
Klang!
Yve menjatuhkan belatinya dengan lelah. Ia kemudian duduk diatas lantai sambil mencoba mengatur nafasnya.
Sial!
Ternyata sepanjang lorong yang Yve lewati terdapat banyak sekali preman yang berjaga. Bahkan semakin jauh, semakin banyak. Dan mungkin saja setelah lorong ini akan ada lebih banyak preman lagi. Jadi Yve akan istirahat sebentar.
"Kak Devian."
"Apa?" Suara Devian terdengar sedang fokus pada sesuatu, jadi hanya menjawab dengan singkat.
"Apa kau bisa melihat berapa banyak lagi musuh yang akan kutemui?"
"Tunggu sebentar. Masuk ke jaringan cctv mereka sangatlah sulit."
Yve menghela nafas kemudian memijat pelan pergelangan tangannya yang lelah.
Semua preman yang Yve temui langsung ia bunuh di tempat. Sebenarnya ini tidak seperti cara Yve yang biasanya, ia bukanlah orang yang suka membunuh. Tapi kata Devian, para preman yang menjaga tempat ini semuanya merupakan preman kelas kakap dengan kasus pembunuhan. Mungkin Lin memilih mereka agar bisa membunuh penyusup dengan mudah. Makanya Yve memutuskan untuk membunuh mereka semua, karena baginya, nyawa dibalas nyawa.
"Masih belum?" Yve berdiri dan mengambil kembali belatinya yang berlumuran darah.
"Belum. Ini susah." Devian terdengar stress.
Yve tidak ingin menambah beban pikiran Devian, jadi ia langsung berlari menuju lorong berikutnya. Belokan terakhir, kiri.
Saat baru saja berbelok, Yve langsung ditatap oleh banyak pasang mata. Para preman disini jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari lorong sebelumnya.
"Siapa kau?!" Teriak salah satu preman yang terkejut.
Ya ampun, aku baru sarapan satu sendok bubur dan belum minum sampai sekarang. Tempat ini sungguh kejam.
"Hajar dia!!!"
Apa boleh buat, aku hanya bisa melawan.
Bugh!
Duakk!
Salah satu preman terlihat ketakutan. Ia berjalan mundur untuk mendekati jendela. Di hadapannya, satu persatu rekannya jatuh dan tak bergerak lagi.
Perempuan yang baru saja datang dengan baju kuno itu, langsung menghajar orang-orang disekelilingnya. Terkadang dia melemparkan belati di tangannya kearah leher preman lain, membuat mereka mati seketika.
Me-menyeramkan! Aku harus pergi dari sini!
Preman ketakutan itu mulai berlari kearah jendela.
__ADS_1
Dak!!!
Sebuah belati berlumuran yang darah, menggores pipi si preman ketakutan. Lemparan itu sukses membuat goresan di pipinya langsung mengeluarkan darah.
Laki-laki itu berbalik, ternyata hanya tinggal ia seorang diri sekarang. Semua temannya sudah tumbang.
"Aduduh bubur satu sendoknya mau keluar, uwek! Perutku rasanya mau muntah. Banyak bergerak benar-benar membuat badan tidak nyaman." Yve menggerutu sambil berjalan mendekati mangsa terakhirnya.
"Oke ini terakhir." Yve mendekati preman yang ketakutan itu dengan santai.
"Ja-jangan bunuh aku. Kumohon." Preman tadi bersujud di kaki Yve sambil menangis.
"Hah? Lucu. Apa kau juga akan iba saat orang yang kau bunuh dulu memohon padamu?" Yve melipat tangannya dengan kesal.
"Tapi dulu aku tidak membunuh orang! Aku diadopsi oleh pamanku, lalu sepupuku membunuh orang. Katanya, sebagai balas budi sudah mengurusku, aku dipaksa menggantikan sepupuku dipenjara. Setelah itu, tiba-tiba ada orang yang membawaku kemari."
"Lah malah curhat."
"Aku serius." Preman itu masih bersujud di kaki Yve.
"Ck! Baiklah. Pergi saja sana!"
"Terimakasih dewi. Aku akan bersujud di kakimu selama tiga hari."
"Tidak usah! Pergi sana!"
Akhirnya preman yang terlihat penakut itu pergi melalui jendela dibelakangnya.
Masih dengan nafas terengah-engah, Yve menatap pintu besar yang sekarang sudah berada di hadapannya.
"Kak Devian, apakah yang ini?"
Eh?
Yve meraba telinganya dengan heboh. Earphonenya hilang!
Yve mencoba mencari earphonenya di antara para mayat. Dan betapa sedihnya saat Yve menemukan earphonenya sudah dalam keadaan rusak karena tertindih tubuh salah satu preman.
"Yahh... Bagaimana ini? Ah sudahlah! Setelah disini selesai, aku akan menghampiri Levin yang memakai earphone."
