Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Rencana Sukses


__ADS_3

Di tengah perjalanannya menuju mobil, Yve berbisik pada South yang berjalan di sampingnya.  "Memangnya tidak apa-apa pergi seperti ini?"


South menatap punggung Bai Lian yang berjalan beberapa langkah lebih cepat darinya. "Kalau suasana hati tuan sedang buruk, pergi dengan cara apapun pasti tidak ada yang protes, termasuk tuan Ferran. Dia sudah tahu sifat pemarah tuan Bai Lian."


Yve nampak bingung. "Memang si Bai Lian itu kenapa tiba-tiba marah? bukankah tadi mereka mengobrol dengan sangat akrab?"


South merasa heran dengan pertanyaan Yve. Padahal sudah sangat jelas, tapi gadis itu tidak paham.


Harus kah aku bilang karena tuan Bai Lian tidak suka kau digoda laki-laki lain?


South menggaruk pelipisnya dengan bingung. Mungkin tidak seharusnya ia yang mengatakan ini.


"Itu mungkin... karena tuan Bai Lian ingin cepat-cepat pulang ke rumah." hanya alasan ini yang mampu dipikirkan oleh South.


Yve mengangguk paham. Dan South merasa lega karena tidak harus mencari alasan bohongan lagi.


Akhirnya mereka sampai di mobil. Disana sudah ada Levin yang berdiri sendirian di mobil milik kelompok bodyguard inti. Dia seolah-olah ingin menjadi sosok bodyguard yang baik dan perhatian.


"Kalian sudah kembali." Levin tersenyum dengan ramah sambil membukakan pintu untuk Bai Lian.


"Levin, kenapa disini? seharusnya kau berada di mobil ketiga kan." nada tidak suka dari Beng membuat senyuman Levin luntur. Ia merasa sedih seperti kelinci malang.


"Aku kan juga bodyguard inti. Tapi kenapa tidak boleh ikut kalian masuk rumah? setidaknya aku ingin terlihat berguna." ucap Levin dengan ekspresi dramatis.


"Kau-"


Beng terdiam saat Bai Lian memberikan aba-aba dengan tangannya. Ia kemudian bicara, "terimakasih Levin, kau bisa kembali."


Levin tersenyum lagi, kemudian mengangguk dengan gembira. "Silahkan tuan." Lanjutnya sambil membungkuk menyuruh Bai Lian masuk mobil.


South menjadi orang pertama yang masuk, karena posisi Bai Lian duduk diantaranya dan Yve. Barulah bossnya itu masuk dan duduk. Saat Yve masuk, Levin yang masih berada disana berbisik di telinga Yve dengan cepat.


"Setelah ini." kata Levin sepelan mungkin.


Yve mendengarnya, tapi ia tidak menanggapi, dan langsung memasuki mobil. Jika ia menanggapinya, malah membuat orang curiga.


Selesai melakukan kegiatan cari mukanya, Levin pergi menuju mobil ketiga.


Melihat Levin pergi, Yve buru-buru mengambil cemilan kripik kentang yang sebelumnya ia selipkan di jok mobil. Permainan akan dimulai, tentu saja kripik kentang ini tidak boleh ketinggalan.



10 menit sudah berlalu, kondisi masih aman terkendali untuk sekarang.


Yve melirik Bai Lian yang sedang menatap jalanan di depan melalui tempatnya duduk.


Sungguh laki-laki yang tampan. Jika dilihat dari samping, hidung mancungnya terlihat begitu indah. Pandangan matanya yang selalu tajam membuat merinding orang yang menatapnya. Kulit putih bersih yang tidak terlalu mencolok itu menambah daftar ketampanan Bai Lian. Sungguh sangat disayangkan karena sifatnya begitu jelek. Memang benar kalau manusia itu selalu memiliki sisi negatif diantara banyaknya sisi positif.


"Apa lihat-lihat?" Bai Lian tiba-tiba menoleh kearah Yve. Gadis itu seketika gelagapan karena tertangkap basah.


"Siapa yang melihatmu? aku hanya melihat sekeliling." Elak Yve.


Ckittt!!!


Tiba-tiba mobil mengerem dengan mendadak. Yve sepontan melirik Beng yang duduk didepan.


Di jalanan sepi ini, sudah pasti berhenti karena ada musuh.

__ADS_1


"Sampah mulai bermunculan." ucap Beng dengan senyum bahagianya.


"Oke perhatian, ada sekitar 50 orang mengerumuni kedua mobil kita." suara Devian segera terdengar diujung earphone. "Habisi saja mereka, dan jangan takut. Ada North yang akan membantu dari jauh."


Sudah waktunya. Diam-diam Yve mengoleskan bubuk taro di buku jarinya. Permainan dimulai.


Perbandingan jumlah yang cukup jauh kembali terjadi. 50 orang melawan 10 bodyguard, jika ditambah North.


Tidak seperti sebelumnya, orang yang menghadang kali ini bukanlah preman. Melainkan orang-orang yang berpakaian serba hitam dengan memakai masker gas diwajah mereka.


Kenapa memakai masker gas? Yve mengintip dari jendela.


Para bodyguard di mobil ketiga keluar sepenuhnya, lalu mengerumuni mobil tuannya untuk membentuk pertahanan. Yve dapat melihat Levin yang berekspresi datar diantara mereka.


