Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Misi Dibalik Misi


__ADS_3

Yve kembali menatap pantulan dirinya didepan cermin. Hari masih sangat pagi sekarang. Langit bahkan belum berubah warna.


Ini adalah hari Bai Lian bertemu dengan koleganya. Seperti sebelumnya, Yve sebagai bodyguard harus bersiap lebih awal.


Yve nampak puas dengan tampilannya kali ini. Kemarin, Teman-temannya sudah mewanti-wanti agar ia berpenampilan semaskulin mungkin. Untuk mencegah orang bernama Ferran, yang menjadi kolega Bai Lian menggodanya.


Sekarang ini, Yve sudah memakai setelan jas seperti sebelumnya. Di bagian dalam jas ini terdapat sulaman nama 'South' yang indah. Menandakan harga potongan kain yang melekat di tubuhnya memiliki harga banyak angka nol. Yve yang takut membuat jas nya rusak, secara khusus meminta tukang laundry untuk berhati-hati. Jika ia yang mencucinya sendiri bisa-bisa rusak.


Tanpa diduga jas ini sangat cocok dengan Yve. Ukurannya sangat pas dan membuatnya semakin terlihat maskulin. South bilang kalau jas ini sudah kekecilan untuknya. Padahal jika dilihat sekilas, tubuhnya tidak beda jauh dari Yve. Tapi namanya juga laki-laki pasti berbeda dengan perempuan.


Setelah selesai, Yve mengeluarkan motornya dan bersiap untuk pergi. Tapi baru saja menyalakan mesin, gadis itu melihat siluet seseorang yang berdiri dibawah lampu jalan. Suasana pagi yang masih gelap membuat sosoknya terlihat jelas dibawah sorot lampu.


Levin


Setelah memakai helm, Yve mengendarai motornya mendekati Levin, dan berhenti didekatnya.


"Yo! raja jalanan Nord. Apakah tidak ingin membalas sapaan pangeran ini?"


Levin tersenyum tipis. Kemudian menatap kedua mata Yve yang berada di dalam helm. "Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari tuan Lin." Levin melirik sekitar untuk memastikan tidak ada yang menguping. Meskipun tidak mungkin ada orang yang keluyuran di pagi buta seperti ini, tapi tetap saja ia harus waspada.


"Pesan apa?"


"Nanti tuan Lin akan mengirim beberapa orang untuk memeriahkan perjalanan tuan Bai Lian. Tapi kau jangan khawatir, mereka tidak akan mengganggumu. Tugasmu hanya pura-pura melindungi tuan Bai Lian, lalu ciptakan kecelakaan kecil yang akan membuatnya terluka. Ini adalah awal pengujian tuan Lin untukmu, apakah kau bisa melakukannya?"


Yve mengangguk dengan enteng, "serahkan padaku."


Sepertinya aku akan minta kerjasama si Bai Lian berengsek itu lagi. Tapi kalau tidak memungkinkan untuk mengobrol, aku akan menghajarnya dengan pelan.


"Ngomong-ngomong, apa kau butuh tumpangan? wahai raja."


Sebelah alis Levin terangkat, dan menatap Yve penuh curiga. "Kau ingin orang-orang yang melihat kita dekat lalu berpikiran aneh?"


Cih. Rencana Yve yang ingin membuat sedikit kode pada teman-temannya dengan cara berangkat bersama Levin, ternyata gagal. Orang itu sudah menyadarinya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ya ampun, aku hanya menawari tumpangan. Kalau tidak mau, tidak masalah." tanpa mendengar jawaban dari Levin, Yve segera pergi dari sana.


Yve memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Deru suara motornya membelah suasana yang sepi. Sepanjang jalan, Yve terus mengingat perkataan Levin tadi. Nanti di jalan akan ada yang menyerang Bai Lian.


Akhirnya rumah megah dengan pagar tinggi menyambut pandangan Yve. Suasana masih sangat sepi jika dilihat dari luar. Tapi didalamnya, para bodyguard sedang bersiap untuk tugas mereka hari ini.


Yve memasuki pekarangan rumah dengan motornya, dan setelah itu memarkirkannya seperti biasa. Jika memang harus bertarung hari ini, setidaknya ia ingin bisa mengendarai motornya pulang.


"Pagi."


Yve menoleh.


