
[Halo Yve, kau masih bangun?]
Suara Devian terdengar lega saat panggilannya diangkat oleh Yve.
"Ya. Masih bangun. Kak Devian kemana saja? Dari tadi tidak bisa dihubungi. Kita ingin memberitahu sesuatu yang penting." Yve melirik komplotannya yang sudah tertidur pulas bersama-sama. Kecuali Levin yang sedang mengobati dirinya sendiri.
[Aku sibuk. Ditambah Beng mengajakku senam otot, lalu tuan Bai Lian menghukum kami.]
"Senam otot?"
[Lupakan saja. Tadi kak Yin mengirimkan pesan padaku. Katanya, disana ada Levin dan Lin? Aku sangat kaget sampai ingin menghubungimu secepatnya.]
"Ya mereka disini. Kalau kak Devian ingin bicara dengan Levin untuk bercerita secara langsung juga bisa. Dia sedang merawat lukanya sendiri. Aku bisa menyerahkan ponsel padanya." Yve melirik Levin yang sadar kalau namanya disebut.
[Tidak usah. Menurutku, tindakannya bagus dengan membawa Lin pergi. Aku hanya ingin memastikan saja. Berarti saat aku melapor pada polisi nanti, Lin bisa dipenjara.]
"Bisakah melaporkannya ditunda dulu?" Ucap Yve dengan ekspresi serius, hingga Levin yang mendengarnya ikut terkejut.
[Kenapa?]
"Aku ingin menginterogasi seseorang lebih dulu."
[Interogasi? Siapa?]
"Kakek."
❀
Di sebuah gedung pencakar langit. Seseorang sedang menatap pemandangan kota malam dari kamar salah satu lantai. Tatapan matanya yang tajam menyapu hamparan bintang diatas tanah itu.
"Tuan."
Seorang bodyguard dengan jas rapinya datang dan membungkuk dengan profesional.
"Bagaimana?"
"Sasuai prediksi anda. Tuan muda Lian mengirim pesan tentang markas tuan muda kedua Lin. Semuanya berjalan sesuai yang anda katakan, tuan Bai Jun."
Helaan nafas lega mengiringi senyum tipis seorang Bai Jun.
"Max, berapa kalipun aku membantunya, tetap saja rasa bersalah ini tidak bisa hilang sepenuhnya. Tapi aku cukup senang melakukan ini. Dia hanyalah seorang anak yang lugu, membuatku ingin terus menjaganya."
"Tenang saja tuan. Menurut saya, ini sudah cukup untuk membalas perbuatan di masa lalu." Tangan kanan Bai Jun itu kembali membungkuk dengan sopan.
__ADS_1
"Apa maksudmu Max?! Sebanyak apapun aku menolongnya, tetap tidak bisa membalas perbuatanku! Dia kehilangan orang tuanya! Orang tua! Apakah itu bisa ditukar hah?!" Bentak Bai Jun.
"Maaf tuan, saya salah bicara."
"Sudahlah! Kau tidak paham perasaanku." Bai Jun berjalan kearah sofa, duduk disana dan mulai menyalakan rokok kesukaannya. "Besok kita kembali, dan berpura-pura tidak tahu apa-apa."
"Baik tuan."
Max pergi meninggalkan tuannya. Ia paham jika Bai Jun sedang teringat masalalu, pasti membutuhkan waktu untuk sendiri. Bertahun-tahun ia mengabdi pada keluarga Bai tidak mungkin lupa tentang kebiasaan ini.
Kembali sendirian, membuat pikiran Bai Jun melayang dan teringat tentang kejadian di masa lalu.
Saat itu tangannya berlumuran darah. Dua mayat sepasang suami istri berada di kakinya seolah tidak berharga sama sekali. Dan senyum kebahagiaan sempat mengembang di wajahnya, merasakan kepuasan setelah membunuh mereka. Lalu tiba-tiba seorang bodyguard datang dengan panik. Dia mengatakan sesuatu yang membuat seorang Bai Jun menyesal. Ia berteriak sambil menangis di sisi dua orang yang baru saja kehilangan nyawa ditangannya itu.
"Maaf."
Tanpa sadar air mata Bai Jun keluar. Mengingat kembali potongan kejadian itu membuat hatinya semakin sakit.
"Aku berjanji akan menjaga anak kalian."
Perkataannya sendiri itu menggema hingga memenuhi seluruh kepala Bai Jun.
"Tuan. Bangun."
