
Drap! Drap!
Levin berlari secepat mungkin sambil menggendong Lin dipunggungnya. Tepat dibelakangnya, ruangan yang baru ia tinggalkan sudah mulai runtuh.
Grudukduk!
Lantai yang baru saja dipijak Levin langsung amblas, dan lantai itu seolah mengejar Levin yang masih berusaha berlari secepat mungkin. Telat sedikit saja, dia pasti akan terjatuh dan mati bersama Lin. Meskipun itu niat awalnya, tapi entah kenapa, dia sekarang malah ingin memperjuangkan hidupnya.
Itu dia jendelanya!
Levin senang saat tujuannya sudah sampai. Setelah mendekati jendela itu, dengan cepat Levin melompat keluar.
Bruk!
Karena tanpa persiapan saat mendarat, Levin langsung jatuh. Untung saja Lin tidak terpental jauh. Setelah menggendong Lin lagi, Levin buru-buru berlari agar tidak terkena reruntuhan bangunan.
Levin mulai memperlambat laju larinya saat sudah jauh dari wilayah pabrik. Ia berjalan memasuki kawasan hutan kecil yang berada di sekeliling pabrik.
Eh? Tunggu sebentar, sepertinya aku berlari kearah yang salah. Tempat pertemuan yang sudah direncanakan Devian bukan disini.
Bagaimana kalau mereka tidak tahu aku selamat? Dan meninggalkanku disini? Aku harus cepat menemukan letak mobil kak Sky.
"Kenapa..."
Langkah Levin terhenti. Ia menoleh kearah wajah Lin yang berada di bahunya sekarang.
"Hah? Kau bicara apa?" Tanya Levin dengan nada malas.
"Kenapa kau... Menyelamatkanku?" Lin berusaha bicara dengan tenaganya yang seperti mau habis.
"Memangnya aku sebaik itu membiarkanmu cepat mati? Tidak bisa! Kau harus disiksa dulu dipenjara. Dan menerima semua kelakuan jahatmu." Levin kembali berjalan pelan lalu tertawa. "Tapi tenang saja, aku akan ikut denganmu. Karena sekarang aku selamat, cara terbaik menebus dosaku adalah dipenjara. Dengar ya, sampai ke neraka pun aku akan bersamamu."
Lin tersenyum kemudian menjawab. "Terimakasih, Levin."
Ha? Terimakasih? Memang tadi aku memujinya?
Setelah pembicaraan hangat itu, Lin sepertinya pingsan karena tidak lagi bicara dan bergerak. Tapi Levin dapat memastikan kalau dia belum mati.
Apa? Aku salah jalan lagi? Levin kembali menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada tanda-tanda jalanan yang ia lewati bersama Yve tadi pagi.
Ini gara-gara gedungnya tertutup banyak asap. Aku jadi susah menentukan arah.
Jam berapa ini? Sepertinya kak Sky sudah pergi naik mobil sesuai rencana.
__ADS_1
Aku lelah berjalan dengan sia-sia sambil membawa batu besar ini.
Levin menurunkan Lin dan membaringkannya diatas tanah. Melihat luka Lin yang semua menganga dan mengeluarkan darah, membuat rasa empati Levin kembali keluar. Ia menobek ujung bajunya untuk menutupi luka Lin. Untung saja baju style hip hop yang ia pakai modelnya oversize, jadi tidak masalah jika disobek, tetap tidak membuat tubuhnya terbuka.
Saat Levin membalut beberapa luka Lin. Tiba-tiba orang itu terbangun dari pingsannya. Dia menatap Levin dengan sorot mata sendu.
"Kau... Sedang mengobatiku atau mengamputasiku? Kenapa sakit sekali" Tanya Lin dengan suara pelan.
"Mengamputasimu. Mau bagian yang mana dulu? Kaki atau tangan?"
Mendengar perkataan Levin membuat senyum Lin mengembang. Dia tahu kalau Levin sedang mengobati dirinya, tapi malah Levin mengikuti candaannya.
"Apanya yang lucu hah? Lagipula apa-apaan dengan ruangan rahasia itu? Kau menyembunyikannya dariku." Levin mencoba bertanya tentang jalan rahasia dibalik lukisan sebelumnya.
"Aku menyembunyikanya. Karena itu memang kupersiapkan untuk menyelamatkanmu."
"Hah? Apa maksudmu? Jangan mengada-ada. Aku sedang malas mendengar bualanmu." Levin menyalahkan dirinya sendiri karena bertanya pada Lin. Sudah pasti iblis itu tidak akan mengatakan dengan jujur.
"Aku serius. Dulu aku membuat itu untuk menyelamatkanmu."
Levin mengangkat alisnya dan tersenyum sinis. "Mustahil."
"Dulu kupikir, kau tetap akan setia menjadi tangan kananku. Saat kita membuat ruangan penghancur itu, aku berpikir jika seandainya aku menyuruhmu menjadi tumbal pasti kau akan mau, karena kau setia padaku. Tapi aku sendiri tidak ingin kehilangan bawahan sepertimu. Jadi aku menyiapkan jalan rahasia itu untuk menolongmu. Siapa sangka pada akhirnya, kau mengkhianatiku dan menggunakan ruangan penghancur itu untuk membunuhku."
