangi perkataan Yve dengan ekspresi terkejut.


"Kenapa? Tidak boleh? Apa kau menyayangi adik yang setiap menitnya berusaha membunuhmu?" Yve mengangkat sebelah alisnya.


Bai Lian terdiam. Ia disuguhi wajah serius Yve. Entah kenapa ekspresi gadis itu berbeda dari biasanya. Terlihat seperti penuh dendam.


"Kenapa kau ingin membunuhnya?"


"Nyawa dibalas nyawa. Aku masih bisa berusaha bersabar sejak kematian kak Kurt. Tapi sekarang... Kak Devian juga." Yve mengepalkan tangannya dengan emosi. "Bisa saja besok dia menargetkan orang lain lagi. Kemungkinan kakakku juga termasuk. Jadi sebelum itu terjadi, aku akan membunuhnya."


"Tunggu dulu. Jadi Devian sudah..." Bai Lian sengaja memotong kata-katanya. Ia tidak ingin pemikirannya ini menjadi kenyataan.


"Levin ditugaskan oleh Lin untuk membunuh kak Devian. Dan tadi pagi, Levin mengatakan padaku kalau  ia berhasil menyelesaikan misi itu. Kak Devian sudah mati." Yve menutup laptopnya dan memasukkan benda itu kedalam ransel.


"Meskipun bagitu, kau tetap tidak bisa membunuh Lin."


Yve seketika melirik Bai Lian. Apakah benar, dia akan melindungi Lin?


"Kau tidak bisa membunuh Lin tanpa bantuanku." Bai Lian mengusap kepala Yve dengan lembut. "Lakukan sesukamu pada Lin, aku yang akan membereskan sisanya."


Yve sedikit tersenyum, kemudian mengangguk dengan mantap. Lin, tunggu pembalasanku!


"Sudah, singkirkan tanganmu!" Yve menepis tangan Bai Lian yang masih berada di kepalanya.


"Ya ampun. Pelit sekali." Gerutu Bai Lian.


"Ngomong-ngomong boleh aku ijin pulang?" Tanya Yve.


"Ini masih siang. Kenapa pulang?"


"Tadi pagi aku berkata pada Levin untuk berhenti menjadi teman mereka. Kemungkinan dia akan melapor pada Lin. Jadi, aku ingin segera pulang untuk menemani kakakku." Meskipun Bai Lian belum menjawab, tapi Yve sudah buru-buru mengenakan ranselnya dan bersiap untuk pergi.


"Apa?! Kau berhenti memata-matai mereka?"


"Ini sudah berakhir." Yve berjalan menjauh meninggalkan Bai Lian sendiri di gazebo.



Levin berjalan memasuki sebuah ruangan. Dari bibir pintu, ia sudah mendengar gelak tawa Lin yang entah menertawai apa.


"Tuan memanggilku?" Levin membungkuk di depan Lin yang sedang mengatur nafasnya karena terlalu asik tertawa.


"Eh? Levin, apa yang terjadi dengan wajahmu?" Lin menunjuk beberapa bekas keunguan di pipi Levin.


"Saya menabrak tembok tuan."


"Pfftt hahaha, oh ayolah jangan membuatku kembali tertawa." Lin memegangi perutnya sambil terus terkekeh.


"Jadi, apa yang membuat tuan sangat gembira?" Tanya Levin sambil tersenyum.


"Kau sudah melenyapkan Devian bukan? Aku suka sekali pekerjaanmu belakangan ini." Lin berjalan mendekati Levin kemudian menepuk bahunya bak sahabat karib.

__ADS_1


"Terimakasih atas pujiannya tuan."


Pasti tidak akan ada yang tahu kalau sebenarnya Devian masih hidup. Sebaiknya aku menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Toh Devian juga tidak akan kembali untuk waktu dekat. Yang terpenting misiku sukses di mata Lin, dan Devian tidak mati.


Levin tersenyum, seolah menemani kegembiraan yang Lin rasakan.


"Kau sembunyikan dimana mayat Devian? Takutnya ayah bisa menemukannya. Karena ayah itu diam-diam tahu segalanya."


"Tenang saja tuan. Saya juga tidak ingin meninggalkan jejak sekecil apapun." Levin tersenyum penuh kemenangan agar Lin mempercayai bualannya.


"Baiklah, apapun itu aku percaya padamu. Kau tidak akan mengkhianatiku."


Tidak akan mengkhianatimu? Ya, itu sekarang. Mungkin besok atau lusa, aku akan membalikkan keadaan.


"Bagaimana dengan Yve?"


"Yve? Kenapa anda menanyakannya tuan?"


"Yve dan Devian itu berteman. Kalau dia tahu aku yang menyuruhmu untuk membunuhnya, dia akan membenciku." Lin terlihat khawatir. Ia menyukai Yve, dan bisa gawat kalau gadis itu membencinya.


Lucu sekali. Dia sudah membencimu dari awal.


"Dia tidak tahu. Dan masih berada di pihak kita. Anda tenang saja." Levin kembali tersenyum.


Kalau orang ini tahu Yve sudah tidak berada di sisinya, dia akan marah dan membunuh orang lagi. Sementara, bohongi saja dulu.


"Bagus bagus." Lin tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Hei Levin. Apa menurutmu, Yve menyukaiku?"


