
"Lian, kurasa orang menyeramkan itu tahu." ucap Tharn saat memastikan Levin benar-benar sudah pergi.
"Itu berarti salahmu." Bai Lian bangkit dan mulai melepas perban di kepalanya. "Kalau benar-benar ketahuan, kepalamu yang akan kuamputasi."
Sontak Tharn memegang lehernya sambil merinding ketakutan. "Bu-bukan salahku!"
Kurasa ini benar-benar ada hubungannya dengan Lin. Apa Yve diperintahkan untuk mencelakaiku? tapi karena dia tidak tega, makanya menyuruhku berakting agar Lin tahu kalau rencananya berhasil?
Bai Lian menatap keluar jendela. Langit sudah mulai berubah warna. Sebentar lagi menjelang sore. Tidak terasa waktu begitu cepat berputar. Bai Lian ingin pergi keluar lagi, tapi itu akan menjadi momok menyeramkan bagi para bodyguardnya. Rasanya... hidupnya serba salah.
"Lian,"
Bai Lian menoleh kearah Tharn. Dan laki-laki itu menunjukkan ekspresi sedih.
"Kenapa?"
"Besok kau harus membuat acara berkabung."
"Aku tahu."
❀
Yve sedang berada di teras rumah Bai Lian sekarang. Ia menatap sapu yang tadi pagi digunakan oleh Kurt. Entah kenapa Yve tiba-tiba merindukan sosok itu.
Tadi Yve ingin menanyakan lagi keadaan Kurt pada Devian. Tapi si bodyguard 100 mata itu malah bilang nanti saja. Memangnya apa yang perlu ditutupi?
"Wahh apa yang kau lakukan didepan sini?"
Yve menoleh. Dan wajah Levin menyambut pandangannya.
"Bukan urusanmu." Yve mengambil sebatang rokok dari wadah, dan mulai menyalakannya.
"Sudah kubilang, seorang gadis tidak boleh merokok."
"Sudah kubilang, bukan urusanmu!" Yve pergi meninggalkan Levin dengan rokok yang bertengger di mulutnya.
Levin tersenyum sambil menatap punggung Yve yang kian menjauh.
Trik kecil dari orang kecil. Bubuk taro yang dijadikan lebam? konyol. Memangnya aku tidak memeriksa jok mobil sebelumya? kau menyembunyikannya seperti bocah, dasar Yvenia Guilieta. Sekarang mari kita lihat, apa yang akan tuan Lin lakukan padamu.
Levin berjalan kearah yang berlawanan dengan Yve. Ia mengambil ponsel dari dalam saku, dan mulai mengetik pesan untuk tuannya Lin.
Memang ini yang seharusnya, Levin kembali tersenyum.
__ADS_1
❀
Yve berjalan menuju gazebo. Dari kejauhan ia bisa melihat suasana suram yang menghiasi tempat itu. South yang biasanya ceria mendadak tidak bisa berekspresi, dia memegang kepalanya dengan frustasi. North yang biasanya sibuk dengan senjata, seperti tidak memiliki mood untuk bergerak. Apalagi Beng yang berdiri sambil melihat langit dengan wajah sedihnya.
"Mana kak Devian?" tanya Yve saat sudah berada di dekat Beng dan yang lain.
"Katanya dia ingin memeriksa cctv." jawab Beng dengan nada bicara yang tiba-tiba aneh.
"Kalian kenapa? hanya karena Bai Lian sakit, kalian menjadi sesedih ini?" Yve menghembuskan asap rokok dari mulutnya dengan santai.
"Yve, kak Kurt..." South tiba-tiba memotong kata-katanya, tangannya saling menggenggam dengan erat.
"Aku juga ingin menanyakan itu pada kak Devian."
"Kak Kurt meninggal."
deg!
Yve menjatuhkan rokok ditangannya. Ia terus menatap South lekat-lekat, mencoba memastikan kebohongan melalui wajah laki-laki itu. Tapi ekspresi South masih sama. Dia terlihat sangat sedih.
Duak!
Beng memukul salah satu pilar gazebo dengan kesal. "Ini pasti ulah tuan muda kedua, sial!"
Benar, itu pasti Lin. Tangan Yve mengepal.
Aku akan membalasnya. Aku akan membantu Bai Lian melenyapkan Lin. Dan menyelesaikan semuanya.
