
"Ini semua barangnya." Kata salah satu orang dengan wajah seram dan perut yang sedikit buncit. Para bawahannya dengan sigap membuka beberapa peti kayu yang berisi senjata, dan diperlihatkan pada Lin.
"Bagus. Selanjutnya lakukan sesuai perintahku." ucap Lin sambil memberikan instruksi tangan agar barangnya kembali disimpan rapi.
"Baik tuan." Akhirnya orang tadi pergi bersama para bawahannya sambil membawa peti lainnya.
Lin menoleh kearah Yve yang berdiri dibelakangnya. "Kau lihat itu?"
"Tentu saja, aku tidak buta." balas Yve dengan ketus.
"Bukan begitu manis. Maksudnya apa kau melihat betapa hebatnya pekerjaan sampinganku ini?" Lin menunjukkan ekspresi bangganya.
"Menyelundupkan senjata? apa bagusnya itu?"
"Kau-"
"Tuan, bicaranya memang kasar. Saat bersama tuan Bai Lian pun sama, jadi anda tidak perlu membuang emosi untuk orang sepertinya." Levin segera bersuara sebelum Lin hendak memarahi Yve.
Levin benar. Yve masih kucing liar yang tidak tahu diri. Lin mencoba mengendalikan emosinya.
"Baiklah lupakan. Ayo ikut aku." Lin kembali berjalan. Levin dan Yve mengikuti dengan setia dibelakangnya.
Orang licik, dengan pekerjaan kotor. Pantas saja sikap Bai Lian sangat tidak bersahabat padanya. Yve melirik Lin dari belakang.
Aku harus menemukan bukti-bukti yang diminta Bai Lian. Kemudian... membalaskan kematian kak Kurt. Semua akan kulakukan dengan perlahan. Menyiksanya sedikit demi sedikit.
"Di pelabuhan ini ada restoran seafood yang sangat enak. Kalian akan kutraktir. Ayo kesana." Ajak Lin dengan semangat.
"Terimakasih tuan." Levin nampak senang dengan ajakan itu.
Yve tidak habis pikir dengan Lin. Dia seakan tidak malu setelah pamer pekerjaan kotor pada Yve, dan setelah itu masih santai bilang ingin memakan seafood.
"Aku tidak lapar." Ucapan Yve membuat Lin menoleh kearahnya dengan emosi.
"Bawahan yang kuajak makan pasti menerima. Dan perempuan yang kuajak makan tidak akan menolak. Tidak kusangka kau berani menolakku." Lin berbalik badan, dan menghadap Yve.
__ADS_1
"Oh? kalau begitu aku orang pertama yang menolakmu? selamat."
Dor!
"Yve!" Levin segera meraih tubuh Yve. Ia tidak menyangka kalau tuannya akan menembak gadis itu.
"Ck! lepas!" Yve menepis tangan Levin.
"Kau baik-baik saja?" Levin melihat tubuh Yve yang ditembak oleh Lin.
"Aku sudah menduga kau memakai rompi anti peluru kemari." Lin menyimpan kembali pistolnya. "Ini adalah peringatan untukmu. Kalau kau menentangku lagi, aku tidak akan segan-segan menembak area yang tidak bisa dilindungi oleh rompi itu. Misalnya... kepalamu." Ancam Lin.
"Bagus juga. Lain kali aku akan memakai helm anti peluru." Yve tersenyum dengan sinis.
"Kau-"
"Diamlah!" Levin mendorong Yve.
Bugh!
Yve yang tidak terima didorong, melayangkan pukulan pada wajah Levin.
"Kau pikir aku akan diam saja huh?"
Lin menatap Yve dan Levin heran. Kenapa malah mereka yang bertengkar?
"Sudah cukup!" Lerai Lin. "Sekarang mau tidak mau, kalian harus ikut aku makan, tanpa bertengkar. Mengerti?"
"Baik tuan." Jawab Levin dengan patuh. Sementara Yve hanya membuang muka dengan malas.
Sial. Meskipun masih memakai rompi anti peluru. Tapi rasanya cukup sakit. Yve mengusap perutnya tempat Lin menembaknya tadi.
❀
Di rumah Bai Lian.
__ADS_1
"Apa kau bilang?!" Teriak Beng pada ponsel di genggaman tangannya.
Baru saja Leo menelponnya dan memberitahu kalau ia melihat Yve bersama Levin pergi bersama.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Tanya South yang ikut mendengarkan pembicaraan Beng dan Leo di telpon.
"Leo, kau tidak salah lihat kan?" Tanya Beng memastikan.
[Aku berani sumpah itu Levin yang pernah kau katakan padaku]
Nada bicara Leo yang serius membuat kepala bodyguard itu terdiam, dan teman-temannya bingung dengan situasinya.
"Yve tidak mungkin berkhianat kan?" Kata-kata South memecah kesunyian yang tiba-tiba terjadi.
"Tentu saja tidak mungkin!" Bentak Beng. Adik kecilnya tidak mungkin memihak penjahat.
"Tapi kenapa Yve pergi bersama Levin? Dan mereka berboncengan naik motor. Kenapa mereka terlihat seakrab itu?" North bersuara.
"Bagaimana jika kita berpikir sebaliknya?" Devian memainkan kacamatanya sambil melakukan hipotesa seperti biasa.
"Maksudnya apa?" Tanya Beng bingung.
"Maksudnya seperti, Yve terpaksa melakukannya. Mungkin dia diancam atau semacamnya." Jelas Devian.
"Masuk akal. Tapi kata Leo, mereka berboncengan. Apa menurutmu, Yve yang sedang diancam akan memperbolehkan si pengancam naik motor bersamanya? lagipula sikap Yve itu tegas seperti kak Beng, dia pasti akan memilih mengajak ribut dulu."
"Kalau untuk itu aku juga tidak bisa menebak." Devian mengusap dagunya dengan bingung.
"Aku tahu!" South tiba-tiba mengangkat tangannya dengan tinggi, dan sukses mencuri perhatian setiap orang. "Yve mungkin sedang menjalani misi khusus. Karena selama ini masih belum ada yang bisa mengawasi Lin dari dekat makanya dia yang menjadi pengawas."
"Benar juga, siapa tahu ini misi khusus dri tuan Bai Lian." Beng tersenyum gembira.
"Masalahnya, kenapa Yve lewat di depan cafe? bukannya itu jelas disengaja? kalau memang dia menjalani misi khusus yang tidak ingin kita semua tahu, seharusnya dia tidak melakukan itu kan?" North kembali mengeluarkan kritikannya.
"Apa mungkin... Sesuatu akan terjadi padanya? makanya dia sengaja melakukan itu agar Leo memberitahu kita?" Tebak South.
__ADS_1
Benar-benar unik, dua saudara kembar yang memiliki pemikiran berbeda. Yang satu percaya pada Yve, dan yang satunya lagi meragukannya.
"Aku akan memeriksa cctv di sekitar cafe Yve. Mungkin aku bisa menemukan petunjuk lain." Devian segera bangkit dari duduknya.