
Tok! Tok!
Yve menatap kearah pintu. Itu pasti kakaknya. Padahal ia sudah bilang untuk tidak usah mengantarkan makanan.
Mau tidak mau, Yve tetap membukakan pintu bagi sang kakak. Saat pintu terbuka, Tina menatap Yve dengan senyuman aneh.
"Sedang bermesraan dengan pacar ya." Goda Tina dengan alis terangkat.
"Pacar apanya? Dia bukan-"
"Ya ya bukan." Tina langsung masuk kamar dengan nampan yang berisi cemilan. Ia mendekati Bai Lian dan duduk di dekatnya.
"Kakak!"
Mengindahkan teriakan adiknya, dan setelah menaruh nampan diatas meja kecil, Tina mencolek bahu Bai Lian. "Hai, sudah berapa lama kalian pacaran?"
Bai Lian menarik sebelah alisnya keatas. Ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu. Yve seperti melarangnya untuk bicara tentang boss mafia. "Lumayan."
"Eh? Lumayan lama?!" Tina menutup mulutnya dengan ekspresi kaget.
"Apanya yang lumayan? Tidak ada apa-apa."
"Jadi bagaimana ceritanya kalian bisa bersama?" Tina mengabaikan Yve dan kembali bertanya dengan atusias pada Bai Lian.
Lagi-lagi boss mafia yang sedang dicerca pertanyaan itu bingung ingin menjawab apa. Cerita seperti aslinya mungkin tidak apa-apa.
"Dia menyelamatkanku, lalu meminta imbalan. Jadi aku memberikan-"
"Jadi kau memberikan cintamu sebagai imbalannya?" Tebak Tina sambil menyela cerita Bai Lian.
"Tidak. Aku memberikan-"
"Memberikan semua waktumu untuk Yve?" Kembali Tina menyela Bai Lian.
"Kakak..." Yve muncul dari belakang Tina dengan aura bak iblis.
"Hiii." Tina terkejut dan merinding ketakutan.
"Pergi dari kamarku sekarang!" Yve mengepalkan tangannya dengan tatapan mengancam.
"Kabur! Ada pasangan yang tidak ingin diganggu." Teriak Tina sambil berlari keluar kamar Yve.
"Orang itu!" Yve kembali menutup pintu dengan kesal dan menguncinya kembali.
"Hahaha."
Tawa Bai Lian yang tiba-tiba, membuat Yve menoleh kearah sosoknya. Laki-laki itu sekarang sedang tertawa dengan heboh. Entah apa yang dia tertawakan.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Yve sambil berjalan mendekati Bai Lian.
"Kakakmu sangat lucu."
"Banyak yang mengatakan itu. Ternyata kau langsung menyukai kakakku, padahal baru pertama kali bertemu." Yve kembali ke posisinya semula, duduk di depan Bai Lian.
"Apa yang kau katakan? Orang yang kusukai itu-" Tiba-tiba Bai Lian berhenti bicara, lalu menggaruk tengkuknya dengan ekspresi canggung.
"Sudah! Lupakan saja! Aku memiliki hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan." Lanjut Bai Lian.
__ADS_1
"Sebelum itu, minumlah ini." Yve menyodorkan susu kotak yang berada di nampan bawaan Tina.
"Susu kotak?" Bai Lian menerima dengan bingung.
"Bukankah itu minuman kesukaanmu?"
"Kesukaanku?" Lagi-lagi Bai Lian menggaruk kepalanya dengan bingung, ia tidak ingat pernah meminum susu kotak di depan para bodyguardnya jika berada di rumah.
"Kau tidak ingat?" Yve tersenyum tipis kemudian memperlihatkan susu kotak lainnya. "Sebelum menjadi bodyguardmu, kau mencuri susu kotak yang kubawa dan meminumnya sampai habis."
"Benar juga." Ingatan itu tiba-tiba kembali di pikiran Bai Lian. Tidak disangka gadis itu masih mengingat kejadian yang dulu.
Untuk sesaat mereka saling diam dan menikmati susu kotak masing-masing layaknya teman yang berkunjung untuk sekedar mengobrol atau bergosip.
"Oh iya." Bai Lian menaruh susu kotaknya. "Aku memiliki ini untukmu." Sebuah kertas ia keluarkan dari jaketnya.
"Apa itu?" Tanya Yve sambil menyambar kertas yang ditaruh bossnya.
"Jadwal orang-orang yang keluar masuk di markas Lin. Semua dilakukan dengan teratur dan memerlukan pemeriksaan yang ketat. Bahkan petugas air sekalipun akan diperiksa berkali-kali hanya untuk masuk tempat itu."
"Berarti aku tidak bisa menyamar sebagai petugas sampah untuk bisa masuk?" Yve membaca jadwal ditangannya. Disitu juga tertulis kalau petugas sampah memerlukan beberapa pemeriksaan.
"Tenang, kita masih punya rencana B." Ekspresi Bai Lian lebih serius dari sebelumnya.
"Apa rencananya?" Yve ikut berekspresi serius.
"Ingat tentang nenek penjual krupuk?"
