
Yve sudah selesai dengan sekolahnya. Sekarang ia tengah dalam perjalanan pulang melewati gang sempit yang nantinya akan tembus di belakang cafe.
Hari ini semuanya sangat menyebalkan. Dimulai dari paginya yang bertemu Titania, sampai guru sialan yang mengiranya mencontek di ujian sebelumnya. Padahal ia tidak berada di ranking 5 besar, tapi orang-orang sudah heboh. Rasanya Yve ingin memukul seseorang untuk melampiaskan semua kekesalannya.
"Berhenti!"
Yve tersenyum, dan melihat pemilik suara menyebalkan yang familiar itu. Titania sekarang menghadangnya dengan ekspresi wajah marah.
Lihat, samsak datang dengan sukarela.
"Kenapa malah senyum-senyum hah?!"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, ini adalah waktu yang tepat untuk bertemu denganku." Yve kembali tersenyum dan menunjukkan mata bulan sabitnya.
"Kak lihatlah! Menyebalkan bukan?"
Hm?
Di samping Titania sekarang, berdiri seorang laki-laki dengan tubuh tinggi tanpa otot seperti galah. Pakaian jeans sobek-sobek yang dikenakannya, membuat kulit pembalut tulang itu semakin nampak jelas. Tapi dari gelagatnya, sudah jelas kalau dia adalah preman jalanan. Dengan tubuh kurusnya, Yve menebak kalau orang itu hanya bisa menodong wanita lanjut usia dan anak-anak. Kalau laki-laki dewasa pasti akan tertawa melihat tubuhnya.
"Oh jadi ini yang mengganggu adikku! Belum tahu ya kalau aku adalah Mark, pemegang tempat ini."
Yve berusaha menahan tawanya. Orang ini memegang tempat? Yang benar saja.
"Pukul dia kak! Aku sudah muak!" Teriak Titania dengan nada penuh emosi.
"Tenanglah adikku sayang. Kakakmu yang hebat ini akan membuatnya babak belur." Mark menepuk dadanya dengan bangga. Yve melihatnya dengan miris, untung saja tulang rusuknya tidak lepas.
Mark berjalan mendekati Yve dengan angkuh. Ekspresinya yang seperti orang optimis menang, membuat Yve semakin tidak tahan untuk menahan tawa.
Oke, ini cukup menghibur.
"Rasakan ini!" Mark melayangkan pukulannya.
Bugh!
Klontang!
Yve memukul Mark dan membuatnya terpental hingga menabrak beberapa tong sampah.
Ya ampun tubuhnya ringan. Aku khawatir orang ini kurang gizi.
"Kakak!" Titania langsung mendekati kakaknya yang tiba-tiba saja sudah tidak bergerak.
Pingsan?
"Kakak! bertahanlah kakak!" Titania menggoncangkan tubuh kakaknya.
Melihat kakaknya tak menjawab panggilannya, Titania beralih menatap Yve. "Beraninya kau menyakiti kakakku!!!"
__ADS_1
"Tentu saja berani. Kenapa tidak berani?" Yve tersenyum kemudian berjalan mendekati Titania.
Ekspresi wajah Titania mulai berubah ketakutan. Kakaknya yang selama ini ia anggap kuat kalah dengan gadis cupu hanya dengan satu serangan. Lalu sekarang, orang menyeramkan itu menuju kearahnya. Pasti akhirnya sangat tidak baik.
"Jangan mendekat!" Titania mundur perlahan dengan keringat dingin yang mulai muncul di pelipisnya.
"Kenapa aku tidak boleh mendekat? Itu terserah aku bukan?" Seringai menakutkan muncul kembali di bibir Yve.
"A-aku akan meminta kak Soni untuk membalasmu!!!" Titania mulai panik saat punggungnya sudah besentuhan dengan dinding bangunan di balakangnya.
"Mencariku?" Soni tiba-tiba muncul entah dari mana. Bajunya juga secara ajaib sudah berganti dengan kaus. Bisa ditebak kalau ia bolos tadi.
"Kak Soni! Tolong kak! Si cupu ini membuat masalah denganku. Bahkan dia memukul kakakku sampai tidak sadarkan diri!"
"Aw." Soni melirik laki-laki malang yang sudah becampur dengan sampah yang berserakan.
Sungguh malang nasibnya. Wahai kakak, jika kau mati, semoga bisa tenang disana.
"Sayang! Kenapa diam saja? Ayo cepat hajar orang ini!" Pekik Titania tak sabar. Ia yakin kalau pacarnya yang sudah kelas tiga, dan terkenal kuat itu bisa melindunginya.
"Aku tidak berani." Soni menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
"Apa yang kak Soni katakan?!"
