
"Aku bukan setan!" Bentak Devian.
"Ta-tapi, bukankah kak Devian seharusnya sudah mati?" Yve menggaruk kepalanya dengan bingung. Ia masih mengingat dengan jelas kata-kata Levin yang bilang sudah membunuh Devian, dan membuang mayatnya.
"Kau ingin aku mati?" Devian mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja tidak." Yve tersenyum, dengan sudut matanya yang mengeluarkan sedikit air mata.
Entah kapan terakhir kalinya Yve mengeluarkan air mata kebahagiaan. Saat melihat Devian masih hidup, entah kenapa ada perasaan amat senang hingga ingin menangis. Syukurlah guru cerewetnya belum mati.
"Kau sudah kelelahan. Duduk saja disana sambil menembak." Devian menyerahkan pistol yang dibawanya pada Yve, kemudian melepas jasnya agar lebih leluasa dalam bergerak.
"Yve, lihatlah kemampuanku. Lalu coba bandingkan dengan Beng. Lebih bagus mana?" Setelah berkata dengan bangga, Devian mendekati rombongan preman yang baru berdatangan.
Bugh!
Duagh!
Yve terpukau dengan apa yang dilakukan Devian. Bodyguard dengan julukan 100 mata itu, ternyata juga hebat dalam perkelahian tangan kosong. Meskipun badannya tidak kekar seperti Beng, tapi berkat tubuh tingginya membuatnya terlihat lebih kuat.
Para preman yang datang pada Devian, dihempaskan dengan mudah. Lalu sisanya habis dihajarnya hingga babak belur. Rasanya semua preman itu sangat empuk seperti kapas jika melihat Devian memukulnya.
Jika ada preman yang hendak memukul Devian dari belakang, Yve menembaknya dengan cepat. Meskipun tidak mengenai organ vital, setidaknya jika terkena tangan atau kaki membuatnya sudah sulit bergerak dan berhenti menyerang Devian. Sepertinya Yve harus belajar lebih lagi dalam hal menembak.
"Saat perjalanan kemari, kami sudah menghabisi para preman yang mengarah ke cafemu. Mereka memadati jalan yang menuju cafemu. Tapi tenang saja, kami sudah meratakannya. Tinggal sisa yang disini." Devian sempat berbicara sambil memukuli orang-orang.
"Kami? Kak Devian datang dengan siapa?"
"Devian, yang disini belum selesai? Kau lama sekali."
Yve perlahan menoleh kearah sumber suara yang terdengar akrab itu. Penglihatan Yve disambut oleh sosok Levin yang mengenakan jas compang camping.
"Levin?"
Otak Yve susah mencerna apa yang terjadi. Sebelumnya Levin bilang sudah membunuh Devian dan membuang mayatnya. Lalu tiba-tiba Levin ikut menghilang dengan misterius. Sekarang, mereka berdua muncul dan membantu Yve dengan obrolan yang terdengar akrab?! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!
Brak!
Praman terakhir sudah tidak bergerak setelah dilempar oleh Devian.
"Berisik Levin! Lebih baik kau menunggu dengan tenang di dalam taksi." Sambil terengah-engah, Devian memakai kembali jas nya.
"Oh iya aku lupa bilang, kita belum bayar taksinya. Dan supirnya masih belum sadarkan diri." Levin berkata dengan datar sambil menunjuk arah taksi mereka terparkir.
"Itu salahmu! Ingin cepat-cepat kemari dan mengambil alih kemudi. Lalu mengendarainya seperti ingin menjemput ajal. Jelas supir taksinya syok." Devian merogoh saku jasnya. "Bangunkan pak supir, dan berikan uang ini" Devian menyerahkan beberapa lembar uang pecahan 50 ribu pada Levin.
__ADS_1
"Tunggu dulu!" Yve bangun dengan perlahan, lalu menatap Devian dan Levin secara bergantian. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Jelaskan padaku."
Levin tidak peduli, dan memilih pergi dengan wajah datarnya.
Devian melihat kepergian Levin dengan bingung. Padahal dia yang paling mengkhawatirkan Yve, tapi sikapnya malah acuh tak acuh seperti itu. Dasar aneh!
"Nanti akan kujelaskan." Devian membenahi kacamatanya seperti biasa.
"Kak Devian." Yve mendekati Devian dengan tertatih-tatih, seluruh badannya terasa sakit. "Ini benar-benar kau kan?"
"Ya ini aku." Devian tersenyum. Tidak disangka, ada orang yang sangat merindukannya seperti ini.
