Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Boss Penakut


__ADS_3

Tin! Tin!


Hari sudah malam, tapi aktivitas orang-orang masih belum berakhir. Di sebuah jalan yang dipadati kendaraan dan para pejalan kaki di trotoar sebelahnya, suara klakson mobil saling bersautan saat beberapa motor melawan arah dengan kecepatan tinggi.


Yve sengaja berkendara melawan arah untuk menghambat para pengejar itu. Dalam urusan meliuk-liuk di jalan, Yve ahlinya. Tapi... Motor yang ia pakai terlalu lamban.


"Bai Lian, berapa orang yang mengejar kita?" Tanya Yve yang beberapa saat lalu kehilangan kedua spionnya karena nyaris menabrak mobil.


"Aku tidak tahu!"


"Tinggal lihat saja apa susahnya?!"


"Kau mengendarai motor cepat sekali. Aku takut menoleh." Bai Lian menguatkan pelukannya pada Yve.


"Ck! Ini pelan sekali tahu! Motornya seperti siput berjalan!"


Bai Lian tidak menjawab lagi membuat Yve semakin emosi. Laki-laki itu tidak bisa diandalkan! Sementara ia bersusah payah menyelamatkan nyawanya.


Kalau saja ada kak Devian, pasti aku bisa menemukan jalan keluar.


"Ada yang bisa mendengarku?" Tiba-tiba suara dari alat komunikasi jarak jauh terdengar lagi. Yve merasa seperti melihat secercah cahaya kehidupan.


"Kak Devian? Astaga kau kemana saja?" Tanya Yve sambil terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


"Ada yang mengacaukan jaringanku. Dari rumah keluarga Bai sampai kasino jaringanku eror."


"Lalu kenapa aku bisa bicara denganmu sekarang?"


"Itu karena kau salah jalan! Sekarang kau semakin menjauh dari rumah keluarga Bai dan kasino."


Apa?! Kukira aku sedang menuju rumah Bai Lian sekarang. Ternyata salah jalan, sial!


"Lalu bagaimana ini? Kak Devian bisa melihatku kan?"


"Ya. Aku bisa mengakses cctv jalan yang kau lewati. Begini, dengan motor itu dan kecepatanmu sekarang, kurang dari 10 menit lagi mereka bisa mengejarmu. Tehnik melawan arah itu cukup bagus, setidaknya mereka bisa mengurangi kecepatan."


Sial!


"Lalu bagaimana ini? Aku dan Bai Lian akan tertangkap."


"Aku sudah mengutus bantuan. Tapi posisimu terus menjauh dari arah bantuanku datang."


Kesialan apa yang menimpaku?! Kuharap tidak bertambah buruk!


Puk!


Kepala Bai Lian tiba-tiba bersandar pada punggung Yve.


"Hei kau kenapa? Jangan tidur!" Teriak Yve.


"Yve kepalaku sakit sekali, pandanganku juga kabur. Bagaimana ini?"


"Hah? Kenapa bisa begitu?"


"Entahlah. Tadi aku sempat minum air putih dari Hino. Kupikir itu sudah dicampur dengan minuman keras. Aku seperti mabuk sekarang."


Kesialan lain langsung datang?!

__ADS_1


Tiiin!!!


Motor yang dikendarai Yve sempat oleng. Itu karena Bai Lian yang hampir tidak sadarkan diri di belakang sana. Untung saja mereka tidak menabrak truk atau semacamnya.


Arah jalanku salah, Bai Lian mabuk dan menggangguku. Ditambah lagi... Musuh semakin lama semakin mendekat.


"Kak Devian, berapa orang yang mengejarku?"


"5 motor. Masing-masing berboncengan, jadi total ada 10 orang."


Tidak bisa! Jika aku berusaha menghadapi mereka, saat aku bertarung, bisa-bisa Bai Lian dibawa pergi.


Yve kembali melihat jalanan. Tiba-tiba ia merasa jalan yang ia lalui ini tidak asing. Perlahan bangunan dan tempat sekitarnya terasa familiar.


"Kak Devian, aku sedang berada dimana?"


"Namanya jalan Bihun goreng, itu mengarah ke jalan tol."


Heh... Kurasa aku bisa menghadapi ini.


"Bai Lian berpegangan lebih erat. Jangan lepaskan apapun yang terjadi."


"...Ya..." Suara Bai Lian seperti orang yang hampir kehilangan kesadarannya. Setelah itu ia menguatkan pelukannya pada Yve.


Yve menarik sudut bibirnya dengan bangga, lalu kembali memaksimalkan kecepatan motor siputnya. Dia mengarah pada jalan tol yang sudah mulai terlihat dari jauh. Rencananya kali ini pasti sukses.


Yve masih fokus memacu motornya kearah jalan tol, melewati jalan tikus yang biasanya ia pakai untuk masuk tol.


Baru saja sampai di jalan lurus tol, Yve sudah melihat gerombolan orang yang sedang berkumpul ditemani beberapa motor yang memiliki jadwal bertanding. Yve semakin senang saat melihat Soni berada diantara mereka sambil merangkul seorang perempuan seksi.


