Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Tawaran Untukmu


__ADS_3

Yve hampir sampai di rumah Bai Lian. Dari jauh, sudah terlihat Levin berdiri di pintu gerbang. Dia terlihat seperti menunggu kedatangan seseorang, jelas sekali menunggu patnernya yang baru, Yve.


"Pagi." sapa Yve pada Levin sambil melewatinya dengan motor.


Levin mengikuti Yve masuk, dan menunggu gadis itu memarkirkan motornya di halaman. Levin terus menempel seperti perangko.


"Mengawasi sih mengawasi. Tapi tidak perlu terang-terangan begitu kan? malah akan membuat orang curiga." ucap Yve sembari memutar-mutar kunci motor di jari rampingnya.


"Tidak masalah. Ini hanya akan terlihat seperti aku sedang mengejarmu dan tengah mengemis perhatian." Levin tersenyum dengan lembut.


Menjijikkan


"Aku ingin memberikan ini dulu." Yve mengangkat kantong plastik berisi cupcake ditangannya.


"Berikan pada siapa?" tanya Levin penuh selidik.


"Pada paman beruang. Dia suka cupcake. Tapi kalau kau ingin mengeceknya dulu tidak masalah. Lihat sana! apakah aku menulis sebuah pesan tersembunyi atau tidak." Yve membuka kantong plastik.


Levin hanya melihat ke dalam plastik sebentar, dan mengangguk dengan santai. Di dalamnya benar-benar hanya ada cupcake. Tidak ada tulisan ataupun surat.


"Baiklah, berikan saja." Levin mengangguk dengan percaya.


"Oke." Yve berjalan kearah pintu masuk rumah Bai Lian. Dia diam-diam tersenyum licik.


Belum sampai pintu, Yve sudah bertemu dengan Bernard yang baru saja keluar dari rumah.


"Paman beruang, lihat aku punya cupcake untukmu!" Yve mengangkat kantong plastik ditangannya.


"Wah untukku?!" Bernard yang sudah mencium bau cupcake, seperti menemukan harta karun.


"Iya, khusus untukmu." Yve mengeluarkan mata kucingnya yang imut.


"Wah makasih ya. Aku jadi ingin memanggilmu adik seperti Beng." Bernard dengan suka cita menerima pemberian Yve. Ia tidak menyangka kalau akan menerima hidayah di pagi hari.


"Ayo dimakan sekarang." Yve diam-diam melirik Levin yang berdiri jauh dibelakangnya. Dia sedang mengawasi, seperti perintah Lin.


"Akan kumakan sekarang." Bernard yang sudah seperti vampir haus darah, segera memakan cupcake pemberian Yve. "Enak sekali" lanjutnya sambil mengunyah gigitan pertamanya.


"Habiskan ya."


"Kau beli dimana?" tanya Bernard yang kemudian menggigit cupcake nya lagi.


"Di dekat rumahku. Tokonya selalu buka pagi hari. Pemiliknya teman kakakku loh. Jadi kalau aku yang beli bisa dapat diskon."


"Belikan aku lagi. Cupcake nya sangat enak." Bernard tersenyum gembira dengan beberapa krim yang masih tertinggal di sekeliling mulutnya.


"Bernard." seseorang keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


Yve merasa lega mendengar suara itu. Suara yang sedikit berat dengan penuh ketegasan seperti membekas di telinga Yve. Tidak disangka ia akan senang mendengar suara yang sempat dibencinya itu. Pemiliknya adalah Bai Lian.


"Tuan?!" Bernard gelagapan sambil membersihkan mulutnya dengan cepat. Mau ditaruh mana mukanya kalau tuannya mendapati bodyguard berwajah sangar penjaganya sedang memakan cupcake rasa stroberi.


Bai Lian sedikit terkejut melihat Yve yang tumben berada di depan rumahnya membicarakan cupcake bersama Bernard. Tapi keterkejutan itu langsung hilang saat membayangkan posisi Yve sekarang adalah seorang bodyguard. Sudah pasti bodyguard seperti dia bebas berkeliaran.


"Belikan aku popcorn rasa karamel. " setelah mengatakan permintaan yang singkat dan padat, Bai Lian kembali memasuki rumah.


"Baiklah sekarang aku akan pergi." Bernard membungkus kembali cupcake yang sudah ia gigit itu.


Tapi tiba-tiba...


"Aduduh!" Bernard memegang perutnya sambil meringis kesakitan. Kenapa rasa mules selalu menghampirinya disaat-saat yang tidak tepat seperti ini?


"Paman beruang, kau baik-baik saja?" Yve dengan perhatian mencoba menanyai Bernard.


"A-aku ingin ke kamar mandi. Tolong gantikan aku membeli popcorn." Bernard berlari secepat kilat sambil meneriakkan permintaannya.


Yve mengangkat bahunya, kemudian berjalan kearah Levin yang masih dengan setia mengawasinya dari jauh.