Yve kembali mendekati pintu dan membukanya. Tidak disangka, di dalam, terdapat ruang kerja yang mirip dengan ruangan Bai Lian. Banyak buku tersusun rapi di rak, dan sebuah meja kayu besar disertai komputer berada di ujung ruangan.
Ruangan itu sangat gelap karena tidak memiliki jendela. Lin benar-benar tidak ingin membuat konsekuensi penyusup masuk melalui jendela.
Yve mulai mencari dokumen baik di meja maupun di laci. Ia menemukan beberapa dokumen yang baru saja ditandatangani, itu terlihat jelas dari tanggal yang tertulis disana. Pada dokumen itu, tidak tertera nama Bai Lian atau Bai Jun, yang ada hanya Bai Lin dan instrukturnya. Takutnya ini adalah bukti barang ilegal, jadi Yve melipatnya dan memasukkannya ke dalam baju nenek-neneknya yang besar.
Namun ini saja tidak cukup. Bagaimana cara mengetahui bila barang-barang itu mereka keluarkan dari gudang atau sudah dijual?
__ADS_1
Yve memikirkan itu cukup lama sambil berdiri.
Aku harus menemukan bukti yang dapat menjerat mereka. Kata kak Devian, dia memiliki orang-orang di kepolisian yang bisa memenjarakan Lin.
Tiba-tiba mata Yve tertuju pada komputer diatas meja. Pasti di sana terdapat informasi yang ingin ia dapatkan.
Bodoh! Yve memukul kepalanya sendiri.
Bagaimana aku bisa lupa? Komputer ini pasti membutuhkan password.
Apa yang harus kulakukan?
Yve memijat pelipisnya dengan bingung. Seharusnya tadi ia bertanya pada Devian dulu. Sekarang jika ingin kembali ke tempat Levin untuk meminta earphonenya, akan membutuhkan waktu yang lama. Apalagi kata Devian, waktu yang Yve punya untuk mencari bukti hanya 30 menit. Itupun sudah terpotong menghajar para preman penjaga yang tidak ada dalam rencana.
Katanya, Lin akan berada di luar negeri bersama Bai Jun selama 3 hari untuk masalah bisnis. Tapi Devian ingin bukti secepat mungkin, agar saat Lin kembali, dia sudah memiliki tiket menginap di penjara.
Yve melihat layar yang menyuruh untuk mengisi password. Lalu ia mulai mencoba dengan memasukkan sembarang nomor. Dimulai dari angka 1,2,3,4 semuanya salah. Yve juga mencoba mengisi nomor rumah keluarga Bai, sampai nomor pabrik markas Lin, tapi semuanya salah.
Yve duduk dan berpikir agak lama. Ia kembali mencoba memasukkan nomor bedasarkan umur Lin, tapi masih salah. Biasanya, jika seseorang menggunakan password pasti akan memakai nomor yang berhubungan dengan ulang tahun. Sayangnya Yve tidak peduli dengan tanggal ulang tahun Lin, boro-boro ingat, tahu saja tidak.
Peduli setan!
Yve dengan asal mengisi semuanya dengan angka 0. Siapa sangka itu berhasil!
Astaga kenapa aku pintar sekali? Hahaha. Yve hampir menangis saking bahagianya.
Setelah selesai mengagumi diri sendiri, Yve mulai membuka beberapa folder yang berisi hampir lima puluh orang klien yang tidak jelas. Terdapat data lain tentang perdagangan senjata api saat Yve mencari di bagian daftar customer, dengan disertai sumber dan tujuan yang sangat jelas.
Semua informasi penting ada disini. Yve mengecek semua informasi itu satu persatu. Selain ada daftar customer yang aktif memesan, ada juga beberapa daftar customer yang telah membatalkan kontrak namun datanya masih ada disana.
Oke, ini menarik!
Yve mulai menyalin semua data yang telah ia lihat, pada flashdisk yang sudah disiapkan. Bagaimana kalau ada history tentang penyalinan data ini? Yve tahu itu tapi ia tidak peduli. Karena kata Devian, semua bukti ini akan dikirimkan segera pada polisi.
❀
"Bagaimana? Sudah?" Tanya Levin pada Devian yang susah mendapatkan akses cctv.
"Sudah. Akhirnyaaa." Devian berkata dengan hembusan nafas lega.
Levin kembali menatap layar monitor cctv. Ia akan ikut menjaga keamanan sekitar sembari menunggu Yve. Karena cctv disini sangatlah banyak.
Tunggu... Apa itu?
Levin melihat seseorang yang sangat janggal di salah satu kamera cctv.
"Devian!!! Lihatlah cctv nomor 19!" Teriak Levin heboh.
__ADS_1
"Ce-celaka! Tidak mungkin!"
"Lin kembali."