
Keesokan harinya.
Tina belum datang ke cafe. Yve menggunakan kesempatan ini untuk mengecek uang 100 juta miliknya. Itu adalah uang pemberian Bai Lian saat pertama kali mereka bertemu.
Masih aman. Yve kembali menaruh uang itu di dalam ransel dan memasukkannya ke bawah ranjangnya.
"Tapi tidak cukup untuk membeli motor baru." Yve mengusap pelipisnya dengan bingung. "Aku lupa bertanya tentang bayaranku menjadi bodyguard."
Dengan malas Yve keluar kamarnya, ia turun ke lantai bawah dan menuju dapur. Tenggorokannya menuntut diberikan minum.
Rasa kesal yang ia rasakan tadi malam ternyata masih berbekas. Rasanya ia ingin memukuli Levin sekarang. Padahal Yve belum sepenuhnya mengenal Levin, tapi laki-laki itu sudah menunjukkan sikap menyebalkan yang membuat Yve muak.
Klontang!
Langkah kaki Yve terhenti ditengah tangga. Ia mendengar suara dari arah dapur. Jelas tidak mungkin itu Tina, di jam ini Tina pasti sedang berada dirumahnya yang berjarak dua blok dari sini.
Yve mencengkram tangannya, untuk memperkuat otot-otot bangun tidurnya dan bersiap untuk memukul orang. Seandainya sesuatu di dapur itu benar-benar orang.
Perlahan dari tangga, Yve melihat seseorang sedang berada di dapurnya. Orang yang sudah dipastikan laki-laki itu tengah memunggunginya dan sibuk di wastafel. Pakaiannya terlihat rapi untuk orang yang biasanya di cap sebagai maling.
Siapa? apakah orang suruhannya Levin? dia ingin mencoba menyerangku di diam-diam?
"Anda sudah bangun?"
Laki-laki misterius itu seketika menoleh kearah Yve sambil tersenyum.
"Siapa kau?" Yve yang sudah memegang pisau dapur ditangannya, langsung menodongkan itu kearah laki-laki tadi.
"Benar-benar cepat. Saya tidak sadar anda sudah mengambil pisau."
Cara bicaranya sangat formal.
Laki-laki tadi sekarang membungkukkan badan dengan hormat. "Nama saya Leo. Bodyguard tuan Bai Lian."
"Rupanya bodyguard si orang menyebalkan itu." Yve menaruh kembali pisau dapurnya.
"Tuan Bai Lian meminta menempatkan seorang bodyguard untuk menjaga orang bernama Tina dan cafe. Lalu kak Beng menunjuk saya untuk melakukan tugas ini." masih dalam posisi membungkuk, orang bernama Leo itu bercerita sedikit.
"Itu kesepakatan lama. Kenapa baru sekarang memberikan bodyguard?" Yve melipat tangannya dengan ekspresi kesal.
"Saya tidak tahu nona."
Tadi malam kak Beng tiba-tiba menyuruhku untuk cepat-cepat kemari. Aku juga hanya diberitahu sedikit. Lalu bagaimana aku harus menjawab pertanyaannya?
__ADS_1
Leo menatap Yve dengan takut. Entah apa yang terjadi kalau gadis itu tidak mempercayainya dan malah menghajarnya. Karena menurut kabar yang ia dengar, Yve ini sangat menakutkan.
"Baiklah aku percaya." Yve berjalan mendekati rak dan mengambil sebuah gelas.
"Eh? nona percaya?"
"Lalu kau ingin aku untuk tidak percaya?" Yve mulai mengambil air minum dan meneguknya perlahan. "Yang aneh adalah, bagaimana caranya kau masuk kemari? dan apa yang sedang kau lakukan?"
"Saya masuk melalui pintu belakang yang tidak dikunci." kata Leo sambil menunjuk pintu belakang.
Yve mengutuk dirinya sendiri yang lupa mengunci pintu belakang tadi malam. Untung saja yang masuk bukan maling atau orang jahat lainnya. Lain kali ia tidak boleh teledor begini.
"Lalu setelah masuk, saya melihat banyak piring kotor yang belum dicuci. Karena saya suka bersih-bersih, jadi saya berinisiatif untuk mencucinya."
Yve kembali melihat ke arah wastafel. Dan benar, tadi dia sedang mencuci piring. Terlihat jelas dari tumpukan piring yang masih berbusa dan belum sempat dibilas.
