Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Mimpi Masa Kecil


__ADS_3

"Ini dia."


Devian yang baru saja kembali setelah memeriksa cctv, datang membawa beberapa foto.


"Siapa orang ini?" Tanya Beng sambil menunjuk salah satu foto laki-laki.


"Namanya Orion. Dia terlihat beberapa kali berbicara dengan Levin. Orion ini adalah teman sekelas Yve." Ucap Devian sambil mengingat kembali data diri yang ia baca tadi.


"Fotonya tidak jelas." Komentar South melihat foto yang lain.


"Entah kenapa cctv didekat cafe Yve semuanya mati. Aku mendapatkan ini dari cctv gedung yang jaraknya sangat jauh dari tempat Yve. Di foto itu benar-benar Orion. Sayangnya sudut cctv yang kuambil ini sangat terbatas. Aku hanya melihat Orion bicara dengan Levin." Jelas Devian.


"Ayo kita temui si Orion ini." Beng mencengkram foto Orion. "Dari wajah polosnya, terlihat seperti orang yang mudah ditipu. Dia mungkin sudah diperdayai Levin."


"Maksudnya apa?" Tanya South bingung.


"Mungkin saja dia dijadikan alat tawar menawar agar Yve berada di pihak Levin." North mencoba menjabarkan.


"North benar. Ayo kita pergi." Beng memimpin jalan dan teman-temannya mengikuti.



Di tempat lain.


"Hahaha tambah lagi minumannya!" Teriak Lin yang sudah mabuk tak terkendali.


Yve dan Levin hanya melihat dari seberang meja tempat tuannya itu duduk dan menikmati hidangan. Mereka berdua juga tidak bicara satu sama lain setelah pertengkaran tadi.


Ya ampun! Ini hampir tengah malam. Dan aku masih tidak diperbolehkan pulang. Yve mendengus dengan kesal.


Lin yang sudah mabuk tiba-tiba menatap Yve. Dia tersenyum dengan tatapan mata yang ingin memakan gadis itu. Yve sendiri tidak sadar karena sibuk melihat jam dinding dengan kesal.


Gawat, tatapan tuan Lin itu... Levin yang sadar segera mencari cara untuk mengalihkan fokus bossnya yang sedang mabuk berat.


"Tuan, tadi saya lihat pemilik tempat ini menyembunyikan minuman kesukaan anda."

__ADS_1


"Benarkah?!" Lin langsung murka dan berdiri dari tempatnya duduk. "Harus kuberi pelajaran." Lanjutnya sambil berjalan menuju bagian dapur.


"Hei kau!"


Yve yang merasa terpanggil, menoleh kearah Levin.


"Pulang sana. Kau sangat tidak berguna disini!" Ucap Levin dengan nada tidak suka.


"Kau pikir aku sukarela berada disini? yang benar saja. Aku senang jika disuruh pergi." Yve berjalan menjauh dan keluar restoran.


Levin buru-buru melihat kearah jendela, memastikan gadis itu pergi dengan selamat. Dan setelah melihat Yve berkendara dengan motornya menjauhi restoran, barulah Levin menghela nafas lega.


Syukurlah dia berhasil pergi.



Di sebuah terowongan dibawah jalan tol yang gelap, sesekali terdengar suara orang yang sedang berteriak dari dalam. Terowongan yang sedang melalui masa renovasi itu, nampak sepi tanpa adanya pengendara yang lewat


Brak!


Sebuah cone terlempar dan hampir mengenai seorang laki-laki yang sedang berdiri ketakutan.


"Ti-tidak mau." Orang yang sedang ketakutan itu menjadi gagap saat melihat orang yang memarahinya berekspresi seperti iblis.


"Beng, jangan terlalu kasar." Devian menepuk bahu Beng untuk meredakan amarahnya.


"Dia sangat menyebalkan! dari tadi tidak mau bicara apapun." Beng menunjuk Orion dengan geram.


"Biar aku yang bertanya." South dengan bangga mendekati Orion yang masih ketakutan. "Adik tampan, ayo cepat katakan pada kami kenapa Yve bisa bersama Levin. Kalau kau tidak bicara, aku akan memasukkan peluru kaliber 5,56mm ke dalam kerongkonganmu." Ucap South penuh kelembutan.


"Sepertinya itu juga tidak membantu." North menunjuk Orion yang semakin ketakutan. Bahkan saking takutnya dia tidak berani bicara apapun.


