Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Dia Pilihan yang Tepat


__ADS_3

"Baiklah kak, aku akan ke atas untuk tidur." Yve bangkit dan bersiap untuk pergi, tapi Tina kembali menghalanginya.


"Tunggu, tadi kau pulang sama siapa? Laki-laki ya."


"Kak, aku bekerja di bengkel. Tentu saja kebanyakan laki-laki. Dia hanya salah satu temanku yang mengantar pulang."


Yve yang mulai kesal dengan kakaknya menyambar gelas berisi teh hangat di depan Tina dan meneguk habis isinya.


"Apa Bai Lian tidak cemburu?"


Uhuk! Uhuk!


Yve langsung tersedak mendengar perkataan kakaknya.


"Kenapa dia harus cemburu?" Tanya Yve.


"Bukankah Bai Lian pacarmu?"


Tukk!


"Bukan!" Yve menaruh kembali gelasnya keatas meja dengan emosi. Sampai sekarang ia masih tidak tahu kenapa orang-orang sering menjodohkannya dengan Bai Lian.


"Padahal menurutku kalian cocok."


"Tidak cocok sama sekali!!!"


"Kenapa marah? Aku kan cuma..." Tina mulai berekspresi sedih.


"Maaf kak, aku tidak bermaksud membentakmu. Tapi aku dan Bai Lian tidak ada hubungan apapun."


"Benarkah? Apakah suatu saat akan ada hubungan?" Tina menatap Yve penuh harap.


"Tentu saja Ti-"


"Ada ya? Ya? Ya?" Tina terus berbicara sambil mendekatkan wajahnya pada Yve.


"Kenapa kak Tina begitu ingin aku dan Bai Lian memiliki hubungan? Kakak ingat saat dia pertama kali kemari? Bicaranya sangat kasar. Bahkan bilang ingin membunuh orang."


"Bukankah sifatnya sama sepertimu? Hanya saja dia bicara terang-terangan ingin membunuh orang. Sementara kau, melihat orang lain sangat sinis seperti berniat membunuh. Itu lebih menyeramkan tahu!"


"Tapi aku tidak selalu begitu."


"Lagipula, kalau kau menikah dengan Bai Lian bisa memperbaiki keturunanmu. Dia kan tampan, putih, tinggi."


Sementara Tina masih memuji Bai Lian, Yve mengambil kursi dan mengangkatnya.


"Oh jadi maksud kakak, aku jelek begitu?" Yve bersiap melempar Tina dengan kursi.

__ADS_1


"Hiii kabur." Tina berlari secepat kilat keluar dari cafe.


Ck! Apanya yang memperbaiki keturunan? Aku mulai malas selalu dikatakan cocok dengan Bai Lian.


Setelah menahan emosinya, Yve berjalan menuju kamar. Hari ini ia sangat lelah dan ingin cepat-cepat tidur.




Keesokan harinya. Yve sudah bersiap ke sekolah. Ia penasaran dengan reaksi orang-orang di sekolahnya. Mengingat kemarin Tina bercerita kalau ia disambut bak ratu oleh kepala sekolah. Kira-kira apa yang mereka pikirkan kalau anak yang baru saja dicap bermasalah, malah dianggap seperti titisan kerajaan. Pasti lucu.


Yve turun dari lantai dua kamarnya. Seperti biasa, Kian sudah lebih dulu berada di cafe. Dia menyiapkan sarapan Yve lalu mengelap meja.


"Pagi." Sapa Yve sambil duduk di depan meja yang sudah tersaji nasi goreng diatasnya.


"Dewi, kau jahat!"


"Hah?" Yve menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.


"Kenapa kau mengusulkan pada boss Tina untuk mengurangi gaji karyawan? Kemarin boss Tina yang bilang pada kami." Kian mengerucutkan bibirnya kesal sambil mengelap meja.


"Oh itu." Yve mengangguk santai sambil menyendok nasi gorengnya. "Aku memiliki rencana lain. Tenang saja, aku tidak sejahat itu."


"Benarkah Dewi?"


Setelah menghabiskan nasi goreng ditemani ekspresi cemberut Kian, Yve mulai berjalan menuju sekolah.


Setelah pulang sekolah, aku akan latihan menembak lagi dengan South. Semoga tidak bertemu Bai Lian. Aku malas kalau harus mendengar orang-orang menggodaku lagi. Kuharap dia pergi kerja.


Eh? Kalau dia pergi, berarti aku harus mengikutinya. Tidak! Kuralat.


"Oi! Aku memanggilmu dari tadi!" Soni menepuk bahu Yve dari belakang.


"Kenapa?"


"Pakai nanya lagi. Dari tadi aku panggil tidak digubris. Mikirin apa tuh kepala?"


"Bai Lian."


Yve terkejut dengan perkataannya sendiri. Ia langsung menutup mulutnya yang tidak bisa direm itu.


"Widih... Pantes. Lagi mikirin pacaranya toh."


"Pacar apanya hah?! Bilang sekali lagi, kuhajar kau!"


Apa salahku? Soni terdiam.

__ADS_1


"Dimana motormu? Tumben sekali berangkat sekolah jalan kaki."


"Ada di bengkel. Aku sedang memodifikasinya. Sebenarnya ingin beli yang baru saja. Tapi ibuku melempariku dengan sandal saat aku meminta uang."


"Itu karena kau terlalu boros."


Akhirnya Yve dan Soni berjalan bersama ke sekolah. Mereka saling mengobrol sepanjang jalan hingga tidak terasa mereka sudah sampai.


Lagi-lagi Yve kembali ditatap oleh banyak pasang mata. Beberapa orang lainnya bahkan saling berbisik dan menunjuk Yve secara terang-terangan.


Apa aku benar-benar menjadi artis dadakan sekarang?


"Soni, kenapa mereka masih melihatku seperti itu?" Tanya Yve setengah berbisik pada laki-laki di sampingnya.


"Kemarin kakakmu ke sekolah, dan membuat gempar. Kepala sekolah seperti membuat perayaan besar untuk kakakmu. Murid-murid mulai membicarakanmu. Ada yang bilang kalau kau sebenarnya sangat kaya dan memberikan uang pada kepala sekolah untuk menutupi kasus mencontekmu." Jelas Soni.


"Ck! Masih saja mengira aku mencontek. Sia-sia aku belajar."


"Memangnya kau benar-benar belajar?"


"Oh jadi kau juga berpikir aku mencontek?" Yve menarik kerah baju Soni dan bersiap untuk menghajarnya.


"Ampun. Ingat kita di sekolah."


"Malah bagus. Ada banyak orang yang mengurusi mayatmu."


Ketika Yve dan Soni sibuk bergulat. Seseorang mendatangi Yve sambil tersenyum.


"Pagi Yve."


Dia Orion.


Yve hanya melirik dengan malas, lalu pergi tanpa menjawab sapaan teman sebangkunya itu.


"Yve?"


"Sudahlah bro." Soni menghentikan Orion yang berniat mengejar Yve. "Orang sepertimu tidak pantas menjadi teman Yve. Apa kau mengerti?"


Setelah berkata begitu, Soni kembali berjalan disisi Yve dengan patuh. Dia bertindak seperti pengawal gadis itu.


"Hei Yve." Soni kembali berbisik.


"Apa?"


"Bai Lian-mu lebih baik dari Orion. Pilihan yang tepat."


Yve tersenyum dan meraih leher Soni. "Terimakasih untuk pujiannya."

__ADS_1


"Tolong!!! Aku dicekik!"


__ADS_2