Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Orang Misterius, Levin


__ADS_3

"Mata-mata? dia memiliki mata-mata di sekitar kita?"


"Sudah, jangan bahas ini lagi." Beng menepuk ujung kepala Yve dengan lembut. "Kau sedang sakit, dan sebaiknya segera pulang untuk istirahat. South dan North akan mengantarmu pulang."


"Kenapa kita?" protes South.


"Lalu siapa lagi yang tidak banyak melakukan kontribusi kali ini?" Beng menunjukkan senyuman iblisnya. "South, kau hanya duduk dan menikmati suasana didalam mobil. Lalu North, kau hanya membidik jarak jauh tanpa perlu mengkhawatirkan keselamatanmu sendiri. Jadi kalian yang harus pergi."


"Tidak perlu repot-repot." Yve tiba-tiba berdiri. "Aku bisa pulang sendiri."


Semua orang yang mendengar perkataan Yve dibuat melongo. Melihat angka dua saja salah, dan sekarang berkata ingin pulang ke rumah sendiri? yang ada dia kembali dalam bentuk nama.


"Jangan, lebih baik pulang bersama mereka." Devian menunjuk South dan North.


Yve tidak ingin diantar oleh siapapun karena ia akan susah menjelaskannya pada Tina. Saat Devian mengantarkannya pulang terakhir kali, Yve segera menuju kamar hingga Tina tidak memiliki waktu untuk bertanya. Lalu keesokan harinya kakaknya sudah lupa.


Tapi jika South dan North yang mengantarkannya sekarang, itu jelas akan membuat masalah. Tina akan bertanya siapa mereka, lalu yang lebih parah, Tina pasti menyalahkan South dan North kalau melihat Yve babak belur seperti ini. Jadi daripada mempersulit hidup, lebih baik ia pulang sendiri.


"Aku ingin pulang sendiri." tegas Yve.


"Baiklah, tapi istirahat dulu." ucap North sambil menempelkan plester ke pipi Yve.


Hari sudah sangat siang, mereka istirahat bersma di gazebo. Tak lama, Bernard datang sambil membawa banyak cupcake stroberi untuk dimakan bersama-sama. Kemudian bodyguard lain yang mengenal Yve melalui lomba makan sebelumnya, juga ikut istirahat sambil mengobrol.


"Kudengar ada bodyguard lain selain Yve yang terkenal pagi ini." ucap Kurt, salah satu bodyguard yang menjaga pintu depan.


"Hah? siapa?" tanya Yve setelah menelan kunyahan cupcake nya.


"Namanya Levin." Beng mencoba mengingat kembali sosok yang ia maksud. "Saat kita heboh dengan bom tadi, kita melupakan mobil berisi bodyguard yang seharusnya berada didepan dan dibelakang kita."


Yve tersadar. Perkataan Beng benar. Mereka berangkat dengan 3 mobil berisi bodyguard. Sejak kapan mereka melupakan mobil sisanya?


"Sial! aku juga lupa." South menepuk kakinya karena gemas dengan ingatannya sendiri.


"Saat itu aku juga tidak mendengar kabar apapun. Kurasa alat komunikasi mereka sempat rusak." Devian berbicara sambil menatap teman-temannya.


"Lalu apa yang terjadi sebenarnya?" Kurt bertanya dengan penasaran. Dia terdengar seperti orang yang haus akan informasi dan gosip.


"Kedua mobil itu dihadang oleh preman. Dan yang menyelamatkan mereka adalah orang bernama Levin itu." Beng memegang dagunya seolah sedang memikirkan sesuatu. "Tapi aku merasa curiga." lanjutnya dengan nada tidak yakin.

__ADS_1


"Curiga soal apa?" Yve kembali bertanya.


"Kabar dari bodyguard yang melihatnya adalah, Levin menyelamatkan mobil pertama, lalu ia pergi ke mobil yang seharusnya dibelakang kita untuk kembali menyelamatkan mereka." ekspresi Beng mulai serius. "Tapi anehnya dia tidak terluka sedikitpun. Terlihat sangat bugar seperti bukan orang yang baru saja berkelahi."


"Walaupun dia sangat hebat, pasti setidaknya ada beberapa bekas luka." Bernard menganggukkan kepala.


