Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Semuanya Berlebihan


__ADS_3

"Lihat ini!" South dengan bangga menyodorkan seekor ngengat di depan Yve.


"Wow." Yve pura-pura terkejut.


"Tadi saat aku berada di atap, ada ngegat besar ini. Kasihan dia sendirian." South mengusap ngengat di tangannya dengan iba.


"Dia sedang berada di sarangnya dasar bodoh! Cepat kembalikan!" Bentak Beng.


"Tidak mau!" South mengantungi ngengat itu di dalam jas nya.


"Ngengat yang malang." North memulai kebiasaannya mengelap senjata.


"Oh iya adikku, tumben pagi-pagi kau sudah duduk di gazebo sendian. Pakai seragam sekolah pula. Mencurigakan." Beng melirik Yve yang sedang melepaskan kepangan rambutnya.


"Tadi di sekolah-" Yve menghentikan ceritanya. Ia baru teringat sesuatu.


Kalau kak Beng tahu aku dituduh mencontek padahal dia yang mengajariku, bisa-bisa dia datang ke sekolah dan membumi hanguskan tempat itu. Masalah sudah selesai, sebaiknya aku tidak usah menceritakannya.


"Aku tidak suka dengan pelajarannya. Jadi bolos."


"Wah nakal sekali. Ingat jangan sampai turun ranking. Atau aku akan memaksamu belajar semalaman agar mendapat ranking satu."


"Iya. Kak Beng cerewet seperti kakakku."


"Kak Beng perhatian sekali pada Yve. Dulu saat aku dan North masih sekolah, kau malah menyarankan kita memainkan alarm tanda kebakaran. Akhirnya kita dihukum lompat kodok mengitari sekolah." Ucap South dengan nada kesal.


"Siapa suruh kau mengikuti kata-kataku."


"Benar, kau yang bodoh." Yve ikut mengejek.


"Saat itu aku ingin menghentikannya, malah ikut dihukum." North menimpali.


"Kalian ini!" South nampak kesal.


Gazebo kecil itu kembali dipenuhi tawa. Suasana menyenangkan seperti dulu akhirnya kembali.


North yang sudah selesai membersihkan senjata, memberikan sebuah pistol pada South. "Ini, katanya kau mau latihan."


"Benar juga. Yve ayo ikut aku latihan." South berdiri sambil menarik-narik tangan Yve.


"Aku sedang menunggu seseorang. Kau latihan saja dulu. Nanti aku menyusul."


"Menunggu siapa?"


"Kak Devian." Jawab Yve sambil melihat sekitar untuk kesekian kalinya. Ia masih bertekad memukuli laki-laki itu.


"Kenapa mencari Devian?" Tanya Beng sambil meletakkan cangkir kopinya.

__ADS_1


Yve berpikir sebentar. Kira-kira alasan apa yang cocok agar mereka mau membantuku mengeroyok kak Devian tanpa mengatakan kejadian di sekolah tadi?


"Kak Devian yang menyuruhku bolos sekolah kalau tidak suka dengan materi pelajarannya."


"Sungguh perbuatan yang mulia. Baiklah, aku juga akan menunggunya." Beng tersenyum dengan niat terselubung.



Siang hari matahari semakin terik. Seorang laki-laki berjalan dengan riang gembira seolah tidak memperdulikan itu sama sekali. Ditangannya, sebuah kotak kue bergoyang seiring dengan langkah kakinya yang riang.


"Sip! Akhirnya aku tidak kehabisan cupcake edisi terbatas yang hanya dijual hari ini." Bernard cecengesan sambil mengusap kotak kuenya.


Perjalanan laki-laki itu untuk kembali ke sebuah rumah mewah terhenti, pemandangan absurd di depan gerbang rumah yang ditujunya membuat Bernard menahan tawa sebentar kemudian mendekati sumber yang dimaksud.


"Astaga Devian. Apa yang kau lakukan disini hahaha." Bernard tidak bisa menahan tawanya saat melihat teman sejawatnya ini.


Devian berdiri didepan gerbang rumah keluarga Bai sambil memakai kostum ikan koi dengan wajah yang babak belur. Di dahinya tertulis "Bukan ikan bakar."


"Berhenti tertawa. Atau aku akan memberikan kesialanku padamu."


Bernard seketika berhenti tertawa. Ekspresinya tiba-tiba berubah sedih. Devian tidak menyangka kalau ucapannya berhasil membuat Bernard benar-benar diam.


"Bicara tentang kesialan. Sepertinya aku orang yang paling sial disini."


"Benarkah? Apa kau tidak bisa melihat betapa sialnya aku?" Devian mengangkat kedua alisnya.


"Lalu?"


