Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Semoga Masih Hidup


__ADS_3

Levin berjalan menuju ruang rahasia Lin yang didominasi hiasan berwarna hitam. Ia menebak kalau si penguping tadi pasti tidak akan tahan untuk segera melaporkannya pada Lin. Jadi Levin akan berpura-pura menemui Lin untuk memberikan laporan, dan melihat tikus kecil mana yang mencoba mengacaukan rencananya.


Setelah mengetuk pintu, Levin masuk ruangan yang terbilang gelap itu.


"Levin. Kebetulan sekali. Kita sedang membicarakanmu."


Levin menatap kedepan, menyapu siluet dua orang yang terlihat licik. Salah satunya duduk di atas meja seperti biasa, dan satunya lagi seperti budak patuh yang berdiri dibelakang meja tuannya.


Arlo? Heh... Ternyata cuma sampah kecil. Benar-benar tidak tahu diri. Nanti malam kubunuh saja.


"Membicarakanku? Apakah itu seru?" Levin tersenyum seolah tidak tahu apa-apa. "Saya kemari ingin memberi laporan."


"Nanti saja. Ngomong-ngomong tadi Arlo mendengarmu bicara dengan Devian."


"Bicara dengan hantu? Tuan pasti bercanda." Levin terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Aku bukan dukun yang bisa memanggil rohnya kemari untuk diajak mengobrol."


"Bohong! Tadi jelas-jelas aku mendengarmu bicara dengan Devian di telepon!" Arlo menunjuk Levin dengan kesal.


"Oh? Kau yakin?" Levin menaikkan sebelah alisnya dengan senyum sinis.


"Sangat yakin! Kau tidak bisa mengelak lagi!" Arlo masih bersikukuh.


Levin merogoh sakunya dengan ekspresi tenang. Saat ia menunjukkan ponselnya yang tinggal setengah, Arlo terkejut hingga tidak bisa berkata-kata.


"Ponselku rusak. Tadi pagi setelah mengirimkan laporan pada tuan Lin, ponselku jatuh dari lantai 3 balkon atas, dan terbelah menjadi dua bagian."


Arlo perlahan mulai sadar dari rasa terkejutnya. Meskipun sudah dijelaskan kenapa bisa seperti itu, tapi ia tetap tidak percaya. "Tidak mungkin! Tadi sangat jelas kalau-"


"Sudahlah. Aku percaya pada Levin." Ucap Lin sambil turun dari atas meja.


Arlo terkejut mendengar perkataan Lin. Tuannya tetap percaya meskipun itu terdengar sangat aneh. Apa mungkin karena Levin sudah bekerja lama dengannya?


"Terimakasih tuan." Levin membungkuk dengan hormat.


"Meskipun percaya, aku tetap ingin melihat bukti kalau Devian telah mati."


Cih! Biasanya Lin tidak pernah memintanya. Pasti karena Arlo, dia jadi curiga padaku.


"Aku memotretnya tuan. Tapi lihat sekarang keadaan ponselku. Kalau bagian satunya bisa ditemukan, aku bisa mengembalikan datanya. Sayangnya pecahannya hilang." Levin pura-pura sedih sambil menatap ponselnya.


"Baiklah. Kalau begitu beritahu aku, dimana kau membuang mayat Devian?" Lin melipat tangannya kedepan dada dengan angkuh.


"Sungai yang ada didekat sini. Karena arusnya sangat deras, kupikir mayatnya akan cepat hanyut tanpa ditemukan."


"Benar juga, aku paham. Sekarang pergilah Levin. Cari ponsel baru, agar aku mudah memberikan laporan."


Mendengar perintah baru dari tuannya, Levin segera mengangguk kemudian pergi. Menurut perkiraannya, Lin tidak akan percaya semudah itu. Pasti dia diam-diam melakukan rencana licik.


Setelah melihat Levin pergi, Lin berubah ekspresi, lalu menoleh kearah Arlo. "Aku kurang mempercayainya."