"Tadi sembari mencuci piring dan gelas, saya juga sudah menyapu dan mengepel lantai."
Karena terlalu fokus dengan Leo tadi, Yve jadi tidak sadar kalau dapur ini sudah berubah menjadi sangat bersih.
"Baiklah, itu bagus."
"Terimakasih pujiannya nona."
"Baik Yve."
Leo kembali ke wastafel, dan mulai melanjutkan kegiatan mencuci piring.
"Bagaimana caramu menjaga kakakku dan cafe ini?"
"Mungkin aku akan berdiri di depan cafe seharian." Leo tidak yakin dengan ucapannya. Dia sendiri juga bingung karena tiba-tiba diberikan tugas seperti ini.
"Pura-pura jadi pegawai disini saja. Kakakku akan memberikanmu gaji. Kemampuan bersih-bersihmu sangat bagus. Dia pasti kelelahan sampai tidak sempat mencuci piring, karena kudengar kak Ann libur beberapa hari. Lagipula menjaga dengan cara seperti itu lebih bagus kan?"
"Baiklah aku akan melakukannya." Leo mengangguk disela kegiatannya mencuci piring.
❀
Waktu terus berjalan. Langit sudah berganti warna, dan sinar matahari pagi terasa hangat seperti suasana di cafe.
Tina yang sudah berangkat terkejut melihat cafenya sangat bersih dari terakhir kali ia meninggalkannya. Orion yang berangkat pagi karena libur sekolah, juga terkejut sama seperti Tina.
Tapi yang lebih membuat mereka terkejut adalah, seorang laki-laki misterius yang sudah berada di dalam cafe bersama Yve.
__ADS_1
"Dia temanku. Ingin bekerja disini juga. Apakah boleh?" ucap Yve santai sambil melirik Tina.
"Tentu saja boleh." Tina mengangguk sambil menunjukkan senyum ramahnya.
"Yang membersihkan cafe ini-"
Orion belum selesai dengan kalimatnya tapi Yve segera menyela, "tentu saja dia yang bersihkan, tidak mungkin itu aku."
"Perkenalkan, namaku Leo. Mohon bimbingannya." Leo kembali membungkuk dengan hormat seperti yang ia lakukan pada Yve sebelumnya.
"Salam kenal juga. Namaku Tina."
"Aku Orion."
"Nah sudah selesai. Kalau begitu aku pergi dulu." Yve ingin berjalan menuju pintu tapi tangannya ditarik paksa oleh Tina.
"Tidak boleh berpergian dulu. Kau masih sakit." Tina menunjukkan ekspresi marahnya tapi malah terlihat imut dimata Yve.
"Kakaku sayang, aku harus kerja."
"Libur dulu kan bisa." Tina masih kukuh menghalangi.
Yve melirik Leo. Ia ingin Leo membantunya pergi dari situasi ini. Leo pasti tahu kalau bodyguard tidak boleh absen dari tugasnya.
Leo segara paham dengan lirikan Yve. "Yve sudah baik-baik saja, tadi dia membantuku membersihkan cafe. Dan pekerjaannya tidak terlalu berat belakangan ini, jadi bisa sambil istirahat. Kalau ijin disaat seperti ini, takutnya pegawai baru seperti Yve akan dipotong gaji yang sangat banyak."
Yve ingin bertepuk tangan untuk alasan luar biasa ciptaan Leo. Tidak disangka hanya lirikan mata bisa membuatnya memikirkan alasan sedetail itu.
"Apakah itu benar?" Tina menatap cemas Yve.
"Tentu saja benar. Kemarin hampir saja aku tidur seharian di tempat kerja."
Tidur seharian apanya. Aku bahkan hampir tidur selamanya karena gerombolan preman itu.
"Lalu kenapa kau bisa babak belur begitu?" Orion menaikkan alisnya tidak percaya.
"Aku bertemu preman di jalan pulang." Yve mengatakan alasan yang sudah ia pikirkan sebelumnya.
"Nanti pulangnya bagaimana kalau bertemu preman lagi?" Tina kembali khawatir.
"Aku akan lewat jalan lain, tenang saja kak."
"Ba-baiklah." Tina melepaskan tangan Yve.
__ADS_1
"Aku pergi dulu." Yve segera berlari pergi. Ia tidak ingin ada pertanyaan lain yang menghalanginya.