Yve paham maksud Beng. Sepertinya Beng ingin bilang kalau mungkin saja orang bernama Levin itu adalah pengkhianat atau mata-mata milik tuan muda kedua Lin, yang sengaja ditempatkan diantara para bodyguard Bai Lian. Tapi entah kenapa Beng tidak mengatakan maksudnya itu secara langsung. Mungkin dia masih tidak yakin.


"Aku ingin pulang saja." Yve berdiri dari kursinya dan mulai mengambil baju gantinya.


"Kau yakin bisa pulang sendiri?" South menatap Yve. Sebenarnya ia tidak masalah kalau harus mengantar Yve. Tadi ia cuma asal protes.


"Ya aku bisa sendiri."


"Hati-hati di jalan." Beng melambaikan tangannya.


Yve akhirnya pergi meninggalkan gazebo.


Sebelum melewati gerbang rumah Bai Lian, Yve menyempatkan diri menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. Ia merasa lebih nyaman seperti ini.


"Perempuan mana boleh merokok."


"Siapa?" tanya Yve saat orang misterius itu sudah berada didekatnya.


"Perkenalkan, namaku Levin." orang itu menyodorkan tangannya untuk saling berjabat tangan.


Tapi Yve tidak membalasnya.


"Oh" Yve menghembuskan asap rokoknya dengan santai. "Lalu apa urusanmu berkata aku tidak boleh merokok?"


"Bukannya perempuan seharusnya tidak merokok?" Levin tersenyum dan membuat kedua matanya menyipit.


"Aku benci orang yang suka mengaturku."


Ya, Yve memang benci orang yang mengaturnya. Maka dari itu Soni tidak berani mengatur Yve selama menjadi partner balapan liar. Orang yang boleh mengatur Yve hanyalah Tina. Tidak ada yang lain.


"Aku hanya peduli pada-"


Yve langsung pergi tanpa menunggu orang bernama Levin itu menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Tunggu Yvenia Guilietta. Aku ingin bicara." Levin mengejar Yve.


"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu." Yve mempercepat langkah kakinya hingga Levin tertinggal dan memutuskan untuk berhenti mengikuti Yve.


Aku mendapat misi baru untuk membawa orang itu pada tuan Lin. Akan kubuat dia berada di pihak kami. Orang hebat seperti dia memang hanya pantas untuk tuan Lin.


Levin akhirnya pergi.



"Aku pulang." Yve masuk ke dalam cafe.


Disaat seperti ini cafe memang biasanya akan sepi, karena pada jam ini istirahat siang bagi pegawai kantoran sudah selesai.


Tina yang melihat Yve pulang dengan keadaan babak belur, langsung dibuat heboh sambil mendekati Yve.


"Astaga Yve! apa yang terjadi padamu?!" Tina melihat setiap inci wajah Yve.


Orion yang ternyata juga berada disana, ikut mendekati Yve.


"Apa kau berkelahi?" wajah khawatir Orion sama persis dengan Tina.


"Aku hanya tidak sengaja menabrak tiang."


"Dasar bodoh! tiang mana yang bisa membuatmu lebam dari wajah sampai kaki? lihat! bahkan mulutmu bengkak dan mengeluarkan darah. Apa kau saling adu pukul dengan tiang hah?!" kekhawatiran Tina meledak-ledak.


"Baiklah, aku menyerah. Tadi aku berkelahi." jawab Yve enteng.


"Setiap hari hanya berkelahi. Kau selalu membuatku khawatir. Meskipun aku mengomel kau juga tidak pernah berhenti berkelahi. Minimal jangan biarkan mereka memukulmu."


Yve tersenyum mendengar perkataan Tina. Hampir saja tadi ia terancam tidak bisa pulang. Entah bagaimana ekspresi Tina kalau seandainya itu benar-benar terjadi.


"Apa masih sakit?" kini giliran Orion yang bertanya. Ia sebenarnya ingin berkata banyak hal seperti Tina. Tapi jika ia melakukannya, Yve akan mengatakan kalau ini bukan urusannya lagi.


"Aku baik-baik saja."


"Naiklah ke kamarmu dan istirahat. Aku akan membuatkan nasi goreng kesukaanmu. Seperti yang kemarin." Tina tersenyum dengan gembira.


Oke nasi goreng asin lagi.

__ADS_1


__ADS_2