Dia pasti sudah gila. Pernah menembak Yve dan mengancamnya. Orang bodoh mana yang akan menyukaimu?


"Kau itu dari dulu bodoh, jadi mana tahu. Kalau saja ayah tidak mengadopsimu, kau akan mati karena kebodohanmu." Lin menatap Levin dengan ekspresi merendahkan.


Levin kembali tersenyum, ia sudah sering mendapat hinaan dari tuannya ini. "Terimakasih atas belas kasihannya."


Semua dendamku ini. Akan kubalas bersama Yve dan Devian.





(Flashback sebelum Devian menghilang. Sebenarnya, Levin dan Devian melakukan kerjasama.)


Pagi itu...


Devian yang masih setengah tidur, terbangun karena bunyi notifikasi di tabletnya. Ia perlahan duduk, lalu menatap teman sekamarnya yang sedang tertidur pulas di ranjang yang terpisah darinya.


Setelah mengumpulkan kesadaran, Devian meraba meja kecil di sampingnya untuk mengambil kacamata. Selesai memakai kacamata persegi panjangnya, Devian mengambil tablet untuk melihat notifikasi apa itu.


Tablet yang sering Devian bawa, tidak memiliki satupun nomor yang tersimpan. Dan suara notifikasi pesan itu membuatnya bingung dan ingin buru-buru mengecek.

__ADS_1


[Halo Devian. Ini Levin. Tidak ada basa-basi dan kepura-puraan lagi. Jadi bisa kita bertemu?]


Devian mengerutkan keningnya. Orang yang ingin berusaha membunuhnya mengajak bertemu? Apakah ia akan sebodoh itu untuk menjadi kelinci yang masuk kandang singa?


Devian tidak membalasnya, dan tiba-tiba pesan lain segera masuk.


[Aku adalah orang yang salah karena mencoba melawanmu. Kuputuskan untuk menyerah, dan bicara baik-baik saja denganmu.]


Devian menghela nafas saat membaca pesan kedua. Bocah ini ingin apa?


Karena tidak dijawab, pesan lain kembali masuk.


[Temui aku di halaman belakang. Kau harus membantuku. Karena aku lemah, jadi tidak bisa memaksamu membantuku dengan kekerasan. Tapi aku tahu sesuatu yang bisa membuatmu membantuku, Axel]


Devian terkejut melihat kata 'Axel' disana. Bagaimana dia bisa tahu namaku yang sebenarnya?!


Setelah beberapa detik berada dalam kondisi syok. Devian buru-buru mengganti bajunya, dan keluar kamar. Ia menghindari semua cctv dengan cara berjalan di titik buta benda itu. Sebagai bodyguard dengan julukan 100 mata, ia sudah hafal di luar kepala dimana saja letak titik buta cctv dirumah ini.


Saat sampai di halaman belakang. Devian melihat Levin sedang berdiri membelakanginya. Dibawah sinar lampu yang tidak terlalu terang itu, sosoknya terlihat sedikit menakutkan.


"Kau ingin bicara apa?"


Mendengar suara Devian, Levin berbalik badan dan tersenyum dengan lega.


"Syukurlah kau benar-benar datang. Kukira, rencana yang sudah kubuat bertahun-tahun ini akan gagal."


Rencana yang sudah dibuat bertahun-tahun? Meskipun bingung, Devian tetap tidak ingin masuk perangkap yang mungkin saja sudah direncanakan Levin. Ia sangat waspada sekarang.


"Bantu aku dan Yve membunuh Lin."


"Hah?"


Apa maksudnya? Membunuh? Aku memang membantu Yve dalam memata-matai Lin untuk mencuri bukti pekerjaan kotornya. Tapi aku tidak pernah berpikiran untuk membunuh siapapun.


"Aku ingin menghentikan sikap kejam Lin itu. Kalau terus dibiarkan. Dia bahkan bisa tega membunuh tuan besar."


"Tunggu, kau ini tangan kanan tuan muda kedua. Kau yakin mengkhianatinya?" Tanya Devian bingung.


"Ya. Sebenarnya aku melakukan ini juga untuk diriku sendiri. Dia sudah lama sering merendahkanku, dan aku tidak tahan lagi. Tapi jika dia mati, kau dan tuan Bai Lian juga akan diuntungkan. Jadi bantulah aku."


"Kenapa nama Yve juga kau sebut?"


"Dia diancam oleh Lin juga. Jadi dia pasti akan setuju membunuh Lin."


Devian mengusap dahinya dengan kasar. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Levin. Musuh yang selama ini mengincarnya, menawarkan kesepakatan untuk bekerjasama membunuh raja iblis.


"Pertama, aku akan mendengarkan rencanamu. Tapi bukan berarti aku setuju soal kerjasama."


Levin paham kalau Devian tidak akan percaya semudah itu padanya. Jadi mau tidak mau, ia akan mengatakan rencana rahasia yang sudah ia susun sendiri.


"Yang akan membunuh Lin sebenarnya adalah Yve. Kita hanya bertugas untuk memberikan waktu untuknya."

__ADS_1


"Apa kau gila? Menyuruh Yve yang melakukannya. Bukan berarti aku meremehkan kekuatan Yve. Tapi bukankah lebih baik jika itu kau?" Devian terlihat tidak setuju.


"Dengarkan dulu penjelasanku. Jadi begini..."


__ADS_2