
"Kenapa kau malah membawa Lin kemari? Semuanya akan jadi sia-sia! Apa maksudmu hah? Apa yang terjadi? Jawab aku Levin!" Leo tiba-tiba tersulut emosi. Membayangkan betapa banyaknya pengorbanan waktu yang teman-temannya lakukan, hanya untuk membuat rencana menghancurkan Lin. Tapi pada akhirnya malah diselamatkan oleh Levin?! Menyebalkan sekali!
"Tenanglah Leo. Aku akan menceritakan semuanya nanti. Sekarang, aku butuh dokter segera untuk memeriksa Lin. Jangan telpon ambulan. Cukup panggil saja dokter kemari. Aku akan meminjam apartemenmu sebentar." Levin berkata dengan cepat, sambil kedua matanya memancarkan niat memohon.
"Tidak, aku tidak mau. Sudah bagus dia mati. Malah ingin kau selamatkan." Leo dengan acuh tak acuh memandang Lin yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tapi-"
"Levin, kau ini kenapa? Dia itu orang jahat! Dan kau ingin menyelamatkannya? Dengar ya, malam itu yang memerintahkan 200 preman menyerang cafe adalah dia! Aku tidak Terima! Selain itu, ada banyak nyawa lainnya yang sudah dia renggut dengan mudahnya. Sekarang aku tanya lagi, kau ingin menyelamatkannya?"
"Setelah aku menceritakan semuanya, maka kau akan paham. Untuk saat ini bantu dia dulu. Pendarahannya cukup parah."
Leo menatap curiga kearah Levin kemudian mengalihkan pandangannya pada Lin yang sialnya memang terdapat banyak darah di tubuhnya.
Sebenarnya Leo tidak ingin berurusan dengan Lin. Kalau bisa tinggalkan saja dia di tempat sampah sampai benar-benar mati. Tapi hati nuraninya tiba-tiba tergerak dan rasa ingin menolong pun muncul.
Astaga hati bak malaikatku muncul.
"Baiklah. Bawa dia ke tempatku." Leo melemparkan kunci apartemennya pada Levin.
❀
Kian menempelkan telinganya pada pintu belakang, membuatnya mendengar semua pembicaraan Leo dan Levin.
Hiii Leo malah bertengkar dengan setan.
Sebaiknya aku pergi. Mungkin Leo sedang dicuci otak oleh setan.
Kian pun berbalik untuk pergi.
__ADS_1
"Waaaa!!!" Kian melompat saking terkejutnya melihat Yve yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Kau ini kenapa?" Tanya Yve sambil mengantongi kembali kunci motor yang ia bawa.
"Fuuuhh... Ternyata dewi." Kian mengusap dada untuk menenangkan jantung liarnya.
"Kau belum menjawabku. Kenapa kau berdiri disitu?"
"Benar juga! Ada setan!!!" Kian mencengkram kedua bahu Yve dengan heboh. "Setan itu sedang menghasut Leo!" Kini tangan Kian menunjuk pintu belakang.
"Hah? Yang benar saja." Yve menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku bersumpah! Lihat saja kalau tidak percaya." Ucap Kian.
"Baiklah. Tapi kalau kau berbohong, cuci motorku selama setahun kedepan."
"Oke." Jeda sejenak. "Tunggu, apa?! Tidak mau!"
Ceklek!
Ketika Yve membuka pintu, dua pasang mata langsung menatapnya. Yve juga seketika tidak bergerak dan balas menatap mereka.
Pemandangan yang Yve lihat sekarang adalah Leo yang sedang menggendong Lin dipunggungnya. Lalu disampingnya ada Levin yang memegang kunci apartemen Leo dengan baju yang kotor.
Ada apa dengan trio L ini?!
"..." Otak Yve loading sebentar. "Apa yang terjadi?!"
"Yve!!! Syukurlah. Kau selamat." Levin langsung memeluk Yve. "Kukira kau akan terluka parah karena Lin. Aku panik sekali. Dan aku sangat bersyukur ternyata preman kelinci penakut itu benar-benar membawamu keluar."
__ADS_1
"Levin... Ini benar-benar kau?" Yve ingin membalas pelukan Levin, tapi entah kenapa tangannya berhenti diudara dan membatalkan niatnya itu. "Syukurlah ternyata kau juga selamat." Yve melepas pelukan Levin dan tersenyum.
"Bisakah acara syukurannya ditunda sebentar? Orang ini sangat berat. Entah karena berat badannya, atau berat dosanya." Gerutu Leo.
"Itu Lin. Ternyata dia juga selamat. Tapi kenapa bisa sampai seperti itu? Seingatku, luka yang kutimbulkan tidak separah ini." Yve melihat keadaan Lin yang bersimbah darah.
"Sebenarnya begini-"
"Oi Levin! Aku sudah berbaik hati menggantikanmu menggendong iblis ini, karena katanya kau berjalan cukup jauh sambil menggendongnya. Tapi kenapa kau tidak tahu terimakasih hah? Ceritanya nanti saja! Aku serius, orang ini berat sekali. Dan aku harus kembali bekerja!!!"
"Ceritanya saat sudah di apartemen Leo saja." Yve mulai berjalan di samping Leo dan mengikuti mereka untuk ke apartemen Leo. Agar tidak menyebabkan kehebohan, Yve menutup Lin dengan jas yang dipakainya. Bisa gawat kalau orang di jalan melihat Leo menggendong seseorang yang besimbah darah.
❀
"Oke aku harus kembali bekerja." Leo akhirnya menghilang dari balik pintu.
Sekarang Lin sudah dibaringkan diatas sofa panjang. Leo bersikukuh melarang Lin untuk ditaruh di kasurnya, alasannya karena tidak ingin dosa Lin menempel disana.
Yve menatap Lin yang kedua matanya masih terpejam itu.
"Segala sesuatu yang menyangkut kak Lian pasti selalu baik. Dia juga sangat beruntung memiliki anak buah yang begitu memperhatikannya, seperti dirimu. Sementara aku? Para bawahanku hanya bisa mengkhianatiku."
"Semua orang menyukainya! Tidak peduli seberapa banyak aku mencoba... Tidak peduli seberapa keras aku berjuang, orang-orang hanya akan melihat si berengsek itu!"
Kata-kata Lin sebelumnya terngiang-ngiang di benak Yve.
Pemikiran Lin seperti anak kecil yang iri dengan kakaknya. Dia juga ingin diperhatikan dan disayangi, sehingga membuat kenakalan agar orang lain melihatnya. Tapi cara dia mengambil perhatian sangatlah salah. Jadi apakah dia pantas mati?
"Aku sudah selesai menelpon dokter. Katanya akan kemari secepat mungkin." Levin baru kembali dari kegiatannya menelpon dokter. "Ini kukembalikan ponselmu." Levin menyerahkan benda elektronik tipis milik Yve.
__ADS_1
"Bisa kau ceritakan padaku? Kenapa kau dan Lin berakhir seperti ini?" Tanya Yve.
"Baiklah. Aku akan menceritakannya padamu."