
"Tuan, anda tidak perlu sedih lagi. Lin dan Levin sudah berada di tangan yang benar. Dengan begini permusuhan antara anda dan tuan muda Lin berakhir, tanpa ada pertengkaran. Anda juga bisa mengunjungi tuan muda Lin sewaktu-waktu." Devian menenangkan Bai Lian sambil mengusap punggungnya.
Meskipun Lin dan Bai Lian bermusuhan, tapi Lin tetaplah satu-satunya keluarga kandung dari Bai Lian. Sekarang Bai Lian sudah tidak memiliki keluarga kandung disisinya. Devian bisa merasakan kesedihan itu melalui tatapan sendu ketua mafia didepannya.
"Tuan, mari saya obati luka-"
"Kyaaa!"
Teriakan nyaring dari Sky membuat semua orang yang berada di depan rumah menoleh bersamaan.
"Tolong! Yve mau membunuhku."
Sky terus berteriak. Rambutnya yang sebahu dijambak oleh Yve dari belakang.
"Tidak usah terlalu mendramatisir. Palingan juga rambut palsu." Yve mencoba menarik rambut Sky lebih kuat.
"Aduduh! Ini asli tahu! Memang ini rambutku!" Sky meringis kesakitan.
"Coba mana lihat." South ikut mendatangi Yve dan Sky. Lalu tanpa dosa ia ikut menarik rambut Sky. "Wah iya asli loh."
"Aduh! Kalian anak-anak durhaka!"
Setelah merasa rambut itu asli, Yve segera melepaskannya. "Aku kan tidak tahu. Siapa suruh kabur dariku."
"Huh! Aku akan bilang pada orang-orang kalau Levin menyatakan perasaannya ta-"
Yve langsung membekap mulut Sky. Sebenarnya itu sudah terlambat. Sekarang Yve jadi tahu kalau kecepatannya bisa dikalahkan oleh mulut rumpi milik Sky.
Waduh!
Devian seketika menoleh kearah Bai Lian. Dan benar saja, kedua alis orang itu menyatu, ekspresinya terlihat tidak suka.
Kenapa juga kak Sky malah mengatakannya keras-keras?! Tidak lihat situasi sama sekali! Ada orang yang sedang marah disini.
"Tuan-"
"Devian, bantu aku mengobati luka." Bai Lian seketika berubah acuh, lalu masuk ke dalam rumah.
Dia kenapa?
Yve hanya melihat dengan bingung. Dari jauh terlihat Devian menggaruk kepalanya dengan kasar, dan mengikuti Bai Lian memasuki rumah.
Para bodyguard mulai membubarkan diri. Mereka berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa masih terkejut dan bingung. Karena tiba-tiba saja tuannya yang dikabarkan mati muncul, kemudian beradu pukul, dan setelah itu dipenjara. Ini terlalu absurd.
"Yve, sebenarnya apa yang terjadi?" Beng dan North mulai mendekat.
"Tidak ada apa-apa, Kak Sky hanya menghayal. Dia suka sekali berimajinasi." Yve masih membungkam mulut Sky dan mulai mengarang. Sementara orang yang dimaksud hanya bisa melotot.
"Oh kukira Levin kenapa." Beng mengangguk paham. Ia juga merasa Sky bukanlah orang yang waras. Jadi kalau Yve bilang terlalu berlebihan dalam imajinasi, itu mungkin benar.
__ADS_1
"Ayo ayo. Kami ingin mendengar penjelasan yang lebih rinci darimu. Sesuatu pasti terjadi kan?" South menarik Yve menuju gazebo.
Tolong aku dulu woi! Teriak Sky dalam hati.
❀
Langit sudah berubah gelap. Yve berdiri di depan gerbang rumah keluarga Bai. Ia baru sadar kalau tidak ada kendaraan untuk pulang. Pagi ia kemari dengan menaiki mobil bersama-sama, dan sekarang bingung bagaimana caranya pulang.
Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya? Haruskah aku kembali ke dalam dan minta tolong kak Devian untuk mengantarku?
Tidak! Tidak! Dia itu menyebalkan. Lebih baik aku pulang sendiri. Meskipun jauh tidak apa-apa. Aku malas mendengar alasannya yang mengaku sebagai teman sekelasku.
"Eh? Kenapa jalan kaki? Tidak minta bodyguard lain untuk mengantar?"
Yve menoleh. Seorang pria paruh baya yang dikenal orang-orang sebagai paman Ping tersenyum kearahnya.
"Tidak. Aku lebih suka pulang sendiri." Ucap Yve
"Kalau begitu hati-hati ya. Meskipun bisa berkelahi, tapi kamu tetaplah seorang gadis."
"Iya paman." Yve segera memulai perjalanannya pergi menjauhi rumah keluarga Bai.