"Yve itu dewi ku. Aku yang menjadi bawahannya sudah cukup senang." Soni mendekati Yve dan berdiri dibelakangnya. Sama seperti saat mereka berada di area balap liar.
"Menjadi bawahan?" Mulut Titania terbuka lebar. Ia tidak tahu lagi harus menanggapinya bagaimana.
"Berhentilah membual." Yve meliris Soni dengan sinis.
"Haha ampun."
"Tidak mungkin..." Kaki Titania tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri. Ia terduduk lemas diatas jalan.
Tamatlah sudah. Titania juga sering membully Yve di sekolah. Pasti sekarang Yve akan membalasnya.
"Pergilah."
"Eh?" Titania menatap Yve dengan tidak percaya. Aku bisa lolos?
"Tapi jika kau menggangguku di sekolah lagi. Maka riwayatmu akan tamat. Dengan cara yang lebih menarik dari kakakmu."
Titania berusaha menelan ludahnya yang tiba-tiba saja terasa sulit.
"Te-terimakasih." Setelah mengatur rasa ketakutannya, Titania buru-buru lari meninggalkan Yve.
"Astaga kakaknya ditinggal." Soni menunjuk Mark yang masih tergeletak.
"Biarkan saja." Yve mulai berjalan menjauh, dan Soni mengikutinya. "Kau mau apa kemari?"
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin mengunjungimu. Tapi siapa sangka di jalan menemui hal seperti tadi haha." Soni berjalan dengan santai di sisi Yve dengan tangan yang menyangga kepalanya di balakang.
❀
"WOAAAH!!!" Soni terkesima melihat motor Yve. Ini pertama kalinya ia melihat langsung motor yang sebelumnya pernah Yve ceritakan melalui pesan.
"Biasa saja lihatnya."
"Benar-benar bagus! Kalau tidak salah, ini mirip seperti yang dipakai raja jalanan Nord kan?"
Yve baru sadar kalau Levin memakai motor yang sama saat melawannya beberapa waktu yang lalu. Jika saja Soni tidak mengatakannya, pasti Yve tidak akan sadar.
"Eh ada..." Tina yang baru saja masuk cafe setelah membeli beberapa barang, terkejut dengan keberadaan Soni. Ia masih tidak suka dengan bocah itu. "Soni ya."
"Halo kakak. Lama tidak berjumpa." Soni menundukkan kepalanya dengan sopan. Meskipun begitu, Tina masih saja menatapnya tidak suka.
"Yve ganti bajumu dulu. Jangan memakai seragam terus menerus." Tina sengaja mengabaikan perkataan Soni.
Sebenarnya Tina tidak pernah bersikap sekejam itu pada orang. Tapi Soni pantas menerimanya! Karena dia, Yve jadi ikut-ikutan balap liar.
"Baiklah, aku pergi ke kamar dulu." Yve menaiki tangga dan meninggalkan Soni.
"Silahkan duduk dimana saja. Tidak dikasih minum ya, tidak ada minum soalnya." Tina masih tersenyum dengan lembut meskipun ekspresinya bertolak belakang dari apa yang dikatakannya.
"Ah i-iya tidak masalah kak."
Tina akhirnya pergi menuju dapur untuk menaruh barang bawaannya. Soni yang tidak melihat adanya tempat duduk, memilih untuk duduk diatas motor Yve.
Gila bagus banget motornya. Aku kalau nabung 3 tahun pun tidak akan mendapatkannya. Kakak juga jarang memberi kabar. Kira-kira Yve dapat uang dari mana bisa membeli motor ini ya?
"Ehem!"
Suara dehaman yang sengaja itu membuat angan-angan Soni tentang motor buyar. Saat menoleh, seorang laki-laki dengan tubuh tinggi berada didepan Soni sekarang.
Mata biru dan sangat tajam itu seperti memberikan hipnotis pada Soni untuk menyuruhnya pergi dari motor yang sedang didudukinya.
"Ha-halo." Soni buru-buru turun dari motor Yve.
Siapa orang ini? Tingginya bahkan melebihiku. Warna matanya biru, dan kulitnya putih. Apa dia berdarah campuran?
"Dimana Yve?" suara yang tegas dan sedikit dingin itu terkesan menakutkan.
"Di-dia sedang ganti baju."
"Kau bicara dengan siapa Soni?" Yve menuruni tangga dengan pakaian yang sudah berganti.
"Ah, aku bicara dengan temanmu."
"Teman?" Setelah benar-benar sampai dibawah. Yve segera melihat siapa yang dimaksud Soni.
__ADS_1
Yve seketika melotot melihat orang didepan Soni. Otak gadis itu tidak bekerja selama beberapa detik, dan matanya terus berkedip untuk memastikan sosok didepannya bukanlah ilusi.
"BAI LIAN?!"