Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Sudah Ketahuan


__ADS_3

Saat sampai di rumah keluarga Bai dengan selamat. Yve segera memanggil Arlo yang kebetulan sedang menyapu di teras rumah. Dan dengan sigap, Arlo membawa tuannya yang sedang terluka itu untuk diobati.


Yve berinisiatif untuk mampir sebentar menemui teman-temannya di gazebo.


Saat sampai di tempat biasa para bodyguard berkumpul itu, Yve menangkap suasana tegang disana. Orang-orang seperti kebingungan akan sesuatu.


"Yo! Semua."


Mendengar sapaan itu, semua orang yang berada di gazebo menoleh.


"Yve adikku, kau sudah tidak marah lagi?" Beng segera menghampiri Yve sambil tersenyum.


"Aku tidak marah." Yve menggelengkan kepalanya.


"Habisnya kemarin kau diam saja. Diajak bicara juga tidak menjawab." South ikut berkomentar sambil memakan cemilannya.


"Aku hanya sedang fokus saja." Yve duduk di kursi gazebo bersama yang lain.


Kemarin, Yve terlalu terkejut dengan kematian Devian dan merasa kalau ia terlalu lemah untuk melindungi Devian. Bahkan mengawasi saja ia tidak bisa. Sampai tidak sadar siapa yang mengajaknya bicara kemarin.


"Sepertinya sekolah sudah dimulai ya?" Tanya Beng sambil duduk didepan Yve.


"Begitulah. Ini hari yang cukup melelahkan."


"Eh? Sudah mulai berangkat sekolah?! Apa kau mau beberapa cemilanku untuk dimakan saat istirahat?" Tawar South.


"Kalau rasanya tidak aneh, aku mau." Yve mengangguk sambil menatap jahil kearah South.


"Oh kalau itu sih tidak ada haha."


Yve hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada rumah mewah di dekatnya. Sampai sekarang, Yve masih bingung dengan keluarga mafia ini. Kenapa memilih pewaris seperti Bai Lian yang sangat payah itu? Bahkan dia bisa terjatuh dari motornya.


"Hei kak Beng."


"Ada apa adikku?" Beng melihat Yve sambil menyeruput kopinya.


"Kenapa Bai Lian terpilih menjadi boss mafia? Bukankah dia lemah? Boss mafia itu seharusnya begitu hebat layaknya di film bukan? Seperti kakek yang dulunya sangat kuat dan ditakuti."


Beng menaruh cangkir kopinya dan mulai berpikir. Sebenarnya ia tidak tahu kenapa. Tapi ia bisa menebak jalan pikiran tuan besarnya itu.


"Begini-"


"Itu kan pilihannya tuan besar. Kita mana paham." Sela South tanpa dosa.

__ADS_1


"Jadi kalian tidak tahu alasannya ya?" Yve mengangguk.


"Kurasa-"


"Benar, kami tidak tahu." Sekarang giliran North yang menyela Beng.


"Aku mau bicara!"


"Aaaa kabur." Melihat Beng emosi dua saudara kembar itu dengan kompak melarikan diri.


"Tenanglah kak Beng. Mereka cuma bercanda." Yve mengambil kopi Beng dan meminumnya.


Beng merasa semua adiknya sangat kurang ajar. Yang lain menyela kata-katanya, lalu yang satu ini malah mengambil kopinya tanpa permisi.


Setelah menghela nafas dengan berat, Beng mulai menjelaskan. "Tuan Bai Lian itu tubuhnya sudah lemah sedari kecil, jadi tidak bisa ikut latihan fisik. Tembakannya juga sering meleset. Dia juga tidak ahli dalam hal strategi. Awalnya, aku ragu kalau dia bisa hidup di dunia kejam ini."


"Benar-benar payah." Yve menggelengkan kepalanya dengan ekspresi iba.


"Kebalikan dari tuan Bai Lian, tuan muda kedua Lin sangatlah hebat. Meskipun sedikit bodoh. Tapi kekuatan fisiknya bagus. Dia pernah melawanku satu kali saat latihan, dan jujur saja aku kewalahan saat itu. Lalu dari segi senjata, dia sangat hebat memakai pistol dan belati. Saat dilatih strategi oleh tuan besar, idenya cukup bagus untuk mencari jalan keluar, sayangnya itu semua ide jahat."