Sepanjang jalan, Yve terus komat kamit menyalahkan si bodoh South. Orang tanpa dosa itu menahannya di gazebo hanya untuk bercerita tentang silsilah cemilan langka yang selama ini dia makan. Memangnya itu penting? Tapi Yve tidak bisa pergi begitu saja. Karena ia juga merasa rindu dengan suasana aneh saat bersama bodyguard inti. Belakangan ini ia sangat sibuk.
Jalan yang Yve lalui semakin lama semakin gelap. Entah kenapa lampu jalan mati di beberapa bagian.
Brum!
"Yve, itu kau?" Motor itu berhenti, dan pengendaranya membuka kaca helm untuk melihat lebih jelas.
"Soni. Malam-malam begini masih berada di luar?"
"Seharusnya aku yang tanya begitu. Kenapa kau diluar sendirian? Jalan kaki pula. Mana motor mahalmu? Jangan-jangan itu kredit ya? Lalu depkolektor mengambilnya karena kau tidak membayar angsuran."
"Lama tidak bertemu dan mulutmu sudah berlatih keberanian." Yve mengepalkan tangannya dan berjalan mendekati Soni.
"Haha aku hanya bercanda, pangeran. Ayo naik! Kuantar pulang. Semoga kakakmu tidak membakarku hidup-hidup."
Pangeran? Sudah lama tidak ada yang memanggilku begitu.
Yve akhirnya naik ke kursi belakang, lalu Soni segera tancap gas.
Jujur saja Yve merindukan naik motor ini. Meskipun motor ini milik Soni, tapi Yve yang memakainya selama debut menjadi pangeran balap liar. Ia juga yakin kalau motor ini lebih banyak menghabiskan waktu bersama dirinya dibanding Soni.
"Oh iya, bagaimana kabar area balap?" Tanya Yve.
"Tentu saja banyak orang mencarimu. Katanya kau pengecut. Baru kalah satu kali dari raja jalanan, langsung menghilang dan tidak bertanding lagi."
"Heh... Siapa yang bilang begitu? Berani sekali."
__ADS_1
"Dia Cosmos, yang dulu menantangmu tapi kau tolak. Sepertinya dia dendam. Jadi sekarang mulai menjelekkanmu."
"Sampah yang tidak pantas bertemu denganku itu ya." Yve mengangguk dengan angkuh.
"Tapi jujur saja, aku juga merindukanmu. Kenapa kau selalu sibuk belakangan ini? Malam hari tidak ada kegiatan, aku hanya keliling kota menebar pesona."
"Rindu padaku atau rindu pada uang? Dasar mata duitan. Lagipula bukankah itu bagus? Kau jadi punya banyak mainan."
"Aku ini sebenarnya tidak suka mempermainkan hati perempuan."
"Jangan buat aku muntah di tengah jalan."
"Hei aku ingin tobat! Tolong berikan semangat."
"Ya ya semangat."
Ckiiit!
Soni mengerem mendadak. Yve melihat ke depan dan ternyata ada beberapa preman yang menghadang.
"Cuma 5 orang. Kau sendiri saja yang habisi. Aku malas." Ucap Yve sambil menguap.
"Tidak ingin membantuku?"
"Tidak. Tadi aku mendengar ceramah panjang sekali. Lelah hati dan jiwa. Tidak ada mood untuk berkelahi."
Soni menghela nafas dengan malas. "Baiklah. Semoga wajah tampanku tidak babak belur."
Yve terus berada diatas motor, sementara Soni turun dan mulai menggulung lengan jaketnya.
"Wih bos! Lihat! Dia bawa perempuan cantik!" Salah satu anak buah preman menunjuk Yve dengan ekspresi yang menjijikkan.
"Haha tenang saja, aku akan mendapatkannya. Biasanya orang kaya yang punya motor bagus itu tidak bisa berkelahi. Mereka hanya bisa meminta uang pada orang tuanya sambil merengek hahaha."
"Begitukah?" Soni menarik sudut bibirnya dengan tatapan meremehkan. "Kalau begitu kalian bernasib sial karena bertemu denganku."
Yve menjadi penonton yang baik. Ia tahu Soni tidak bisa berkelahi. Tapi semenjak Soni berteman dengannya, Yve sudah mengajarkan cara berkelahi sedikit demi sedikit. Meskipun tidak cukup bagus, tapi jika hanya melawan 5 preman seharusnya tidak masalah.
"Boss, dia besar kepala!"
"Hajar ramai-ramai! Maju!"
Bugh!
Duagh!
Hoaaammm
Yve kembali menguap. Soni tidak bisa menyelesaikannya dengan cepat. Tapi untuk sekarang dia masih unggul.
__ADS_1
Dia sudah banyak berubah. Semakin hebat.