Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Tentang Mereka


__ADS_3

Pertarungan berakhir. Beng menyeret boss preman sebelumnya dan menjatuhkannya didepan Yve.


"Devian, aku sudah membawa seekor anjing" Beng berbicara melalui alat komunikasi jarak jauh. Sepertinya Devian sudah menyuruh sesuatu.


"Bagus bawa pulang" jawab Devian diujung earphone.


Dor!


"Argh!!"


Beng tanpa merasa iba sedikitpun, menembak kaki si bos preman, hingga dia menjerit kesakitan.


Yve menatap itu tanpa ekspresi. Jika boss mafianya saja suka membunuh, berarti bawahannya juga lebih kejam. Sifat kemanusiaan mungkin tidak berlaku disini. Ia harus terbiasa dengan itu sekarang.


"Beng, bagaimana dengan tuan Bai Lian?" Bernard tampak khawatir.


"Tuan sudah pergi dengan bodyguard lain, dan dijamin aman. Mungkin sekarang sudah sampai rumah. Devian terus memantau." Beng mengantongi kembali pistolnya, kemudian menyeret tangkapannya.


"Ayo kita pulang juga." lanjut Beng tanpa peduli orang yang ia seret merasa kesakitan.


Bernard menggendong Yve di punggungnya. Gadis itu seperti tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.


"Kakak beruang, biarkan aku jalan sendiri." ucap Yve dengan nada pelan.


"Tidak apa-apa. Kau sedang kelelahan."


"Tapi aku tidak ingin terlihat lemah didepan kak Beng." Yve melirik Beng yang berjalan didepan mereka.


"Hahaha... kau sudah terlihat lebih hebat dari yang lainnya. Lagipula tidak ada yang bisa mengalahkan Beng dalam hal kekuatan. Semua bodyguard tunduk padanya." kata Bernard sambil sesekali menoleh pada Yve.


"Yang terkuat ya" Yve menatap punggung besar Beng. Dia memang terlihat kuat. Wajahnya juga cukup tampan. Perawakannya mirip dengan bodyguard tampan di film drama. Jika tingkat emosinya diturunkan beberapa tingkat, mungkin sosoknya menjadi sangat sempurna.


"Justru ada hal yang lebih aneh dan membuatku bingung." Bernard kembali berbicara.


"Apa itu?"


"Kau tiba-tiba memanggilku kakak beruang. Sebelumnya bukankah paman beruang?" Bernard tersenyum. Sebenarnya apapun itu, dia tetaplah beruang.


"Aku membuatmu terlihat lebih muda, tapi kalau tidak mau ya sudah. Akan kupanggil paman beruang lagi." Yve terkekeh.


"Jangan! kakak saja."


"Paman"


"Aku tidak setua itu." Bernard mulai terlihat kesal.

__ADS_1


"Iya paman beruang."


"Berhenti memanggilku paman, atau aku akan melemparmu dari sini." ancam Bernard.


"Aw takut paman."


"Kalian berhenti berdebat. Devian akan mengirimkan mobil kemari. Jadi bersiaplah." Beng menoleh.



Sesampainya di rumah Bai Lian.


Boss preman hasil tangkapan Beng langsung diamankan. Yve mendengar kalau dia akan diinterogasi di ruang bawah tanah.


Beng sekarang yang menggendong Yve, dan Bernard lukanya mulai diobati oleh temannya yang sesama bodyguard penjaga pintu depan.


Ketika Beng sampai di gazebo, Orang-orang mulai telihat heboh saat melihat Yve yang babak belur. Adik kecil mereka terluka, tentu saja para kakak-kakaknya langsung panik.


"Yve! tidak kusangka akan separah ini. Seharusnya aku tidak menjadi pengecut, dan ikut Beng untuk menyusulmu." South hampir menangis sambil berdiri didepan Beng.


"Aku baik-baik saja South." Yve tahu kalau South bukanlah orang yang pintar dalam perkelahian tangan kosong. Jika dia ikut datang bersama Beng, palingan hanya menjadi beban.


"Untung saja kau masih selamat." Devian membenahi kacamatanya.


Yve tertegun. Tidak disangka mereka sangat peduli padanya disaat seperti ini. Hampir saja ia mengira akan diejek karena terlihat lemah. Tapi ternyata semua orang malah mengkhawatirkannya.


"Terimakasih sudah memperdulikanku." Yve tersenyum tapi senyum itu segera hilang saat rasa perih dari ujung bibirnya mulai terasa.


"Bodoh!" Beng langsung menurunkan Yve dengan kasar diatas kursi.


"Aduh kak Beng hati-hati, badan Yve banyak memar." South terlihat panik.


