
Yve melempar rokoknya keatas jalan beraspal dan menginjaknya. Pertandingan hampir dimulai, ia harus fokus.
Kenapa Levin bisa berada disini? dan... ternyata dialah sang raja. Pantas saja aku merasa aneh tiba-tiba ditantang oleh raja balapan. Mungkin ini rencananya.
Yve menyapu pandangannya kedepan, sorot matanya berubah serius. Entah apa maksud sebenarnya dari Levin, yang terpenting sekarang adalah memenangkan pertandingan ini.
"Bersiap."
Seorang perempuan dengan memakai baju transparan dibeberapa sisi, terlihat sangat bersemangat mengangkat tangan.
Yve menarik nafas dalam-dalam. Tangannya sudah bersiap untuk memacu motornya dengan kecepatan penuh.
"Mulai."
Saat si perempuan seksi tadi menurunkan tangannya. Yve dan sang raja melesat dengan cepat meninggalkan garis start.
Suara dua motor yang sedang dipaksa untuk memaksimalkan kecepatannya itu menerjang sunyinya malam.
Tidak butuh waktu lama untuk Yve menyadari kalau ia tertinggal. Sang raja berada didepannya sekarang. Meskipun jarak mereka terbilang berdekatan, tapi Yve sudah mencapai batas. Ia tidak akan bisa mengejar sampai garis finish.
Meskipun begitu, menyerah tidak pernah ada di dalam kamus kehidupan Yve. Jadi ia masih berusaha untuk menyusul sang raja.
Dijalan raya tanpa tikungan ini, dua motor melaju dengan kecepatan tinggi. Deru suara mesinnya menelan pendengaran setiap orang.
Sial! aku tidak bisa mengejar. Yve menggit bibir bawahnya dengan khawatir. Ia sudah melihat garis finish.
Para penonton bersorak saat motor juara yang ditunggu melewati garis finish lebih dulu, dan dia adalah sang raja.
Pangeran bisu, kalah.
"Hebat! benar-benar seru!"
Berengsek!
Yve memberhentikan laju motornya, melepaskan helm dengan cepat, lalu membantingnya penuh emosi.
Helmkuuuu, Soni menangis dalam hati.
"Pangeran! tidak masalah kalau kau kalah. Aku tetap akan mengagumimu." seru beberapa perempuan diikuti oleh yang lain.
"Selisihnya cuma sedikit. Pangeran tetap hebat."
"Motor kalian berbeda. Semua tahu itu. Kau sangat hebat pangeran."
"Ck!" Yve turun dari motornya, dan berjalan dengan cepat mendekati sang raja.
Duk!
Yve menepuk helm raja dengan sangat keras, hingga pemiliknya terhuyung.
"Oh ada apa pangeran?"
__ADS_1
Dengan statusnya sebagai pangeran bisu, Yve tidak bisa berkata apapun sekarang. Ia hanya menatap tajam kearah raja, atau bisa dibilang... Levin.
"Katakanlah sesuatu." Levin yang sebenarnya adalah sang raja itu turun dari motornya, dan berhadapan dengan Yve. Alisnya terangkat seolah sedang menantang.
"Aku tahu. Pangeran yang tidak pernah kalah sebelumnya ini merasa malu setelah kalah untuk pertama kalinya. Aku mengerti. Tapi maaf, aku terlalu hebat untukmu." Levin mengangkat bahunya dengan sombong.
"Dan satu lagi pangeran. Kau harus mematuhi semua perkataanku." Levin merogoh saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu dari sana. "Ini adalah kunci apartemenku, datanglah setelah ini."
Yve menerimanya.
Semua orang dibuat histeris mendengar itu.
"Oh astaga, sang raja menyukai pangeran?!"
"Bukankah mereka sama-sama laki-laki?!"
"Ya ampun! apa-apaan ini?"
Yve tersenyum sinis, lalu melirik Soni dengan tangan yang menengadah.
Soni paham maksudnya. Yve pernah memberitahunya arti gerakan itu. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dan menyerahkannya pada Yve.
Krak!
"Astaga! berani sekali."
Yve memotong kartu itu menjadi dua bagian, kemudian melemparnya ke helm Levin.
Yve menatap Soni, ia ingin Soni yang menjawabnya.
Aku tahu! Yve pasti ingin berkata begini. "Raja, bukankah tadi pangeran tidak mengiyakan permintaanmu sebelumnya? itu tidak termasuk kesepakatan." Yve mengangguk mendengar Soni yang dengan benar mengatakan keinginannya.
"Bukankah dia bisu? Bagaimana aku bisa tahu dia menyetujui permintaanku atau tidak?" sanggah Levin.
"Tentu saja dengan anggukan kepala. Memangnya tadi pangeran mengangguk mendengar kata-katamu? tidak bukan?" Soni semakin pintar menebak pikiran Yve.
