Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Kepergian Mereka dan Penyesalan


__ADS_3

"Tuan." Bodyguard Bai Jun yang lain mendekat pada bossnya.


Orangnya semakin bertambah. Meskipun Adik Natan bingung dengan apa yang terjadi karena tiba-tiba orang berdatangan, ia tetap tidak terlihat takut.


"Hei, siapa namamu berengsek?!" Tanya Bai Jun pada adik Natan.


"Namaku? Apakah orang sepertimu pantas untuk tahu?"


Sial! Orang ini membuatku kesal. Bai Jun mengepalkan tangannya dengan emosi.


"Tuan, namanya adalah Charlie." Natan berinisiatif menjawab.


"Diam kau! Dasar tidak berguna." Bentak Bai Jun lalu melihat bodyguardnya. "Kau! Bawa Natan bodoh ini ke penjara ruang bawah! Untuk orang sombong bernama Charlie ini, aku akan mengurusnya sendiri."


"Tuan, ini hanya masalah sepele. Lebih baik kita melaporkan Charlie pada tuan Sky yang baru dilantik menjadi kepala polisi. Kasus penelantaran anak juga bisa dipenjara." Bodyguard Bai Jun mencoba menenangkan suasana.


"Aku tidak peduli! Orang ini membuatku kesal! Lagipula aku memiliki sebuah prinsip, kalau Nyawa harus dibalas dengan nyawa."


Gawat, tuan Bai Jun sepertinya akan menggila. Harus Max yang menghentikannya sekarang. Aku akan pergi untuk mencarinya. Bodyguard Bai Jun itu segera membawa Natan dan pergi secepat mungkin.


"Tidak tuan Bai Jun, ampuni saya! Tuan!" Teriak Natan yang sudah semakin menjauh.


Sebenarnya apa yang terjadi pada kakak? Siapa orang ini? Kenapa kak Natan memanggilnya tuan? Tapi dilihat dari manapun dia tidak seperti orang baik.


"Apa kau berpikir kalau dirimu hebat hah? Bisa membunuh bayi seenaknya. Sekarang akan aku tunjukkan padamu, siapa yang lebih hebat."


Dia marah karena kebohonganku membunuh Yve? Tunggu dulu... Apakah dia orang baik? Charlie berdebat dengan pemikirannya sendiri.


"Tidak! Jangan sakiti dia!" Seorang perempuan keluar dari rumah dan mendekati Charlie.


"Geiya, jangan kesini! Kembali ke dalam!" Charlie sedikit mendorong tubuh istrinya yang baru saja melahirkan seminggu yang lalu.


"Tapi aku tidak ingin kau terluka."


Prok! Prok! Prok!


Bai Jun bertepuk tangan dengan wajah sinisnya. "Hebat sekali. Dua iblis saling mengkhawatirkan penuh haru. Biar lebih romantis lagi, bagaimana kalau kalian mati bersama ditanganku?" Sebuah pistol revolver dikeluarkan Bai Jun dari balik jasnya.


"Geiya lari!"

__ADS_1


"Tidak mau!" Istri Charlie itu malah memegang tangan suaminya semakin erat.


"Kalau begitu aku akan melawannya!" Charlie bangkit dan mengepalkan tangannya.


"Hahaha orang sepertimu ingin melawanku? 100 tahun kau latihan bela diri juga tidak akan bisa menyentuh ujung rambutku." Ucap Bai Jun dengan angkuhnya.


"Kalau belum dicoba tidak akan tahu!"


Geiya dengan berat hati melepaskan pegangan tangannya dari sang suami. Lalu Charlie berlari kearah Bai Jun sambil melayangkan tinjunya.


"Ck! Lemah."


Dor!


Bruk!


Tubuh Charlie langsung jatuh. Bekas peluru menghiasi kepalanya.


"CHARLIE!!!" Geiya mendekati suaminya dan menggoncangkan tubuhnya dengan panik. "Charlie bangun!"


"Sedih? Sakit hati? Apakah kau tidak membayangkan perasaan bayi yang sudah kalian bunuh hah?! Dia tidak salah apa-apa dan tidak tahu apa-apa. Kau dan suamimu itu benar-benar memuakkan." Bai Jun mengarahkan pistolnya pada Geiya.


"Bayi? Apa maksudmu?" Dengan bercucuran air mata, Geiya menatap Bai Jun bingung.


"Aku tidak mengerti maksud dari perkataanmu." Geiya berdiri perlahan dan menatap tajam Bai Jun. "Aku tidak terima! kau membunuh suamiku dengan alasan tidak jelas. Rasakan ini!!!" Tanpa takut, Geiya mendekati Bai Jun dengan tangan yang siap menampar.