Lin berjalan mendekati Arlo. "Belakangan ini bodyguard ruang bawah bergerak atas perintah ayah. Itu cukup aneh, karena ayah jarang menyuruh bodyguard ruang bawah untuk pergi dari posisi mereka. Aku mendapat informasi kalau mereka mencari orang bernama Axel. Bukankah itu aneh? Devian dikabarkan hilang, tapi yang dicari malah orang lain. Aku menugaskanmu untuk mencari tahu siapa itu Axel. Lalu, cari juga mayat Devian."


"Baik tuan." Arlo membungkuk dengan patuh.


Sekarang ini Arlo sedang senang, karena mendapat tugas khusus dari tuan Lin. Biasanya hanya Levin yang diberikan perintah, barulah dia menyuruh bawahan lainnya. Tapi sekarang Lin menyuruh dirinya sendiri. Apakah nanti ia bisa menggantikan posisi Levin? Membayangkannya saja sudah membuat senang.

__ADS_1


Levin dengan pikiran kacau segera memasuki kamarnya. Ia dengan tergesa-gesa mengambil beberapa senjata yang ia sembunyikan kemudian mengisinya dengan peluru secepat mungkin.


Tadi Levin asal memberikan alasan, ia tidak terlalu memikirkannya dengan matang. Sekarang kalau dipikir lagi, tidak mungkin mayat yang hanyut di sungai sulit ditemukan selama 2 hari. Apalagi dengan banyaknya bodyguard yang dikerahkan untuk mencarinya. Sial!


Hanya aku yang tahu keberadaan Devian. Tidak akan kubiarkan mereka mencarinya.


Levin menatap 4 buah pistol yang sudah ia isi dengan peluru. Meskipun masih merasa kurang, tapi apa boleh buat, hanya ini yang ia punya.


Malam ini tidurlah dengan tenang, Arlo.



Hanya dalam beberapa jam, langit sudah berubah warna. Kini hanya ada kegelapan di langit malam. Levin melihat sebuah bintang di langit. Bintang yang sendirian seperti dirinya. Tapi tidak apa-apa, karena ia bisa melakukan semuanya sendiri.


Sekarang... Saatnya.


Levin melihat kearah gazebo. Disana hanya ada Arlo dan Bernard yang sedang antusias mengobrol. Karena Bernard tidak ada hubungannya dengan semua ini, jadi Levin memilih menunggu mereka selesai mengobrol.


"Wah Arlo, ternyata kau sangat paham tentang cupcake. Apa kau bisa membuat cupcake?" Tanya Bernard dengan semangat.


"Haha apa maksudmu? Itu sangat mudah. Bahkan aku bisa membuatnya dengan mata tertutup." Jawab Arlo dengan bangga.


Sebenarnya Arlo tidak paham tentang apapun berbau kue manis. Tapi demi menjaga kepercayaan bodyguard lain padanya, ia pura-pura menyukai apa yang mereka sukai. Seperti kemarin, ia juga pura-pura menyukai cemilan aneh South, yakni kue sus isi selai timun. Meskipun setelah itu ia muntah dibelakang.


Hoaammm


Bernard menguap, dan Arlo buru-buru mengeluarkan sikap perhatiannya.


"Tidurlah, ini sudah malam. Besok kita akan melihat cupcake krim buah naga di toko baru itu." Usul Arlo.


Arlo mencubit pipinya yang lelah karena terlalu banyak tersenyum palsu. Berbeda dengan Levin, yang pendiam didepan bodyguard lain, Arlo lebih suka berpura-pura ceria agar tidak dicurigai sebagai mata-mata Lin.


"Kau sudah berdiri disana terlalu lama." Arlo menoleh pada Levin di kejauhan.


"Malam yang indah. Mau jalan-jalan keluar untuk melihat bintang?" Tawar Levin sambil berjalan mendekati Arlo.


"Sebaiknya simpan kata-kata itu untuk pacarmu. Dan jujur saja tentang maksudmu yang sebenarnya."


Levin dan Arlo saling menatap dengan aura permusuhan. Arlo yang lebih tua 3 tahun dari Levin, sebenarnya cukup takut sekarang. Karena dalam bidang ini, Levin lebih hebat darinya. Tapi ia sudah menyiapkan sebuah kejutan.


