Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Taman Berbunga Untukmu


__ADS_3

Yve baru saja sampai di rumah Bai Lian. Ia sedikit bingung dengan para bodyguard penjaga yang memakai pakaian serba hitam.


Ada apa ini? Biasanya mereka memakai jas biasa.


Setelah memarkirkan motornya. Yve berjalan menuju gazebo. Mungkin saja teman-temannya tahu tentang apa yang terjadi dengan orang-orang disini.


"Pagi." Sapa Yve pada Beng yang sedang memakan roti lapis.


"Pagi adikku. Kemari, makan bersamaku." Beng menggeser piringnya yang masih berisi sepotong roti lapis.


"Tidak kak. Aku sudah sarapan nasi garam." Yang dimaksud Yve adalah nasi goreng asin buatan kakaknya Tina.


"Ya ampun. Apa kau tidak memiliki uang? Sampai makan nasi garam begitu." Beng menatap Yve dengan sedih.


"Bukan begitu sih."


"Yo! Pagi Yve." South datang bersama North dengan pakaian serba hitam, seperti yang dikenakan bodyguard penjaga pintu depan.


"Kenapa kalian berpakaian serba hitam? Ada apa?"


"Sial, aku lupa memberitahumu. Karena kemarin aku sangat sibuk." Beng menelan kunyahan roti lapis terakhirnya. "Hari ini adalah acara berkabung, untuk kematian Kurt dan yang lainnya kemarin."


Yve jadi teringat kembali kejadian tragis kemarin. Ia masih tidak rela kalau kak Kurt meninggal ditangan orang jahat seperti Lin dan Levin.


"Berkabung ya." Yve mengangguk paham.


Ternyata ada acara berkabung juga untuk bodyguard yang meninggal. Yve pikir mereka akan mati begitu saja dan dianggap sebagai angin lalu. Ternyata keluarga Bai ini masih memiliki sifat kemanusiaan dan rasa terimakasih. Kecuali satu orang, Bai Lin.


Beng kembali memakan roti lapis sisanya. Yve tiba-tiba salah fokus dengan buku jari Beng yang kemerahan. Itu terlihat jelas saat Beng mengangkatnya untuk memakan roti lapis.


"Kak Beng, apa kau habis menghajar seseorang? Atau latihan memukul?"


Uhuk! Uhuk!


Beng tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan Yve. South yang ikut gelagapan, memberikan air mineral yang dibawanya pada Beng.


"Kak Beng, ayo minum dulu." South menyodorkan air mineral.

__ADS_1


"Terimakasih."


Beng tidak tahu harus membuat alasan seperti apa. Tidak mungkin aku bilang kalau tadi malam memukuli teman sekelasmu kan?


"Dia latihan memukul batu semalaman." Devian tiba-tiba muncul dan menjadi penyelamat dari situasi Beng yang tertekan.


"Pantas saja tanganmu seperti itu." Ucap Yve dengan percaya.


"Yve pakai ini." Devian menyerahkan setelan jas serba hitam pada Yve.


Ya ampun, aku jadi malas kalau selalu memakai jas. Tapi demi kak Kurt, akan kulakukan. Lagipula jika disuruh memilih antara gaun hitam atau setelan jas, aku akan memilih setelan jas.


"Pakai itu nanti ya." Setelah menyerahkan jasnya, Devian duduk di samping Beng dan mulai memainkan tabletnya.


"Ngomong-ngomong, acara berkabung ini seperti apa?" Tanya Yve sambil menatap teman-temannya.


"Hanya memberikan bunga didepan foto teman-teman kita yang gugur." Jawab North singkat.


"Apakah setiap ada yang meninggal pasti akan diadakan acara seperti ini?" Yve kembali bertanya sambil membolak-balikan jas ditangannya.


"Bodyguard yang berkhianat ya?" Karena sebelumnya Bai Lian pernah mengatakan tentang hukuman bodyguard yang berkhianat, Yve jadi tahu banyak.


"Yup benar sekali."


