Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Masih Sesuai Rencana


__ADS_3

Tuk! Tuk!


Di sebuah jalan yang sepi, tiga orang berjalan dengan tertatih. Salah satunya adalah seorang nenek dengan tongkatnya.


Nenek itu berjalan bungkuk ditemani dua orang cucunya. Salah satu dari cucu itu terlihat cantik dengan rambut hitam yang dipasangi banyak jepit rambut, roknya sangat pendek hingga paha putih mulusnya terpampang jelas, sepatu high heels hitam mengkilapnya menambah kesan seksi. Sementara cucu satunya adalah anak laki-laki dengan baju style hip hop, topinya miring dan hampir menutupi setengah wajahnya, kalung besar bak rantai kapal bergerak dengan konstan saat tubuh laki-laki itu berjalan dengan sedikit breakdance.


"Hei! Mau apa kalian?!" Teriak beberapa laki-laki dengan tampang sangar. Mereka menghalau ketiga orang tadi untuk lewat.


"Tolong kami tuan. Mobil kami bannya kempes. Jadi kami berjalan untuk mencari bantuan." Si cucu cantik bicara dengan imut, membuat para laki-laki berwajah sangat tadi menelan ludah dengan ekspresi aneh.


"Yo! Yo! Kalau memang hebat bantu kami yo!" Ucap si cucu laki-laki bak rapper profesional.


"Bantu bro?" Laki-laki menyeramkan yang jelas adalah preman itu berbisik pada rekannya.


"Bantulah, cuma ban kempes. Bayarannya kita minta si cewek cantik itu saja hahaha."


"Boleh juga." Preman yang lain mengangguk sambil melihat kembali si cucu perempuan.


"Begini saja." Salah satu preman mulai berbibaca mewakili teman-temannya. "Kamu yang kece abis, pergi istirahat dulu sama nenekmu." Preman itu menunjuk cucu laki-laki.


"Yo! Istirahat dimana yo!"


"Di depan jalan ini ada bangunan, nah duduk saja disitu. Kalau ada yang nanya, bilang bang Dim sedang bersenang-senang dengan kakakmu."


"Oke yo!"


"Nah ayo nona cantik, tunjukkan mobilmu." Seru preman tadi diikuti teman-temannya.


"Ah iya tuan, sebelah sana. Agak jauh."


"Semakin jauh semakin bagus." Komentar preman lainnya disertai tawa teman-temannya.


"Hati-hati nenek dan adikku sayang. Kakak akan kembali untuk menjemput kalian." Si cucu perempuan pergi dengan tersenyum. Lebih tepatnya... Senyum kemenangan.


Melihat mereka pergi, si cucu laki-laki langsung berjongkok untuk berbisik pada neneknya.


"Yo! Yo! Kalau lelah, biar digendong oleh cucu berbaktimu ini yo!"


"Hentikan aktingmu! Mereka sudah pergi." Yve membenahi posisi topi tajutnya.


"Masih belum boleh bicara dulu. Di arah sana ada orang. Lagipula ini jarak 20 meter, ada cctv disini." Levin memainkan kalungnya yang besar.


"Menurutmu, apa kak Sky akan baik-baik saja?" Yve melirik arah tempat Sky yang menghilang bersama preman lainnya.


"Tenang saja, dia sangat hebat. Hampir menyamai Beng. Tapi karena dia melambai, tuan besar jarang membawanya kemana-mana."


Yve mengangguk dan kembali berjalan dengan tongkatnya.


Setelah berjalan tidak sampai 10 menit, Yve dan Levin menemukan sebuah pabrik raksasa. Tidak seperti markas penjahat pada umumnya yang memakai tempat terbangkalai, markas Lin ini terlihat terawat. Kalau dilihat sekilas, orang-orang akan mengira ini sebuah pabrik biasa.


"Siapa kalian?!" Teriak dua preman yang masih berjaga di depan pintu gerbang.

__ADS_1


"Yo! Yo! Kami disuruh paman Dim untuk kemari yo! Sebenarnya kami sedang minta tolong karena mobil kami ban nya kempes yo!"


"Dim? Apa-apaan dia? Padahal tuan sudah bilang untuk melarang orang-orang asing kemari."


"Paman Dim juga memberi pesan yo! Katanya, paman Dim sedang bersenang-senang dengan kakakku yo! Kakakku cantik sekali yo! dan katanya lagi, kalau mau gabung, bakal dikasih jatah yo!"


Memangnya tadi dia bilang begitu? Yve hanya terdiam sambil melihat kelakuan Levin yang berbicara dengan gestur orang kesurupan.


"Wih beneran nih? Ikutan yuk!"


"Ayok! Mumpung pas cuacanya."


"Trus siapa yang jaga?"


"Mereka saja." Salah satu preman menunjuk pasangan cucu dan nenek itu.


"Eh bocah! Kalau ada yang mau masuk tinggal bukain aja gerbangnya. Ngerti kan?"


"Ngerti yo! Yo!"