"Aku tidak mau tahu! aku ingin dirimu." Levin menarik Yve.
Bugh!
Yve memukul helm Levin hingga kacanya terlepas. Pandangan Levin sempat buram beberapa saat karena pukulan itu.
"Jangan." Soni segera menarik Yve menjauhi sang raja.
"Hentikan mereka!"
Orang-orang mulai berkerumun dan saling memisahkan. Yve sebenarnya ingin memukulnya lagi. Tapi orang-orang yang melindungi raja abal-abal itu, sangat merepotkan.
"Kau ingin menantang raja kami hah? ayo maju!" salah satu dari rombongan raja di awal tadi, tampak tidak terima.
"Polisi! ada polisi yang menuju kemari!" tiba-tiba seseorang berteriak dengan heboh.
__ADS_1
Orang-orang disana seketika panik dan membubarkan diri secepat mungkin. Mereka tidak peduli lagi dengan Raja dan Pangeran. Menyelamatkan diri sendiri lebih penting sekarang.
"Ayo kita pergi." Soni menarik Yve menuju motornya.
Yve masih menatap tajam kearah Levin, dan Levin juga melakukan hal yang serupa. Mereka seolah ingin membunuh satu sama lain melalui tatapan tajam masing-masing.
"Sudahlah! ayo!" Soni kembali menarik Yve. Dan gadis itu akhirnya menurut.
Sang pangeran yang telah kalah, akhirnya pergi.
Salah satu teman sang raja berjalan mendekat kemudian berbisik. "Levin, kita gagal mendapatkannya dengan cara ini. Tuan Lin sangat menginginkan dia berada di pihak kita. Bagaimana ini?"
"Tentu saja mencari cara lain. Aku akan mendapatkannya untuk tuan Lin." Levin membenahi jaket kulitnya kemudian kembali keatas motor dan pergi.
❀
Yve akhirnya kembali ke cafe. Ia turun dari motor Soni dengan ekspresi wajah yang masam. Rasa sebal masih menyelimutinya.
"Astaga aku tidak tahu kalau raja ternyata menyukai sesama jenis. Bukankah itu menjijikkan?" Soni merinding hanya dengan mengingat kejadian tadi.
"Dia tahu kalau aku perempuan."
"Hah?! bagaimana bisa? bukankah selama ini tidak ada yang menyadarinya di area balap?" Soni menggaruk kepalanya dengan bingung.
"Ceritanya panjang." Yve merogoh saku celananya. "Ini pisau lipatmu."
"Tindakanmu sangat berani." Soni mengambil kembali pisau lipatnya. "Bagaimana kalau teman-teman raja itu tidak suka perlakuanmu tadi dan mengeroyokmu suatu saat nanti?" Soni menatap Yve dengan khawatir.
"Bukankah itu bagus? aku tidak perlu mencarinya untuk menghajarnya."
"Yve kau sangat menyeramkan. Bukan tipeku sama sekali. Gadis lemah lembut lebih menarik."
"Aku senang tidak menjadi tipemu, dasar playboy." Yve memukul bahu Soni sambil tersenyum. "Baiklah aku akan masuk."
"Ya. Dan jangan pikirkan soal kekalahan tadi. Kau harus tetap ikut balapan agar aku dapat uang." Soni tersenyum kearah Yve.
"Dasar kikir." Yve langsung memasuki cafe tanpa melihat ekspresi Soni. Laki-laki itu sangat menyebalkan.
❀
Di rumah Bai Lian.
"Akhirnya selamat." Devian menghembuskan nafas lega lalu menyandarkan punggung lelahnya pada bantalan kursi.
Beberapa menit yang lalu ia sempat khawatir hingga mengeluarkan banyak keringat dingin. Itu semua karena Yve.
Beberapa saat yang lalu, Devian sedang iseng melihat cctv jalan raya untuk mencari penampakan yang pernah dikatakan Kurt padanya. Konon ada penampakan hantu wanita tanpa kepala sambil menggendong kucing di kawasan jalan raya itu. Karena hantu itu membawa kucing, Devian merasa penasaran dan ingin melihat dari jauh.
Tapi Devian malah tidak sengaja melihat Yve yang ingin balapan liar disana. Dan orang yang menjadi lawan Yve adalah... Levin. Devian bisa mengetahuinya dengan mudah. Lalu, kekhawatiran Devian semakin memuncak saat mengetahui Yve kalah. Ia takut kalau Levin meminta gadis itu melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Jadi Devian menelpon polisi untuk membubarkan balapan liar. Setelahnya, Devian mengawasi Yve hingga sampai di cafe.
Levin... Seperti kata Beng. Dia mencurigakan.
__ADS_1