
"Apa itu hitam, apa itu putih? Apakah tuan Bai Lian pernah memikirkannya?"
"Bukankah itu hanya warna?"
"Haha tuan benar. Tapi jika menyamakannya dengan kehidupan ini. Menurut anda, kita berada di warna apa?"
"Putih. Karena sedang siang hari."
"Anda sangat polos tuan Bai Lian. Suatu saat anda akan tahu, kalau dunia kita sangatlah hitam. Saya hanya ingin kalau anda tidak ikut menjadi hitam. Tetaplah polos dan putih seperti ini. Agar bisa merubah dunia yang hitam ini menjadi putih juga. Supaya anak-anak seperti anda tidak ada lagi."
"Aku tidak paham perkataanmu Devian."
❀
"Saat itu aku tidak paham apa yang dia katakan." Bai Lian menatap Lin dengan ekspresi serius. "Dia hanya bodyguard yang mengajakku bicara saat memberikan dokumen. Tapi lama kelamaan aku sadar, dan mengerti apa maksud Devian saat itu."
"Memang apa maksudnya?"
"Dunia hitam yang Devian maksud adalah dunia mafia ini. Dari dulu hanya berisi hal-hal yang negatif. Ayah sudah berusaha mengubahnya tapi merasa gagal dan akhirnya menyerah. Dia tidak bisa menyelamatkan papa dan mama kita saat itu, meskipun sudah mencoba menjadi baik, tetap akan ada duri yang muncul untuk menghancurkan semuanya."
Bai Lian berjalan mendekati Lin sambil tersenyum. "Jadi aku merasa inilah giliranku. Aku akan benar-benar mengubahnya dengan kekuatanku. Melenyapkan semua duri yang berusaha menghalangiku. Untuk merubah dunia ini menjadi lebih putih. Tapi sebelum itu terjadi, aku harus belajar dan beradaptasi. Maaf karena meninggalkanmu. Aku sedang berusaha keras saat itu."
Lin terdiam dan berusaha mencerna perkataan kakaknya. "Apakah itu benar?"
"Aku mengatakan yang sejujurnya. Percaya atau tidak, terserah kau."
Jika dilihat dari kelakuan kak Lian selama ini, memang terkesan berbaik hati. Kupikir itu adalah topeng busuknya, yang sebenarnya hanya menginginkan kekuasaan dan uang. Tapi memangnya benar seperti itu? Jangan-jangan dia berbohong padaku.
__ADS_1
Bai Lian menangkap ekspresi ragu di wajah Lin. Ia tersenyum lalu menepuk bahu adik laki-lakinya. "Bukankah cara bicara laki-laki bukan seperti ini? Katanya, mereka bisa saling memahami jika bertarung satu sama lain."
"Heh... Bualan dari siapa lagi itu?"
"Beng yang mengatakannya padaku."
"Kak, kau terlalu mendengarkan ucapan bodyguard. Merekalah yang seharusnya menuruti bossnya. Bukan bossnya yang menuruti bodyguard."
"Tapi itu benar bukan?"
"Ya, benar." Lin meremas tangannya sambil tersenyum. "Baiklah, karena orang lemah sepertimu menantangku, maka aku tidak akan berbaik hati."
"Hohoho jangan remehkan boss mafia yang memiliki indera keenam."
"KAU TIDAK PUNYA!"
❀
"Ehem! Khawatir?" Goda Devian.
"Kak Devian, yang paling khawatir disini adalah kak Beng!" South menunjuk kearah Beng.
Semua orang akhirnya melihat Beng yang berjongkok di sudut ruangan, sambil menggigit kesepuluh jarinya.
"Au, menjijikkan."
"Tuan apakah baik-baik saja? Jangan-jangan dia sudah mati? Apakah kita harus mendobrak pintu? Bagaimana kalau Lin kabur?" Gumam Beng dengan ekspresi cemas.
__ADS_1
Yve tersenyum melihat kelakuan Beng. Betapa beruntungnya Bai Lian memiliki orang yang sangat menyayanginya, dan bukan hanya kak Beng, aku yakin seluruh bodyguard menyayanginya. Kebencian Lin timbul karena ini. Kuharap mereka bisa bicara dengan baik.
Cklek!
Pandangan semua orang langsung tertuju pada pintu ruang kerja Bai Lian yang mulai terbuka. Mereka yang sudah lama menunggu, akhirnya bisa melepas kekhawatiran dan rasa penasaran.
Uhuk! Uhuk!
Bai Lian keluar sambil batuk darah. Beberapa luka lebam menghiasi wajah putihnya.
"Tuan!!!"
Belum juga Bai Jun bergerak, Beng sudah lebih dulu berlari mendekati tuannya.
Lin akhirnya ikut keluar ruangan. Wajahnya datar, tidak seperti orang yang senang setelah menghajar musuhnya.
"Kau! Masih saja ingin mencelakai tuan. Sudah lupa kalau mobil polisi sedang menuju kemari?!"
Lin terlihat biasa saja dengan makian Beng. Ia melihat kakaknya dan berkata dengan santai. "Lihat kak, bahkan bodyguardmu tidak sopan padaku."
"Beng... Biarkan saja."
"Eh? Tapi tuan-"
"Pembicaraan berakhir baik. Percayalah padaku." Bai Lian menepuk bahu Beng sambil tersenyum.
"Ba-baiklah, saya percaya." Beng mengangguk dengan kaku.
__ADS_1
"Tuan, biar saya bantu merawat luka anda." Devian meraih tangan Bai Lian dengan sopan.