"A-aku..." Yve ingin menangis.
"Tenang, katakan perlahan." Devian mengelus kepala Yve dengan lembut.
"Aku kehilangan charger laptopku. Ternyata kau masih hidup, akhirnya aku bisa meminjam chargermu." Yve berekspresi memelas, dengan air mata buaya.
"Dasar bodoh!" Devian melipat tangannya dengan kesal.
"Yve! Apa kau baik-baik saja?" Leo berlari mendekati Yve dengan khawatir.
"Ya aku baik." Yve menghapus air mata buayanya dan mengangguk perlahan.
Hidung Yve tiba-tiba mengeluarkan darah, dan menetes di bajunya.
"Baik dari mananya?!" Leo langsung mengambil sapu tangan dan menutup hidung Yve.
"Haha aku serius, tidak apa-apa."
Sebenarnya Yve memang tidak terlalu mempermasalahkan rasa sakit ditubuhnya. Entah kenapa Yve malah senang. Mungkin karena dia tahu kalau Devian belum meninggal.
"Ayo rawat lukamu di dalam." Ucap Leo dengan penuh perhatian.
Brum!
Semua orang menoleh ke arah gang sempit dibelakang mereka. Suara deru motor diikuti oleh sinar yang sangat silau mulai mendekat.
Sebuah motor dengan pengendara misterius berhenti didepan rombongan orang yang sedang menatapnya bingung.
Saat helm pengendara itu terbuka, sosok seorang perempuan cantik dengan rambut pirang sebahu muncul. Perempuan cantik itu perlahan turun dari motor sportnya. Celana pendeknya membuat paha putih mulusnya terekspos. Dengan cara berjalan bak model catwalk, dia mendekati Yve dan teman-temannya.
"Loh? Ternyata sudah selesai?" Perempuan itu tampak sedih sambil melihat para preman yang sudah tak bergerak didekat kakinya.
"Kau terlambat! Sky" Entah kenapa Leo terlihat kesal saat berbicara dengannya.
__ADS_1
Oh jadi ini Sky. Yve mengangguk pelan.
"Jangan marah begitu Leo sayang. Tadi aku pergi ke salon dulu" Dengan ekspresi sok imut, perempuan itu memilin ujung rambutnya.
Hah? Disini aku mempertaruhkan hidup dan mati, sementara orang ini sibuk merias dirinya di salon? Bai Lian perlu memecat bodyguard seperti ini.
Yve memutar bola matanya dengan kesal.
"Ya ampun! Ada Devian sayang!" Seru Sky yang langsung memeluk Devian.
"Ini hari tersialku karena bertemu denganmu kak Sky." Entah kenapa Devian terlihat jijik dan terus mendorong Sky agar menjauhinya.
"Semua orang mencarimu. Berikan aku satu ciuman chuuu~" Sky mendekatkan bibirnya kearah pipi Devian.
"Seseorang tolong aku!" Devian terlihat histeris.
"Hei. Kau itu cantik, jadi jaga sikapmu." Yve menarik Sky menjauhi Devian.
"Oh ya ampun, tadi kau bilang aku apa?" Sky menatap Yve penuh harap.
"Cantik." Ulang Yve.
"Jangan katakan itu!!!" Entah kenapa Leo dan Devian terlihat stress.
"Sudah kuduga aku memang cantik. Kuhadiahi 100 ciuman untuk kalian semua." Seru Sky dengan senang.
"Tidaaakkk." Leo dan Devian kembali terlihat stress.
Yve hanya memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Devian, supir taksinya sudah-" Levin yang berniat melapor, tiba-tiba berhenti saat melihat sosok Sky. "Aku pergi dulu!" Levin langsung berlari dengan cepat seolah sedang menyelamatkan nyawanya.
Mereka ini kenapa? Yve tambah kebingungan.
"Astaga dragon! Ada Levin tampan juga disini. Aku benar-benar ingin menciumnya." Sky kembali tersenyum dengan imut.
"Oh iya," Yve tiba-tiba ingat sesuatu. "Bukankah kata kalian aku adalah bodyguard perempuan pertama di keluarga Bai? Kalian bohong ya? Ini ada yang perempuan juga." Yve menunjuk Sky.
"Kyaaa apakah aku semirip itu dengan perempuan?" Sky tersenyum dengan malu-malu.
"Apa maksudmu? Kau kan perempuan."
"Yve" Leo menepuk pundak Yve dengan ekspresi serius. "Sky adalah laki-laki."
WHAT?!
__ADS_1