Beng menatap cangkir kopi yang isinya sudah habis, lalu berekspresi sedih. "Entah kenapa, pada akhirnya tuan besar memilih tuan Bai Lian sebagai penerus. Dan membuat adiknya tidak terima, hingga memicu perselisihan sampai sekarang."


Yve mengangguk paham.


Pasti Lin sangat kesal dengan itu. Orang yang dia pikir sangat payah dan tidak pantas dijadikan saingan, malah menjadi pemenang diakhir. Sungguh tragis. Pantas saja dia bersusah payah membunuh Bai Lian.


"Sudah mau pergi?"


"Iya. Hari ini sangat melelahkan, jadi aku libur dulu. Besok baru latihan lagi. Lagipula ada mobil sampah yang harus kuurus." Untung saja Yve tidak lupa tentang mobil sampah yang ditinggalkan Bai Lian didekat cafenya. Kasihan kakaknya Tina jika pelanggannya kabur karena bau sampah.


"Mobil sampah?"


"Haha abaikan saja perkataanku kak Beng." Yve mengibas-ngibaskan tangannya.


"Oh iya. Kami masih berusaha mencari Devian. Kalau kau ada waktu, bantu kami mencarinya."


Yve tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Baik kak."


Seandainya kalian tahu kalau kak Devian sebenarnya sudah meninggal.


"Aku pulang dulu kak Beng." Yve segera beranjak.


__ADS_1


Disisi lain,


Arlo hendak kembali ke teras setelah mengantar Bai Lian ke kamarnya untuk diperiksa dokter pribadi.


Kenapa tuan Bai Lian bisa bersama Yve? Apakah benar kalau dia terkadang suka keluar diam-diam seorang diri?


Arlo menatap ponsel di tangannya. Baru saja ia mengirim pesan pada tuannya Lin tentang keadaan Bai Lian yang terbaru. Arlo selama ini adalah salah satu mata-mata Lin yang berjaga didekat Bai Lian. Tapi tentu saja posisinya lebih rendah jika dibandingkan dengan Levin, si tangan kanan Lin.


Levin sendiri yang memberikan posisi ini pada Arlo. Tangan kanan Lin itu, sudah memperkirakan jika Kurt meninggal, maka Arlo akan menjadi penggantinya. Dan ternyata benar, Beng memilih Arlo sebagai pengganti Kurt. Sejak saat itu, Arlo mengidolakan Levin yang sangat cerdas itu.


Seperti berjodoh, dari jauh Arlo melihat Levin yang berjalan mengendap-endap untuk pergi ke taman samping.


Idolaku sedang apa ya? Pasti merencanakan siasat lainnya. Aku akan mengikutinya. Siapa tahu bisa mendapat ilmu dadakan.


Arlo diam-diam mengikuti Levin.


Setelah sampai di taman samping dekat kolam ikan koi, Levin terlihat memeriksa sekitar lalu mengambil ponsel dari sakunya.


[Halo Devian. Kau sudah sampai? Aku kan memerintahkanmu untuk memberi kabar kalau sudah sampai]


Arlo seketika menutup mulutnya dengan kaget.


Devian masih hidup?! Bukankah Levin bilang sudah membunuhnya?


[Tidak mematuhi perintahku? Baiklah. Tapi tetap ikuti rencana kita.]


Rencana kita? Mereka saling berkerjasama?! Jadi Levin berkhianat?!


Sial! Aku mengidolakan orang yang salah! Lihat saja Levin! Aku akan melaporkanmu pada tuan Lin!


Arlo segera pergi dengan cepat.


"Siapa itu?!" Levin segera menoleh, tapi hanya keheningan yang menjawabnya.


Aku tadi mendengar suara langkah kaki. Apa ada yang menguping? Celaka! Aku sedang bicara dengan Devian.


Levin segera mematikan panggilan dengan sepihak.


Krak!


Levin membelah ponselnya sendiri menjadi dua bagian menggunakan lututnya. Satu potongan ia lempar ke dalam kolam ikan koi. Dan sisanya ia masukkan ke dalam kantong.


Gawat! Jika si bodoh Lin tahu aku berkhianat, rencana yang sudah kususun dengan matang selama bertahun-tahun akan gagal.

__ADS_1


Sudah sampai sini. Aku tidak akan mundur meski harus mati.


Levin kembali memasuki rumah.


__ADS_2