Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Teorinya


__ADS_3

Klotak!


Yve menatap banyak bodyguard berpakaian rapi yang mulai memunguti satu per satu puing bangunan.


Tadi pagi, Yve sudah berangkat ke rumah keluarga Bai. Tapi Beng buru-buru menariknya sambil berkata dengan heboh kalau Lin mati tertimpa puing bangunan. Yve sendiri sengaja tidak memberitahu kejadian yang sebenarnya, jadi mau tidak mau harus pura-pura bodoh dan mengikuti Beng ke lokasi kemarin.


Kondisi pabrik Lin yang sebelumnya terlihat berdiri kokoh, sekarang sudah rata dengan tanah, dan puing-puing bangunan menggunduk di beberapa bagian.


"Adikku! Bantu aku mengangkat ini!" Beng melambaikan tangan kearah Yve yang hanya berdiri diam menatap puing-puing bangunan.


"Aku-"


"Biar aku saja." Devian langsung mendatangi Beng dan membantunya.


"Yang disuruh siapa, yang datang siapa." Gerutu Beng.


"Kau tidak lihat adikmu sedang terluka?" Devian menunjuk wajah Yve.


"Palingan juga karena balapan liar. Dia itu suka sekali bertengkar dengan orang."


"Beng, bisakah kau sedikit perhatian?"


"Kak Devian benar!" South muncul dengan wajah yang penuh debu. "Hei Yve!!! Lebih baik kau menjaga tas cemilanku, nanti diambil kak Beng."


"Mati pun aku tidak akan memakannya!" Bentak Beng.


Yve mengangguk dan meninggalkan gerombolan orang heboh itu. Ia berjalan menuju pohon rindang yang dibawahnya terdapat sebuah tas ransel dengan tulisan South.


Aku lapar.


Yve membuka tas South. Pasti tidak masalah kalau ia mengambil satu.


Setelah membaca rasa semua cemilan yang dibawa South, akhirnya Yve mengambil satu yang terlihat sedikit normal. Kacang panggang susu pedas.


"Sayangku, boleh aku ikut duduk? Astaga panas sekali."


Yve mendongak dan mendapati Sky yang membawa kipas elektrik di tangannya.


"Duduk saja kak." Ucap Yve sambil membuka bungkus cemilan kacangnya.


"Fuuuhhh panas sekali. Dan tuan Bai Lian malah menyuruh untuk mengangkat puing-puing bangunan. Kuku jariku baru saja di cat ulang. Benar juga!!! Bagaimana kalau kulitku jadi coklat? Aaaaa tidaaak."


Yve hanya mendengarkan curhatan Sky tanpa berkomentar apapun. Wajahnya datar dengan tatapan mata yang tertuju kearah seseorang. Tangannya sibuk memasukkan cemilan kacang ke dalam mulut.


"Yve sayang, kenapa kau tidak meminta jas untuk perempuan sepertiku? Lihat! Aku bahkan boleh pakai rok. Kenapa kau malah pakai celana?"

__ADS_1


"Ini milik South. Karena ukurannya pas jadi kupakai saja. Lagipula aku tidak suka memakai rok. Di lemariku, satu-satunya rok yang kupunya hanya seragam sekolah."


"Ya ampun kasihan sekali. Aku punya banyak rok yang sudah kekecilan, bahkan ada yang masih baru tapi ukurannya salah. Setelah ini aku akan memberikannya padamu."


"Terimakasih kak Sky. Tapi aku tidak suka memakai rok. Sulit untuk bergerak leluasa."


"Baiklah. Kalau suatu saat kau butuh, bisa katakan saja padaku, oke?"


Yve hanya mengangguk dengan senyum tipisnya, kemudian kembali melihat seseorang yang berdiri sangat jauh darinya.


"Ehem! Kau sudah memandangi tuan Bai Lian begitu lama. Dia tidak akan menghilang dari sana, jadi tenang saja."


Yve menunduk dan menatapi cemilan kacangnya yang berwarna pink. "Aku kasihan padanya. Dia kehilangan adiknya karena aku. Kalau saja kemarin aku membawa Lin-"


"Hei itu bukan salahmu. Kau pasti panik dan bingung karena semua itu bukan bagian dari rencana kita. Lagipula tuan Lin itu jahat. Sudah berapa banyak nyawa yang dia renggut? Sangat banyak! Sampai-sampai jika ada 10 orang diriku yang menghitungnya dengan tangan, masih tidak cukup!"


"Tetap saja aku merasa bersalah." Yve menatap Sky dan hendak menangis.


"Kemarilah, kakak akan memelukmu~ cup cup cup anak baik" Sky tiba-tiba terkejut saat melihat ke belakang punggung Yve. "Tidak jadi! Selamat tinggal!" Sky lari terbirit-birit meninggalkan Yve.


"Loh kak Sky! Oi! Kak bencong!" Yve menggelengkan kepala melihat kepergian Sky. "Tadi katanya mau dipeluk."


"Oh? Mau dipeluk?"


Sebuah suara berat yang tegas mengejutkan Yve. Ia berbalik dan melihat siapa yang berada di balik punggungnya.


"Tidak usah terkejut seperti itu. Dari tadi kau melihatku dari jauh. Mungkin ada sesuatu yang ingin kau katakan?"