Kurt menyapanya dari arah teras. Di tangannya terdapat sebuah sapu. Sepertinya dia sedang bersih-bersih.


"Pagi juga kak Kurt." Yve membuka helmnya, kemudian tersenyum kearah laki-laki seumuran Devian itu.


"Kukira laki-laki mana yang datang. Ternyata adik kecil Yve. Ya ampun, kau benar-benar mirip laki-laki."


"Berhenti memanggilku adik kecil. Aku sudah besar."


"Duluan ya kak Kurt."


"Oh baiklah. Mereka juga sudah bersiap dari tadi."


Yve mengangguk kemudian berjalan menuju gazebo.


Kepalanya sekarang sedang dipenuhi oleh perkataan Levin tadi. Ia ditugaskan untuk melukai Bai Lian. Tapi disatu sisi, ia harus melindungi bossnya itu.


Ck! aku stress.


Sembari berjalan, Yve mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dengan menghirupnya pikiran bisa sedikit lebih tenang untuk sesaat.


"Adikku!"

__ADS_1


Dari kejauhan, Beng melambaikan tangan dengan gembira kearah Yve. Sungguh berbeda dari ekspresinya saat bertemu kolega sebelumnya. Mungkin orang yang akan ditemui Bai Lian kali ini memang bukan musuh.


"Pagi kak Beng." Yve berjalan mendekat kearah gazebo, tempat Beng dan yang lainnya berada.


"Yve lihatlah kripik kentang edisi baru ini, apakah enak?" South tanpa aba-aba memasukkan satu keping kripik kentang kedalam mulut Yve.


"Enak" Yve mengangguk.


"Sudah kubilang, itu enak." South menatap North penuh aura permusuhan. Mungkin sebelumnya mereka berdebat tentang rasa kripik kentang ini. Saudara kembar memang rumit.


"Jadi bagaimana strategi kali ini?" tanya Yve sambil mengambil lagi kripik kentang yang dibawa South.


"Masih seperti sebelumnya." Devian menjawab tanpa membagi pandangannya dari tablet yang ia bawa.


"Yang terpenting adalah perjalanannya." kata Beng sambil memakai jas hitamnya.


"Bagaimana dengan kolega kali ini? penjelasan kalian terlalu aneh kemarin." Yve kembali bertanya.


Ferran, nama ini sama persis dengan kakaknya Soni. Kabarnya Ferran bekerja di luar kota, menjadi pegawai toko, itu kalau kata Soni. Ferran juga seorang playboy seperti adiknya. Soni bilang, pacar Ferran akan berganti-ganti setiap bulannya. Sialnya, Ferran memiliki wajah yang tampan, jadi tidak heran kalau para perempuan rela mengantri untuk menjadi pacarnya. Yve pernah sekali melihat foto Ferran di ponsel Soni. Entah si kolega ini Ferran yang sama atau tidak.


"Tuan Ferran adalah teman masa kecil tuan Bai Lian. Meskipun tuan Ferran bukan berasal dari keluarga penjahat atau mafia, tapi berkat bisnisnya yang besar dibidang minuman, membuatnya sering dimintai kerjasama oleh organisasi penjahat." Devian menjelaskan sambil membenahi kacamata seperti biasa.


Apakah Ferran yang berbeda?


Keluarga Soni memang tergolong keluarga kaya. Tapi jika kakaknya adalah seseorang yang memiliki bisnis minuman terbesar, sangat tidak selaras dengan keluarga Soni.


"Levin, kau baru berangkat?" South berteriak pada seseorang yang baru saja tiba.


Yve menoleh, dan mendapati sosok Levin tengah tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dia benar-benar ingin berakting menjadi orang baik disini.


"Ya, aku baru saja sampai" Levin menjawab dengan senyum yang masih mengembang.


Yve memalingkan wajahnya. Ia memilih terus merebut keripik kentang milik South. Sementara pemiliknya hanya bisa pasrah melihat Yve terus mengambil makanannya.

__ADS_1


"Levin, maaf sebelumnya, tapi kekuatanmu masih belum terlalu bagus. Jadi kau cukup mengikuti kami dari belakang saja ya." Beng bicara dengan acuh tak acuh sambil memakai perlengkapan tempurnya. Ia sedari awal memang tidak menyukai orang seperti Levin. Yang suka menebar senyuman palsu dan diam-diam menghujamkan senjata.


__ADS_2