
"Ssttt! Jangan keras-keras. Mereka masih ada di luar." Bai Lian sepontan menaruh telunjuknya di bibir Yve.
"Baiklah, tapi kenapa kau bisa kesini?" Yve menyingkirkan tangan Bai Lian dan menggenggamnya dengan khawatir.
"Aku ingin melihatmu. Rasanya tidak tenang hanya menunggu kabar dari rumah. Aku sudah berusaha kabur, tapi Max sangat hebat, dia selalu memergokiku. Akhirnya setelah memohon, dia mengijinkanku pergi dengan menyamar sebagai dokter. Waktuku tidak banyak, Max menunggu di tempat parkir." Bai Lian mulai duduk di depan Yve.
"Seharusnya jangan kesini. Bagaimana kalau kau diserang? Tidak ada bodyguard inti yang membantumu."
"Tidak apa-apa. Itu sepadan dengan melihatmu baik-baik saja." Bai Lian tersenyum sambil mengusap kepala Yve.
Sial! Kenapa dia mengatakan hal yang memalukan lagi? Yve membuang muka yang mulai memerah.
"Oh iya. Maaf, ini salahku. Seharusnya aku menyadari pot itu lebih dulu, jadi bisa menghindar sendiri. Aku benar-benar tidak berguna."
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Bukankah itu memang tugasku? Seorang bodyguard harus mengorbankan diri untuk keselamatan tuanya."
Bai Lian menunduk dengan ekspresi sedih. Ternyata Yve masih menganggap hubungan mereka sebagai tuan dan bawahan. Kapan pikirannya akan berubah? Apakah perlakuannya belakangan ini tidak cukup membuat gadis itu sadar, kalau sebenarnya ia sangat mencintainya.
"Benarkah?" Kini Bai Lian menatap Yve dengan serius.
"Apanya?"
"Benarkah itu yang kau pikirkan saat menyelamatkanku?"
Yve terdiam. Tentu saja bukan. Tapi ia bahkan tidak tahu itu apa. Haruskah ia mengatakan alasan yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu kenapa.
Yve menghela nafas, ia tetap harus mengatakannya.
"Mungkin orang lain akan menjawab, kalau orang yang diselamatkan terlalu penting baginya. Sangat penting sampai ketika mengalami bahaya juga tetap memilih untuk mengorbankan nyawa sendiri."
Yve tersenyum dan balas menatap Bai Lian. "Tapi aku bukan orang yang seperti itu."
Bai Lian yang tadinya senang mendengar jawaban Yve, seketika berubah sedih. "Hah? Lalu kenapa-"
"Saat berada dalam situasi bahaya, aku sama sekali tidak sempat berpikir. Hanya secara naluriah ingin menyelamatkanmu. Bahkan ketika sudah sadar pun, aku tetap senang melihatmu baik-baik saja. Dan pada saat itu juga, aku baru menyadari ternyata kedudukan seorang Bai Lian telah menjadi begitu penting di hatiku."
__ADS_1
Mendengar pengakuan seperti itu dari Yve, membuat Bai Lian ingin meloncat kegirangan sekarang. Tapi disatu sisi ia tidak ingin menghancurkan momen ini dengan tingkah kekanakannya.
"Be-berarti, kau menganggapku spesial?"
"Entahlah, aku tidak tahu." Yve mengangkat bahunya.
Seharusnya aku sudah menduga ini. Yve masih belum peka.
Apakah aku harus mengatakannya? Agar dia paham? Disini? Saat ini? Arghh!!! Aku hampir gila.
Bai Lian menggaruk kepalanya dengan kasar.
Yve melepaskan tangan Bai Lian yang ia genggam tadi, "Sudah saatnya kau pulang. Jika terlalu malam-"
"Aku menyukaimu."
Deg!
Yve mengerjapkan matanya yang melotot karena terkejut. Ia melihat Bai Lian lekat-lekat seolah tidak percaya. "Kau... Tadi bilang apa?"