"Tidak ada." Yve menggeleng sambil melirik bodyguard lain yang berada di belakang Bai Lian. Bodyguard setia itu hanya memegang payung untuk mencegah bossnya terpapar sinar matahari yang terik.


"Teddy, kau bisa pergi sekarang." Titah Bai Lian pada bodyguard yang membawa payung. Dan orang yang bernama Teddy itu segera mematuhi perintahnya.


Bai Lian langsung duduk di samping Yve. "Apa ini ulahmu?"


Yve menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Bukan."


Kata kak Devian, sebelum bukti-bukti itu diserahkan ke polisi. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu.


"Lalu kenapa wajahmu babak belur?" Bai Lian hendak menyentuh wajah Yve tapi dengan cepat tangannya ditepis oleh gadis itu.


"I-ini hanya perkelahian biasa di area balap liar."


"Baiklah aku tidak paham." Bai Lian kembali melihat puing-puing bangunan yang masih diangkat oleh beberapa bodyguard.


Kenapa orang ini malah kesini? Canggung sekali rasanya. Karena aku baru saja membunuh adiknya!

__ADS_1


"Aku sudah mengerahkan 70 bodyguard untuk membersihkan area ini, tapi anehnya mayat Lin masih belum ketemu."


Eh?


"Belum ketemu?" Yve menatap Bai Lian dengan terkejut.


"Ya. Cuma ada banyak mayat preman. Setelah ini aku akan menambah jumlah bodyguard, untuk mengantarkan para mayat itu ke keluarganya saat sudah di identifikasi." Bai Lian menoleh kearah Yve dan membuat mereka saling menatap beberapa saat. "Anehnya, kebanyakan preman itu mati bukan karena puing bangunan. Tapi karena sayatan benda tajam. Menurutmu... Apakah itu aneh?" Bai Lian tersenyum kearah Yve seolah paham akan sesuatu.


"Y-ya aneh." Yve memalingkan wajahnya.


"Jika ditanya aku sedih atau tidak. Aku sangat sedih. Bahkan aku sudah menangis semalaman. Tapi ketika membayangkan Lin yang berusaha membunuhku, kesedihan itu tiba-tiba menghilang. Bagaimanapun juga dia tetap adikku, aku tidak bisa hanya duduk diam sambil tertawa." Bai Lian berdiri dan berjalan menjauh tanpa melihat lagi kearah Yve.



Matahari sekarang berada di puncak teriknya. Para bodyguard yang sedang membersihkan puing-puing, memutuskan beristirahat bersama di bawah pepohonan rindang di seliling area pabrik.


South dengan kepercayaan diri yang luar biasa, sedang memberi pidato tentang cemilan anehnya.


"Dengar ya kalian semua. Ini adalah cemilan langka yang hanya ada 5 di dunia." South mengangkat salah satu bungkus cemilan dari dalam ranselnya. "Tada!!! Inilah stik kentang rasa kerang ijo."


"Kentang rasa kerang. Apakah itu enak senior?"


"Sangat enak!!!"


Yve hanya melihat dengan malas pidato South. Ia masih asik menghabiskan kacang pink nya. Lagipula kenapa warnanya pink? Apakah karena rasanya susu pedas? Putih dan merah jadinya pink?


"Kau masih saja sibuk dengan tablet." Yin Yang mendekat kearah Yve duduk. Mereka memandang Devian yang berada di samping Yve.


"Aku mulai menemukan sebuah teori aneh."


"Teori apa?" Yve ikut mendengarkan.


"Sampai sekarang, pembersihan sudah mencapai 80% wilayah pabrik ini. Tapi masih belum ditemukan mayat Lin dan... Levin." Devian sedikit berbisik saat menyebut Levin, agar bodyguard lain tidak curiga. "Aku merasa mereka masih hidup."


Uhuk uhuk!


Yve tersedak kacangnya.


"Tenang saja, ini hanya teorinya si Devian." Yang menepuk-nepuk punggung Yve.


"Terakhir Levin bilang padaku, kalau sistem penghancuran gedung itu sengaja dibuat olehnya dan Lin. Lalu saat sistem itu diaktifkan, maka secara otomatis akan mengunci si orang yang mengaktifkan itu di dalam ruangan tanpa celah keluar. Dan membuatnya mati disana, sebagai konsekuensinya. Tapi coba kalian pikirkan lagi. Sistem itu diciptakan oleh Lin dan Levin, dan sistem hanya bisa aktif dengan sidik jari mereka. Jadi, apakah pintu keluar yang otomatis tertutup itu juga bisa dibuka dengan sidik jari salah satu dari mereka? Karena ruangan itu mereka sendiri yang buat."


Yin mengangguk kemudian bicara, "Jadi maksudmu saat gedung hampir runtuh, Lin menghampiri Levin, membuka pintu otomatis. Dan mereka pergi bersama menyelamatkan diri?"


"Menurut perkiraanku begitu." Devian mengangguk.

__ADS_1


"Tapi bukankah Levin baik? Dia sudah berada di pihak kita. Mana mungkin dia menyelamatkan Lin." Yang menyuarakan pendapatnya.


"Aku juga berpikir begitu. Tapi coba dibalik. Seperti... Lin yang akhirnya menjadi baik?"


__ADS_2