
"Anak tidak diinginkan? Apakah adikmu belum menikah?" Julian yang penasaran ikut bertanya.
"Di-dia baru saja menikah." Jawab Natan gelagapan.
"Begini ya, orang tua tidak pernah ingin membuang anaknya. Kecuali kalau hubungan gelap. Kadang, meskipun hasil hubungan gelap, anaknya tetap dirawat." Julian menatap Natan penuh curiga.
"Me-mereka menginginkan anak laki-laki."
"Nah ini lebih aneh lagi. Laki-laki ataupun perempuan, asal itu anaknya pasti orang tua tetap akan merawatnya. Contohnya aku, aku menginginkan anak perempuan tapi selalu dapat laki-laki haha. Meskipun begitu, aku tetap menyayangi mereka." Ucap Julian sambil membayangkan wajah Lian dan Lin anaknya.
"Sudahlah Julian. Kalau memang anak itu tidak diinginkan, aku yang akan merawatnya."
"Eh? Ja-jadi tuan Bai Jun setuju?" Tanya Natan penuh harap.
"Ya setuju." Bai Jun mengangguk.
"Jun! Jangan percaya-"
"Julian, aku membutuhkan pewaris. Istriku sepertinya tidak akan menyerahkan Axel padaku untuk dijadikan penerus boss mafia. Dan kalau kupikir-pikir, julukan Queen Mafia bagus juga."
"Ya ampun Jun. Bisakah kau sedikit serius?" Julian menepuk dahinya tak percaya. Sahabatnya ini memang kadang melakukan hal sesukanya sendiri.
"Jangan senang dulu, Natan." Bai Jun menaruh rokoknya di asbak lalu berjongkok untuk melihat wajah Natan dari dekat. "Bayi itu hanya berharga setengah dari hutangmu. Kau tetap harus membayar setengahnya lagi."
"Ha-hanya setengah?"
"Kau ingin protes hah?! Sudah lupa berapa hutangmu padaku? 5 milyar!!! Bahkan jika kau menjual organ dalammu tidak akan cukup untuk membayarnya! Nyawamu juga tidak sebanding dengan uang itu." Setelah berteriak, Bai Jun mendekat ke telinga Natan dan berbisik. "Tapi mungkin... Jika aku mengulitimu hidup-hidup, kesenangannya akan setara dengan 5 milyar." Bai Jun tersenyum di akhir kata-katanya.
"Sa-saya mengerti tuan." Natan mengangguk beberapa kali sambil tubuhnya gemetar ketakutan.
"Pergi! Besok bawakan aku bayinya. Dan jangan coba-coba berpikir untuk kabur lagi. Aku akan mengirim bodyguard untuk mengelilingi rumahmu." Ancam Bai Jun.
"Baik tuan." Natan berdiri dengan tergopoh-gopoh lalu pergi dari kasino.
Julian melirik Natan yang buru-buru pergi. Perasaannya mengatakan kalau kejadian ini tidak akan berakhir baik.
"Jun, kau yakin? Natan itu sudah banyak berhutang di beberapa kasino lain. Tapi dia licin seperti belut saat ingin ditagih, dan perkataannya tidak bisa dipercaya."
"Aku sudah tahu tentang dia. Hanya aku, Bai Jun lah yang bisa menangkapnya. Tidak akan ada yang bisa lolos dariku, kau tenang saja." Bai Jun berkata dengan enteng.
__ADS_1
"Kuharap seperti itu."
Setelahnya, Bai Jun dan Julian saling bercerita tentang keseharian mereka masing-masing, karena sudah lama juga mereka tidak bertemu. Lalu beberapa jam kemudian, istri Julian menelpon untuk menyuruhnya pulang. Bai Jun kembali sendiri sambil mengawasi kasino nya.
Hari pun berganti. Meskipun tidak terlalu berharap, tapi Bai Jun cukup penasaran dengan bayi perempuan yang dimaksud oleh Natan. Semalaman ia berandai-andai memiliki anak perempuan yang akan berjuluk Queen Mafia.
"Max, kenapa Natan belum sampai juga?" Tanya Bai Jun sambil menghabiskan sarapan paginya di ruang makan.
"30 menit yang lalu, saya sudah bertanya pada bodyguard yang mengawasi rumahnya, katanya Natan sedang bersiap untuk pergi. Mungkin ke rumah adiknya." Jawab Max.
"Begitu ya." Bai Jun menatap piringnya yang sudah kosong sambil tersenyum. "Namanya bagus sekali, Yvenia Guilietta."
"Tuan kenapa anda tersenyum sendiri?"
"Aku tidak senyum." Bai Jun menggeleng dengan cepat.