Yve mendekati Beng, "kak Beng, bolehkan aku pulang sekarang?"
"Boleh. Lagipula kau pasti lelah." Beng mengusap kepala Yve seperti biasa, dan adiknya itu hanya tersenyum tipis.
"Duluan." Yve pergi sambil melambaikan tangan pada teman-temannya.
Hanya berjalan beberapa menit, Yve sudah sampai di motor yang ia parkir tadi pagi.
Yve mulai memakai helm, dan tidak sadar ia menoleh kearah teras. Pagi tadi Kurt masih menyapanya dengan senyuman, dan masih sempat memuji penampilannya yang mirip laki-laki. Tapi sekarang, orang itu sudah tidak ada. Sapu yang sendirian itu masih tersandar rapi.
"Yve, sudah mau pulang?"
Suara Kurt yang sering menyapa ketika Yve akan pergi, berdengung di kepalanya.
Tenang saja kak Kurt. Aku akan membalas kematianmu berkali-kali lipat!
__ADS_1
Yve memakai helmnya, dan segera pergi dengan motornya. Ia ingin cepat-cepat pulang dan menenangkan dirinya sendiri.
Hari ini Yve melihat sendiri kecelakaan yang merenggut nyawa temannya. Dan ia harus pura-pura baik didepan dalang dari pembunuhan itu. Yve butuh waktu untuk mempersiapkan mentalnya. Belum lagi ia harus mengawasi apa saja yang dilakukan Lin.
Yve sampai di cafe tempatnya tinggal. Ia melihat Leo yang baru saja membalik tulisan open menjadi close. Saat Leo melihat Yve datang, dia langsung buru-buru keluar cafe dan mendekati Yve.
"Yve, katakan padaku, apakah itu benar?" Leo tiba-tiba mencengkram kedua bahu Yve.
"Itu apa?"
"Kurt. Dia benar-benar meninggal?"
Ternyata kabar itu sudah sampai di telinga Leo. Mungkin saja salah satu bodyguard yang merupakan temannya memberitahu.
"Ya itu benar." jawab Yve sambil membuka helmnya.
Leo tidak berekspresi terlalu sedih. Dia malah terkejut setengah mati. "Aku tidak terlalu dekat dengannya, tapi beberapa kali dia sempat menyapaku. Rasanya cukup sedih kalau mengetahui dia sudah tidak ada lagi."
"Yve! kalau sudah pulang langsung masuk!" teriak Tina dari ambang pintu cafe.
"Baik kak!"
Yve segera masuk cafe bersama Leo yang mengekorinya. Seorang laki-laki langsung mendatangi Yve saat tahu orang yang ditunggunya muncul.
"Yve, lihat! aku membawa roti isi abon kesukaanmu." Orion menyodorkan sebungkus roti kedepan Yve.
"Terimakasih. Taruh saja disana, akan kumakan nanti." ekspresi datar kebanggaan Yve, kembali ia perlihatkan.
Tangan Orion yang tadi menyodorkan roti seakan tidak memiliki tenaga lagi, dan turun secara perlahan. Gara-gara kesalahannya, gadis yang ia suka tidak lagi memandangnya.
"Kak Tina, aku lapar." Yve mendekati Tina yang sedang membereskan sampah.
"Mau kubuatkan nasi goreng?"
Yve merasa ngeri saat mendengarnya. Tiba-tiba bayangan padang garam muncul dibenaknya.
"Ah rasa laparku sudah hilang." ucap Yve cepat.
Karena tadi terlalu banyak pikiran, Yve merasa lapar. Tapi jika hanya ada nasi goreng buatan kakaknya, lebih baik merasakan kelaparan.
"Kau mandi saja dulu, lalu ganti baju. Lagipula apa-apaan dengan jas ini? kenapa kau memakai pakaian aneh seperti ini?"
Yve baru sadar kalau masih mengenakan setelan jas. Kemarin saat menjalani misi pertama, Yve masih ingat mengganti pakaiannya dulu sebelum pulang. Tapi karena pikirannya sekarang bagai bola benang kusut, ia sampai melupakan soal baju.
__ADS_1
"Ah ini..." Yve berusaha memikirkan alasan yang rasional. "Di bengkel ada tamu boss besar, jadi disuruh memakai pakaian rapi. Ini aku pinjam temanku."
Tina memiringkan kepalanya dengan bingung. "Haruskah orang bengkel melakukannya?"