"Aku akan ikut bergabung." Beng keluar mobil dengan santainya. Ia tidak tahan kalau harus melihat orang-orang bertarung tanpa ikut serta di dalamnya.


"Aku juga." Yve ingin pergi, tapi dengan cepat tangannya ditahan oleh Bai Lian.


"Kau disini saja." Bai Lian menatap Yve dengan serius.


Kenapa dengan orang ini?


"Tuan benar, lebih baik kau disini. Bukankah lukamu belum sepenuhnya sembuh? kau cukup membantuku saja menembak dari sini." ucap South sambil memasukkan peluru pada pistol yang ia bawa.


"South, kau tahu sendiri aku tidak terlalu ahli dengan itu." Yve tersenyum sebentar, kemudian membuka pintu mobil. "Aku duluan." Yve segera keluar sebelum Bai Lian dapat mencegahnya lagi.


"Bocah itu." gumam Bai Lian.


"Tuan jangan keluar, aku akan mengunci semua pintu." Bernard segera menekan salah satu tombol di dekat kemudi. Ia juga harus melindungi tuannya.


"Tolong buka kaca disampingku." South mengetuk kaca di sebelah kirinya.


Sementara itu Yve,...


Bugh!


Yve memukul lawan dengan tangan kirinya.


Sial! susah juga memukul dengan tangan kiri. Tapi aku tidak boleh mengacaukan rencanaku. Yve menyembunyikan tangan kanannya agar tidak terkena sesuatu, supaya bubuk taro yang ia oleskan tidak hilang.


Tiba-tiba sebuah mobil asing muncul. Menurunkan lebih banyak orang dengan pakaian senada.


Apa ini? musuh tambahan? Yve melirik sekelilingnya. Beng masih dengan santai memukuli orang, mungkin dia belum memakai seperempat energinya. Begitupun dengan yang lain, mereka terlihat masih bersemangat dan tidak khawatir melihat musuh yang bertambah.


"Beng arah jam 3, orang itu hendak memukulmu dengan balok besi, lalu disampingnya arah jam 2 ada yang ingin menyergapmu. Sisanya tidak berbahaya." Suara Devian terdengar.


"Serahkan padaku."


"South, Herald di jam 1 butuh bantuan, tembak lawannya. Lalu arah jam 10 ada yang mencoba melempar sesuatu ke dalam mobil, dia sedang melakukan ancang-ancang, tembak." Devian berkata dengan cepat hanya dalam satu tarikan nafas.


"Laksanakan."


Dor! Dor!


Suara tembakan dari pistol South, menambah seru pertarungan kali ini.


Pantas saja semua terlihat menikmati suasana. Itu karena ada Devian yang memonitori, dan menjaga mereka.

__ADS_1


"Bodyguard 100 mata itu merepotkan ya."


Yve menatap Levin yang baru saja berbisik saat berjalan melewatinya.


Levin diam-diam mengambil sesuatu dari dalam jasnya. Lalu saat sosoknya tertutup orang-orang yang banyak, ia melemparkan sesuatu yang diambil dari jas tadi.


Wush!


Eh? bom asap. Yve terkejut melihat asap putih yang mulai menyebar.


"Dari mana datangnya asap itu? sial! apa ada yang melempar bom asap?! aku tidak bisa melihat apapun." Suara Devian terdengar frustasi.


"Gawat, aku juga tidak bisa melihat." suara North yang sekarang sedang membidik dari jarak jauh ikut panik.


"Tetap lindungi tuan Bai Lian. Semuanya, merapat ke mobil!" Teriakan Beng yang keras itu bisa Yve dengar tanpa melalui alat komunikasi.


Sekarang waktunya. Yve berlari mendahului yang lain untuk sampai di mobil. Mereka tidak bisa melihat satu sama lain, karena entah kenapa asap semakin tebal.


Tuk! tuk!


Yve mengetuk kaca mobil di bagian tempat duduk Bernard.


"Ini Yve, buka pintunya."


"Baiklah."


Yve segera memasuki kursi belakang. Disana ia mendapati Bai Lian sedang duduk manis dengan ekspresi datarnya.


"Oh, kau kem-"


Duak!


Bugh!


"Bocah-"


Yve langsung membungkam mulut Bai Lian. "Ssttt! pura-pura sakit." lanjutnya.


Hei! ini memang sakit! alis Bai Lian berkerut.


Yve membuka mulut Bai Lian, ia tersenyum sebentar, lalu menarik nafas dalam-dalam. "GAWAT! TUAN BAI LIAN BABAK BELUR!" teriaknya sekuat tenaga.


"Apa?!" Beng langsung berlari ke sumber suara.


Yve melakukan kontak mata dengan Bai Lian. Seolah-olah menyuruhnya untuk segera melakukan apa yang disuruh tadi.


Bai Lian bingung sebentar. Untuk apa Yve melakukan ini? apakah ada hubungannya dengan Lin?


"Cepat." Bisik Yve.


"Tuan!" Beng langsung datang.


"Uhuk! uhuk! aduh leherku patah, rahangku geser, dan tengkorakku retak." akting Bai Lian sambil meringis kesakitan.


Yve, "..."


Ya ampun, dia terlalu mendramatisir.

__ADS_1


Tapi tidak apa-apa, yang terpenting... rencanaku sukses.


Bagaimana Lin? aku sudah melakukan tugasku untuk melukai Bai Lian. Berarti kau akan percaya padaku kedepannya bukan?


__ADS_2