
"Untuk bab selanjutnya, kita akan membahas tentang..."
Yve setengah tidur mendengarkan gurunya yang sedang mengajar. Ia semalaman tidak tidur dan kakaknya tetap memaksanya berangkat sekolah. Alasan sang kakak pun tidak logis, yaitu idola sekolah tidak boleh memberi contoh buruk. Memang siapa yang idola sekolah?
"Baiklah. Yve, coba katakan maksud dari pertanyaan halaman 147 ini." Tiba-tiba guru yang terabaikan itu menunjuk Yve.
"Em... Hoaaammm..." Yve menggaruk kepalanya sambil menguap. "Tidak tahu."
"O-oke tidak masalah." Guru itu melihat murid lainnya dan menunjuk secara acak. "Kamu! Cepat jelaskan."
"Tidak tahu juga." Murid itu meniru Yve.
"Dasar bodoh! Tadi kan sudah diterangkan. Ayo cepat berdiri di lorong!" Bentak guru itu.
Yve tersenyum sinis. Sekarang ia tidak diperlakukan seperti itu lagi. Semuanya berkat Devian dan kekuasaan Bai Jun. Meskipun harus menerima tatapan tajam teman sekelasnya, itu tidak masalah. Yang terpenting, tidak ada lagi kaki pegal karena berdiri di lorong.
"Anu... Yve." Suara halus dari pemilik bangku di samping Yve terdengar.
"Kenapa?" Tanya Yve tanpa melirik Orion.
"Guru tadi tidak memarahimu, dan senyumnya terlihat dipaksakan. Sikapnya terlalu baik. Apa yang terjadi tempo hari?"
"Bukan urusanmu." Yve menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan memulai tidurnya.
Mendengar jawaban itu Orion tidak bisa berkata banyak. Ia membiarkan Yve tidur sambil melihat rambut belakang gadis itu yang tidur membelakanginya.
Pelajaran kembali berlangsung. Semakin lama Yve semakin hanyut dalam tidurnya. Tubuh lelah setelah adegan kejar-kejaran tadi malam benar-benar membuatnya semakin lelap tertidur. Hingga tidak terasa waktu istirahat sudah tiba.
Seperti sebelumnya, Yve terbangun karena bunyi bel tanda istirahat. Ia mengerjap-ngerjapkan mata sambil melihat sekeliling. Entah kenapa kelasnya sangat ramai. Biasanya di jam seperti ini mereka akan pergi ke kantin atau sibuk tebar pesona ke kakak kelas. Tapi kenapa hampir semua penghuni tidak ada yang keluar? Dan mereka terlihat antusias membahas sesuatu.
"Kau sudah lihat laki-laki tampan di gerbang sekolah?"
"Iya tampan sekali! Baru turun dari mobil tuh. Yuk samperin."
"Lihat dari jendela aja bisa nih!"
"Mana? Mana?"
"Aku juga mau lihat."
Yve menggaruk kepalanya lalu menguap. Ia mulai terbiasa dengan sikap centil gadis-gadis di kelasnya. Meskipun mereka sudah memiliki pacar, pasti akan pindah haluan ketika melihat laki-laki yang lebih tampan. Dasar sampah.
"Yve, apa kau mau roti isi abon? Ini merk kesukaanmu." Tangan Orion terulur dan menyodorkan sebuah roti di hadapan Yve.
"Tidak. Terimakasih." Jawab Yve acuh, lalu berdiri dari bangkunya, dan berjalan menuju pintu kelas.
Ternyata di luar kelas, keadannya serupa dengan yang ada di dalam kelas Yve. Orang-orang terlihat histeris akan sesuatu, dan buru-buru berlari di lorong seolah dikejar T-Rex.
Mereka semua kenapa?
Ah masa bodoh! Aku ingin bolos di ruang kesehatan saja. Lanjut tidur dan bermimpi indah.
Yve kembali berjalan sambil melamun.
Kira-kira setelah kuantar tadi, Bai Lian melakukan apa ya? Apa dia bekerja lagi? Dia terlalu memaksakan diri.
Aduh, kenapa aku memikirkannya?
__ADS_1
Yve memukul kepalanya sendiri sambil terus berjalan.
"Yve!!!"
Sebuah teriakan yang melengking memanggil Yve dari arah lorong. Orang-orang yang tadinya membicarakan sesuatu yang tidak jelas, mulai teralihkan pada sosok Soni yang memanggil Yve sambil berlari secepat kilat.
"Yve! Yve!"
"Apa-apaan kau? Aku bahkan mendengarmu dari jarak seratus meter." Ucap Yve saat Soni sudah berdiri di depannya sambil terengah-engah.
"I-itu... Di... Gerbang sekolah..." Soni bicara terputus-putus sambil mencoba mengatur pernapasannya.
"Kenapa?"
"Ada... I-itu..."
"Ck! Bicaramu tidak jelas. Sudahlah, aku ingin bolos di ruang kesehatan. Ikut tidak? Kau bisa bermain game sambil menungguku tidur." Yve kembali berjalan menuju ruang kesehatan.
"Tapi di gerbang sekolah ada pacarmu! Bai Lian!!!"
"Apaaaa?!"
Jangan-jangan yang dibicarakan orang-orang di kelas itu... Bai Lian?
Yve buru-buru memasuki kelasnya lagi. Ia menuju jendela yang katanya bisa memperlihatkan orang tampan yang ada di gerbang.