"Kau serius?!" Yve tidak habis pikir dengan rencana absurd Bai Lian. Bisa-bisanya dia memikirkan ide seperti itu.
◎
"Kami pulang."
Tina melirik dua laki-laki yang baru saja masuk cafenya. Leo dan Orion berjalan berdampingan dengan ekspresi yang berbeda. Leo terlihat lebih ceria dengan satu kantong gula pasir di salah satu tangannya. Sementara Orion terlihat sedikit kelelahan dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, dia pasti baru pulang sekolah juga seperti Yve.
"Boss, lihat! Aku mendapatkan diskon gula." Leo menaruh bawaannya didepan Tina.
"Wah bagus sekali." Tina menerimanya dengan gembira. "Orion, kau baru saja datang?"
Dengan wajah lelah dan senyum yang dipaksakan, Orion menjawab "Iya kak. Tadi di jalan bertemu dia."
Dia? Ternyata si Orion ini masih tidak menyukaiku.
Leo mengambil air minum pegawai yang terletak didekatnya, kemudian minum untuk melepaskan dahaganya setelah berebut gula diskon dengan ibu-ibu komplek.
"Oh iya ngomong-ngomong... Pacar Yve datang berkunjung loh." Tina berekspresi jahil.
"Apa?!" Teriak Orion dengan heboh. "Si-siapa namanya kak?"
Leo menahan tawa di sela minumnya. Hehe patah hati tuh.
"Seingatku namanya Bai Lian."
Puuuhhh!!!
Leo seketika menyemburkan air dimulutnya karena kaget. Orion dan Tina hanya bisa pasrah terkena siraman air segar nan wangi itu.
__ADS_1
"Boss, tidak salah menyebut nama kan?" Leo terlihat gelagapan.
Tidak mungkin tuan Bai Lian berada disini. Dan... Menjadi pacar Yve?! Apakah ini mimpi di siang bolong?!
"Seingatku itu. Orangnya juga masih ada diatas."
"Aku mau lihat!"
Leo dan Orion bicara dengan kompak, lalu berlari kearah tangga. Tapi karena mereka melakukannya secara bersama-sama, tangga sempit itu akhirnya menjepit keduanya.
"Biar aku duluan!" Leo mencoba menarik Orion.
"Tidak mau! Aku duluan! Aku harus tahu siapa orangnya!" Teriak Orion tidak mau mengalah, sambil tangannya sekuat tenaga berpegang pada pembatas tangga.
Tapi karena tenaga Leo yang seorang bodyguard lebih besar dibandingkan Orion, ia bisa dengan mudah membuat laki-laki rajin belajar itu mundur. Lalu segera melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar Yve.
Sementara itu di dalam kamar...
"Kurasa aku akan pulang sekarang." Bai Lian berdiri dan membenahi jaketnya.
"Baiklah. Mau kuantar? Agar kau bisa merasakan dibonceng pangeran jalanan." Yve memainkan kunci motornya dengan sombong.
"Boleh juga. Tapi bagaimana dengan mobil sampah yang kuparkirkan di samping cafemu?"
"Astaga! Kau memarkirkan itu di disamping cafeku?! Baunya akan mengusir semua pelanggan." Yve menepuk dahinya dengan frustasi.
"Jadi mengantarkanku? Lagipula cukup aneh kalau ada petugas sampah yang bolak balik ke rumah keluarga Bai."
"Iya iya. Setelah aku mengantarkanmu, akan kuurus mobil sampah itu." Yve hanya bisa berkata dengan pasrah.
Yve dan Bai Lian sama-sama menuju kearah pintu. Setelah Yve membuka kunci pintu kamarnya, ia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Agar tidak terlalu mencolok, kau mau pakai kacamata? Aku punya beberapa." Tawar Yve.
"Ya, berikan aku satu." Bai Lian mengangguk.
"Oke, tunggu-"
Brak!!!
Tiba-tiba pintu terbuka dengan cepat. Bai Lian yang berada di belakangnya tidak bisa menjaga keseimbangan, ia jatuh kearah Yve.
Bruk!
Bai Lian jatuh diatas tubuh Yve.
"Yve! Katanya tuan Bai Lian ada di-" Leo seketika menghentikan kata-katanya saat melihat adegan luar biasa dihadapannya. "Aw! Maaf mengganggu."
"Yve!!! Kak Tina bilang-" Orion yang terlambat beberapa detik dari Leo, menunjukkan ekspresi yang sama dengan Leo.
Bai Lian yang masih terkejut mulai tersadar dengan situasi berbahaya yang terjadi. "Tidak sengaja!" Bai Lian buru-buru berdiri dan menyembunyikan semua rasa malunya.
"Tidak apa-apa." Yve juga menunjukkan ekspresi yang sama dengan Bai Lian. Bahkan wajahnya terlihat lebih merah daripada laki-laki di depannya itu.
"Kau siapa hah?!" Orion mendorong bahu Bai Lian dengan kasar.
"Hei jaga sikapmu!" Leo membalas perbuatan Orion pada tuannya.
__ADS_1