Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Pembicaraan Antar Saudara


__ADS_3

"Sakit oi!" Bai Lian memegangi kepalanya. "Setidaknya berikan aku waktu untuk terkejut."


"Ya ya, sana temui adikmu." Yve menendang punggung Bai Lian dari belakang. Meskipun itu hanya tendangan pelan, tapi Bai Lian langsung sampai di depan Lin.


Ya ampun, Yve sangat berani. Kelak dia akan mendominasi. Devian tersenyum.


Lin terdiam sambil melihat Bai Lian dihadapannya. Ekspresi apa yang harus ia tunjukkan? Baru saja kakaknya menyebut dirinya setan, ditambah selama bertahun-tahun hubungan mereka sangat tidak baik. Apakah menyapa 'hai' adalah solusi terbaik?


"Em..." Bai Lian menggaruk tengkuknya dengan ekspresi canggung. Sebenarnya ia sangat senang mengetahui adiknya masih hidup. Tapi bagaimana cara bicara padanya? Ada banyak hal yang ingin dikatakan, sampai otaknya linglung. "Ternyata... Itu... Hm..."


"Ayolah tuan, jangan malu-malu seperti pasangan yang baru menikah. Dia itu adikmu." Teriak South diantara para bodyguard lain.


"Diam kau! Atau kutembak kepalamu." Balas Bai Lian.


"Tembak saja, aku lebih cepat menembak dari anda."


"South! Jaga bicaramu pada tuan Bai Lian." Beng menepuk bahu South.


"Salahkan Yve, aku belajar darinya."


"Kenapa aku?!" Yve melotot kearah South.


"Berisik." Gumam Lin. "Bukankah sebaiknya kita bicara berdua saja? Melakukan pembicaraan seperti saudara?" Dengan wajah datar Lin menatap kakaknya.


"Bicara berdua?"


Bai Jun terus melihat Lin dari jauh. Ia khawatir kalau kedua saudara itu kembali bertengkar. Tapi jika dilihat dari tingkah Lin, sepertinya tidak mencurigakan.


"Ya. Hanya berdua, bagaimana?" Lin mengangkat kedua alisnya.


"Baiklah, ayo ke ruanganku."


Semua orang menatap kepergian Bai Lian dan Lin. Mereka bingung sekaligus khawatir dengan tuannya. Mengingat kedua orang itu tidak pernah terlihat bersama.

__ADS_1



Bai Lian memasuki ruang kerjanya lebih dulu, dan Lin mengikutinya di belakang. Dari kejauhan para bodyguard inti bersama Bai Jun mengintip dua saudara itu memasuki ruangan.


"Apakah semuanya akan baik-baik saja?" Beng tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Bagaimanapun Lin telah berulang kali mencoba membunuh Bai Lian.


"Tenanglah Beng, dia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk selama ada aku di rumah ini. Apalagi lukanya itu, sepertinya membuat gerakannya terganggu." Bai Jun menepuk bahu Beng untuk memenangkan kepala bodyguardnya itu.


"Benar, tenang saja." Levin tiba-tiba muncul dan berdiri diantara para bodyguard inti.


"Hei kau ternyata masih hidup juga!" Beng menunjuk Levin sambil berteriak.


"Memangnya aku dikabarkan mati?"


"Benar itu. Levin hanya dikabarkan hilang, bukan mati." South ikut menimpali.


"Cucuku, bagaimana pendapatmu?" Bai Jun menoleh kearah Yve yang hanya diam sambil bersandar pada tembok.


"Menurutku, setelah ini mereka akan berdamai dalam konteks adik kakak. Tapi aku yakin Bai Lian tidak akan menghalangiku untuk memasukkan Lin ke dalam penjara."



Bai Lian menutup pintu ruang kerjanya lalu menatap Lin. Ia benar-benar tidak tahu harus bicara apa.


"Sudah lama sekali ya." Lin berjalan mendekati salah satu kursi dan duduk disana.


"Iya, sudah lama sekali kita tidak mengobrol."


"Bukan itu."


"Eh? Lalu?"


"Sudah lama sekali aku tidak memasuki ruangan terkutuk ini." Lin tersenyum sinis kemudian menatap kakaknya. "Dari dulu aku sangat membenci ruangan ini. Karena setelah kau masuk kesini, maka aku tidak bisa bertemu denganmu lagi."

__ADS_1


"Maaf, dulu aku sangat sibuk sampai-"


"Siapa yang kau bodohi?" Lin menyilangkan kakinya sambil terus menatap Bai Lian. "Kau itu sengaja tidak ingin bertemu denganku kan? Kau terlalu sombong. Sejak kita diadopsi, yang ada dipikiranmu hanya menjadi boss mafia dan kekayaan keluarga Bai. Kau mencari muka dengan berpura-pura rajin untuk mendapatkan simpati ayah. Sudah senang? Sudah merasa paling hebat?"


"Bukan seperti itu-"


"Aku tahu, sebenarnya kau memang tidak ingin menemuiku lagi sejak dulu." Lin berdiri kemudian berjalan mendekati jendela. Ia melihat gazebo tempat biasanya bodyguard berkumpul, dengan lapangan tembak di sampingnya. "Aku pernah sekali menguping pembicaraanmu dengan ayah. Sejak kau ditunjuk menjadi penerus, semua waktu kau habiskan untuk melihat berkas-berkas. Padahal tugasmu sudah selesai, tapi kau sengaja ingin menambahnya agar terus berada di ruangan ini."


"Bukan itu maksudku-"


"KAU SENGAJA TIDAK INGIN BERTEMU DENGANKU, SIALAN!"


Bugh!


Lin memukul Bai Lian hingga membuat kakaknya terjatuh.


"Sejak saat itu, aku memiliki cita-cita baru. Jika kau ingin menjadi boss mafia yang baik, maka aku ada untuk menghancurkannya. Kau tidak layak menjadi kakakku, mati saja sana! Dasar lemah! Tidak berguna!"


Takk!


Lin hendak memukul Bai Lian lagi, tapi laki-laki yang biasanya lemah itu berhasil menangkisnya.


"Kau hanya tidak mengerti apa maksudku Lin."


"Bukankah maksudmu sudah jelas? Ketamakan."


"Tidak, bukan itu." Bai Lian menggeleng, kemudian bangkit. "Aku berusaha keras, untuk merubah dunia hitam ini."


"Hah?!"


"Seseorang berkata padaku, kalau aku bisa merubah tatanan dunia mafia yang hitam ini, dan menjadi pelindung bagi banyak orang."


"Siapa yang mengatakan hal bodoh seperti itu?"

__ADS_1


"Devian."


__ADS_2