"Bagaimana? kau melihatnya sendiri kan? aku disuruh membelikan popcorn dan otomatis bertemu Bai Lian. Apakah diperbolehkan?" Yve mengangkat sebelah alisnya sambil melihat Levin.


Laki-laki yang diajak bicara itu terdiam. Dia memikirkan cara lain agar Yve tidak menemui Bai Lian, tapi tidak bisa. Tadi Bai Lian melihat Yve bersama Bernard. Kalau Bernard sakit perut dan digantikan Yve, adalah sesuatu yang wajar. Sebaliknya, jika Levin yang membelikannya malah terkesan aneh.


"Belikan popcorn tuan Bai Lian sekarang."


"Kau bertemu atas ijinku. Bukan sembunyi-sembunyi. Lebih bagus lagi kalau kau membunuhnya sekarang, tapi itu mustahil."


"Apa kau akan menguping pembicaraan kami nanti? untuk mengawasiku mungkin? aku tidak ingin dicurigai oleh Lin."


"Tidak. Di sekitar ruangan tuan Bai Lian dijaga sangat ketat. Cctv ada dimana-mana. Aku tidak bisa melakukannya."


Yve mengangguk paham.


Lihat? semudah ini.


"Aku beli dulu ya." Yve segera menaiki motornya dan membawanya pergi.


Rencananya berhasil. Yve bukannya sekali melihat Bai Lian membeli popcorn di pagi hari. Dia sering melakukannya. Dan orang yang sering disuruh beli adalah Bernard. Jadi Yve hanya perlu membuat Bernard tidak memberikan popcorn nya seperti tempo hari, dan ia bisa bertemu Bai Lian. Setelah ini Yve akan meminta maaf pada Bernard karena sudah membuatnya sakit perut. Ternyata obat pencuci perut itu sangat menakutkan.


Setelah sampai minimarket, Yve memilih popcorn dengan merk yang sama seperti sebelumnya. Lalu kembali secepat mungkin.


Pembicaraannya dengan Bai Lian mungkin akan berlangsung lama, jadi ia akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


Yve sudah kembali ke rumah Bai Lian. Ia tidak melihat Levin dimanapun. Lalu Yve bergegas masuk ke dalam rumah.


Tok! tok!

__ADS_1


"Masuk."


Setelah mendengar suara itu, Yve segera memasuki ruangan.


"Kau!" Bai Lian terkejut ketika melihat Yve yang memasuki ruangannya. Selain karena ia tidak memanggil gadis itu kemari, biasanya dia tidak akan masuk dengan sopan seperti itu.


"Bai Lian. Ayo buat kesepakatan denganku." Yve memainkan popcorn ditangannya dengan senyum licik.


"Apa maksudmu?"


"Aku mau sebuah rumah, dan toko atas namaku. Sebagai bayarannya."


Bai Lian tidak paham jalan pikiran bocah dihadapannya ini. Dia tiba-tiba datang dan meminta beberapa bangunan padanya. Memangnya ia mesin ATM yang bisa mengeluarkan uang?


"Aku tidak paham apa maksudmu. Lebih baik kau pergi dan letakkan popcorn itu disana." Bai Lian kembali melihat komputernya, dan melanjutkan pekerjaannya.


"Bai Lian..." suara Yve kini terdengar serius.


"Panggil aku tuan Bai Lian."


"Aku sekarang menjadi bawahan Lin."


Jari Bai Lian yang sedang mengetik langsung terhenti di udara. Ia menatap kedua mata Yve lekat-lekat. "Apa?"


"Lin mengancamku. Dan aku diberi tugas membunuhmu."


Keheningan tiba-tiba saja terjadi.


Di dalam ruangan ini hanya ada mereka berdua. Salah satunya ditugaskan untuk membunuh, dan satunya lagi adalah targetnya. Di saat seperti ini, seharusnya adegan pembunuhan itu akan terjadi.


"Pffttt!!! hahaha."


Yve tiba-tiba tertawa dengan keras. Membuat Bai Lian mengerjap beberapa kali. Sebenarnya apa maksudnya tadi.


"Aku tidak bohong. Memang benar aku ditugaskan untuk membunuhmu. Tapi, aku ingin membuat kesepakatan denganmu." tatapan serius Yve membuat Bai Lian merinding.


Ternyata bocah ini memiliki tatapan mata yang mematikan.


"Aku akan memberikan tawaran yang bagus untukmu." Yve tersenyum.


"Tawaran?"


"Menjadi mata-matamu untuk Lin. Dan menjaga keselamatanmu melalui informasi yang kudapat dari Lin. Tapi..."


Alis Bai Lian berkerut. Pasti kata 'tapi' ini akan menguak maksud bocah itu sebenarnya.


"Tapi berikan aku bayaran yang tinggi hahaha."

__ADS_1


Aku lupa kalau bocah ini suka menguras uangku.


__ADS_2