"Kalian ini. Kita bisa bertanya baik-baik." Sekarang giliran Devian yang berjalan mendekati Orion.


Melihat orang pertama dan orang kedua selalu bicara dengan menakutkan, Orion sudah ketakutan dulu sebelum Devian bertanya.

__ADS_1


"Tenang saja, aku tidak seperti mereka." Devian tersenyum sambil membenahi kacamatanya. "Melihatmu yang ingin menyimpan informasi itu rapat-rapat, berarti kau sedang diancam bukan? katakan padaku, kalau kau membeberkannya, maka apa yang akan terjadi?"


Orion yang merasa Devian sedikit bersahabat, akhirnya menjawab "ka-katanya Yve akan mendapatkan masalah."


"Begitu ya." Devian mengangguk. "Kau tenang saja, karena kami adalah teman Yve. Kami bisa memberantas orang yang mengancam Yve dengan mudah. Kau hanya perlu bercerita dengan detail."


"Teman? tidak mungkin!" Orion tiba-tiba berteriak, dan membuat semua orang terkejut. "Yve memang terkesan seperti berandalan, tapi teman-temannya adalah orang baik. Tidak mungkin kalian yang sangat sadis dan kasar ini adalah temannya. Aku tidak ingin dibohongi lagi!" Tangan Orion mengepal. Ia mencoba mengumpulkan keberaniannya dengan meremas tangannya kuat-kuat.


"Dibohongi lagi?" Beng kembali mendekati Orion. "Tebakanku benar. Apa kau dibohongi oleh Levin sebelumnya? Jangan katakan kalau... Yve berada dipihak mereka karena menyelamatkanmu yang sudah dibohongi ini." Beng terlihat lebih emosi dari sebelumnya.


Orion terkejut mendengar tebakan Beng yang benar itu. Ia semakin gelagapan dan takut menjawab. "Be-benar... aku tertipu, dan Yve... demi menyelamatkan aku yang bodoh ini, dia..."


Bugh!


"Kak Beng tenanglah!" South dan North menjauhkan Beng agar tidak memukul Orion lagi.



Levin berjalan memasuki pekarangan rumah keluarga Bai. Ia berjalan menuju kamarnya yang terletak dibagian belakang rumah besar itu.


Saat melewati gazebo, Levin sedikit heran karena suasananya sangat sepi. Biasanya, meskipun sudah malam, pasti masih ada tanda-tanda kehidupan disana. Terutama para bodyguard inti. Kadang ada Beng yang sedang push up, atau Devian yang sibuk dengan tabletnya.


Meskipun heran, Levin tidak terlalu mengambil pusing dengan itu. Ia tetap lanjut berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Levin duduk dengan malas di ujung ranjangnya. Hari ini begitu melelahkan baginya.


Dengan tubuh yang terasa berat, Levin mulai merebahkan diri diatas kasur. Tangganya mencoba meraih sesuatu diatas meja kecil disampingnya. Itu adalah bingkai foto dengan gambar seorang anak kecil yang sedang membawa buku dan tersenyum kearah kamera. Itu adalah dirinya saat berusia 7 tahun.


Levin tersenyum saat melihat sosok lain di foto itu. Seorang gadis cilik dikejauhan yang tidak sengaja terjepret oleh kamera.


"Yve kecil sangatlah imut." Levin mengusap pipinya yang masih terasa sakit. "Sekarang dia berubah menjadi gadis yang kuat. Pukulannya sangat sakit." Levin terkekeh sebentar kemudian menaruh foto itu kembali ke tempatnya.


"Namaku Yvenia Guilietta, ingat itu ya, dasar bodoh!"


Levin kembali tersenyum saat mengingat kata-kata yang diutarakan oleh Yve saat masih kecil padanya.

__ADS_1


"Aku mengingatmu. Tapi kau tidak mengingatku." Levin mulai memejamkan matanya. Ingatan tentang masalalu itu, terasa seperti sebuah mimpi yang sangat indah, dan ia berharap mimpi itu bisa menjadi kenyataan.


Dulu, sangatlah menyenangkan. Sekarang, duniaku hanya dipenuhi kotoran. Entah sudah berapa banyak nyawa yang kurenggut. Yve... aku masih sama seperti dulu, menjadi boneka tangan dari orang-orang yang memuakkan.


__ADS_2