Bai Jun mulai membuka mata. Sosok Max berada dihadapannya dengan wajah khawatir.
Bai Jun baru sadar kalau ia ketiduran. Mimpinya kali ini sangat menyeramkan seperti mimpinya sehari-hari.
"Apa aku menangis lagi saat tidur?" Bai Jun merasakan bekas air yang mengering di kedua sudut matanya.
"Benar tuan."
❀
Ditengah suasana bandara yang ramai, tiga orang berpakaian rapi berjalan berdampingan mengawal seseorang.
"Diluar sudah ada mobil yang akan menjemput kita. Silahkan lewat sini." Ucap salah satu bodyguard yang mengawal Bai Jun.
Mereka berjalan sesuai arahan bodyguard itu. Max masih dengan profesional berjalan di belakang Bai Jun, selalu waspada menjaga tuannya.
Setelah sampai di luar bandara, mobil yang katanya akan menjemput tidak ada di tempat yang seharusnya.
"Eh? Kemana mobil kita?" Bodyguard yang tadi menunjukkan jalan bingung sendiri.
__ADS_1
"Kau ini bagaimana? Jangan membuat tuan menunggu!" Bentak Max.
"Sudahlah Max, tidak apa-apa kalau harus menunggu." Bai Jun menepuk bahu Max untuk meredakan amarahnya.
"Lihat! Bukankah itu mobil kita?" Bodyguard lain menunjuk salah satu mobil sedan hitam yang terparkir cukup jauh dari keramaian.
"Benar itu mobilnya. Ayo tuan. Mungkin supirnya lupa dimana kita keluar dari bandara."
Perkataan bodyguard itu masuk akal. Bai Jun berjalan menuju mobil yang dimaksud bersama tiga pengawalnya.
Saat sudah mendekati mobil, seseorang tiba-tiba keluar dari mobil itu. Seluruh bodyguard yang mengawal Bai Jun terkejut, karena orang yang keluar dari mobil tersebut bukanlah rekan mereka. Melainkan... Yve.
"Kakek, selamat datang." Yve tersenyum sambil mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan menodongkan benda itu kearah Bai Jun.
"Beraninya kau!" Ketiga bodyguard yang mengawal Bai Jun dengan sigap mengeluarkan pistol mereka masing-masing, dan kompak membidik Yve.
"Jangan menembaknya. Simpan pistol kalian." Perintah Bai Jun.
"Tapi tuan-"
"Aku bilang simpan pistol kalian."
Para bodyguard Bai Jun saling lirik dengan bingung, kemudian segera mematuhi perkataan tuannya. Mereka kembali menyimpan pistol ketempatnya.
"Jadi bisakah kakek masuk mobil?" Yve tersenyum dengan tangan yang masih senantiasa memegang pistol.
"Baiklah cucuku yang cantik." Bai Jun masuk ke dalam mobil.
Ternyata di dalam mobil itu tidak hanya ada Yve seorang. Dibalik kursi kemudi terdapat Devian yang tidak berani menatap wajah sang ayah. Dia sebenarnya tidak ingin ikut ke acara interogasinya si Yve, tapi disatu sisi dia ingin membantu adiknya mengetahui kebenaran itu.
Bai Jun menatap kursi di samping Devian. Disana ada Leo yang sama-sama tidak ingin melihat wajah tuan besarnya. Dia menatap keluar jendela sambil berpura-pura batuk.
Di kursi belakang sudah ada satu orang yang duduk. Meskipun orang itu memakai masker tapi Bai Jun tidak mungkin lupa paras anak yang ia adopsi sejak kecil itu. Levin.
Akhirnya hari ini tiba juga. Aku senang sekali bisa merasakannya. Rasa penyesalanku akan terbebas.
Bai Jun dengan suka rela masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi belakang disamping Levin. Dan setelah duduk, Yve langsung masuk lalu menempati kursi di sampingnya.
"Jalan."
Setelah mendengar instruksi Yve, mobil mulai melaju kearah yang tidak diketahui Bai Jun. Sepertinya akan ada sesi tanya jawab yang terjadi selama perjalanan.
"Dengerin radio ya. Supaya suasananya tidak mencekam." Leo mulai mengotak atik pilihan radio yang tersedia di dalam mobil.
__ADS_1
"Tidak! Suasananya harus pas." Devian menghalangi tangan Leo ditengah fokusnya mengemudi.
Ya ampun, mereka tidak cocok jadi penculik. Anak-anakku sungguh lucu.