"Ini masalah patner bodyguardku." Bernard menatap kotak kuenya dengan sedih. "Aku menjaga pintu depan rumah keluarga Bai bersama Kurt, itu sangat menyenangkan. Tapi dia meninggal begitu cepat. Setelahnya, Arlo yang menjadi patnerku. Tapi dia juga meninggal beberapa hari kemudian. Apa menurutmu aku dirasuki dewa kematian?"


"Kau terlalu banyak berpikir." Devian mencoba menepuk bahu Bernard untuk menenangkannya. Tapi tangannya yang sekarang berubah menjadi sirip ikan sangat susah digerakkan.


"Tidak hanya itu. Karirku sebagai supir juga penuh kesialan. Ingat saat pertama kali Yve masuk menjadi bodyguard inti? Ada bom yang menempel di mobil, alhasil aku dan Yve yang mempertaruhkan nyawa untuk membuang bom itu. Ada lagi! Saat kasus mobil dikeroyok oleh banyak musuh. Saat itu aku ditugaskan menjaga tuan Bai Lian di dalam mobil, tapi entah kenapa dia babak belur dan Beng menyalahkanku karena tidak menjaganya."


Devian mengingat-ingat kembali kejadian yang dikatakan Bernard. "Kau benar. Sepertinya hidupmu penuh kesialan."


"Tuh kan!"


"Tapi... Kau terlihat sangat senang hari ini. Apakah kue yang kau bawa itu hasil kesialanmu?"


Bernard terdiam. Perkataan Devian menyadarkannya akan sesuatu. Sebenarnya bukan kesialan yang ia dapat selama ini, melainkan pengalaman baru yang mengubah hidupnya. Dimulai dari kasus bom yang pertama, ia dapat mengenal Yve yang seorang bodyguard baru dengan baik. Begitupun dengan yang lainnya. Sama seperti cupcake ini.


"Devian, kau benar!!!"


"Benar apanya?"


"Hehe aku masuk dulu ya. Selamat tinggal." Bernard buru-buru masuk ke dalam rumah dengan senyuman lebar.

__ADS_1


"Hei tunggu! Temani aku mengobrol! Aku seperti boneka iklan ponsel disini. Oi! Bernard!"


Devian berteriak sendiri, Bernard sudah tidak mendengarnya.


Bagus, sangat bagus. Paman Ping juga kenapa harus mengambil cuti? Aku sendirian disini. Baiklah Devian, pelajaran apa yang bisa kamu petik dari kejadian ini?



Hari mulai gelap. Sebuah mobil berhenti di depan cafe yang sudah memasang tulisan closed di pintunya.


"Disini?" Tanya North memastikan.


"Ya. Terimakasih North sudah mengantarku." Yve mulai melepas sabuk pengaman dan mengambil tasnya.


"Tidak masalah. Aku juga tidak memiliki kegiatan. Pilihanmu sangat tepat memilihku dibanding South. Dia itu berisik."


"Benar. Aku masih tidak percaya kalau kalian kembar. Hanya wajah saja yang mirip, sifatnya saling bertolak belakang."


"Bahkan aku sendiri juga bingung kenapa begitu. Mungkin campuran dari sifat orang tua kami."


Yve mengangguk. Sebenarnya ini pertama kalinya Yve hanya mengobrol berdua bersama North. Biasanya laki-laki itu sangat pendiam ketika berada di gazebo. Hanya tahu membersihkan senjata setiap hari. Dari belati sampai sniper semua dibersihkan dengan rutin. Sementara kembarannya cuma suka makan cemilan aneh, dan latihan menembak saja. North juga lebih sering menanggapi pembicaraan orang daripada membuka obrolan.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Hati-hati saat pulang nanti, kau tidak bisa berkelahi seperti South." Yve tersenyum jahil.


"Tapi aku sedikit lebih pintar darinya. Kalau ada preman yang menghadang di jalan, tinggal tabrak saja."


"Semoga berhasil."


Yve akhirnya keluar dari mobil dan berjalan mendekati cafe. Dibelakangnya, North juga pergi.


Baru saja masuk cafe, Tina langsung menarik tangan Yve dan membawanya ke salah satu meja untuk duduk bersama.


"Yve, aku ingin mengatakan sesuatu yang serius!"


"Tentang apa?" Yve menempelkan telapak tangannya pada dahi Tina. "Apa kakak sakit lagi?"


"Bukan itu!"


"Lalu?"


"Apa kau menjadi idola di sekolah?"


"Ha? Idola?" Yve menggaruk pelipisnya. Sejak kapan ia menjadi idola? Kalau bulan-bulanan sih iya.


"Tadi aku pergi ke sekolahmu. Baru masuk pintu gerbang, kepala sekolah menggelar kerpet merah untukku! Mereka bahkan memberikanku makanan mewah! Para guru juga bergantian memujimu. Yve, kau hebat!" Tina memeluk Yve dengan haru.


Ya ampun, mereka berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2