"Minggir! Minggir!" Yve dengan mudah mendorong teman sekelasnya yang memadati jendela. Setelah itu melihat kearah gerbang sekolah. Dan seperti apa yang dikatakan Soni. Disana ada Bai Lian yang berdiri dengan angkuh, di kanan kirinya berdiri Beng, South, North, dan Devian. Dia tampak marah. Yve baru sadar kalau di depan Bai Lian ada kepala sekolahnya yang sedang membungkuk dengan ketakutan.
Apa-apaan mereka?
"Sembarangan! Ini bahkan belum waktunya pulang sekolah!"
"Ayo ke bawah dan menyapanya." Ajak Soni sambil menunjuk Bai Lian.
"Ide bagus. Aku akan menyapanya." Yve melepas sepatu dan tersenyum.
❀
"Maafkan saya tuan. Saya tidak tahu kalau Yve adalah orang anda. Saya sudah meminta maaf juga pada Yve."
Seorang kepala sekolah membungkuk di depan Bai Lian. Ia tahu kalau sekarang hampir seluruh murid menyaksikannya dari berbagai sudut sekolah, mengingat posisinya yang berada di dekat gerbang. Tapi saat ini rasa malu harus ditahan dulu. Nyawanya mungkin tidak akan selamat.
"Wajahmu memuakkan." Bai Lian melipat tangannya, lalu melirik Devian. "Siapa dia?"
"Jawab tuan. Dia adalah kepala sekolah Yve. Sudah menjabat sebagai kepala sekolah selama 10 tahun. Memiliki 1 istri sah, 2 selingkuhan, 3 anak sah, dan 2 anak dari selingkuhan. Melakukan korupsi selama 7 tahun terakhir. Dan menerima uang suap dari orang tua murid yang kebanyakan melakukan pembullyan agar anaknya tidak menerima hukuman, dan acuh pada korban. Dia juga membiarkan wali kelas menampar Yve." Jelas Devian sambil membenahi kacamatanya. Sementara sang kepala sekolah hanya menunjukkan ekspresi terkejut. Dia tidak percaya kalau rahasianya bisa terbongkar.
"Seret dia. Bawa ke penjara bawah tanah dan pukuli selama seminggu. Ayahku menanam saham disini bukan untuk memberinya uang jajan."
"Laksanakan." Beng menjentikkan jarinya, dan dua bodyguard lain datang untuk menyeret kepala sekolah itu.
"Tidak tuan. Ampuni saya!"
Bai Lian memalingkan wajahnya dengan acuh. Tapi ia tidak sengaja bertatapan dengan seorang gadis berkepang dua yang berdiri di kejauhan.
Ada Yve!
Yve mengangkat sebelah sepatunya dan melemparkannya dari jauh.
__ADS_1
Tuing...
Duk!
"Aduh!" Devian memegang kepalanya yang terkena lemparan maut.
"Lihat! Itu Yve!" South langsung berlari menghampiri Yve.
"Adikkuuu." Beng ikut meninggalkan Bai Lian dan mendatangi Yve.
"Kalian kenapa kesini?" Tanya Yve sambil menatap Bai Lian.
"Kata kak Devian, kau di bully di sekolah. Tuan langsung mengajak kami kemari." Jawab South sambil mengajak Yve berjalan mendekati Bai Lian.
Habislah aku!
Devian berusaha tersenyum dan mengambil sepatu Yve lalu mengelapnya. "Hehehe ini sepatumu."
"Kak Devian. Kenapa kau sangat menyebalkan?"
"Hei! Jangan hanya salahkan aku. Bukan aku yang mengajak orang-orang kemari. Aku hanya keceplosan bicara soal kasusmu."
"Jadi itu salahku?" Bai Lian menatap Devian dengan sinis.
"Eh?! Bu-bukan begitu tuan. Aduh kenapa hidupku serba salah?"
Bai Lian langsung berganti ekspresi menjadi ramah. "Memangnya kenapa kalau aku ingin datang ke sini? Tidak boleh?" Bai Lian mengusap kepala Yve sambil tersenyum.
"Kau menarik perhatian semua orang. Gadis-gadis di kelasku hampir semuanya menjadi gila."
"Kau tidak ikut menjadi gila?"
"Ti-tidak." Yve langsung membuang muka.
Bai Lian tersenyum sebentar, kemudian meraih tangan Yve. "Ayo pulang."
"Hah? Kau gila? Ini bukan waktunya pulang sekolah."
"Tidak usah sekolah. Bekerja menjadi bodyguardku tidak perlu ijazah."
"Jangan bercanda! Memangnya aku akan menjadi bodyguardmu selamanya?"
"Kalau begitu... Mau menjadi orang yang selalu ada disisiku?" Bai Lian mengangkat sebelah alisnya.
"Sama saja menjadi bodyguardmu."
Aduh bukan itu. Yve kenapa kau tidak paham?
Bai Lian akhirnya melepaskan tangan Yve dan menghela nafas. Ia tidak tahu lagi harus mengatakannya bagaimana.
"Lagipula selama aku menjadi bodyguardmu, kau masih belum memberiku gaji. Aku menuntut gaji sekarang!"
"Tidak menuntut yang lain juga? Aku bisa memberimu lebih." Bai Lian kembali tersenyum.
Yve terkejut lalu ekspresinya berubah senang. "Apa kau akan membelikanku motor sport lagi?"
Bukan ituuu.
__ADS_1