Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Dia Pergi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Semua orang sekarang berkumpul di gazebo. Yve sedang sibuk dengan laptopnya. Dia melatih kembali semua ajaran yang Devian berikan, sambil sesekali melihat buku yang ia dapat dari Leo.


Teman-teman sesama bodyguardnya membuat banyak suara. Menertawakan lelucon tidak masuk akal, beberapa bicara tentang cara bertarung dan makanan bernutrisi yang baik untuk tubuh. Sisanya membandingkan tinggi badan mereka.


Kali ini tidak hanya ada bodyguard inti yang sedang berkumpul di gazebo, tetapi juga beberapa bodyguard yang sebelumnya hanya Yve kenal dari namanya saja. Semua itu tak dihiraukan gadis yang sedang fokus dengan laptopnya. Ia ingin menjadi lebih berguna kedepannya. Ditambah sebentar lagi sekolah akan dimulai. Tidak ada waktu untuk belajar lebih banyak.


"Permen manis untuk menemanimu belajar." Yve mendapati sebuah lolipop rasa coklat mendarat di samping laptopnya. Lalu gadis itu menatap wajah South yang sedang tersenyum dengan lembut.


"Tumben rasanya tidak aneh." Kata Yve sambil membuka bungkus lolipopnya.


"Aku takut kak Beng merebutnya lagi." South bergidik ngeri.


"Hahaha sekarang baru tahu rasa." Ucap Arlo, orang yang baru saja Yve kenal pagi ini. Kabarnya si Arlo ini menjadi pengganti posisi Kurt. Beng baru saja menunjuknya kemarin.


"Cupcake lebih enak." Kata Bernard sambil menggigit kembali cupcake di tangannya. Laki-laki itu sedang bergembira karena baru saja menyelesaikan tugas menghitung kelopak bunga Magnolia, ditambah dengan cupcake yang Yve bawa untuknya, membuat kebahagiaannya tak bisa digambarkan lagi.


Yve kembali fokus dengan laptopnya. Sebuah lolipop kini menemaninya belajar. Rasanya cukup menenangkan.


"Apa kalian melihat Devian?" Beng yang baru datang itu langsung bertanya pada orang-orang di gazebo.


"Nih tanya orang ini." Arlo menunjuk laki-laki lain di sampingnya.


Merasa terpanggil, orang yang tadinya melihat miniatur mobil balap menoleh. Dia adalah Ronan, teman sekamar Devian. "Tadi pagi aku melihatnya membawa tablet keluar kamar."


"Lalu?" Tanya Beng lagi.


"Entahlah, aku tidak mengikutinya. Kadang dia juga begitu, jadi menurutku itu tidak aneh." Ronan kembali melihat miniatur mobil balapnya.


"Memangnya ada apa kak Beng?" South mulai tertarik dengan pembicaraan yang terjadi, dan bertanya sambil mengunyah cemilan warasnya.


"Aku tidak menemukannya dimanapun. Kemarin dia sudah berjanji padaku akan memberikan kopi dengan rasa unik untuk menemani sarapan. Tapi dia malah menghilang." Beng melihat kanan kiri, siapa tahu ia melihat sosok Devian disekitar sini.


"Mungkin dia sedang buang air besar di kamar mandi. Kemarin aku memberikannya mie lidi level 70. Perut tuanya sudah tidak kuat lagi." South berkata dengan santai.


"Aku pun juga tidak kuat. Bukan masalah umur." North ikut menanggapi.


Fokus Yve terpecahkan dengan keributan tidak berarti didepannya. Rasa penasaran muncul dan ia coba bertanya.


"Ada apa ini?"

__ADS_1


"Devian menghilang." Beng mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


"Apa?!" Yve langsung berdiri dan berjalan mendekati Beng. "Kak Beng serius?!"


"Dari tadi aku tidak menemukannya. Padahal kita sudah janjian. Meskipun tidak janjian, dia pasti akan terlihat di dapur." Jelas Beng.


Apakah itu ulah Levin? Yve mengigit kuku jarinya sambil berpikir.


"Ayo kita berpencar untuk mencarinya. Kalau sudah ketemu, kita suruh dia ganti rugi kekhawatiran kita dengan semangkuk bubur ayam." Usulan Arlo disetujui oleh semua orang.


