Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Prahara Laptop


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam. Yve baru saja sampai di cafe. Ia masuk sambil memutar-mutar kunci motor di jari rampingnya.


"Yve." Orion buru-buru berdiri dari tempatnya duduk, lalu mendekati Yve. "Lihat, aku membawa roti isi abon lagi untukmu."


Yve menghela nafas dengan malas. Sebenarnya, jauh dilubuk hatinya, ia merasa kasihan dengan Orion. Semua ini juga bukan sepenuhnya salah dia. Bagaimanapun juga, Yve dan Bai Lian jadi terbantu karena sifat bodohnya.


"Terimakasih." Yve menerima roti yang disodorkan Orion.


Dia menerimanya! Apakah itu berarti dia sudah memaafkanku? Orion terlihat sangat senang.


"Yve! Akhirnya kau pulang juga. Nih! Kue gulung!" Leo dari jauh melemparkan kue gulung kemasan pada Yve, dan sukses ditangkap dengan selamat.


"Terimakasih."


Eh? Langsung diterima? Ekspresi Orion berubah sedih.


"Aku membeli terlalu banyak. Jadi kubagi pada yang lain." Teriak Leo sambil meletakkan sapu yang ia bawa.


"Haha bagus. Lain kali lakukanlah lagi." Yve berjalan mendekati Leo lalu memukul bahunya.


Orion hanya bisa melihat dari jauh. Sekarang, aku bukanlah teman baik Yve lagi.



Keesokan harinya.


"Hmmm..." Yve sekarang sedang berada di toko yang khusus menjual laptop. Ia bingung ingin membeli yang mana, karena semua terlihat sama saja.


Semuanya mirip dengan milik kak Devian. Yve menggaruk kepalanya dengan bingung.


Rencananya, sebelum berangkat ke rumah Bai Lian, Yve ingin membeli laptop terlebih dahulu. Kemudian ia bisa meminta Devian untuk mengajari. Tapi ingin beli yang mana, Yve tidak tahu.


Seharusnya aku bertanya dengan kak Devian dulu.


"Permisi." Seorang pelayan laki-laki berbaju rapi mendekati Yve. "Ada yang bisa saya..." Tiba-tiba perkataannya terhenti saat melihat penampilan Yve.


Dia perempuan atau laki-laki ya? Tapi yang pasti masih muda. Kenapa anak-anak main di tempat seperti ini?


"Paman. Bisa berikan aku laptop terbaik di tempat ini?" Yve berkacak pinggang sambil menatap pelayan tadi.


Paman? Aku bahkan belum menikah! Apa wajahku setua itu? Dasar anak tidak sopan!


"Laptop terbaik?" Pelayan tadi tiba-tiba menatap Yve remeh. "Heh... Palingan kau ingin beli dengan uang jajanmu, atau hasil merengek dengan orang tuamu. Laptop terbaik disini, angka nol nya banyak sekali loh. Bocah sepertimu lebih cocok di laptop sekolah yang ada di rak paling ujung. Mungkin spesifikasi yang rendah, cocok dengan uang yang kau bawa."


"Hahaha paman bisa saja. Kalau bicara suka benar ya." Yve tertawa sebentar, kemudian tatapannya berubah dingin. "Dan... Terimakasih untuk perkataannya."


Bugh!


Tanpa ancang-ancang Yve memukul pelayan tadi hingga terjatuh.


"Ka-kau! Betapa beraninya. Satpam! Panggil sat-"

__ADS_1


"Kau ingin uang kan? Ini! Makan uangnya!" Yve menyumpalkan setumpuk uang kedalam mulut si pelayan, hingga membuatnya tidak bisa bicara lagi.


"Sekarang pergi bawakan aku laptop terbaik. Dasar babi sialan!"


Yve kembali menendang palayan malang itu. Dan si pelayan seketika menurut saat melihat Yve membawa lebih dari setumpuk uang.


Tidak butuh waktu lama. Pelayan tadi kembali sambil berjalan terhuyung-huyung membawa sebuah laptop.


"I-ini tuan, eh nona."


Yve melihat laptop itu dengan seksama. Terlihat sama saja, apa ini benar-benar yang terbaik?


Brak!


Dengan cepat Yve menepis laptop dari tangan pelayan hingga membuat laptop baru itu jatuh dan rusak.


"Aku tidak suka warnanya! Ambil yang lain."


"Ba-baik tuan, eh nona."


Tiba-tiba Yve merasakan keseruan saat melakukannya. Kemudian saat laptop itu datang lagi, Yve terus melakukan hal yang sama seperti tadi.