"Kak Beng, kau sangat-" Yve menghentikan kata-katanya karena Beng secara tiba-tiba mencengkram kedua bahunya.


"Lain kali, mintalah bantuan pada kami, jangan melakukan semuanya sendiri. Kita teman kan?" Beng tersenyum tepat didepan wajah Yve.


Meminta bantuan ya. Entah sejak kapan Yve terbiasa melakukan semuanya sendiri. Bahkan ia tidak pernah meminta bantuan Tina kalau kakaknya itu tidak berinisiatif menawarkan diri terlebih dahulu. Sejauh ingatan Yve, ia sudah melakukan semuanya sendiri. Baik dalam hal positif atau pun negatif, semua Yve lakukan seorang diri. Meminta bantuan begitu asing baginya.


"Benar kata Beng. Jika kau tidak meminta bantuan pada kami, itu sama saja tidak menganggap kami teman." senyuman Devian masih saja terlihat aneh.


"Aku setuju!" South mengangkat tangannya, dan North dibelakangnya ikut mengangguk.


"Baiklah. Untuk selanjutnya, aku akan merepotkan kalian."


"Horeeee" South bersorak.

__ADS_1


"Biarkan aku melihat lukamu." North membungkuk didepan Yve, dan mengecek lukanya, dari tangan hingga kaki.


"Jangan khawatir, North sangat ahli mengobati luka." Devian duduk disamping Yve.


Yve mengangguk, dan membiarkan North mulai membersihkan luka dan melihat lebam ditubuhnya.


"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan." Yve menatap teman-temannya.


"Aku sudah menduganya." Beng mengeluarkan rokok dan mulai menyalakannya.


"Kenapa Bai Lian membunuh Mr. Watson?" tanya Yve sambil mengingat kembali peristiwa penembakan yang sangat membuatnya terkejut itu.


"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Selain dia melakukan korupsi uang kasino, dia juga menjadi dalang percobaan pembunuhan tuan Bai Lian." Devian menatap Yve dengan serius. "Terakhir tuan Bai Lian sempat diculik oleh orang suruhannya."


"Diculik?"


"Itu adalah hari saat tuan Bai Lian bertemu denganmu. Saat itu dia berhasil kabur dari penculikan." Beng mengeluarkan asap dari mulutnya dengan tenang. "Aku dan bodyguard lain menerobos markas si penculik. Karena sampah disana sangat banyak, aku kewalahan dan menyuruh tuan Bai Lian berlari sendiri. Lalu dia bertemu denganmu." Beng tersenyum kearah Yve.


Yve jadi teringat kembali kejadian itu, saat ia melihat Bai Lian berlari di gang sempit dan meminta pertolongan. Jika saat itu Yve tidak menolongnya, kira-kira apa yang terjadi?


"Lalu... kenapa tadi ada adiknya Bai Lian? bukankah kita hanya menemui Mr. Watson?"


"Tuan muda kedua Lin selalu berada didekat orang yang mendukungnya." South ikut menjawab.


"Mendukungnya?"


"Mendukungnya menjadi boss mafia, menggantikan tuan Bai Lian." North ikut bersuara ditengah kegiatannya mengobati Yve.


"Berarti Mr. Watson itu pengkhianat, kenapa tidak membereskannya dari awal?" Yve mulai mengatakan opininya.


"Tuan Bai Lian adalah orang yang sangat baik hati, dia tidak tega menyingkirkan Mr. Watson sejak awal."


Yve hampir muntah mendengar perkataan Beng. Sebenarnya dimana letak sisi Bai Lian yang baik hati itu? dia bahkan mengancam akan membunuh Tina jika Yve tidak mau menjadi bodyguardnya.


"Sekarang, orang yang berada disisi tuan muda kedua Lin mulai berkurang." Devian membenahi kacamata melorotnya.


"Oh iya, memangnya si Lin itu tinggal dimana? apa dirumah ini? aku tidak pernah melihatnya." Yve melirik rumah mewah didekatnya.


"Ya, dirumah ini. Tapi dia selalu pergi dan pulang ketika malam hari." Beng melipat kedua tangannya.


"Lin tadi berkata ingin melaporkan Bai Lian pada ayahnya. Memangnya mereka sedekat itu?"


"Tidak juga. Dia saja yang mengada-ada" South menggelengkan kepalanya dengan tampang iba. "Karena sifatnya yang penuh tipu daya, tuan besar tidak menyukainya."


"South perhatikan ucapanmu, mata-mata tuan muda kedua sangat banyak." kata North mengingatkan.

__ADS_1


__ADS_2