Para bodyguard berpencar ke berbagai sudut rumah yang luas itu. Beberapa dari mereka bahkan sampai mencari diluar area rumah.


Tapi Devian tetap tidak ketemu.


"Sial! Dia benar-benar hilang!" Beng lagi-lagi mengumpat. Ia paham kalau Devian bukanlah orang yang suka pergi tanpa kabar seperti ini. Jadi satu-satunya kesimpulannya adalah, Devian menghilang.


"Kita tunggu dulu sampai tengah hari. Kalau kak Devian belum juga muncul. Kita bisa melapor pada tuan." South yang sebelumnya terlihat santai, sekarang ikut khawatir.


"Ya kau benar. Kita tunggu dulu." Arlo yang nampak kelelahan setelah berkeliling area luar rumah menyetujui ide South.


Yve tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Bisa dibilang dialah orang yang paling heboh saat mencari Devian tadi. Ia berlari kesana kemari seperti orang kesetanan.


"Yve! Kau mau kemana?" Teriak Beng saat Yve mulai berjalan menjauh.


"Mencari kak Devian!" Balas Yve sambil berlari lebih jauh.


Yve sekarang sudah berada dibagian belakang rumah. Matanya terus menelisik ke semua sudut yang ada, tapi ia tetap tidak bisa menemukan guru galaknya.


"Mencari sesuatu?"


Yve terkejut melihat Levin sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman.


"Kak Devian..."


"Hm? Apa yang kau katakan?"


"Mana kak Devian?!" Teriak Yve sambil menatap Levin tajam.


"Apa maksudmu? Tentu saja aku membunuhnya. Itu misiku."


Deg!

__ADS_1


Membunuh? Berarti kak Devian sudah...


Tangan Yve mengepal dan giginya gemertak menahan emosi.


"Sialan!"


Bugh!


Yve memukul Levin dengan kuat. Dan laki-laki itu harus puas mendapatkan pukulan dari Yve lagi.


"Yve kau-"


Buagh!


Belum sempat protes, Yve kembali mendekati Levin dan memukulnya.


"Tunggu dulu!" Levin menahan pukulan Yve yang akan mencapai tubuhnya lagi.


"Kau membunuh kak Devian!" Yve meraung tepat didepan wajah Levin.


"Bukankah itu tugasku? Aku sudah mengatakannya padamu!" Balas Levin sambil terus berjuang menahan tangan Yve yang masih belum menyerah untuk menghajarnya.


"Dimana kak Devian sekarang?!"


"Aku membuang mayatnya. Memangnya kenapa hah?!" Levin mulai membalas Yve dengan nada tinggi.


"Kalian keterlaluan! Kau dan boss bodohmu!" Yve berhasil melepaskan diri dari cengkraman Levin.


"Dengar Levin, aku tidak akan berada disisi kalian lagi. Katakan itu pada Lin, dan coba saja kalau dia berani menyentuh orang terdekatku. Aku akan membalasnya ratusan kali lipat. Dan ingat, aku akan membalas dendam." Yve pergi meninggalkan Levin yang masih terkejut.


Tatapan matanya sangat dingin. Sepertinya Yve serius saat berkata ingin membalas. Apa dia memiliki rencana? Sial!


Yve berjalan tanpa tenaga. Kakinya seperti tidak kuasa untuk melangkah. Lagi, temannya mati lagi. Dirinya begitu tidak berguna sampai-sampai temannya menjadi korban. Menyesal dan sedih. Meskipun Yve tahu perasaan itu tidak berguna sekarang, tapi tetap saja ia tidak bisa menepisnya begitu saja.


Yve beralih menatap langit. Awan berarak dengan indah disana, langit berwarna cerah dengan sinar matahari yang masih terasa hangat menyelimuti. Suasana ini berbanding terbalik dari rasa sedih yang sekarang menerpa hatinya.


"Kak Devian. Maaf." Gumam Yve sambil meremas sikunya. "Aku adalah adik yang jahat bukan?"


Ingatan tentang Devian muncul di benak Yve. Tentang cara laki-laki itu tersenyum, marah, dan saat membenahi kacamatanya, semuanya muncul di kepala Yve seperti rolll film yang bergerak mundur.


Waktu memata-matai selesai. Sekarang adalah saatnya balas dendam. Tunggu aku Lin.

__ADS_1


__ADS_2