Dugaanku benar. Ada balapan liar disini.


Tin! Tin!


"Pangeran! Itu pangeran!"


"Lihat pangeran sedang menuju kemari!"


"Kyaaa pangeran!"


Soni menoleh, dan terkejut melihat Yve dari jauh. Astaga Yve! Apa-apaan dengan motor itu? Apa motor bagusmu benar-benar diambil depkolektor? Jadi kau ingin balapan dengan motor jadul itu?


Tiba-tiba perhatian Soni teralihkan pada orang yang sedang duduk di belakang Yve dan memeluk gadis itu dengan mesra.


Itu kan! Bai Lian pacarnya Yve! Apa maksudnya ini? Jangan-jangan Yve ingin balapan bersama pacarnya?


Yve memberikan kode tangan pada Soni, sambil terus menarik gas motor dengan tangan sebelahnya.


Mata Soni menyipit dan ia berhasil melihat 5 motor lain yang seperti mengejar Yve.


Jadi Yve sedang dikejar depkolektor? Dan dia sedang butuh bantuanku sekarang?


'Habisi'


Gerak bibir Yve itu langsung membuat Soni paham. "Semuanya! Pengeran sedang dikejar oleh musuhnya! Ayo habisi mereka!!!"


"Ya ampun berani sekali!"

__ADS_1


"Serahkan pada kami!"


Yve akhirnya sampai dan bergabung dengan kerumunan orang-orang. Soni langsung menghampirinya.


Salah satu laki-laki yang akan balapan, kebetulan adalah salah satu teman Yve sang pangeran. Namanya Yama.


"Aku akan menendang motor mereka, dan saat mereka jauh kita habisi bersama-sama. Beraninya mengganggu teman kita! Ayo!" Yama memimpin dan bergegas menuju orang-orang yang mengejar Yve.


Sementara yang lainnya membawa motor mereka masing-masing untuk mengikuti Yama.


Yve hanya bertengger diatas motor dan melihat orang-orang yang mengejarnya dihabisi perlahan oleh teman-temannya.


Akhirnya selesai. Yve menghela nafas lega.


"Pangeran kacian sekali. Sini sini biar aku pijitin." Perempuan seksi yang bersama Soni tadi langsung berpindah haluan dan meraih tangan Yve.


Ya ampun, apa aku kalah tampan? Soni hanya bisa meratapi nasib.


"Eh? Siapa laki-laki di belakangmu pangeran?"


Soni buru-buru memikirkan sebuah ide, dan menggantikan Yve untuk menjawab. "Dia kakaknya pangeran."


"Wah benarkah? Tampan sekali. Sepertinya dia berdarah campuran." Para perempuan disana langsung histeris seperti menemukan mangsa baru.


Yve menghalangi tangan para perempuan itu untuk menyentuh Bai Lian, entah kenapa ia tidak suka melihatnya.


"Aduh maaf ya, kakaknya pangeran alergi perempuan." Soni langsung menghalangi para perempuan haus darah itu agar Yve tidak kesal. Lagipula siapa yang tahan kalau pacarnya disentuh perempuan lain.


Dasar lalat penganggu! Yve memberikan tatapan tajamnya. Setelah itu melirik Bai Lian yang masih memeluknya.


Dia ketiduran? Kasihan sekali.


"Untunglah kalian selamat." Suara lega dari Devian terdengar dari alat komunikasi di telinga Yve. "Tolong bawa tuan Bai Lian ke cafemu dulu ya. Aku akan menelpon Leo untuk membantu menjaganya. Aku masih harus mengurus Bernard dan South. Kau jangan khawatir soal mereka, karena North selalu berada di gedung terdekat dengan kasino. Tanpa suruhan dariku, dia tetap akan menjaga saudaranya."


Yve mangangguk. Ia tahu kalau Devian akan melihat anggukannya dari cctv jalan tol. Setelah menjawab, alat komunikasi itu seperti terputus koneksi dengan Devian.


Yve melirik Soni, dan seperti memiliki ikatan batin, laki-laki itu langsung paham maksudnya.


"Baiklah, Pangeran ingin pulang bersama kakaknya. Dia ingin menenangkan diri." Soni mengusir para fans perempuan yang mengerubuni Yve.


"Yaahhhh padahal aku masih kangen loh pangeran."


"Setidaknya beri aku ciuman perpisahan pangeran."


"Aku juga mau!"


"Enak saja aku duluan!"


Kericuhan mulai terjadi.


"Aku yang akan mewakilkan pangeran, ayo sini berbaris untuk kucium satu-satu." Soni mengerucutkan bibirnya dan bersiap mencium siapapun.


"Idih! Ogah."


"Cium aspal saja noh!"


Yve hanya tersenyum. Lalu mulai melajukan motornya pergi. Saat berpapasan dengan Yama, Yve mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sampai jumpa pangeran bro! Hati-hati di jalan." Teriak Yama sambil melambaikan tangan.


Ayo Bai Lian, waktunya istirahat. Dasar boss penakut.


__ADS_2