"Cih! Itu karena perbuatanmu sendiri." Levin akhirnya selesai membalut luka Lin.
Yve? Apa tadi dia menasehati Lin?
"Aku bingung, Levin. Sebenarnya... Sejak kapan aku berubah?" Lin menatap dedaunan rindang dari pohon diatasnya. Sungguh menyejukkan.
Hari ini Lin kehilangan semua yang ia miliki. Bisnis, data penting, dan stok barangnya semua habis. Tapi anehnya, ia tidak kecewa sama sekali. Meskipun harus mati sekarang, ia tetap akan menerimanya.
Levin terdiam sambil menatap Lin yang perlahan memejamkan matanya. Sepertinya dia akan pingsan lagi, karena pendarahan di tubuhnya cukup hebat. Dan saat Levin memeriksanya, dugaannya pun benar. Lin kembali pingsan.
"Bodoh! Kenapa bertanya seperti itu padaku? Aku juga tidak tahu." Gumam Levin.
Levin melihat sekeliling. Ia yakin kalau sudah ditinggal oleh gerombolan temannya. Jadi ia pasrah, dan memutuskan istirahat sebentar. Merebahkan tubuhnya di samping Lin sepertinya tidak buruk juga.
"Namamu Levin? Perkenalkan namaku Lin. Apa kau suka es? Aku akan mematahkan es loli ini menjadi dua bagian. Seru sekali loh!"
Levin kembali teringat perkataan Lin, saat pertama kali dia menjemput Levin di panti asuhan bersama Bai Jun dulu.
"Kau tahu tidak, kenapa aku kalau membeli sesuatu selalu sepasang? Itu karena aku ingin membaginya dengan kakakku. Tapi sekarang dia sedang sibuk, dan katanya aku tidak boleh mengganggunya dulu. Jadi sekarang aku akan membaginya padamu, Levin. Saat kakakku sudah tidak sibuk, ayo kita makan es bertiga."
__ADS_1
Levin mulai memejamkan matanya, dan mengingat kembali memori itu.
Memang cukup disayangkan, karena keinginan Lin kecil saat itu tidak pernah terpenuhi sampai sekarang. Kakaknya Bai Lian, terus sibuk karena Bai Jun menyuruhnya belajar menjadi penggantinya sebagai boss mafia.
Lebih buruk dari pada itu, perhatian semua orang menjadi tertuju pada Bai Lian yang merupakan calon pewaris keluarga Bai. Siapapun memperhatikannya, entah itu para kolega, sampai para musuh Bai Jun juga ikut menargetkannya. Tapi bagaimana dengan Lin? Tidak ada yang peduli dengannya, karena dia seperti pelengkap untuk keluarga Bai saja.
Semakin lama, sifat Lin menjadi semakin buruk. Dia yang sebelumnya murah senyum dengan ekspresi hangat, mulai berubah dingin dan pendendam. Tentu saja sikap Lin pada Levin pun juga ikut berubah. Yang awalnya menganggap Levin sebagai sahabat baik, berubah menjadi sikap atasan dan bawahan. Mengumpati Levin setiap saat, memakinya, dan kadang memukulinya tanpa sebab jika suasana hati Lin sedang tidak baik.
Levin hanya bisa menganggap kalau Lin yang dulu menyapanya dengan hangat sudah mati.
Tapi... Hari ini, entah kenapa Lin yang dulu bangkit lagi dan tersenyum kearahnya.
Uhuk! Uhuk!
Suara batuk Lin membuat Levin terbangun dan menoleh kepada laki-laki di sampingnya.
Astaga! Apa yang kulakukan?! Aku ketiduran!!!
Levin panik saat membuka mata, kegelapan langsung menyambutnya.
Sudah malam?! Yang benar saja!
Levin kembali menoleh kearah Lin. Laki-laki itu masih memejamkan mata, tapi batuk secara tidak sadar.
Karena khawatir, Levin menempelkan telapak tangannya kearah dahi Levin.
Dia demam tinggi.
"Apa kau yakin mendengar suara batuk disini?"
"Ya, aku yakin sekali."
Levin melihat cahaya senter dikejauhan mulai datang mendekat.
Siapa itu? Apakah salah satu bawahan Lin yang ingin menyelamatkan bossnya? Tidak akan kubiarkan!
Levin mengangkat Lin dan kembali meletakkannya di dekat semak-semak yang tinggi. Sementara ia bersembunyi di balik pohon, dan mencoba mengintip siapa yang datang.
"Lihat, tidak ada siapapun."
"Kau benar. Mungkin cuma perasaanku saja."
"Sudahlah ayo kembali. Tugas kita harus segera selesai sebelum pagi."
__ADS_1
Levin mulai mengintip. Ia sangat terkejut melihat wajah dua orang yang baru saja pergi itu. Levin ingat betul wajah mereka pernah ada di data yang ia curi saat masih menjadi bawahan Lin.
Mereka... Bodyguard ruang bawah. Dan yang aneh... Mereka itu bodyguard yang dipimpin oleh tuan besar langsung. Kenapa mereka kemari?