Hingga 3 laptop sudah ia rusak, pelayan kembali datang. "Tuan, eh nona, ini yang warnanya hitam."


"Ck! Lama!" Yve merebut laptop itu dengan kasar.


"Total 4 laptop jadi-" Si pelayan mata duitan itu mulai menghitung.


"Yang rusak-"


"Itu kesalahanmu. Tidak memberikan yang pelanggan mau. Kau tidak becus bekerja! Aku bisa menuntutmu."


"Eh? Bagaimana?"


"Aku hanya beli 1. Dan ini uangnya!" Yve melemparkan setumpuk uang pada pelayan tadi, dan bersiap untuk pergi.


"Tapi-"


Yve menoleh dan kembali memperlihatkan tatapan dingin pada si pelayan. "Kau ingin protes denganku?"


"Ti-tidak tuan, maksudnya nona."


"Saranku, jangan lihat seseorang dari luarnya saja." Yve kembali berjalan keluar toko.



"Lihat ini!" Yve memperlihatkan laptop barunya pada penghuni setia gazebo.


"Woah... Ini sangat bagus Yve." South yang ikut melihat merasa terkesima.


"Ini mahal tahu." Yve tiba-tiba merasa bangga.

__ADS_1


"Mahal? Berapa?"


Yve terdiam mendengar pertanyaan Devian. Ia menggaruk pelipisnya dengan bingung. Tadi yang ia lakukan hanya melemparkan uang. Tidak tahu nominal pastinya.


"Berapapun itu, kau tetap harus mengajarinya, Devian." Beng yang berada di lokasi, ikut berkomentar.


"Bukan itu maksudku. Kata Yve dia baru saja membelinya saat berangkat kemari. Tapi kardus bahkan plastik pun tidak dibawanya."


"Aku lupa minta. Tapi bukankah itu tidak penting untuk latihanku?" Perkataan Yve yang benar itu membuat Devian terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafas dengan berat.


"Baiklah. Kita mulai saja latihannya." Devian berpindah tempat duduk ke sisi Yve.


"Untuk laptop baru, pertama-"


"Bolehkah aku juga ikut melihat latihannya?"


Suara familiar yang tiba-tiba muncul itu membuat semua orang menoleh bersamaan. "Tuan Bai Lian?!"


"Halo." Bai Lian tersenyum dan duduk disamping Beng.


"Tuan? Anda sudah sehat?" Tanya South tak percaya.


"Begitulah. Ayah membawa tabib yang menggunakan teknik penyembuhan china kuno tadi malam. Dan aku langsung sembuh total."


Yve langsung menepuk dahinya. Mana mungkin bisa?! Patah tulangnya bagaimana?!


"Syukurlah anda sudah sehat." Beng terlihat sangat senang sekarang.


"Ternyata pengobatannya sangat ampuh. Saya bisa merekomendasikan teman saya yang patah tulang untuk mencobanya." Devian tersenyum sambil memainkan kacamatanya.


Yve seketika menoleh kearah Devian. Jangan dicoba! Tidak mungkin bisa tahu!


"Romendasikan saja. Besoknya pasti sembuh." Bai Lian mengganguk dengan mantap kearah Devian.


Sebenarnya siapa yang kau bohongi?! Yve mengusap dahinya dengan frustasi. Seharusnya ia tidak perlu memikirkan ini.


Bai Lian tiba-tiba melihat kearah Yve. "Hei bocah, belajarlah dengan giat."


"Aku tahu. Berhenti memanggilku bocah, atau kujahit mulutmu." Perkataan Yve langsung membuat semua orang terkejut.


"Adikku, bicaralah yang sopan dengan tuan Bai Lian." Beng buru-buru menasehati.


"Mulut Yve kecil benar-benar pedas." Devian mulai mengikuti.


"Yve tidak kenal takut ya." South ikut bicara dan North dibelakangnya mengangguk.


"Kenapa kalian yang protes?!"


"Hahaha dasar bocah iblis." Bai Lian tertawa melihat tingkah Yve.


Tu-tuan tertawa?! Beng terkejut setengah mati melihat bossnya itu tertawa. Selama Beng mengabdi disisi Bai Lian, tidak pernah melihat bossnya yang bagai gunung es kutub utara itu tertawa. Biasanya hanya ada senyuman yang keluar disudut bibirnya. Tapi sekarang... Dia tertawa.

__ADS_1


Tidak hanya Beng. Devian, South, dan North ikut terkejut mendengar suara tawa dari Bai Lian. Ini akan masuk dalam salah satu keajaiban dunia.


__ADS_2