
"Hihihi kasihan ditolak." South cekikikan sambil berbisik pada North.
Bai Lian yang sadar langsung memberikan tatapan tajamnya pada South. "Begini South..."
Oh tidak! Tuan mendengarku!!!
"Tidak tuan, ampun. Kolam ikan bahkan belum saya buat. Jangan menambah pekerjaan saya lagi tolong." South memohon dengan ekspresi teraniaya.
"Aku merasa tanaman kaktus di balkon lantai dua semakin besar. Setelah pulang, aku ingin kau menghitung semua durinya." Bai Lian tidak perduli dengan permintaan memelas South.
Mampus! Kapan selesainya?!
"Pffttt! Lain kali jaga bicaramu hahaha." Yve kembali tertawa, dan Bai Lian merasa ikut senang.
Aku ingin dia tertawa lagi.
"North. Kau juga harus membantu saudaramu. Ukur panjang badan setiap ikan koi yang berada di kolam." Perintah Bai Lian lagi.
"Ya. Aku sudah terbiasa menanggung setengah perbuatan usil South." North mengangguk dengan ekspresi datar.
"Hahaha satu paket." Yve kembali tertawa.
"Sekarang, bisakah kau ikut pulang bersamaku?" Bai Lian kembali menawari Yve.
"Sudah kubilang, ini belum waktunya pulang sekolah. Kalau aku dimarahi guru bagaimana?"
"Tidak akan ada yang berani memarahi Yve-ku. Eh maksudnya kau." Bai Lian langsung memalingkan wajahnya dengan malu.
"Tetap saja, kalau aku tidak ikut pelajaran, bisa-bisa nilaiku jelek saat ujian. Aku sudah taruhan dengan kak Devian."
Bai Lian langsung melirik Devian dengan bengis. Lalu berganti ekspresi ramah saat melihat Yve lagi.
Tuh kan! Aku selalu salah. Devian kembali meratapi nasib sialnya.
"Jangan khawatir, aku bisa menyewakan guru les untukmu."
__ADS_1
"Kenapa kau tiba-tiba baik? Apa ini efek makan sosis panggang buatanku? Atau demam?" Yve menaruh telapak tangannya pada dahi Bai Lian.
"Wah iya wajah tuan berubah merah, pasti sakit. Aku akan menelpon tuan Tharn untuk memeriksa tuan setelah sampai di rumah." Beng hendak mengambil ponselnya tapi South segera menghalangi.
"Kak Beng, jangan jadi seperti Yve."
"Hah? Apanya? Aku tidak paham."
Sebelum South menggurui Beng, North lebih dulu menyelanya. "Sudahlah. Biarkan saja mereka tidak peka. Suatu saat orang-orang seperti mereka akan tahu sendiri. Meskipun terlambat. Tidak ada gunanya kita menerangkan dari A sampai Z. Orang yang tidak peka susah untuk mengerti."
"Baiklah." South mengangguk. Ia akui kakaknya memang lebih bijak dari dirinya.
"Su-sudah basa-basinya." Bai Lian menepis tangan Yve, lalu melirik seorang laki-laki yang berada jauh dibelakang gadisnya. "Hei kau! Cepat ambilkan tas Yve. Tidak ada waktu untuk mencari kelasnya."
"Namaku Soni."
"Aku tidak peduli."
"Aduduh. Sepertinya ingatanku linglung. Kelas Yve dimana ya?" Soni menggaruk pelipisnya dan pura-pura berpikir.
"Aduh, kalau itu sih cuma bisa ingat jalan menuju kelasnya saja."
Dia mulai lagi. Yve menghela nafas dengan malas.
"Tidak usah membayarnya. Aku akan mengambil tasku sendiri, dan kembali ke sini."
"Yve! Jangan halangi uangku!" Soni berlari mendekati Yve lalu sedikit mendorong tubuh gadis itu. Sebenarnya itu sudah biasa ia lakukan, karena mereka adalah teman lama. Tapi Bai Lian tidak suka melihatnya.
"Itu karena kau serakah!" Yve balik mendorong Soni.
"Aku kan juga mau kecipratan kaya." Soni membalas Yve.
"Oh jadi itu maksudmu yang sebenarnya mengajakku kesini?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Yve dan Soni masih melakukan aksi saling dorong. Sementara Bai Lian dan yang lainnya menonton.
Beraninya mereka bermesraan di depanku. Bai Lian mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Devian."
"Ya tuan?"
Bai Lian mulai berbisik pada Devian yang sudah mendekat kearahnya. "Berikan orang bernama Soni itu obat tidur. Pastikan dia ketiduran di dalam kelas sampai malam."
Devian kebingungan. Dia jelas cemburu pada Yve dan ingin menghukum Soni. Tapi karena Bai Lian sebenarnya orang baik, hukumannya malah terkesan menjahili Soni.
"Laksanakan tuan. Saya juga akan menaruh beberapa hantu jadi-jadian untuk menakutinya saat dia bangun."
"Bagus. Kau yang paling mengerti aku, Devian." Bai Lian tersenyum puas.
"Tentu saja tuan."
Setelah melakukan kesepakatan dengan Devian, Bai Lian kembali pada Yve. "Kau ini benar-benar suka mengulur waktu. Kemarilah." Bai Lian menarik paksa Yve dan berjalan menuju mobil.
"Hei! Tasku bagaimana? Kalau kak Tina melihatku pulang tidak bawa tas-"
"Tenang saja. Temanmu yang baik itu akan memberikannya padamu." Bai Lian melirik Soni, dan laki-laki itu langsung kegirangan. Karena dia pikir akan mendapatkan uang.
"Kalian tunggu apa lagi? Ayo." Titah Bai Lian pada para bodyguardnya.
Akhirnya rombongan boss mafia itu pergi. 5 mobil sedan hitam berisi bodyguard berjalan beriringan bak konvoi.
"Ini terlalu berlebihan." Yve melihat beberapa mobil bodyguard yang mengawal di belakang. "Biasanya kau hanya memakai 3 mobil saat pergi."
"Terharu? Aku membawa banyak orang hanya untuk menjemputmu." Bai Lian tersenyum sambil menatap Yve.
"Ha? Memangnya aku bodoh? Kau datang ke sini pasti untuk menangkap kepala sekolah otak udang itu kan? Karena dia mengambil uang kakek. Tidak ada hubungannya denganku."
Senyum Bai Lian hilang. Ia hanya bisa mengangguk ringan.
__ADS_1
Saat aku sudah menyadari perasaanku pada Yve, dan mulai mengatakannya, dia malah tidak peka. Apa yang harus kulakukan?