"Aku menyukaimu. Apa masih tidak paham? Aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu. Aku ingin melewati sisa hidupku bersamamu. Aku hanya ingin kau yang menjadi pendamping hidupku. Sudah paham?"
Tapi entah kenapa ada perasaan senang yang mulai ia rasakan. Bahkan lebih senang daripada saat dibelikan motor oleh Bai Jun. Rasa senangnya tidak bisa ia deskripsikan.
Kenapa aku senang sekali? Jangan-jangan... Ini perasaan yang sama?
"Kenapa diam? Jangan bilang masih tidak paham. Aku sudah semalu ini, keterlaluan kalau masih tidak paham." Bai Lian menutupi wajahnya sambil menunduk.
Yve tersenyum. Ternyata boss mafia juga bisa menunjukkan ekspresi selucu ini. Wibawanya akan hancur kalau ada bodyguard lain yang melihat.
"Angkat kepalamu. Aku-"
Drrrtt!
Ponsel Bai Lian tiba-tiba bergetar.
__ADS_1
"Pasti dari Max." Bai Lian mengecek ponselnya, lalu menghela nafas berat. "Aku harus pergi sekarang."
Eh? Aku kan belum menjawabnya.
Ketika Bai Lian hendak pergi, Yve menarik tangannya. Padahal Yve sendiri tidak tahu kenapa ia melakukannya.
"Tinggal lah sebentar lagi."
Bai Lian terkejut dengan permintaan Yve. Tentu saja ia juga ingin berlama-lama dengan gadis tercintanya. Tapi Max sudah mengirim pesan untuk segera pulang. Perjalanan pulang akan berbahaya jika terlalu malam, apalagi mereka hanya berdua. Dan menginap di rumah sakit juga bukan jalan keluarnya. Orang yang mengincar nyawa seorang boss mafia tidak pandang bulu. Bisa-bisa orang lain yang tidak bersalah di rumah sakit ini dijadikan sandera pertukaran untuk nyawanya. Hidupnya sangat rumit.
"Maaf. Aku harus pergi sekarang." Bai Lian terpaksa melepaskan tangannya, dan buru-buru keluar ruangan sambil mengenakan masker.
Yve terdiam menyaksikan pintu yang menutup dan menelan sosok Bai Lian. Kenapa rasanya sangat menyedihkan saat orang itu pergi? Padahal biasanya tidak begini.
"Sudah selesai periksanya? Dokternya tadi tidak sopan sekali main pergi saja. Tidak bilang pada kami bagaimana perkembangan lukamu." Gerutu Beng sambil masuk dengan menggendong tiga orang yang sedang tidur sekaligus.
Itu Bai Lian dasar bodoh! Kalau dia tahu kau mengumpatinya, pasti akan disuruh menguras air kolam renang dengan tangan.
Devian satu-satunya orang yang tahu, hanya diam.
"Yve, apa kau lapar? Kian mengirimkan pesan padaku, apa kau ingin dibawakan nasi goreng?" Leo memperlihatkan ponselnya yang berisi pesan pada Yve.
"Terserah." Jawab Yve ketus, sambil menyandarkan tubuhnya pada bantalan ranjang.
"Ck! Dasar perempuan. Ditanya mau makan atau tidak, jawabannya malah terserah. Memangnya aku cenayang yang bisa membaca pikiranmu?" Gerutu Leo yang ia pikir tidak akan didengar Yve.
"Leo, kau bilang apa?" Yve tersenyum bak iblis.
"Ah itu... Malam ini dingin ya, hehe." Leo cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.
Yve memilih tidak ingin berdebat. Ia masih teringat pada Bai Lian.
Berarti saat bertemu dengan Bai Lian selanjutnya, aku harus menjawab pernyataannya tadi?
Aku harus menjawab apa?
__ADS_1
Sebenarnya... Apa yang kurasakan ini? Saat dia mengatakannya, terasa berbeda dari Levin sebelumnya.
Apakah ini... Yang disebut cinta?