Ternyata susah juga menjadi bodyguard boss mafia. Apalagi jika dituduh berkhianat padahal tidak, pasti hukumannya akan sama.


"Biasanya tuan Bai Lian akan melakukan penghormatan juga pada para bodyguard yang sudah meninggal. Tapi mungkin kali ini dia tidak bisa ikut. Kondisinya sangat parah." Ucap South sambil membuka cemilan kentang dengan rasa unik lainnya.


"Benarkah?" Yve pura-pura bingung.


"Katanya tadi malam dia kejang dan susah bicara. Aku mendengarnya tadi, saat tuan Tharn bicara pada tuan besar Bai Jun."


Ya ampun. Bertambah lagi jadi kejang dan susah bicara? Sepertinya aku harus memberitahu Bai Lian untuk berhenti menambahkan penyakit kronis lainnya. Yve menghela nafas dengan berat.


"Lalu bagaimana denganmu kak Beng? Apa kau tidak dimarahi kakek karena membuat tuanmu terluka? Kau kan kepala bodyguard yang seharusnya mengawasi tuannya dengan extra." Tanya Yve untuk mengalihkan topik masalah penyakit Bai Lian.


"Anehnya tuan besar tidak marah. Aku juga tidak tahu kenapa. Padahal sebelumnya, tuan Bai Lian pernah tergores pecahan kaca mobil, dan tuan besar memukul ku dengan tongkat kayu yang panjang. Lalu mengatakan kalau aku adalah manusia tidak berguna." Beng terlihat ketakutan saat mengingat memori kelam itu.

__ADS_1


Kakek tidak marah?


"Bai Lian benar-benar sangat disayang." Yve mengambil cemilan kripik kentang milik South tanpa permisi.


"Itu karena tuan Bai Lian adalah pewaris keluarga Bai. Tentu saja calon kepala keluarga tidak boleh terluka sembarangan." Devian berbicara dengan tatapan mata yang masih terfokus pada tablet ditangannya.


Dalam artian lain, dia memang dimanja.



Acara penghormatan terakhir tiba. Yve yang tidak pernah mengikuti acara seperti ini hanya bisa mengikuti teman-temannya.


Di sebuah ruangan yang cukup besar, 5 buah foto raksasa dipajang dengan sangat indah. Rangkaian bunga tampak menghiasi masing-masing foto. Diantara kelima foto itu, terdapat gambar Kurt.


Yve memperhatikan para bodyguard lain yang saling maju satu persatu kearah foto secara berurutan. Mereka meletakkan bunga berwana putih di masing-masing foto sambil mengucapkan sesuatu yang tidak bisa Yve dengar.


Hingga giliran Yve yang duduk di paling ujung tiba. Gadis itu berjalan kedepan dengan lima tangkai bunga di genggaman tangannya.


Lin yang duduk di barisan paling depan terus menatap Yve. Di sampingnya, ada Levin yang melakukan hal serupa.


Saat Yve menaruh bunga di depan foto Kurt. Ia kemudian menatap wajah Kurt yang sedang tersenyum disana. Tenanglah kak Kurt, aku disini untuk membalaskan dendammu.


Brak!


Seseorang memasuki ruangan dengan terburu-buru.


Paman beruang? Yve terkejut melihat seorang laki-laki yang masuk dengan tergesa-gesa


"Kurt sahabatku! Aku sudah memenuhi janjiku padamu, untuk memberikan satu truk bunga Magnolia di hari kematianmu!" Teriak Bernard dengan gembira


Hah?


Tiba-tiba bodyguard lainnya datang dengan wajah cemas. "Gawat! Halaman rumah kita berubah menjadi taman bunga!"


"ASTAGA BERNARD!" Beng yang sebelumnya mengira itu adalah berita gawat, langsung menepuk dahinya dengan keras. "Kalian semua! Sapu halaman sekarang!" Perintahnya dengan emosi.


Serius, tugas bodyguard yang sebenarnya itu apa sih? Yve pergi dengan malas.

__ADS_1


__ADS_2