Jelas-jelas tadi senyum sendiri, Tuan pasti senang karena akhirnya memiliki seorang anak yang akan selalu berada di dekatnya. Max ikut senang sambil melihat tuannya.
"Aku tidak tahan lagi! Ayo kita ke tempat Natan." Bai Jun bangkit dan menyambar jas panjangnya.
Sudah kuduga, sebenarnya tuan sangat menginginkan anak itu. Max mengekori Bai Jun.
Para bodyguard langsung menyiapkan mobil untuk Bai Jun pergi, lalu mereka segera berangkat menuju rumah Natan.
"Jangan khawatir tuan, ada bodyguard yang mengikuti Natan pergi. Dia akan menunjukkan jalannya." Ucap Max setelah bicara dengan beberapa bodyguard lain yang menjaga rumah Natan.
"Ya." Meskipun terlihat sedikit kecewa, tapi Bai Jun tetap berusaha ingin mengejar Natan. Itu menunjukkan kalau ia sebenarnya sangat menginginkan anak itu.
Mobil kembali melaju sesuai arahan Max yang sedang berkomunikasi dengan bodyguard yang mengikuti Natan. Dan tak lama mobil berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Meskipun tidak sebesar rumah keluarga Bai, tapi masih tergolong mewah.
"Disini?" Tanya Bai Jun sambil melihat keluar mobil.
"Ya. Berdasarkan info bodyguard yang mengikuti Natan, ini adalah rumah adiknya."
"Jadi ini rumah orang tua Yve?"
"Tunggu disini sebentar tuan, saya akan menemui bodyguard kita di belakang rumah ini. Karena koneksi panggilannya tiba-tiba terputus." Max keluar dari mobil setelah Bai Jun mengangguk menjawab perkataannya.
Sekarang di dalam mobil hanya ada satu orang bodyguard, dan seorang supir.
__ADS_1
"Apa menurutmu aku harus masuk kesana?" Tanya Bai Jun pada bodyguard di sampingnya.
"Saran saya tidak perlu. Tunggu saja Natan keluar. Mungkin dia sedang berbicara dengan adiknya."
"Benar juga." Bai Jun mengangguk dan kembali melihat rumah di dekatnya.
Tiba-tiba dua orang laki-laki keluar dari rumah itu sambil adu mulut.
"Bagus ya, melupakan kakakmu dan membeli rumah sebesar ini. Sepertinya hidupmu sangat enak. Tidak seperti aku yang miskin sampai tidak bisa makan. Apa kau masih menganggapku kakak?!" Natan salah satu dari laki-laki yang keluar itu, memarahi laki-laki lainnya.
"Aku membeli rumah ini dari hasil kerja kerasku sendiri. Bukannya aku tidak berbakti, tapi kakak selalu berpindah-pindah tempat tanpa kabar."
"Sepertinya mereka sedang bertengkar." Bai Jun tersenyum seolah-olah sedang menonton drama.
"Sekarang dimana Yve?" Tanya Natan pada adiknya.
"Tidak ada. Dia sudah tidak ada lagi."
"Apa?!" Bai Jun lebih terkejut dari Natan yang sudah lemas mendengarnya.
"A-apa maksudmu sudah tidak ada lagi?" Tanya Natal ketakutan. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Bai Jun nantinya.
"Dia sudah tidak ada di dunia ini lagi." Kini adiknya tersenyum sambil melipat kedua tangannya.
"Berengsek!!!" Bai Jun keluar dari mobil dan berlari menuju Natan dan adiknya.
"Tunggu tuan, jangan ikut campur." Bodyguard Bai Jun gagal menghalangi tuannya.
Buagh!
Tanpa basa-basi, Bai Jun memukul adik Natan sekuat tenaga, hingga dia terjatuh dengan darah yang keluar diujung bibirnya.
"Apa semudah itu membunuh orang?" Bai Jun mengepalkan tangannya dengan emosi.
"Apa-apaan ini? Siapa kau?" Adik Natan bangkit sambil menatap kearah Bai Jun.
"Maaf tuan, bayi yang akan saya serahkan pada anda sudah dibunuh olehnya!" Natan menunjuk adiknya dengan emosi.
Diserahkan? Sudah kuduga kedatangan kakak bukanlah sesuatu yang baik. Tiba-tiba muncul dan bertanya dimana Yve. Untung saja aku sudah menyuruh pembantu di rumah untuk membawa Yve pergi sementara.
__ADS_1
Astaga, kenapa tiba-tiba banyak orang jahat yang mengincar anakku? Tapi tetap tidak akan kuserahkan. Mati pun tidak masalah!
Adik Natan menatap tajam pada Bai Jun dan kakaknya secara bergantian.