"Ayo jalan-jalan keluar. Aku tiba-tiba ingin mencium aroma air laut." Arlo berjalan mendahului Levin.


Maksudnya pelabuhan? Sekarang si Lin itu sedang berada di pelabuhan untuk melihat barang selundupan yang baru datang. Apakah Arlo ingin mengajak aku menemuinya?


Tidak masalah, saat dijalan bunuh saja dia.


Levin menurut, dan mengikuti Arlo dari belakang.


Brum!


Dua motor melaju dengan kencang. Sorot lampu dari keduanya terlihat jelas diantara gelapnya malam. Salah satunya memakai helm dengan gambar mahkota berwarna emas.


Levin terus mengikuti Arlo yang entah kenapa tidak melewati jalan yang biasanya untuk menuju pelabuhan.


Aneh sekali, dia memilih jalan yang sepi. Ah sudahlah! Aku terlalu banyak berpikir. Dia kan bodoh seperti Lin. Lebih baik aku membunuhnya sekarang.

__ADS_1


Levin menambah kecepatan motornya dan mulai menyalip Arlo. Itu sangat mudah karena sebagai raja jalanan, tidak ada yang pernah mengalahkannya dalam hal kecepatan mengendarai motor.


Saat berada disisi motor Arlo, Levin mengambil pistol yang sudah ia siapkan sebelumnya. Dengan hanya menggunakan satu tangan, Levin mulai mengarahkan pistol itu pada Arlo.


Mati kau


Ckit!


Arlo tiba-tiba mengerem motornya dengan mendadak. Hal itu membuatnya tertinggal dari Levin.


Sial! Tidak sempat kutembak!


Levin berbalik arah dan kembali menuju Arlo. Tapi siapa sangka Arlo malah membuka helmnya dengan santai dan tersenyum pada Levin dari atas motornya yang sudah mati.


Levin ikut menghentikan laju motornya, tapi ia tetap menodongkan pistol itu pada Arlo.


"Jadi benar ya. Kau tidak membunuh Devian. Karena aku mengetahuinya, kau ingin membunuhku." Arlo kembali tersenyum.


"Ya benar. Memangnya kenapa? Kau tidak akan hidup lama setelah mengetahui ini." Levin mulai memasukkan peluru pada pistolnya dan bersiap untuk menarik pelatuk.


"Sayangnya, tuan Lin juga mendengarkan." Arlo dengan bangga mengangkat ponselnya. Dari layar itu, terlihat kalau ia sedang dalam panggilan telepon.


Apa?!


[Ck! Benar-benar mengecewakan. Bunuh Levin] suara Lin terdengar dari benda itu.


Berengsek!


"Anak-anak, bunuh dia untukku." Arlo merentangkan tangannya sambil tersenyum.


"Siap bos!"


Tiba-tiba orang-orang bermunculan dari sekeliling Levin. Mereka muncul dari bayangan gelapnya malam.


"Hahaha kau terlalu fokus padaku hingga tidak melihat sekelilingmu. Sekarang lihatlah! 100 orangku akan membunuhmu malam ini." Arlo tetawa dengan gembira. Tidak disangka rencana anehnya ini berhasil. Padahal ia asal menebak saja.


Pantas saja dia mengajakku melewati jalan tanpa ada lampu penerangan.


"Selamat tinggal Levin. Aku akan menaruh bunga di makammu. Lalu-"


Dor!


Levin menembak dada Arlo dengan ekspresi datar. "Berisik sekali."


"Kau..." Arlo merasakan dadanya sangat sakit dan panas.


Bruk!


"Bos?!" Orang-orang mulai terkejut melihat Arlo yang mulai jatuh dan tidak bergerak lagi.


"Tunggu apa lagi? Ayo serang dia! Balaskan dendam bos!" Orang-orang itu mulai maju untuk menyerang Levin.


100 melawan 1? Semoga aku masih hidup.


Devian... Kuharap, kau tetap mengikuti rencana.

__ADS_1


__ADS_2