
Semua orang di dalam mobil mencuri pandang kearah Yve, menunggu dia membuat keputusan. Bai Jun sudah pasrah kalau harus mati di tangan gadis itu, tapi Yve masih terdiam.
"Setelah kejadian itu, berbagai kesialan muncul selama beberapa tahun. Musuh keluarga Bai semakin kuat, dan membunuh beberapa kolega. Termasuk... Julian." Bai Jun menatap Devian yang ketahuan curi-curi pandang. "Tapi semua kesialan itu berhenti sejak kedatangan Devian. Dia menata kembali sistem keluarga Bai. Lalu menunjuk pewaris yang sangat berpotensi seperti Lian. Secara perlahan, keluarga Bai bangkit dengan beberapa bodyguard baru yang sangat hebat."
Devian seketika membuang muka. Dipuji ayahnya seperti ini membuatnya malu.
"Kiw kiw, anak ayah." Goda Leo sambil mencolek tangan Devian.
"Diam kau!" Bisik Devian dengan penuh penekanan.
"Cucuku. Bagaimana? Apa keputusanmu?" Tanya Bai Jun hati-hati. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Yve yang sedang terkejut sekarang.
"Aku... Tidak akan membunuh kakek." Tangan Yve yang memegang pistol jatuh, ia sudah tidak memiliki tenaga setelah mendengar itu semua.
Bagaimanapun... Itu bukan salah kakek. Ibu dan ayah pasti setuju dengan keputusanku.
Secara tidak sadar Devian menghembuskan nafas lega. Untung saja nyawa ayahnya masih tertolong.
"Kenapa kamu tidak bunuh kakek saja? Nyawa dibalas nyawa. Balaskan dendam orang tuamu."
"Ada kalanya sesuatu tidak bisa dibalas dengan nyawa. Dan tidak semudah itu untuk mengambil nyawa orang. Jika aku melakukannya, maka kak Devian akan kehilangan ayahnya, Bai Lian dan Lin kehilangan jalan hidupnya, lalu para bodyguard kehilangan tuannya. Jadi apa bedanya aku dengan kakek saat itu? Hanya akan menambah panjang rantai kebencian." Yve memasukkan kembali pistolnya ke dalam jas, lalu menghapus air matanya dengan cepat.
"Tapi kakek masih merasa bersalah."
"Kalau begitu, biarkan aku datang ke makam orang tuaku. Dan berikan beberapa barang milik orang tuaku dulu. Apa kakek memilikinya? Jika tidak, aku ingin kakek mencarinya." Tanya Yve penuh harap.
"Ada. Semuanya ada di rumah."
"Begitu ya." Yve menatap keluar jendela, lalu kembali bertanya. "Apa yang terjadi pada pamanku setelah itu?"
"Natan? Bahkan kuburannya tidak akan bisa kamu temukan nak. Kakek menyiksanya, dan setelah mati, mayatnya kuberikan pada buaya peliharaan Julian saat itu."
"Baguslah. Kalau tidak, akan kubuat dia merasakan lebih baik mati daripada hidup." Yve menghela nafas dan menenangkan dirinya. Pamannya sudah mati, jadi ia tidak perlu merasa kesal.
__ADS_1
"Rumah orang tuamu yang dulu juga masih ada. Kakek menjaga tempat itu untuk diberikan padamu kelak."
Yve hanya mengangguk.
Menurut cerita Bai Jun, rumah itu cukup mewah. Sekarang Yve memiliki rumah dan uang dari Bai Lian sebelumnya. Ia menjadi kaya mendadak sekarang. Tapi rasanya tidak terlalu menyenangkan.
"Kembali ke rumah."
"Baik." Devian segera mematuhi perintah ayahnya. Mobil kini melaju dengan sebuah tujuan yang jelas.
Sepanjang perjalanan Yve masih diam. Seluruh orang di dalam mobil yang ikut mendengar cerita, juga memilih untuk diam. Bagaimanapun itu terlalu menyedihkan untuk menjadi kisah nyata.
❀
Pak!
Beng menaruh kartu remi dengan semangat. "Aku menang lagi hahaha, berarti kalian harus membuatkanku kopi besok pagi."
"Ya ampun kak Beng benar-benar hebat." South menaruh kartunya dengan lesu, begitupun dengan North. "Kak Beng menang, besok kita akan menjadi pembantumu dalam satu hari."
"Wah tumben kau berkata begitu." South yang masih membereskan kartu remi bekas permainan mereka, sempat menoleh kearah North.
"Aku setuju, ini tidak seru. Kalau saja ada Yve dan Devian." Semangat Beng tiba-tiba luntur.
"Berani sekali kalian!"
Ketiga bodyguard inti yang sedang istirahat itu menoleh kearah pagar depan, tempat orang berteriak tadi.
"Bukankah itu suara paman Ping? Apa ada sesuatu di gerbang depan?" Tanya South sambil melirik Beng dan North.
"Ayo kita kesana." Beng berdiri kemudian berlari pergi.
South dan North langsung mengikuti Beng. Mereka bersama-sama sampai di gerbang depan.
__ADS_1
Tapi pemandangan yang mereka lihat jauh diluar dugaan.
"Jangan ada yang menembak." Ucap Bai Jun sambil melihat para bodyguardnya yang mulai panik.
Saat ini Yve tengah menodongkan pistol ke kepala Bai Jun. Leo dan Devian berada dikanan kirinya, sementara di belakangnya, Levin tetap waspada dengan masker yang masih melekat.
"Jalan kek." Bisik Yve.
Rombongan yang seperti penjahat itu mulai berjalan mendekati rumah.
"Tuan besar!" Beng langsung muncul untuk menghadang.
"Beng, tidak apa-apa. Menyingkirlah." Ucap Bai Jun dengan ekspresi tenang.
"Tapi..." Beng melirik Yve. Ia tidak menyangka adiknya akan melakukan hal seperti ini.
Sebenarnya ada apa? Apa yang Yve inginkan? Dia begitu berani mengancam tuan besar disini. Apakah tidak lihat kalau hampir ada 100 bodyguard yang berada di rumah besar ini?
"Mundurlah." Bai Jun dengan tenang berjalan melewati Beng, lalu disusul oleh Yve dan yang lain.
"Beng, aku sudah memesan bubur untuk sarapan. Nanti makan bersama." Bisik Devian saat berjalan melewati Beng.
Hah? Makan?
Oi oi kalian ini sedang melakukan apa? Malah bahas makanan. Jangan-jangan cuma bercanda?
Kalau dipikir-pikir memang tidak mungkin Yve menyandera tuan besar. Tidak ada keuntungannya sama sekali. Beng menggaruk kepalan dengan bingung.
"North, meskipun Yve adik kita, tapi tuan Bai Jun sekarang disandera. Ambil posisi, kita tembak Yve." South berbisik pada saudaranya.
"Jangan, biarkan saja." Beng menguap dengan santai, lalu berjalan kembali menuju gazebo.
"Apa maksudmu kak Beng? Itu tuan besar-"
__ADS_1
"Mereka tidak serius. Abaikan saja." Beng berjalan semakin jauh. "Kalian awasi saja mereka, aku akan membuat kopi."
"Ha?!"