
Sekarang Yve dalam perjalanan menuju rumah Bai Lian dengan motornya. Ia sudah pulang sekolah dan menyempatkan diri untuk ganti baju dulu.
Kejadian di sekolah hari ini tidak membuat Yve senang. Pemandangan lucu yang ia idam-idamkan tidak terjadi. Selama pelajaran berlangsung, para guru terus memujinya dengan berlebihan. Membuat murid lain yang sebelumnya tidak membenci Yve jadi ikut memiliki dendam kesumat padanya. Kalau terus begini, musuhnya akan semakin bertambah.
Tidak membutuhkan waktu lama, gerbang rumah keluarga Bai sudah terlihat. Yve menyinggungkan senyum saat melihat penampakan ikan koi raksasa di depan gerbang.
❀
Dari sebuah balkon kamar, Bai Lian melihat gazebo dibawahnya. Semua ruangan dan balkon yang mengarah ke Timur akan disuguhi pemandangan gazebo dan lapangan Tembak untuk para bodyguard.
Dia belum datang?
Tidak berselang lama, sesuatu yang ditunggu Bai Lian muncul. Seorang gadis yang langsung duduk dengan tidak sopan diantara yang lain. Kedatangannya membuat gazebo yang tadinya sunyi menjadi berisik.
Beng dengan antusias menceritakan sesuatu pada Yve. Sementara South nampak kesal mendengar itu. North hanya mengatakan beberapa kata, tapi berhasil membuat gadis itu tertawa bersama yang lain.
Beng itu adalah tipe orang yang defensif. Dari dulu dia selalu waspada pada apapun. Tapi sekarang, dia dengan santainya bercanda bersama Yve sambil menikmati secangkir kopi.
South sendiri dari dulu memang berisik, tapi tidak seberisik sekarang. Dia dulu lebih banyak tertawa untuk menyembunyikan keinginannya yang sebenarnya. Hingga saat Yve datang, dia seperti tidak tahu malu menunjukkan kesukaannya pada cemilan aneh.
Lalu North. Sejauh ingatanku, Dia adalah orang yang sangat pendiam. Bahkan bicara denganku pun bisa dihitung dengan jari. Dia lebih memilih mengangguk atau menggeleng untuk menjawabku. Tapi sekarang... Berkat Yve yang terkadang memulai topik aneh saat mengobrol, membuatnya bicara beberapa kali untuk menanggapinya.
Terakhir Devian. Dia dulu orang paling misterius yang kukenal. Sering tersenyum dengan patuh, dan mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti, membuat kesanku padanya semakin aneh. Tentang keahliannya dalam melihat segala sesuatu melalui cctv sering membuatku ketakutan. Tapi sekarang, aku jadi tahu kalau dia juga sangat menyebalkan, dan banyak bicara.
Semua berubah sejak kemunculan gadis itu, Yvenia Guilietta.
Lalu bagaimana denganku? Kurasa aku juga mulai berubah karena dia.
Hal seperti mengintip para bodyguard latihan seperti ini jarang kulakukan. Tapi sekarang aku melakukannya hampir disetiap waktu. Hanya untuk melihatnya.
Apa ada yang salah denganku? Ya! Aku pasti sudah gila.
"Tuan."
Bai Lian menoleh kearah seorang bodyguard yang sedang membungkuk dengan sopan didepannya. Dia adalah salah satu bodyguard bawahan sang ayah.
"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke sini seenaknya?!"
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi saya daritadi sudah mengetuk pintu dan tidak ada jawaban dari anda. Saya pikir anda sedang dalam masalah, jadi saya langsung masuk."
Benarkah? Apa aku terlalu fokus melihat dia?
"Sudahlah, katakan kenapa kau kesini?"
"Tuan besar meminta saya menyampaikan pesan pada anda untuk segera menyelesaikan berkas terakhir yang beliau berikan. Setelah itu, menyuruh anda pergi ke kasino melihat perkembangan keuangan disana secara langsung." Ucap bodyguard itu dengan profesional.
"Cuma pesan seperti ini, kenapa ayah tidak mengatakan langsung padaku?"
"Jawab tuan, tadi tuan besar bilang kalau anda tidak bisa dihubungi."
Bai Lian langsung berjalan mendekati meja kerjanya lalu meraih ponsel yang ia tinggalkan disana. Dan benar saja, banyak panggilan tidak terjawab dari ayahnya.