"Sungguh istri yang sangat mencintai suaminya. Sekarang, pergilah bertemu dengannya." Bai Jun tersenyum dan mulai menarik pelatuk.


"Tuan! Hentikan!"


Dor!


Max gagal menghalangi kejadian tragis yang baru saja terjadi di hadapannya. Tubuh Geiya langsung jatuh tepat di samping sang suami.


"Tu-tuan... Apa yang anda lakukan?"


"Oh Max. Sungguh waktu yang tepat. Bereskan dua mayat ini. Aku sedang menjadi pahlawan pembela kebenaran hahaha."


Entah kenapa tawa Bai Jun malah membuat Max syok. Dia jatuh keatas tanah saat lututnya sudah lemas saking terkejutnya.

__ADS_1


"Max? Kau kenapa? Bukankah kau sudah sering melihatku membunuh orang? Kali ini aku membunuh mereka yang bertindak jahat."


"Tidak tuan, anda salah." Max menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai menetes.


"Apa maksudmu? Kenapa kau menangis?"


Max menatap Bai Jun dan mencoba berkata dengan berat hati. "Mereka tidak membunuh bayi Yve."


"Apa?! Ti-tidak mungkin! Tadi orang yang bernama Charlie itu bilang kalau-"


"Dia sengaja mengatakannya untuk mengelabui si kakak. Bayinya belum mati. Mereka menyuruh pembantu untuk membawa bayi itu pergi dari sini. Mereka sudah memiliki firasat kalau kakaknya akan melakukan sesuatu yang jahat, jadi membuat rencana itu."


Max kembali menghirup nafas dalam-dalam untuk memberi sedikit keberanian mengatakan cerita selanjutnya.


"Bodyguard kita yang baru saja kutemui dibelakang rumah ini, mengatakan kalau dia sempat melihat seseorang membawa bayi keluar dari pintu belakang rumah. Saat itu komunikasi kami terputus karena dia mengejar bibi tua yang membawa bayi itu. Bodyguard kita mengira kalau si bibi tua adalah penculik yang memanfaatkan keadaan rumah yang sedang ricuh."


"Tapi dia salah." Max menunduk seperti ikut merasa bersalah. "Sempat ada sesi saling kejar. Ketika bibi tua itu tertangkap, bayinya sudah tidak ada. Saat dipaksa untuk memberi tahu dimana bayinya, bibi itu malah bunuh diri untuk menjaga rahasia. Tapi katanya bodyguard kita sempat melihat secarik kertas yang berada di gendongan bayi itu. Mungkin nama si bayi."


Bai Jun memegang kepalanya yang tiba-tiba saja terasa kosong. "Tidak, kau pasti salah Max. Itu tidak mungkin!!!"


Flashback selesai.



Keheningan masih terjadi saat Bai Jun mulai bercerita, hanya suara deru mesin mobil yang menjadi pengiring tragisnya kisah yang diceritakan oleh pria paruh baya itu.


Devian melirik Yve melalui kaca spion tengah mobil. Ia bisa melihat beberapa tetes air mata jatuh ke pipi adik perempuannya. Meskipun Yve menunduk untuk menyembunyikan tangisnya, tapi tetap saja Devian tidak buta untuk bisa melihatnya.


"Sejak saat itu, hanya ada sebuah penyesalan yang besar. Kenapa tidak mencari tahu dulu? Kenapa begitu gegabah? Diriku yang saat itu benar-benar menyebalkan." Bai Jun menoleh kearah Yve lalu memegang tangannya. "Maafkan kakek, Yve. Jika kamu tidak terima, tembak saja kakek sekarang."



"Eh?! Jadi itu bayi Yve yang dulu?" Salah satu bodyguard bertanya pada Max dengan heboh.


"Ya, dia adalah bayi itu. Tidak kusangka dia sudah mengetahui kebenarannya."


"Ini benar-benar sebuah kebetulan! Bayi Yve yang dulu berada di dekat tuan Bai Jun. Ini adalah takdir!" Seru salah satu bodyguard yang dulu sempat ada di lokasi kejadian tragis di masa lalu.


"Tidak. Bukan kebetulan." Max menggeleng. "Sebenarnya, tuan besar sudah menemukan Yve 2 tahun yang lalu."

__ADS_1


"Apa? 2 tahun lalu? Kenapa kau tidak memberitahuku? Bukankah dulu kita mencari bayi itu tapi tidak pernah ketemu? Tuan Bai Jun menemukannya dimana?"


"Lebih tepatnya, aku yang tidak sengaja bertemu dengan Yve. Lalu tuan Bai Jun merencanakan scenario besar agar Yve berada disisinya. Agar Yve membunuhnya." Max menatap langit sambil mengingat kembali kejadian itu.


__ADS_2