Akhirnya setelah diberi petunjuk dimana mobil terparkir, dua preman tadi langsung lari dengan terburu-buru.


"Mudah sekali." Yve akhirnya bisa meluruskan badannya. Berjalan sambil membungkuk sejauh 50 meter ternyata cukup melelahkan.


"Tinggal tunggu aba-aba."


Yve dan Levin kompak memasang earphones untuk mendengarkan instruksi Devian.


"Bisa." Jawab Levin dan Yve bersamaan.


"Baiklah, sampai sekarang masih berjalan mulus. Hanya kak Sky yang mengeluh karena para preman tadi berbadan besar, jadi setelah membunuh mereka, kak Sky bingung dimana meletakkan mayatnya." Devian terdengar menghela nafas diakhir kalimatnya.


"Eh? Sudah dibunuh? Cepat sekali."


"Tunggu sinyal dari kak Yin Yang. Katanya mereka butuh waktu untuk memasang alat peredam tembakan. Sinyalnya adalah suara burung." Ucap Devian.


"Apa kau mau minum?" Levin menyodorkan botol air mineral dengan santai kearah Yve.


"Tidak."


Jika disaat seperti ini, Yve akan terfokus pada lawan dan tidak bisa santai minum air seperti Levin. Adrenalinnya akan menggebu dan jantungnya berdetak dengan kencang. Yve sudah bersiap untuk memukul orang.


Cip! Cip! Cip!


"Itu sinyalnya!" Teriak Devian.


Yve dan Levin saling menatap kemudian mengangguk bersamaan.


Klak!


Yve membuka tongkat nenek-neneknya yang sebenarnya berisi belati.

__ADS_1


"Ayo kita mulai." Levin membuka gerbang.


Yve masuk ditemani Levin, para preman yang melihat orang asing masuk dengan senjata langsung menghadapiri.


"Mau apa kalian?!"


Bugh!


"Hei!"


Duagh!


Perkelahian tidak terelakkan. Hanya ada sekitar 10 orang yang menjaga di depan bangunan, dan semuanya dengan cepat dibereskan oleh Yve dan Levin.


"Kesini." Levin berlari lebih dulu memasuki bangunan, dan Yve mengekorinya.


Untuk saat ini, Yve dan Levin tidak perlu takut dengan cctv, tapi Devian melarang mereka menggunakan senjata api. Karena suaranya bisa memicu orang satu gedung datang mengeroyok. Jadi cara satu-satunya hanya masuk dengan perlahan.


Siapa sangka kalau di dalam gedung itu terdapat banyak sekali lorong. Jika Yve tidak bersama Levin, mungkin sudah dari tadi tersesat.


Selama perjalanan hanya ada beberapa preman yang terlihat hilir mudik, tentu saja semua langsung dibereskan oleh Yve. Levin hanya membantu sedikit karena dia masih dalam keadaan terluka.


Saat sampai di sebuah tikungan lorong, Levin berhenti berlari. "Aku akan ke ruangan cctv."


"Ruangan Lin sebelah mana?" Tanya Yve dengan nafas yang terengah-engah. Lari dan menghajar orang sangat menguras tenaga. Untung saja kata Levin tidak ada preman lagi yang menjaga ruangan Lin. Karena Lin tidak suka ada orang yang mendekati ruang kerjanya.


"Kau kan sudah lihat petanya!" Bentak Levin.


"Aku lupa! Memangnya aku seperti tokoh komik yang serba bisa dan pintar?"


Levin menghela nafas dan menunjuk jalan dibelakang Yve. "Lewat sana. Belok kanan, kanan lagi, lalu kiri."


Yve mengangguk "oke, kanan, kanan, kiri." Setelah itu berlari dengan terburu-buru.


Levin segera berlari kearah cctv. Dari jauh ia sudah melihat preman yang ingin masuk ruangan cctv.


Eh? Sudah waktunya ganti giliran? Ini baru 10 menit. Ternyata Lin mengganti jadwalnya dengan ekstrim. Sial! Pasti didekat ruangan kerjanya juga ada preman. Yve mungkin akan sedikit kewalahan.


Bugh!


Levin dengan cepat menghabisi preman yang baru saja ingin masuk ruangan cctv itu.


Dengan nafas terengah. Levin menyeret orang tadi memasuki ruangan cctv. Di dalam ruangan cctv itu Levin disuguhi dua orang yang sudah mati berkat tembakan si kembar senior.


Menggunakan sisa energinya, Levin membereskan para mayat dari layar monitor, lalu duduk disana untuk melihat keadaan di dalam gedung melalui cctv.


"Levin, sambungkan aksesku pada cctv disana." Perintah Devian dari earphone.


"Baiklah." Levin mematuhinya.


Untuk sekarang masih sesuai rencana. Tapi kenapa perasaanku tidak enak? Meskipun sudah mencoba tenang, tapi tetap saja ada kegelisahan.

__ADS_1


Yve...


__ADS_2