Sepertinya aku melihat dia sedikit lebih lama dari kemarin.
"Ehem! Baiklah kau boleh pergi."
Bodyguard tadi pergi dengan patuh sesuai perintah Bai Lian.
Bai Lian pergi dari ruangannya. Lalu berjalan kearah dapur. Ia mengambil beberapa onigiri dari dalam lemari makanan. Setelah itu ia membuka kulkas untuk mengambil kopi hitam kemasan disana. Bai Lian sudah tidak tidur selama 2 hari untuk mengurus beberapa kasino yang bermasalah. Dan kopi ini selalu menemaninya bergadang. Kali ini ia tidak boleh ketiduran.
Setelah mengambil yang diperlukan dari kulkas, Bai Lian menutup lemari pendingin itu dan berniat untuk kembali. Tapi saat ia berbalik...
"Apa yang sedang kau lakukan disini?"
Bai Lian terkejut, dan hampir saja menjatuhkan semua bawaannya. Bagaimana tidak, dibelakangnya sudah berdiri seorang gadis yang tadi dilihatnya dari jauh. Dia Yve.
"Kau tidak lihat? Aku mengambil beberapa makanan ringan." Bai Lian mencoba menunjukkan ekspresi datar sambil memperlihatkan onigiri dan kopi yang dibawanya.
"Aku tahu. Tapi bukankah ini dapur khusus bodyguard? Kenapa kau disini?"
"Dapurnya cuma satu."
"Benarkah?! Rumah sebesar ini dapurnya cuma satu?"
Tentu saja tidak! Tapi aku tidak mau mengaku kalau sering mengambil cemilan disini. Dapur khusus keluarga hanya berisi salad membosankan di dalam kulkas. Sementara ayah terus memberikan stok cemilan enak untuk bodyguard. Aku juga mau!
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau cuma satu? Minggir! Aku mau lewat." Bai Lian memberikan kode pada Yve untuk segera menyingkir.
"Sebentar." Yve tiba-tiba celingukan. Ia memastikan kalau tidak ada orang lain di dapur selain dirinya dan Bai Lian. Itu karena Yve tidak mau digoda oleh teman-temannya lagi. "Oke aman."
"Apanya yang aman?"
"Serahkan onigiri itu padaku!" Yve menyambar pisang diatas meja, menjadikannya seperti pistol dan mengarahkan itu pada Bai Lian.
Lihat? Bukankah gadis ini sangat lucu? Sial! Aku harus menahan ekspresiku untuk tidak tersenyum.
"Aku dirampok?"
"Ya, cepat berikan padaku!"
"Di dalam masih ada onigiri lagi. Apa kau ingin aku mengambilkannya untukmu?" Tawar Bai Lian.
"Tidak. Tapi aku melihat onigiri tuna mayo yang kau bawa. Kata kak Beng, onigiri tuna mayo hanya tersisa satu di dapur. Aku mau itu!"
"Aku juga mau. Bagaimana kalau kita bagi dua?"
"Hmmm..." Yve mengusap dagunya sambil berpikir.
Astaga lucu sekali! Dia bahkan memikirkan kata-kataku. Dan ekspresinya itu sangat imut.
"Hanya ini satu-satunya cara kan?" Bai Lian mulai membuka bungkus onigiri tuna mayo. Tapi belum sempat membaginya, Yve tiba-tiba menarik tangan Bai Lian yang memegang onigiri, lalu menggigit onigiri itu sambil tersenyum.
"Satu gigitan saja. Kalau kupikir lagi, aku masih kenyang. Terimakasih tuan." Yve langsung berlari keluar dapur.
Tubuh Bai Lian membeku. Ia masih dalam posisi itu untuk beberapa saat.
Astaga!!! Apa yang baru saja terjadi?! Jantungku hampir berhenti berdetak. Bocah kecil! Apa kau ingin membunuhku?!
Tenang... Aku adalah Bai Lian, boss mafia. Orang-orang tunduk padaku. Tidak mungkin aku terlalu heboh hanya karena ini.
Sebaiknya aku cepat kembali dan menyelesaikan tugas dari ayah.
Bai Lian akhirnya kembali ke ruangannya dengan kaki gemetar.
__ADS_1